BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

Serial Abul Anbiyaa #09 | Pencarian Cahaya di Balik Awan: Saat Ibrahim Menemukan Keyakinan

Thumbnail BABA Blog

بِسْمِ اللهِ الرَّحمْنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُم ْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Abi Ahmad Thoufur

Disajikan oleh : Abi Ahmad Thoufur

(Ustadz Betawi Nyablak Asli Cengkareng)

🏛️ COCOLAN SAMBEL BABA 🏛️

✍️ Muqoddimah ala Ustadz Betawi Nyablak

Jama'ah Cengkareng yang dimuliain Allah! Gimane kabarnye, Cing, Nyak, Babe? Semoga hari ini makin berkah dan hati kite selalu dijaga buat terus nginget Allah. Yuk, kite lanjutin lagi tadabbur kisah Nabi Ibrahim AS, sang kekasih Allah yang perjalanan ruhaninye bener-bener bikin kite takjub.

Di episode kali ini, kite bakal ngeliat gimana gejolak batin Ibrahim yang lagi nyari hakikat kebenaran. Mulai dari renungannye pas malem hari ngeliat bulan purnama, sampe pergulatan batin saat keyakinannye diuji oleh awan yang menghalangi cahaya. Mari kite selami gimana Ibrahim dengan ketajaman nuraninya mulai ngerasain kehadiran Sang Khaliq di balik segala ciptaan-Nya.

📖 مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ

Karya : Abdul Hamid Judah As-Sahhar

✦ ✧ ✦

أَبُو الْأَنْبِيَاءِ

Bapak Para Nabi ﴿

✧ ✦ ✧

Pencarian Cahaya di Balik Awan:
Saat Ibrahim Menemukan Keyakinan

Yuk, baca naskah aslinye. Nyang baca harus fokus, nyang ngebatin harus khusyuk!
ABUL ANBIYA
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Pencarian Cahaya di Balik Awan: Saat Ibrahim Menemukan Keyakinan

Kegelisahan memuncak hingga tersingkapnya tabir bulan; Ibrahim merasa telah menemukan Sang Cahaya yang agung, meski perjalanan akalnya baru saja dimulai.

هَجَعَتِ الْكَائِنَاتُ وَرَاحَ الْكَوْنُ فِي سُبَاتٍ ، إِلَّا إِبْرَاهِيمَ كَانَ شَارِدًا يُفَكِّرُ فِي مَلَكُوتِ السَّمَاءِ . وَدَخَلَتْ عَلَيْهِ أُمُّهُ وَقَالَتْ :
Makhluk-makhluk telah terlelap dan alam semesta pun terbuai dalam tidur, kecuali Ibrahim yang sedang melamun memikirkan kerajaan langit. Ibunya masuk menemuinya dan berkata:
— أَلَا تَأْكُلُ يَا إِبْرَاهِيمُ ؟
— "Tidakkah kau makan, wahai Ibrahim?"
فَقَالَ فِي اقْتِضَابٍ :
Ia menjawab dengan singkat:
— شُكْرًا لَكِ يَا أُمَّاهُ .
— "Terima kasih, wahai ibu."
إِنَّهُ لَمْ يَذُقْ شَيْئًا مُنْذُ الصَّبَاحِ فَقَدْ عَزَفَتْ نَفْسُهُ عَنِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ . إِنَّهُ إِنَّمَا يُرِيدُ غِذَاءً لِرُوحِهِ ، وَرِيًّا لِظَمَئِهِ إِلَى الْحَقِيقَةِ . إِنَّهُ يَطْمَعُ أَنْ يَتَجَلَّى لَهُ الْإِلَهُ . وَوَضَعَتْ أُمُّهُ الْمَسْرَجَةَ عَنْ كَثَبٍ مِنْهُ ، وَكَانَتْ آنِيَةً مِنْ فَخَّارٍ تَسْبَحُ فِي وَسَطِهَا فَتِيلَةٌ طَافِيَةٌ عَلَى الزَّيْتِ ، فَرَاحَ نُورُهَا يَتَرَاقَصُ عَلَى الْجُدْرَانِ . وَلَمْ يَحْفِلْ إِبْرَاهِيمُ بِالنُّورِ الَّذِي غَمَرَ الْمَكَانَ ، وَإِنَّمَا كَانَ يَرْقُبُ شُرُوقَ النُّورِ فِي قَلْبِهِ ، كَانَ يَبْحَثُ عَنِ النُّورِ الْإِلَهِيِّ فِي كُلِّ مَا حَوْلَهُ ، كَانَ يَفْتَحُ عَيْنَيْهِ وَفُؤَادَهُ لِيَرَى جَمَالَ الذَّاتِ الْإِلَهِيَّةِ ، لِيَرَى أَنْوَارَ التَّجَلِّيَاتِ . إِنَّهُ يَتَحَرَّقُ شَوْقًا إِلَى مَعْرِفَةِ كُنْهِ الْإِلَهِ .. إِلَى الْوُصُولِ إِلَى جَوْهَرِ الْحَقِيقَةِ ، إِلَى الْوُصُولِ إِلَى الِاسْتِقْرَارِ وَالطُّمَأْنِينَةِ وَالسَّلَامِ . إِنَّهُ لَا يُطِيقُ الْبَقَاءَ دَاخِلَ الْبَيْتِ مُمَدَّدًا فِي فِرَاشِهِ بِغَيْرِ عَمَلٍ ؛ إِنَّهُ يَتَلَهَّفُ إِلَى الْخُرُوجِ إِلَى الدُّنْيَا الْوَاسِعَةِ لِيَغْتَرِفَ مِنْ كَنْزِ الْوُجُودِ فَيَزِيدَ ثَرْوَةَ رُوحِهِ ، لِيَبْحَثَ عَنِ الْمِفْتَاحِ الْمُقَدَّسِ الَّذِي يَفْتَحُ لَهُ أَسْرَارَ السَّمَاءِ فَتَتَبَدَّى لِعَيْنَيْهِ الْحَقِيقِيَّةِ سَافِرَةً نَاصِعَةً . وَهَبَّ مِنْ فِرَاشِهِ وَهُوَ مُفْعَمٌ بِإِحْسَاسَاتٍ زَاخِرَةٍ بِالْإِيمَانِ ، إِلَّا أَنَّهَا إِحْسَاسَاتٌ يَشُوبُهَا قَلَقٌ ، قَلَقُ مَنْ لَمْ يَقْبِضْ بِيَدَيْهِ بَعْدُ عَلَى مِفْتَاحِ الْأَسْرَارِ الَّذِي يَفْتَحُ بِهِ عَالَمَ النُّورِ . وَمَلَكُوتَ السَّمَاءِ . وَذَهَبَ يَغْتَسِلُ لِيُطَهِّرَ بَدَنَهُ وَيُطَهِّرَ رُوحَهُ ، فَقَدْ كَانَ مِنْ فَرْطِ إِيمَانِهِ يُحِسُّ أَنَّ الْمَاءَ يَغْسِلُ وِجْدَانَهُ . وَأَسْبَغَ الِاغْتِسَالَ فَخَرَجَ نَقِيَّ السَّرِيرَةِ سَلِيمَ الْقَلْبِ ، يُعَاوِدُ الْبَحْثَ عَنِ اللَّهِ . وَثَوَى فِي أَحْضَانِ الْكَوْنِ وَأَلْقَى إِلَيْهِ السَّمْعَ وَمَدَّ إِلَيْهِ الْبَصَرَ وَفَتَحَ لَهُ الْفُؤَادَ ، فَإِذَا بِهِ يُحِسُّ أَنَّ كُلَّ شَيْءٍ حَوْلَهُ حَيٌّ تَخْفِقُ بَيْنَ جَنْبَيْهِ رُوحٌ ، حَتَّى الْأَرْضِ الَّتِي يَطَأُ أَدِيمَهَا تَنْبِضُ بِالْحَيَاةِ ، حَتَّى الْجِبَالِ الشَّامِخَةِ الْمُجَلَّلَةِ بِالسِّحْرِ مِنْ حَوْلِهِ تَعْكِسُ اللَّمْسَةَ الْإِلَهِيَّةَ كَمَا تَعْكِسُهَا كُلُّ الْكَائِنَاتِ . إِنَّ الرُّوحَ الَّتِي تَسْرِي فِيهِ لَكَالرُّوحِ الَّتِي تَسْرِي فِي كُلِّ مَا حَوْلَهُ : فِي الشَّجَرِ وَالْمَاءِ ، فِي النَّسِيمِ وَالسَّمَاءِ ، وَخَشَعَ يَصْغَى إِلَى الْكَوْنِ وَيَتَلَقَّى فِي فَرَحٍ كُلَّ مَا يُوحَى بِهِ إِلَيْهِ . وَفَاضَتْ نَفْسُهُ بِالنَّشْوَةِ وَهَزَّ وِجْدَانَهُ مَا فِي الْكَوْنِ مِنْ جَمَالٍ ، وَأَصْبَحَ لِكُلِّ مَا يَفْتَحُ عَلَيْهِ عَيْنَاهُ مَعْنًى جَدِيدٍ ، مَعْنًى رُوحِيٍّ لَمْ يَكُنْ يُدْرِكُ سِرَّهُ قَبْلُ أَنْ يَنْظُرَ فِي نَفْسِهِ وَفِي كُلِّ مَا حَوْلَهُ . وَتَهَلَّلَ بِالْفَرَحِ لِهَذَا التَّنَاسُقِ الْعَجِيبِ بَيْنَ رُوحِهِ وَرُوحِ الْعَالَمِ الَّذِي يَحْتَوِيهِ فِي أَحْضَانِهِ . وَشَعَرَ كَأَنَّمَا صِيغَ مِنْ رِفَّةٍ ، كَأَنَّمَا أَصْبَحَ رُوحًا هَفَّافَةً شَفَّافَةً انْطَلَقَتْ مِن سِجْنِ النَّفْسِ تَهِيمُ فِي السَّمَوَاتِ ، وَتَمْلَأُ الْبَصِيرَةَ بِجَمَالِ ذَاتِ اللَّهِ . وَرَاحَ يَتَلَفَّتُ مَبْهُورًا وَكُلَّ خَلْجَةٍ مِنْ خَلَجَاتِ نَفْسِهِ الزَّكِيَّةِ تَقُولُ فِي تَسْبِيحٍ :
Ia tidak mencicipi apa pun sejak pagi karena nafsunya enggan pada makanan dan minuman. Ia hanya menginginkan makanan bagi ruhnya, dan penyegar bagi dahaganya akan kebenaran. Ia mendambakan Tuhan menampakkan diri kepadanya. Ibunya meletakkan pelita di dekatnya, berupa wadah tanah liat dengan sumbu yang terapung di atas minyak di tengahnya, cahayanya pun mulai menari-nari di dinding. Ibrahim tidak memedulikan cahaya yang membanjiri tempat itu, ia justru menantikan terbitnya cahaya di dalam hatinya, ia mencari cahaya Ilahi di segala hal di sekelilingnya, ia membuka mata dan hatinya untuk melihat keindahan Zat Ilahi, untuk melihat cahaya-cahaya manifestasi. Ia terbakar kerinduan untuk mengetahui hakikat Tuhan.. untuk sampai ke inti kebenaran, untuk sampai ke ketenangan, ketenteraman, dan kedamaian. Ia tidak tahan tinggal di dalam rumah, berbaring di tempat tidur tanpa melakukan apa-apa; ia sangat ingin keluar ke dunia yang luas untuk menggali dari harta kekayaan wujud guna menambah kekayaan ruhnya, untuk mencari kunci suci yang membuka baginya rahasia-rahasia langit sehingga tersingkaplah baginya kebenaran yang nyata dan terang. Ia bangkit dari tempat tidurnya dengan perasaan yang sarat akan keimanan, namun perasaan itu diselimuti kegelisahan, kegelisahan seseorang yang belum menggenggam kunci rahasia yang dengannya ia bisa membuka dunia cahaya dan kerajaan langit. Ia pergi mandi untuk menyucikan tubuh dan ruhnya, karena saking besarnya imannya, ia merasa air itu mencuci nuraninya. Ia bersuci dengan sempurna lalu keluar dengan batin yang murni dan hati yang tulus, kembali mencari Tuhan. Ia menetap dalam dekapan alam semesta, mendengarkan, memandang, dan membuka hatinya untuknya, hingga ia merasa bahwa segala sesuatu di sekelilingnya hidup, dan di sela-selanya berdenyut suatu ruh, bahkan bumi yang ia injak berdenyut dengan kehidupan, bahkan gunung-gunung menjulang yang diselimuti pesona di sekelilingnya memantulkan sentuhan Ilahi sebagaimana semua makhluk memantulkannya. Ruh yang mengalir di dalam dirinya sama dengan ruh yang mengalir di segala sesuatu di sekelilingnya: pada pohon dan air, pada angin dan langit, ia pun khusyuk mendengarkan alam semesta dan menerima dengan sukacita segala wahyu yang diberikan kepadanya. Jiwanya meluap dengan ekstasi dan getaran nuraninya oleh keindahan yang ada di alam semesta, dan segala sesuatu yang dipandang matanya menjadi memiliki makna baru, makna spiritual yang belum pernah ia sadari rahasianya sebelum ia merenung ke dalam dirinya dan segala yang ada di sekelilingnya. Ia berseri-seri dengan sukacita atas keselarasan yang menakjubkan antara ruhnya dan ruh dunia yang mendekapnya. Ia merasa seolah-olah ia tercipta dari kepakan sayap, seolah-olah ia telah menjadi ruh yang ringan dan transparan yang melesat dari penjara jiwa, mengembara di langit, dan memenuhi penglihatan dengan keindahan Zat Allah. Ia mulai menoleh dengan terpukau dan setiap getaran dari jiwa sucinya berkata dalam tasbih:
— رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا .
— "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia."
وَكَادَ أَنْ يَضَعَ يَدَهُ عَلَى كَنْزِ الْوُجُودِ ، أَنْ يَرْفَعَ الْأَسْتَارَ الْمُسْدَلَةَ عَلَى بَصِيرَتِهِ فَيَرَى وَجْهَ الْحَقِيقَةِ الْعَمِيقَةِ ، الْحَقِيقَةِ الْخَالِدَةِ ، الْحَقِيقَةِ الْأَزَلِيَّةِ ؛ بَيْدَ أَنَّهُ عَادَ لِلْفِكْرَةِ الَّتِي اسْتَوْلَتْ عَلَيْهِ فَقَالَ فِي ابْتِهَالٍ :
Ia hampir saja menggenggam harta karun wujud, mengangkat tirai yang menutupi mata batinnya untuk melihat wajah kebenaran yang dalam, kebenaran yang abadi, kebenaran yang azali; namun ia kembali pada gagasan yang menguasainya lalu ia berkata dalam doa:
— يَا رَبِّ أَيْنَ أَنْتَ ؟ أُرِيدُ وَجْهَكَ .. أُرِيدُ أَنْ أَرَاكَ .. يَا رَبِّ تَجَلَّ عَلَيَّ .
— "Wahai Tuhan, di manakah Engkau? Aku menginginkan wajah-Mu.. aku ingin melihat-Mu.. wahai Tuhan, nyatakanlah diri-Mu kepadaku."
وَرَفَعَ بَصَرَهُ إِلَى السَّمَاءِ ، وَكَانَ الْقَمَرُ فِي تَمَامِهِ ، وَكَانَ يُرْسِلُ ضِيَاءَهُ فَيَغْمُرُ الدُّنْيَا بِنُورٍ عَذْبٍ سَاحِرٍ ، وَيَبْعَثُ فِي كُلِّ مَا يَلْمِسُهُ رُوحًا تَفِيضُ بِالصَّفَاءِ ، رَاحَ يَنْظُرُ إِلَى الْقَمَرِ وَهُوَ مَأْخُوذٌ . إِنَّهُ نَفْسُ الْقَمَرِ الَّذِي رَآهُ مُنْذُ أَنْ رَفَعَ عَيْنَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ ، وَلَكِنَّهُ اللَّيْلَةَ يَرَى فِيهِ شَيْئًا جَدِيدًا لَمْ تَكُنْ تُدْرِكُهُ بَدِيهَةُ قَلْبِهِ مِنْ قَبْلُ . إِنَّ مَا كَانَ يَبْحَثُ عَنْهُ هُوَ هَذَا السَّنَاءُ .. وَهَذَا التَّأَلُّقُ .. وَهَذَا النُّورُ .. وَهَذَا السُّمُوُّ ، هَا هِيَ ذِي الْحَقِيقَةُ الْأَزَلِيَّةُ تَتَجَلَّى لِعَيْنَيْهِ ؛ لَقَدْ عَثَرَ عَلَى سِرِّ الْوُجُودِ الْحَقِيقِ بِأَنْ يُغْنِيَ رُوحَهُ بِكُنُوزٍ مِنَ الْفَيْضِ الْإِلَهِيِّ ! وَتَهَلَّلَ بِالْفَرَحِ فَقَدْ حَسِبَ أَنَّهُ اكْتَشَفَ كُلَّ بَهَاءِ الْعَالَمِ ، وَأَنَّهُ اهْتَدَى إِلَى الْإِلَهِ الْحَقِّ ، وَأَنَّ السَّلَامَ عَرَفَ طَرِيقَهُ أَخِيرًا إِلَى قَلْبِهِ . وَرَاحَ يَرْنُو إِلَى الْقَمَرِ فِي خُشُوعٍ كَأَنَّمَا هُوَ فِي صَلَاةٍ ، وَكُلَّ خَلْجَةٍ مِنْ خَلَجَاتِ نَفْسِهِ ، وَكُلَّ خَفْقَةٍ مِنْ خَفَقَاتِ قَلْبِهِ ، وَكُلَّ زَفْرَةٍ مِنْ زَفَرَاتِ رُوحِهِ ، وَكُلَّ نَبْضَةٍ مِنْ نَبَضَاتِ عَقْلِهِ تَقُولُ :
Ia mengangkat pandangannya ke langit. Bulan sedang purnama, menyebarkan cahayanya membanjiri dunia dengan cahaya yang manis dan mempesona, menebarkan ke setiap apa yang disentuhnya suatu ruh yang meluap dengan kejernihan. Ia terus menatap bulan dalam keadaan terpesona. Itu adalah bulan yang sama yang ia lihat sejak ia mengangkat matanya ke langit, namun malam ini ia melihat sesuatu yang baru di dalamnya yang belum pernah disadari oleh intuisi hatinya sebelumnya. Apa yang ia cari adalah kemegahan ini.. dan kilauan ini.. dan cahaya ini.. serta keluhuran ini, inilah kebenaran yang azali tersingkap di depan matanya; ia telah menemukan rahasia wujud yang hakiki dengan memperkaya ruhnya dengan harta karun limpahan Ilahi! Ia berseri-seri dengan sukacita karena ia mengira telah menemukan semua keindahan alam semesta, bahwa ia telah mendapatkan petunjuk ke arah Tuhan yang benar, dan bahwa kedamaian akhirnya telah menemukan jalan ke dalam hatinya. Ia terus memandang bulan dalam kekhusyukan seolah ia sedang dalam salat, dan setiap getaran dari jiwa-jiwanya, setiap detak dari jantungnya, setiap helaan napas ruhnya, dan setiap denyut pikirannya berkata:
— عَرَفْتُ الْإِلَهَ ! عَرَفْتُ الْحَقِيقَةَ الْأَبَدِيَّةَ الَّتِي يُبَدِّدُ نُورُهَا ظُلُمَاتِ النَّفْسِ ، وَتَمُدُّ الْأَرْوَاحَ بِالنُّورِ الْإِلَهِيِّ الْفَيَّاضِ .
— "Aku telah mengenal Tuhan! Aku telah mengenal kebenaran abadi yang cahayanya menghalau kegelapan jiwa, dan memberikan limpahan cahaya Ilahi kepada ruh-ruh."
وَرَاحَ يَبْتَهِلُ فِي حَرَارَةٍ :
Ia mulai berdoa dengan penuh kerendahan hati:
— يَا رَبِّ ارْضَ عَنِّي .. إِلَى أُحِبُّكَ فَامْنَحْنِي يَا رَبِّ حُبَّكَ . إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَرَى بِكَ ، وَأَنْ أَسْمَعَ بِكَ ، وَأَنْ أَنْطِقَ بِكَ ، وَأَلَّا أَسْعَى إِلَّا فِي طَرِيقِكَ ، وَأَلَّا أُحِبَّ إِلَّا فِيكَ ، وَأَلَّا أُبْغِضَ إِلَّا مِنْ أَجْلِكَ . يَا رَبِّ إِنَّكَ قَدِيمٌ جَدِيدٌ ، إِنَّكَ اللَّيْلَةَ شَابٌّ ، وَمِنْ قَلْبِكَ يَنْبَثِقُ الشَّبَابُ الْخَالِدُ ، فَأَمِدَّنِي يَا إِلَهِي بِالْقُوَّةِ ، وَأَيِّدْنِي بِرُوحٍ مِنْ عِنْدِكَ ، مَا دُمْتَ يَا إِلَهِي قَدْ رَفَعْتَ الْحِجَابَ عَنْ عَيْنِي ، وَفَرَشْتَ طَرِيقِي بِالنُّورِ . لَقَدْ بَذَرْتَ فِي رُوحِ إِبْرَاهِيمَ بَذْرَةَ الْإِيمَانِ ، بَذْرَةَ الْحَقِيقَةِ الْعَمِيقَةِ ، بَذْرَةَ الْحَقِيقَةِ الْخَالِدَةِ ، بَذْرَةَ الْحَقِيقَةِ الْأَبَدِيَّةِ .. فَإِنْ كَانَ اتَّجَهَ إِلَى الْقَمَرِ فَإِنَّ الْبَذْرَةَ لَا تَنْمُو عَنْ نَوْعِ الشَّجَرَةِ وَلَا طَعْمِ الشَّجَرَةِ ، إِلَّا بَعْدَ أَنْ تَنْمُو وَتَتَرَعْرَعَ وَيَنْضُجَ الثَّمَرُ . إِنَّ بَذْرَةَ الْإِيمَانِ الْحَقِّ ، بَذْرَةَ مَعْرِفَةِ اللَّهِ الْقَادِرِ بَذَرَتْ فِي ضَمِيرِ إِبْرَاهِيمَ ، وَلَنْ تَكْشِفَ عَنْ حَقِيقَةِ جَوْهَرِهَا وَكُنُوزِ مَعْدِنِهَا إِلَّا بَعْدَ أَنْ تَتَغَلْغَلَ جُذُورُهَا فِي أَعْمَاقِ رُوحِهِ ، وَتَنْمُوَ وَتَتَفَرَّعَ فِي السَّمَاءِ ، وَتَرْتَفِعَ إِلَى مَا فَوْقَ الطَّبِيعَةِ وَالْجُثْمَانِ .
— "Ya Tuhan, ridhailah aku.. kepada-Mu aku mencinta, maka anugerahkanlah kepadaku, ya Tuhan, cinta-Mu. Aku ingin melihat dengan-Mu, mendengar dengan-Mu, berbicara dengan-Mu, dan tidak melangkah kecuali di jalan-Mu, tidak mencintai kecuali karena-Mu, dan tidak membenci kecuali demi-Mu. Ya Tuhan, Engkau adalah yang Maha Dahulu sekaligus Maha Baru, malam ini Engkau begitu muda, dan dari hati-Mu terpancar keremajaan yang abadi, maka dukunglah aku, wahai Tuhanku, dengan kekuatan, dan perkuatlah aku dengan ruh dari sisi-Mu, selama Engkau, wahai Tuhanku, telah mengangkat tirai dari mataku, dan menghamparkan jalanku dengan cahaya. Engkau telah menanam benih keimanan dalam ruh Ibrahim, benih kebenaran yang mendalam, benih kebenaran yang abadi, benih kebenaran yang kekal.. jika ia berpaling ke bulan, maka benih itu tidak tumbuh dari jenis pohon atau rasa pohon itu, kecuali setelah ia tumbuh, berkembang, dan buahnya matang. Benih keimanan yang benar, benih pengenalan kepada Allah yang Maha Kuasa telah tertanam dalam batin Ibrahim, dan ia tidak akan menyingkap hakikat inti dan harta karun mineralnya kecuali setelah akar-akarnya merasuk ke dalam kedalaman ruhnya, tumbuh dan bercabang ke langit, serta naik ke atas alam semesta dan fisik."
— يَا رَبِّ أَيْقِظْ رُوحِي ، وَابْعَثْ شُعَاعَكَ الْمُقَدَّسَ يُنِيرُ ظَلَامَ نَفْسِي ، وَيَسِّرْنِي يَا إِلَهِي لِأَنْ أَعْكَسَ نُورَكَ ، وَأَنْ أُنَفِّذَ فِي الْأَرْضِ مَشِيئَتَكَ .
— "Ya Tuhan, bangkitkanlah ruhku, dan kirimkanlah sinar suci-Mu untuk menerangi kegelapan jiwaku, dan mudahkanlah aku, wahai Tuhanku, untuk memantulkan cahaya-Mu, dan melaksanakan kehendak-Mu di bumi."
وَاخْتَفَى نُورُ الْقَمَرِ فَجْأَةً فَخَفَقَ قَلْبُ إِبْرَاهِيمَ فَزَعًا ، وَرَفَعَ عَيْنَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ لِيَرَى مَا غَشَّى وَجْهَ الْإِلَهِ ، فَإِذَا بِسَحَابَةٍ دَاكِنَةٍ تَحُولُ بَيْنَ الْقَمَرِ وَبَيْنَ أَنْ يَبْعَثَ نُورَهُ إِلَى الْأَرْضِ .
Cahaya bulan tiba-tiba menghilang, jantung Ibrahim berdegup kencang karena takut, ia mengangkat matanya ke langit untuk melihat apa yang menutupi wajah Tuhan, ternyata ada awan gelap yang menghalangi bulan untuk memancarkan cahayanya ke bumi.
وَاسْتَوْلَى الْقَلَقُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، وَعَرَفَ طَرِيقَهُ إِلَى قَلْبِهِ مَرَّةً أُخْرَى بَعْدَ أَنْ حَسِبَ أَنَّ السَّلَامَ قَدِ اسْتَقَرَّ فِيهِ ، وَرَاحَ يُقَاوِمُ ظِلَالَ الشَّكِّ الَّتِي رَانَتْ عَلَيْهِ . أَخَذَ يُقْنِعُ نَفْسَهُ أَنَّ نِقَابَ السَّحَابِ لَا يَضِيرُ الْإِلَهَ ، فَهُوَ وَإِنْ كَانَ حَجَبَهُ عَنِ الْأَرْضِ فَإِنَّهُ لَا يَزَالُ يَتَأَلَّقُ فَوْقَ السَّحَابِ بِنُورِهِ وَجَلَالِهِ وَسَنَاهُ . وَمَرَّ الْوَقْتُ وَإِبْرَاهِيمُ يَرْنُو إِلَى السَّمَاءِ فِي قَلَقٍ وَرَجَاءٍ ، حَتَّى إِذَا انْقَشَعَتِ السُّحُبُ وَرَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ :
Kegelisahan menguasai Ibrahim, dan ia menemukan jalan ke hatinya lagi setelah ia mengira kedamaian telah menetap di dalamnya. Ia mulai melawan bayang-bayang keraguan yang menyelimutinya. Ia mulai meyakinkan dirinya bahwa tabir awan tidak mencelakai Tuhan; meskipun awan itu menghalanginya dari bumi, Tuhan tetap bersinar di atas awan dengan cahaya, keagungan, dan kemegahan-Nya. Waktu berlalu dan Ibrahim terus memandang ke langit dalam kegelisahan dan harapan, hingga awan tersingkap dan ia melihat bulan terbit, ia pun berkata:
— هَذَا رَبِّي .
— "Inilah Tuhanku."
وَانْقَلَبَ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُورًا ، فَقَدْ حَسِبَ أَنَّهُ اهْتَدَى إِلَى نَبْعِ النُّورِ ، إِلَى نُورِ النُّورِ ، إِلَى الْقَدِيمِ الْجَدِيدِ ، إِلَى الْحَقِيقَةِ الْأَزَلِيَّةِ .
Ia kembali kepada keluarganya dengan sukacita, karena ia mengira telah mendapatkan petunjuk ke sumber cahaya, ke cahaya dari segala cahaya, ke Yang Maha Dahulu lagi Maha Baru, ke kebenaran yang azali.

وَخَرَجَ نَاحُورُ وَهَارَانُ يَحْمِلَانِ تَمَاثِيلَ الْآلِهَةِ الَّتِي صَنَعَهَا آزَرُ يَبِيعَانِهَا أَمَامَ مَعْبَدِ نَانَا ، وَكَانَا سَعِيدَيْنِ بِعَمَلِهِمَا ، فَقَدْ كَانَا يَنْسَلَّانِ بَيْنَ الْفَيْنَةِ وَالْفَيْنَةِ إِلَى حُجُرَاتِ الْمَعْبَدِ الْمُنْعَزِلَةِ يَصْغَيَانِ إِلَى الْمُوسِيقَى الَّتِي تَتَلَقَّاهَا فَتَيَاتُ الْمَعْبَدِ عَلَى أَيْدِي الْكَاهِنَاتِ ، وَيَسْعَدَانِ بِالْأَنْغَامِ الشَّجِيَّةِ الْمُنْبَعِثَةِ مِنَ الْمَزَامِيرِ وَالْأَبْوَاقِ ، وَالدُّفُوفِ وَالْعِيدَانِ ، وَالطُّبُولِ وَالصُّنُوجِ . وَكَانَا غَالِبًا مَا يَمْزَحَانِ مَعَ الْعَاهِرَاتِ الْمُقَدَّسَاتِ ، بَيْدَ أَنَّهُمَا لَمْ يَسْتَنْكِرَا عَمَلَهُنَّ كَمَا فَعَلَ أَخُوهُمَا إِبْرَاهِيمُ ، فَقَدْ غَرَسَ فِي قَلْبَيْهِمَا حُبُّ فَتَيَاتِ الْمَعْبَدِ وَالنَّظَرِ إِلَى مَا يَفْعَلْنَ نَظْرَةَ إِجْلَالٍ ، فَهُنَّ إِنَّمَا يُضَحِّينَ بِأَجْسَادِهِنَّ فِي سَبِيلِ الْآلِهَةِ ، فِي سَبِيلِ هَدَفٍ سَامٍ ! وَخَرَجَ إِبْرَاهِيمُ يَرْعَى الْغَنَمَ لِيَأْكُلَ مِنْ جُهْدِهِ ، فَقَدْ أَدْرَكَ بِبَدِيهَةِ قَلْبِهِ أَنَّ الْمَالَ الَّذِي يَكْسِبُهُ أَبُوهُ مِنْ بَيْعِ تَمَاثِيلِ الْآلِهَةِ مَالٌ حَرَامٌ ، وَقَدْ عَزَمَ أَلَّا يَدْخُلَ جَوْفَهُ مَأْكَلٌ مِنْ حَرَامٍ ، بَعْدَ أَنْ اهْتَدَى إِلَى نُورِ الْحَقِيقَةِ الْخَالِدَةِ .
Nahur dan Haran keluar membawa patung-patung berhala yang dibuat Azar untuk dijual di depan kuil Nana. Mereka bahagia dengan pekerjaan mereka; mereka sering menyelinap ke ruang-ruang terpencil di kuil untuk mendengarkan musik yang diterima gadis-gadis kuil dari para pendeta wanita. Mereka menikmati alunan melodi merdu yang terpancar dari seruling, terompet, rebana, kecapi, gendang, dan simbal. Mereka sering bercanda dengan para pelacur suci, namun mereka tidak mencela perbuatan mereka seperti yang dilakukan saudara mereka, Ibrahim. Kecintaan kepada gadis-gadis kuil telah tertanam di hati mereka, memandang apa yang mereka lakukan dengan pandangan hormat; karena mereka mengorbankan tubuh mereka demi dewa-dewa, demi tujuan yang mulia! Ibrahim pun keluar menggembalakan domba agar bisa makan dari hasil usahanya sendiri. Ia telah menyadari dengan intuisi hatinya bahwa harta yang diperoleh ayahnya dari menjual patung-patung berhala adalah harta haram, dan ia bertekad untuk tidak memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, setelah ia mendapat petunjuk ke cahaya kebenaran yang abadi.
وَتَرَكَ إِبْرَاهِيمُ الْغَنَمَ تَرْعَى فِي الْمُرُوجِ الْخُضْرِ وَرَاحَ يَتَلَفَّتُ فِي الْكَوْنِ وَهُوَ مُفْعَمٌ بِالْفَرَحِ ؛ كَانَ كُلُّ مَا حَوْلَهُ يُسَبِّحُ بِجَمَالِ ذَاتِ الْإِلَهِ . لَكَأَنَّمَا الزَّنَابِقُ الْبِيضُ خُلِقَتْ مِنْ نُورِهِ ، وَكَأَنَّمَا النَّوَارُ الْأَصْفَرُ الَّذِي يَمْتَدُّ حَتَّى الْأُفُقِ يَمْنَحُ النَّفْسَ إِشْرَاقَهُ ، وَكَأَنَّمَا تِلْكَ الْخُضْرَةُ الزَّاهِيَةُ الَّتِي تَكْسُو الْأَرْضَ وَبَيْنَهَا الْبَنَفْسَجُ الْأَزْرَقُ وَالْوَرْدُ الْأَحْمَرُ حُلَّةٌ سَنْدَسِيَّةٌ مُوَشَّاةٌ بِبَوَاقِيتَ وَزَبَرْجَدٍ وَمَرْجَانٍ . كُلُّ هَذَا التَّنَاسُقِ فِي الْأَلْوَانِ إِنَّمَا يُسَبِّحُ لِلْفَنَّانِ الْمُبْدِعِ الَّذِي يَنْفُخُ فِي كُلِّ مَا يُبْدِعُ مِنْ رُوحِهِ وَجَمَالِهِ . وَاتَّسَعَتْ نَظْرَةُ إِبْرَاهِيمَ وَنَمَا إِدْرَاكُهُ وَرَحُبَ أُفُقُهُ ، فَكَانَ يَرَى الْجَمَالَ فِي كُلِّ مَا تَقَعُ عَلَيْهِ عَيْنَاهُ ؛ لَمْ تُصْبِحِ الْأَلْوَانُ الْمُتَنَاسِقَةُ هِيَ كُلَّ مَا يُحَرِّكُ سُرُورَهُ ، بَلْ صَارَ كُلُّ مَا فِي الدُّنْيَا حَبِيبًا إِلَى قَلْبِهِ : الْأَرْضُ الْجَرْدَاءُ .. الْجِبَالُ الصَّمَّاءُ .. الرِّيحُ الصَّرْصَرُ .. الْإِعْصَارُ الْجَبَّارُ .. قَيْظُ الصَّيْفِ وَقَرُّ الشِّتَاءِ .. مَوْجُ الْبَحْرِ وَسُيُولُ السَّحَابِ .. حَتَّى الْمَوْتُ لَمْ يَعُدْ يَخْشَاهُ ، فَقَدْ أَحَبَّ إِلَهَهُ مِنْ كُلِّ قَلْبِهِ ، فَأَحَبَّ كُلَّ مَا جَرَتْ بِهِ مَشِيئَتُهُ وَكُلَّ مَا خَلَقَ مِنْ كَائِنَاتٍ فِي الْأَرْضِ أَوِ فِي السَّمَاءِ . تَحَرَّرَتْ رُوحُهُ وَانْطَلَقَتْ مِنْ سِجْنِ النَّفْسِ فَاتَّسَقَتْ آفَاقُ رُؤْيَتِهَا ، أَحَسَّتْ أَنَّ الْكَوْنَ لَيْسَ فِي ذَلِكَ الْجُزْءِ الضَّيِّقِ مِنَ الدُّنْيَا الَّذِي تَرَاهُ عَيْنَاهُ ، وَتَسْمَعُ تَرَدُّدَاتِ أَنْفَاسِهِ أُذْنَاهُ ، وَتَطْوِيهِ قَدَمَاهُ ؛ إِنَّمَا الْكَوْنُ رَحِيبٌ وَاسِعٌ زَاخِرٌ بِقُدْرَةِ الْإِلَهِ ، فَإِنْ عَجَزَ عَنْ أَنْ يَرَاهُ وَعَنْ أَنْ يَحْتَوِيَهُ فِي فُؤَادِهِ ، فَإِنَّهُ لَمْ يَعْجِزْ عَنْ أَنْ يُحِبَّهُ وَأَنْ يَتَنَاغَمَ مَعَهُ ، وَأَنْ يَنْعَمَ بِالسُّرُورِ لِذَلِكَ النَّبْضِ الْحَيِّ السَّارِي فِي كُلِّ مَا حَوْلَهُ . وَبَصُرَ بِشَاةٍ صَغِيرَةٍ ، بَيْضَاءَ جَمِيلَةٍ ، تَثِبُ فِي فَرَحٍ بَيْنَ الْقَطِيعِ ، وَتَمْرَحُ فِي الْخَلَاءِ ، وَتَسْرِي فِي الْكَوْنِ سَرَيَانَ الرُّوحِ . كَانَتْ فِي وُثُوبِهَا آيَةً ، وَفِي مَرَحِهَا آيَةً ، وَكَانَ بَرِيقُ الْفَرَحِ الَّذِي يَشِعُّ مِنْ عَيْنَيْهَا آيَةً ، وَانْفِعَالُ الْقَطِيعِ بِمَرَحِهَا وَمُشَارَكَتُهُ إِيَّاهَا فِي حُبُورِهَا آيَةً .
Ibrahim membiarkan domba-dombanya merumput di padang rumput hijau dan ia mulai menatap alam semesta dengan penuh sukacita; segala sesuatu di sekelilingnya bertasbih akan keindahan Zat Ilahi. Seolah-olah bunga lili putih diciptakan dari cahaya-Nya, seolah-olah bunga kuning yang membentang hingga ke cakrawala memberikan jiwa pancaran cahaya, dan seolah-olah hamparan hijau yang menutupi bumi di antara bunga violet biru dan mawar merah adalah jubah sutra yang disulam dengan permata, zamrud, dan karang. Semua keselarasan warna ini bertasbih kepada Seniman Pencipta yang menghembuskan ruh dan keindahan-Nya ke dalam segala yang diciptakan-Nya. Pandangan Ibrahim meluas, pemahamannya berkembang, dan cakrawala berpikirnya menjadi luas; ia melihat keindahan dalam segala yang dipandang matanya; warna-warna yang serasi bukan lagi satu-satunya yang menggerakkan sukacitanya, melainkan segala sesuatu di dunia ini menjadi kekasih hatinya: bumi yang gersang.. gunung-gunung yang bisu.. angin kencang.. badai yang dahsyat.. panas musim panas dan dingin musim dingin.. ombak laut dan banjir awan.. bahkan kematian pun tidak lagi ditakutinya, karena ia telah mencintai Tuhannya dengan sepenuh hati, maka ia pun mencintai segala sesuatu yang terjadi atas kehendak-Nya dan segala makhluk yang diciptakan-Nya di bumi atau di langit. Ruh-nya terbebaskan dan melesat keluar dari penjara jiwa, cakrawala pandangannya menjadi luas. Ia merasa bahwa alam semesta tidak terbatas pada bagian sempit dari dunia yang dilihat matanya, yang didengar desah napasnya oleh telinganya, dan yang dilalui langkah kakinya; alam semesta itu luas, lapang, dan penuh dengan kekuasaan Tuhan. Jika ia tidak mampu melihatnya dan mencakupnya dalam hatinya, ia tidak gagal untuk mencintainya, selaras dengannya, dan menikmati kebahagiaan karena denyut nadi kehidupan yang mengalir di segala sesuatu di sekelilingnya. Ia melihat seekor anak domba, putih dan cantik, melompat kegirangan di antara kawanan, bermain-main di ruang terbuka, dan mengalir di alam semesta seperti aliran ruh. Lompatannya adalah tanda kebesaran, kegembiraannya adalah tanda, kilau kegembiraan yang terpancar dari matanya adalah tanda, dan reaksi kawanan domba terhadap kegembiraannya serta partisipasi mereka dalam kebahagiaannya adalah tanda.
وَهَبَّ النَّسِيمُ يَنْفُخُ فِي مَزَامِيرِ الطَّبِيعَةِ وَيُدَاعِبُ أَوْتَارَ عِيدَانِهَا وَيَنْقُرُ فِي رِقَّةٍ دُفُوفَهَا ، فَبَدَا كَأَنَّمَا الْكَوْنُ جَمِيعَهُ يَعْزِفُ لَحْنًا عَلَوِيًّا ، فَتَهَلَّلَتْ نَفْسُ إِبْرَاهِيمَ بِالْفَرَحِ وَأُفْعِمَ بِالنَّشْوَةِ ، فَالْحَيَاةُ تَرْقُصُ مِنْ حَوْلِهِ . وَرَاحَ يَرْقُبُ اللَّوْحَاتِ الَّتِي يَبْدَعُهَا الْفَنَّانُ الْأَعْظَمُ عَلَى صَفْحَةِ السَّمَاءِ ؛ إِنَّهَا لَوْحَاتٌ رَائِعَةٌ لَا تَعْرِفُ الْجُمُودَ وَلَا يَدِبُّ فِيهَا الْفَنَاءُ . إِنَّهَا حَيَّةٌ مُتَجَدِّدَةٌ نَابِضَةٌ بِرُوحِ الْإِلَهِ . إِنَّهُ يَرْعَاهَا مُنْذُ شُرُوقِ الشَّمْسِ حَتَّى غُرُوبِهَا ، وَيَرْعَاهَا فِي فَحْمَةِ اللَّيْلِ وَتَأَلُّقِ النُّجُومِ وَبِزُوغِ الْقَمَرِ ، وَيَرْعَاهَا فِي الصَّيْفِ وَالشِّتَاءِ وَالرَّبِيعِ وَالْخَرِيفِ ، وَيَرْعَاهَا وَالسَّمَاءُ صَافِيَةُ الْأَدِيمِ ثُمَّ وَهِيَ مُلْبِدَةٌ بِالْغُيُومِ ، وَيَرْعَاهَا وَالْهَوَاءُ يَهَبُّ رَخَاءً ثُمَّ وَالرِّيَاحُ تَعْصِفُ ، وَيَرْعَاهَا وَالطَّبِيعَةُ تَتَنَفَّسُ أَنْفَاسًا رَقِيقَةً عَطِرَةً ، ثُمَّ وَهِيَ غَاضِبَةٌ ثَائِرَةٌ . إِنَّ هَذِهِ اللَّوْحَاتِ فِي هُدُوئِهَا وَثَوْرَتِهَا ، فِي إِشْرَاقِهَا وَتَجَهُّمِهَا ، فِي نُورِهَا وَظُلْمَتِهَا ، إِنَّمَا تُسَبِّحُ عَلَى الدَّوَامِ بِمَجْدِ الْإِلَهِ ! وَخَشَعَ إِبْرَاهِيمُ وَحَنَى رَأْسَهُ لِعَظَمَةِ الْخَالِقِ ، وَرَاحَتْ مَشَاعِرُهُ تُرَدِّدُ صَلَاةً عَمِيقَةً حَارَّةً ، صَلَاةً لَمْ تَجْرِ عَلَى لِسَانِهِ فَقَدْ كَانَتِ الْأَلْفَاظُ أَعْجَزَ مِنْ أَنْ تُعَبِّرَ عَنْهَا أَوْ تَرْتَفِعَ إِلَى نَبْضِهَا . كَانَ نُورُ الْإِيمَانِ يَتَسَامَى مِنْ قَلْبِ إِبْرَاهِيمَ إِلَى السَّمَاءِ ، وَكَانَ نُورُ الْإِلَهِ يَنْسَكِبُ مِنْ فَوْقِ الْكَوْنِ كُلِّهِ فِي قَلْبِهِ لِيُنِيرَ لَهُ طَرِيقَ الْوُصُولِ إِلَيْهِ .
Angin bertiup meniup seruling alam, membelai dawai kecapinya, dan memetik rebana-rebananya dengan lembut, seolah-olah seluruh alam semesta memainkan melodi surgawi. Jiwa Ibrahim berseri-seri dengan sukacita dan meluap dengan ekstasi; kehidupan menari-nari di sekelilingnya. Ia terus mengamati lukisan-lukisan yang diciptakan oleh Sang Seniman Agung di atas cakrawala langit; lukisan-lukisan menakjubkan yang tidak mengenal kaku dan tidak akan pernah punah. Lukisan-lukisan itu hidup, selalu baru, dan berdenyut dengan ruh Ilahi. Ia mengamatinya sejak matahari terbit hingga terbenam, mengamatinya di tengah pekat malam, kilauan bintang, dan terbitnya bulan. Ia mengamatinya di musim panas, musim dingin, musim semi, dan musim gugur. Ia mengamatinya saat langit cerah maupun saat mendung tertutup awan, mengamatinya saat udara berhembus lembut hingga angin bertiup kencang, dan mengamatinya saat alam menghembuskan napas yang lembut dan harum, hingga saat alam sedang marah dan bergejolak. Lukisan-lukisan ini, dalam ketenangan maupun gejolaknya, dalam kecerahan maupun kesuraman, dalam cahaya maupun kegelapannya, senantiasa bertasbih akan kemuliaan Tuhan! Ibrahim khusyuk dan menundukkan kepalanya di hadapan keagungan Sang Pencipta. Perasaannya melantunkan doa yang dalam dan khusyuk, doa yang tidak terucap oleh lisannya karena kata-kata terlalu lemah untuk mengungkapkannya atau mencapai denyut nadinya. Cahaya iman naik dari hati Ibrahim ke langit, dan cahaya Tuhan mengalir dari atas seluruh alam semesta ke dalam hatinya untuk menerangi jalan baginya agar sampai kepada-Nya.
أَحَسَّ إِبْرَاهِيمُ رَحَابَةً وَاتِّسَاعًا فِي بَصَرِهِ وَبَصِيرَتِهِ ، فِي قَلْبِهِ وَوِجْدَانِهِ ، وَانْطَلَقَتْ رُوحُهُ حُرَّةً تَرْفْرِفُ فِي كُلِّ مَكَانٍ ، وَتَسْمُو وَتَتَسَامَى حَتَّى تَكَادُ تُجَاوِزُ الْمَكَانَ وَتَمْحُو الزَّمَانَ مِنْ حُسَابِهَا ، حَطَّمَتْ رُوحُهُ كُلَّ الْقُيُودِ الَّتِي تَشُدُّهَا إِلَى الْأَشْيَاءِ وَالْكَائِنَاتِ إِلَّا ذَلِكَ الْقَيْدَ الْحَدِيدِيَّ الَّذِي رَبَطَهَا بِرُوحِ الْكَوْنِ ، بِالْحَقِيقَةِ الْخَالِدَةِ ، بِالْحَقِيقَةِ الْأَزَلِيَّةِ ، قَيْدَ الْمَحَبَّةِ الَّذِي تَهَلَّلَ لَهُ نَفْسُهُ بِالْفَرَحِ .
Ibrahim merasakan kelapangan dan keluasan dalam penglihatan dan mata batinnya, di dalam hati dan nuraninya. Ruh-nya terlepas bebas, terbang ke segala tempat, membumbung tinggi hingga hampir melampaui tempat dan menghapus waktu dari hitungannya. Ruh-nya memecahkan semua belenggu yang mengikatnya pada benda-benda dan makhluk-makhluk, kecuali belenggu besi yang menghubungkannya dengan ruh alam semesta, dengan kebenaran yang abadi, dengan kebenaran yang azali; belenggu cinta yang membuat jiwanya berseri-seri penuh sukacita.
وَغَمَرَتْهُ أَنْوَارُ التَّجَلِّيَاتِ وَإِنْ كَانَ الْمَسَاءُ قَدْ أَظَلَّ دُونَ أَنْ يُحِسَّ بِالظَّلَامِ الَّذِي تَلَفَّعَ بِهِ الْكَوْنُ ، وَأَشْرَقَ النُّورُ فِي قَلْبِهِ وَإِنْ غَابَتِ الشَّمْسُ وَذَابَ الشَّفَقُ فِي سَوَادِ الرِّدَاءِ ، وَاسْتَمَرَّ فِي السَّجْدَةِ الطَّوِيلَةِ الَّتِي سَجَدَتْهَا رُوحُهُ إِلَى أَنْ أَحَسَّ حَرَكَةَ الْغَنَمِ مِنْ حَوْلِهِ ، فَأَفَاقَ مِنْ وَجْدِهِ وَعَادَ إِلَى الْأَرْضِ مِنْ رِحْلَتِهِ الرُّوحِيَّةِ الَّتِي حَلَّقَتْ بِهِ فَوْقَ السَّمَاءِ ، عَادَ لِيَنْعَمَ بِالْأُنْسِ وَغِذَاءِ الرُّوحِ ، وَيَرَى الْحَقِيقَةَ الَّتِي تَبَلَّجَتْ لِعَيْنَيْ بَصِيرَتِهِ كَفَلَقِ الصُّبْحِ أَوْ كَرَائِعَةِ النَّهَارِ .
Cahaya manifestasi ilahi meliputinya, meskipun malam telah tiba, tanpa ia merasakan kegelapan yang menyelimuti alam semesta. Cahaya bersinar di hatinya meskipun matahari telah terbenam dan senja melebur dalam hitamnya jubah malam. Ia terus dalam sujud panjang yang dilakukan ruh-nya sampai ia merasakan gerakan domba-domba di sekitarnya. Ia pun tersadar dari ekstasi dan kembali ke bumi dari perjalanan spiritual yang membawanya terbang di atas langit. Ia kembali untuk menikmati keintiman dan nutrisi bagi ruh, serta melihat kebenaran yang tersingkap bagi mata batinnya laksana terbitnya fajar atau keindahan siang hari.
وَلَمْ يَكُنِ الْقَمَرُ فِي تَمَامِهِ بَلْ كَانَ يَنْحَدِرُ نَحْوَ النُّقْصَانِ لِيَعُودَ إِلَى الْمَحَاقِ وَقَدْ فَقَدَ كَثِيرًا مِنْ سِحْرِهِ وَرَوْنَقِهِ . وَإِنَّ تَأْثِيرَهُ الَّذِي مَلَأَهُ بِالْفَرَحِ لَيْلَةَ اكْتِمَالِهِ بَدَأَ يَضْعُفُ . إِنَّهُ مُتَقَلِّبٌ لَا يَسْتَقِرُّ عَلَى حَالٍ ، أَيُمْكِنُ أَنْ يَزْدَهِرَ الْإِلَهُ وَيَذْبُلَ كَمَا يَزْدَهِرُ النَّوَارُ وَيَذْبُلُ ؟ أَيُمْكِنُ أَنْ يَمُوتَ الْآلِهُ وَيُولَدَ كَمَا يَمُوتُ الزَّرْعُ وَيُولَدُ ؟ أَيُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ إِلهًا ذَلِكَ الَّذِي لَا يَتَحَكَّمُ فِي إِرَادَتِهِ بَلْ يَخْضَعُ لِإِرَادَةٍ أُخْرَى تَكْتُبُ عَلَيْهِ الِاخْتِفَاءَ وَالظُّهُورَ ؟!
Bulan tidak sedang purnama, melainkan sedang menuju kekurangan untuk kembali ke fase bulan mati, dan telah kehilangan banyak pesona serta keindahannya. Pengaruhnya yang memenuhi hatinya dengan sukacita pada malam purnama mulai melemah. Ia berubah-ubah dan tidak tetap pada satu keadaan. Mungkinkah Tuhan berkembang dan layu sebagaimana bunga mekar dan layu? Mungkinkah Tuhan mati dan lahir sebagaimana tanaman mati dan lahir? Mungkinkah disebut Tuhan, zat yang tidak menguasai kehendaknya sendiri melainkan tunduk pada kehendak lain yang menentukan baginya untuk menghilang dan muncul?!.
حَسْبُ أَنْ نُورَهُ يُبَدِّدُ ظَلَامَ النُّفُوسِ لَا يَقْوَى عَلَى أَنْ يُبَدِّدَ ظَلَامَ اللَّيْلِ مِنْ حَوْلِهِ ، فَكَيْفَ يَقْوَى وَهَذَا حَالُهُ عَلَى أَنْ يَهْدِيَ الْأَرْوَاحَ إِلَى النُّورِ الْفَيَّاضِ . لَقَدْ رَكَنَ إِلَى عَقْلِهِ يَسْأَلُهُ وَيَسْتَخْبِرُهُ وَيَطْلُبُ عَنْهُ النَّصَحَ وَإِنْ لَمْ يَفْطَنْ بَعْدُ إِلَى حَقِيقَةٍ كَامِنَةٍ فِي نَفْسِهِ ، حَقِيقَةِ أَنَّ بَدِيهَةَ الْقَلْبِ أَصْدَقُ مِنْ بَدِيهَةِ الذِّهْنِ ، وَأَنَّ بَصِيرَةَ الْقَلْبِ أَحَدُّ مِنْ بَصَرِ الْعَقْلِ الَّذِي تَعُوقُ انْطِلَاقَهُ الْحَوَاجِزُ وَالسُّدُودُ . وَمَا انْفَكَّ يَرْصُدُ الْقَمَرَ وَفِي عَقْلِهِ إِنْكَارٌ ، وَإِنْ يَكُنْ فِي قَلْبِهِ نُورُ الْهِلَالِ الَّذِي كَانَ يَذْبُلُ وَيَذْبُلُ . فَلَمَّا أَفَلَ الْقَمَرُ قَلَبَ إِبْرَاهِيمُ وَجْهَهُ فِي الْكَوْنِ وَقَالَ : — لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ .
Cukup baginya bahwa cahayanya menghilangkan kegelapan jiwa, namun ia tidak mampu menghilangkan kegelapan malam di sekelilingnya, maka bagaimana mungkin ia bisa menuntun ruh menuju cahaya yang melimpah dalam keadaan seperti ini? Ia bersandar pada akalnya, bertanya, mencari informasi, dan meminta nasihat darinya, meskipun ia belum menyadari kebenaran yang terpendam dalam dirinya; kebenaran bahwa intuisi hati lebih jujur daripada intuisi pikiran, dan bahwa mata batin hati lebih tajam daripada penglihatan akal yang langkahnya terhambat oleh hambatan dan rintangan. Ia terus mengamati bulan dengan penolakan dalam akalnya, meskipun di dalam hatinya ada cahaya bulan sabit yang terus memudar. Ketika bulan terbenam, Ibrahim memalingkan wajahnya ke alam semesta dan berkata: "Jika Tuhanku tidak memberiku petunjuk, niscaya aku akan termasuk kaum yang tersesat.".

💬 SYARH NYABLAK USTADZ BCA
(Betawi Cengkareng Asli)
- Klik buat baca syarah gaya Abi Thoufur untuk episode ini -
Assalaamu'alaikum Sahabat BABA...!!

"Jama'ah BABA nyang dimuliain Allah! Gimane kabarnye, Cing, Nyak, Babe? Masih idup kan? Eh maksud ane, masih sehat kan? Alhamdulillah!

Hari ini kita lanjut 'nyilem' lagi bareng kisah Abul Anbiya, Nabi Ibrahim عليه السلام. Episode 9 ini bakal seru bener, pas Ibrahim lagi 'diet' spiritual nyari Tuhan di balik rembulan. Nyablak bener nih ceritanye, dengerin baek-baek!"

[BAGIAN 1: DIET BUKAN SEMBARANG DIET]

Abi Thoufur: "Jama’ah! Liat nih Ibrahim. Kalo kite mah telat makan sejam aje udeh demo cacing di perut. Tapi Ibrahim? Dari pagi kagak nyentuh nasi uduk, kagak nyeruput kopi. Maknye sampe bingung, 'Him, makan napa Him?' Ibrahim cuman jawab pendek, 'Makasih, Mak.' Badannye emang di kamar, tapi jiwenye lagi 'kelayapan' nyari kunci rahasia langit!"

Abi Nyablak: "Bener, Bang! Ibrahim ini lagi 'Laper Iman'. Die kagak butuh karbohidrat, die butuh 'Nutrisi Tauhid'. Pas Emaknye naruh pelita minyak, Ibrahim kagak liat ntu cahaya sumbu. Die lagi nungguin 'Lampu' di dalem hatinye nyala! Die pengen keluar, pengen 'unboxing' rahasia alam semesta nyang selama ini ditutup-tutupin ama tukang bikin patung!"

⚠️ [BAGIAN 2: MANDI WAJIB... JIWA & RAGA]

Abi Thoufur: "Ibrahim udeh kagak betah di rumah. Die bangun, terus mandi. Tapi mandinye Ibrahim beda, Cing! Die ngerasa tiap tetes air ntu bukan cuman ngebersihin daki di kulit, tapi ngebilas kegalauan di dalem nurani. Keluar dari kamar mandi, Ibrahim udeh fresh lahir batin, siap 'nge-date' ama alam semesta!"

Abi Nyablak: "Pas di luar, Ibrahim ngeliat dunia kayak baru pertama kali! Gunung, pohon, angin... semuanya berasa 'idup' dan lagi 'bisik-bisik' nyebut nama Penciptanye. Ibrahim ngebatin, 'Ya Allah, kagak mungkin ini semua jadi dengan sendirinye alias kebetulan!' Jiwenye terbang, udeh kayak merpati lepas dari kandang, kagak ada lagi beban!"

[BAGIAN 3: BULAN PURNAMA NYANG BIKIN BAPER]

Abi Thoufur: "Terus, Ibrahim nengok ke atas. Masya Allah... ada Bulan lagi glowing-glowingnye! Cahayanye manis banget, nyelimutin bumi kayak selimut sutra. Ibrahim langsung kesemsem, 'Nah! Ini die nih nyang ane cari! Ini Tuhan ane!' Hatinye langsung adem, die salat khusyuk banget di bawah sinar rembulan."

Abi Nyablak: "Ibrahim girangnye minta ampun, Bang! Die pikir petualangannye udeh kelar. Die doa: 'Ya Allah, ane pengen liat pake cara-Mu, ngomong pake cara-Mu, jangan biarin ane cinta ama nyang laen selain Engkau!' Ibrahim udeh ngerasa megang kunci surga. Tapi eh... ternyata skenario Allah belum kelar, Cing!"

[BAGIAN 4: AWAN GELAP & BULAN NYANG 'PEYOT']

Abi Thoufur: "Lagi asyik-asyiknye baper ama bulan, eh tiba-tiba ada awan item lewat! Pet! Cahaya bulan ilang. Hati Ibrahim langsung deg-degan, takut 'Tuhannye' kenapa-napa. Pas awan lewat, bulan nongol lagi, Ibrahim lega, 'Hadeh, untung ada lagi.' Tapi besok-besoknye, Ibrahim liat hal nyang aneh..."

Abi Nyablak: "Bulan nyang tadinya bulet montok, lama-lama jadi peyot, Cing! Jadi sabit, terus ilang (mati)! Ibrahim mikir keras: 'Masa Tuhan ganti-ganti bentuk? Masa Tuhan tunduk ama jadwal? Kalo die kagak bisa ngatur dirinya sendiri biar tetep terang, gimane mau nuntun ane?!' Di situ Ibrahim sadar, bulan itu cuman 'lampu tempel' di langit, bukan Sang Pemilik Cahaya!"

[BAGIAN 5: KONTRAK SOSIAL HARAM & HALAL]

Abi Thoufur: "Sambil mikir, Ibrahim milih jadi tukang angon kambing. Die kagak mau makan duit bokapnye nyang hasil jualan berhala. 'Ogah dah makan barang haram!' kata Ibrahim. Sementara itu, abang-abangnye, si Nahur ama Haran, malah asyik 'nongkrong' di kuil. Bukannye ibadah, malah 'cuci mata' liat penyanyi kuil ama godain 'pelacur suci'. Parah banget dah!"

Abi Nyablak: "Bener, Bang! Nahur ama Haran anggep maksiat itu 'ibadah'. Ibrahim makin enek liatnye. Di tengah padang rumput, Ibrahim liat anak domba putih nyang lari-lari girang. Die liat lukisan langit nyang ganti-ganti tiap musim. Die makin yakin: Tuhan itu Sang Seniman Agung nyang kagak pernah kaku, kagak pernah mati!"

[OUTRO]

Abi Thoufur: "Akhirnye Ibrahim angkat tangan, pasrah total! Die bilang: 'Kalo Tuhanku kagak ngasih petunjuk, fix dah ane jadi orang sesat!' Ibrahim udeh 'cerai' ama Bulan, die udeh 'putus' ama Bintang. Die lagi nungguin satu Cahaya lagi nyang paling gede: Matahari! Bakal jadi Tuhan beneran kagak nih?"

Abi Nyablak: "Penasaran kan? Makanye, jangan kemane-mane! Tetep di Kisah Abul Anbiya! Episode depan kite bakal liat duel Ibrahim ama Matahari! Ane Abi Nyablak, ngingetin: Cari Tuhan itu pake hati, jangan cuman liat nyang kinclong di langit doang! Wassalamu’alaikum!"

— ABI THOUFUR • THE NYABLAK TEACHER • MAN 1 JAKARTA —
BONUS EXCLUSIVE

🎁 Bingkisan Sayang dari Abi: APA HIKMAH DI BALIK EPISODE INI BUAT KITA?

Eits, jangan bubar dulu! Biar ente kagak cuma baca ceritanya doang, Abi kasih "Kado Ilmu" soal apa yang bisa kita petik dari kisah Nabi Ibrahim عليه السلام saat melakukan 'diet spiritual' mencari Sang Pencipta.

🛡️ Catatan Aqidah Abi:

"Proses Ibrahim mencari Tuhan lewat benda-benda langit adalah perjalanan akal menuju keyakinan. Tauhid yang kokoh bukan hasil ikut-ikutan, melainkan hasil dari tadabbur mendalam. Allah itu Sang Pencipta yang melampaui ciptaan-Nya; sifat-Nya kekal, tidak berubah, dan tidak terikat oleh waktu atau peredaran matahari dan bulan."

Catatan Ibadah Abi:

"Ibrahim mengajarkan bahwa ibadah itu butuh kesiapan jiwa. Sebelum menghadap Allah, beliau 'membersihkan' diri lahir dan batin. Ibadah bukan sekadar rutinitas, tapi sarana untuk merasakan kehadiran Allah di setiap helaan napas. Janganlah kita beribadah hanya dengan raga, tapi biarkan jiwa kita juga 'menghadap' kepada-Nya."

⚖️ Catatan Mu'amalah Abi:

"Ibrahim memilih bekerja menjadi penggembala domba demi menjaga kehormatan dan kehalalan rezekinya. Beliau menolak keras kemewahan yang bersumber dari perdagangan berhala. Ini adab mu'amalah yang luar biasa: meski dikelilingi gaya hidup yang salah, seorang mukmin harus punya integritas untuk memilih yang halal dan meninggalkan yang syubhat atau haram."

Alhamdulillah...

Tuntas sudah Episode 9 ini. Semoga perjalanan Ibrahim dalam mencari Cahaya kebenaran ini menginspirasi kita untuk selalu 'menyalakan' lampu akal dan nurani kita sendiri. Ada hikmah yang paling ngena buat ente? Atau ada yang bikin penasaran buat episode selanjutnya? Langsung sikat tulis di kolom komentar, biar kita diskusi bareng, Cing!


~ ABI THOUFUR (THE NYABLAK TEACHER) ~

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ ، وَبِاللهِ الْهِدَايَةُ وَالتَّوْفِيْقُ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi