BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

Serial Abul Anbiyaa #08 | Pemberontakan Sang Pencari: Runtuhnya Berhala dan Fajar Keyakinan

Thumbnail BABA Blog

بِسْمِ اللهِ الرَّحمْنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُم ْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Abi Ahmad Thoufur

Disajikan oleh : Abi Ahmad Thoufur

(Ustadz Betawi Nyablak Asli Cengkareng)

🏛️ COCOLAN SAMBEL BABA 🏛️

✍️ Muqoddimah ala Ustadz Betawi Nyablak

Langsung aje kite tancap gas ke Episode 8, ya. Gimane, makin penasarankan kelanjutan perjalanan Ibrahim yang makin mantep nyari hakikat kebenaran? Yuk, simak terus biar nggak ketinggalan, moga makin nambah ilmu yang berkah buat kite semua!

Setelah perdebatan sengit dengan Azar soal berhala, Ibrahim makin sadar kalo langkahnye bakal penuh tantangan. Di episode kali ini, kite bakal ngeliat kegigihan Ibrahim buat ngebuka mata kaumnye dari kesesatan yang udah mendarah daging. Pergulatan batin Ibrahim berubah jadi aksi nyata buat ngeruntuhin berhala-berhala bisu tersebut. Nyok, kite simak aksi Ibrahim yang bikin geger Kota Ur!

📖 مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ

Karya : Abdul Hamid Judah As-Sahhar

✦ ✧ ✦

أَبُو الْأَنْبِيَاءِ

Bapak Para Nabi ﴿

✧ ✦ ✧

Pemberontakan Sang Pencari:
Runtuhnya Berhala dan Fajar Keyakinan

Yuk, baca naskah aslinye. Nyang baca harus fokus, nyang ngebatin harus khusyuk!
ABUL ANBIYA
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Benturan Akal dan Dogma: Saat Ibrahim Memilih Jalannya Sendiri

Ibrahim bukan lagi sekadar anak yang mendengarkan, melainkan seorang pencari kebenaran yang menolak sujud pada apa yang tidak memberi manfaat maupun mudarat.

جَنَّ اللَّيْلُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ فَدَخَلَ لِيَنَامَ ، بَيْدَ أَنَّ الْوَسَنَ لَمْ يَطُفْ بِعَيْنَيْهِ . كَانَتِ الْأَفْكَارُ تَتَوَافَدُ عَلَى رَأْسِهِ تَوَافُدَ الْمَوْجِ ، كَانَ يُفَكِّرُ فِي الْكَوْنِ وَفَى الْقُدْرَةِ الَّتِي تُسَيِّرُهُ . إِنَّ لِهَذَا الْكَوْنِ إِلَهًا ، إِلَهًا وَاحِدًا لَا شَرِيكَ لَهُ ، وَإِنَّ رُوحَهُ لَتَهْفُو إِلَى مَعْرِفَةِ هَذَا الْإِلَهِ الْعَظِيمِ وَالْأُنْسِ بِهِ . كَانَ السُّكُونُ مُخَيِّمًا عَلَى أُورَ ، لَا هَمْسَةَ وَلَا نَأْمَةَ ، وَكَانَتِ اللَّيْلَةُ حَالِكَةَ الظَّلَامِ فَلَمْ يَكُنْ يَتَسَلَّلُ إِلَى الْغُرْفَةِ بَصِيصُ نُورٍ ؛ وَلَكِنَّ النُّورَ الَّذِي بَدَأَ يُضِئُ فِي قَلْبِ إِبْرَاهِيمَ كَانَ يُمَكِّنُهُ مِنْ رُؤْيَةِ مَا يَدُورُ فِي ذِهْنِهِ مِنْ أَفْكَارٍ فِي وُضُوحٍ . وَتَأَبَّى النَّوْمُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ فَقَامَ وَخَرَجَ إِلَى الشُّرْفَةِ الْمُطِلَّةِ عَلَى فَنَاءِ الدَّارِ ، وَهَبَّ النَّسِيمُ رَخَاءً يُدَاعِبُ وَجْهَهُ وَيُنْعِشُ رُوحَهُ وَيُغَذَّى الْأَفْكَارَ الَّتِي تَشْغَلُ عَقْلَهُ . إِنَّ هَذَا الْهَوَاءَ يَرِقُّ تَارَةً لِكَأَنَّ الْكَوْنَ يَتَنَفَّسُ أَنْفَاسًا نَدِيَّةً ، وَيَثُورُ أُخْرَى لِكَأَنَّ الْكَوْنَ يَنْفُثُ نَارًا وَدُخَانًا . وَرَفَعَ إِبْرَاهِيمُ بَصَرَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَرَآهَا زَرْقَاءَ صَافِيَةً ، سَافِرَةً بِلَا حِجَابٍ ، لَا تُوَشَّى صَفْحَتُهَا رُقَعُ السَّحَابِ . إِنَّ السَّمَاءَ اللَّيْلَةَ رَقِيقَةٌ مُشْرِقَةٌ ، فَلَوْ دَامَتْ لَهَا هَذِهِ الرِّقَّةُ وَهَذَا الْإِشْرَاقُ لَمَا نَزَلَ مِنْهَا الْمَاءُ ، وَلَجَفَّتِ الْأَرْضُ وَمَاتَتْ بِالنَّاسِ الدَّمَارُ . إِنَّ هَذَا الْكَوْنَ حَيٌّ .. إِنَّ الرُّوحَ الَّتِي تَسْرِي فِيهِ هِيَ رُوحُ الْإِلَهِ .. وَإِنَّ الْأَنْفَاسَ الَّتِي تَتَرَدَّدُ بَيْنَ جَنَبَاتِهِ هِيَ أَنْفَاسُ الرَّبِّ . وَأَحَسَّ إِبْرَاهِيمُ بِرُوحِهِ تَهْفُو إِلَى رُوحِ الرَّبِّ ، وَبِرَغْبَةٍ طَاغِيَةٍ فِي أَنْ يَذُوبَ بِكُلِّ وِجْدَانِهِ فِي هَذَا السُّكُونِ .
Malam menyelimuti Ibrahim, ia pun masuk untuk tidur, namun kantuk tidak menghampiri matanya. Pikiran-pikiran datang ke kepalanya bak gelombang, ia berpikir tentang alam semesta dan kekuatan yang mengaturnya. Sesungguhnya alam semesta ini memiliki Tuhan, Tuhan yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan jiwanya merindukan pengetahuan tentang Tuhan Yang Maha Agung ini serta merasakan kedekatan dengan-Nya. Keheningan menyelimuti Ur, tak ada bisikan atau suara sedikitpun, dan malam itu sangat gelap gulita, tak ada seberkas cahaya pun yang menyusup ke kamar; namun cahaya yang mulai bersinar di hati Ibrahim mampu membuatnya melihat dengan jelas pikiran-pikiran yang berputar di benaknya. Rasa kantuk enggan menghampiri Ibrahim, maka ia bangkit dan keluar ke balkon yang menghadap ke halaman rumah, dan angin sepoi-sepoi bertiup membelai wajahnya, menyegarkan jiwanya dan memberi nutrisi bagi pikiran-pikiran yang memenuhi akalnya. Udara ini terkadang lembut seolah alam semesta sedang menghela napas yang segar, dan terkadang bergejolak seolah alam semesta sedang mengembuskan api dan asap. Ibrahim mengangkat pandangannya ke langit, ia melihatnya biru jernih, terbuka tanpa tabir, tidak dihiasi oleh gumpalan awan. Langit malam ini lembut dan cerah, seandainya kelembutan dan kecerahan ini terus berlanjut, maka air tidak akan turun darinya, bumi akan kering, dan manusia akan binasa. Sesungguhnya alam semesta ini hidup.. ruh yang mengalir di dalamnya adalah ruh Ilahi.. dan napas yang berhembus di antara sisinya adalah napas Tuhan. Ibrahim merasakan jiwanya merindu pada ruh Tuhan, dengan keinginan yang menggebu untuk meleburkan seluruh sanubarinya ke dalam keheningan ini.
وَعَلَى الرَّغْمِ مِنَ السُّكُونِ الشَّامِلِ أَحَسَّ بِأَنَّ كُلَّ شَيْءٍ حَوْلَهُ يَنْبِضُ بِالْحَيَاةِ ، وَأَنَّ ذَلِكَ النَّبْضَ لَا بُدَّ يَنْبَعُ مِنْ حَيَاةٍ خَالِدَةٍ .. حَيَاةٍ عَمِيقَةٍ .. حَيَاةٍ يَتَغَلْغَلُ سِرُّهَا فِي كُلِّ شَيْءٍ . وَلَكِنْ أَيْنَ هِيَ هَذِهِ الْحَيَاةُ الْخَالِدَةُ ؟ أَيْنَ هِيَ هَذِهِ الْحَيَاةُ الْعَمِيقَةُ ؟ أَيْنَ هُوَ هَذَا السِّرُّ .. سِرُّ الْحَيَاةِ ؟ وَرَاحَ يَهْبِطُ فِي الدَّرَجِ كَالْمَسْحُورِ تَتْلَى بَيْنَ جَنْبَيْهِ صَلَاةٌ وَإِنْ لَمْ تَتَحَرَّكْ بِهَا شَفَتَاهُ :
Meskipun dalam keheningan yang menyeluruh, ia merasakan bahwa segala sesuatu di sekitarnya berdenyut dengan kehidupan, dan denyut itu pasti bersumber dari kehidupan yang kekal.. kehidupan yang dalam.. kehidupan yang rahasianya menyusup ke dalam segala hal. Namun di manakah kehidupan yang kekal ini? Di manakah kehidupan yang dalam ini? Di manakah rahasia ini.. rahasia kehidupan? Ia turun menapaki tangga seperti orang yang tersihir, di dalam dirinya terlantun doa meski bibirnya tidak bergerak:
« إِنَّكَ فِي كُلِّ شَيْءٍ ، فِي الْمَاءِ الَّذِي يَتَغَلْغَلُ فِي أَحْشَاءِ الْكَوْنِ ، فِي عَبِيرِ الْأَزْهَارِ ، فِي نَضَارَةِ الثِّمَارِ ، فِي اخْضِرَارِ الْأَشْجَارِ ، فِي السَّمَاءِ .. وَفَوْقَ السَّمَاءِ .. قَلْبِي يَعْرِفُكَ .. رُوحِي تَشْعُرُ بِكَ ؛ وَلَكِنَّنِي أُرِيدُ أَنْ أَرَاكَ .. أُرِيدُ أَنْ أَهْتَدَى إِلَيْكَ .. فَكَيْفَ الْوُصُولُ إِلَيْكَ ؟ »
"Engkau ada di segala sesuatu, dalam air yang menyusup ke kedalaman alam semesta, dalam harum bunga, dalam kesegaran buah-buahan, dalam hijaunya pepohonan, di langit.. dan di atas langit.. hatiku mengenal-Mu.. jiwaku merasakan kehadiran-Mu; namun aku ingin melihat-Mu.. aku ingin mendapat petunjuk kepada-Mu.. maka bagaimana cara mencapai-Mu?"
وَانْسَابَ فِي فَنَاءِ الدَّارِ وَهُوَ خَاشِعٌ لَا يَسْمَعُ إِلَّا الْأَصْوَاتَ الَّتِي تَنْبَعِثُ مِنْ أَعْمَاقِ ضَمِيرِهِ ، وَإِذَا بِصَرِيرٍ مُتَّصِلٍ يُعَكِّرُ سُكُونَ اللَّيْلِ ؛ فَالْتَفَتَ فَوَجَدَهُ يَنْبَعِثُ مِنْ غُرْفَةِ آزرَ الَّتِي يَصْنَعُ فِيهَا تَمَاثِيلَ الْآلِهَةِ ، فَسَارَ إِلَيْهَا وَفَتَحَ بَابَهَا وَلَكِنَّهُ لَمْ يَرَ فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ شَيْئًا ، فَقَدْ كَانَ الظَّلَامُ ثَقِيلًا . وَبَدَأَتْ عَيْنَاهُ تَأْلَفَانِ الظَّلَامَ ، فَرَأَى الْجَنَادِبَ تَسْعَى عَلَى وُجُوهِ الْآلِهَةِ وَتَلْحَسُ أَعْيُنَهَا وَتَدْخُلُ فِي آذَانِهَا . فَقَالَ :
Ia meluncur ke halaman rumah dengan khusyuk, tidak mendengar kecuali suara-suara yang terpancar dari kedalaman nuraninya. Tiba-tiba terdengar derit terus-menerus yang mengganggu keheningan malam; ia menoleh dan menemukannya bersumber dari kamar Azar tempat ia membuat patung-patung berhala, ia berjalan ke sana dan membuka pintunya, namun awalnya ia tidak melihat apa pun karena kegelapan yang pekat. Matanya mulai terbiasa dengan kegelapan, ia melihat belalang-belalang merayap di wajah berhala, menjilati matanya, dan masuk ke telinganya. Maka ia berkata:
— أَفْوَاهٌ لَا تَنْطِقُ ، وَأَعْيُنٌ لَا تُبْصِرُ ، وَآذَانٌ لَا تَسْمَعُ ، وَأَقْدَامٌ لَا تَسْعَى ، وَتَمَاثِيلُ عَاجِزَةٌ لَا تَنْفَعُ نَفْسَهَا وَلَا تُغْنِي عَنْ غَيْرِهَا شَيْئًا .
— "Mulut yang tidak berbicara, mata yang tidak melihat, telinga yang tidak mendengar, kaki yang tidak berjalan, dan berhala-berhala lemah yang tidak bisa memberi manfaat bagi dirinya sendiri, apalagi bagi orang lain."
وَسَارَ حَتَّى خَرَجَ إِلَى الطَّرِيقِ فَأَلْفَى نَفْسَهُ أَمَامَ الْكَوْنِ الْعَرِيضِ وَجْهًا لِوَجْهٍ . فَضَاءٌ لَا يُحَدُّ .. لَا حَوَاجِزَ زَائِفَةَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الدُّنْيَا الَّتِي يَثْوِي بَيْنَ أَحْضَانِهَا . أَحَسَّ الْوُجُودَ كُلَّهُ يَسْرِي إِلَى رُوحِهِ ، وَفَرَحًا عَظِيمًا يَغْمُرُهُ . فَقَدْ أَخَذَ
Ia berjalan hingga keluar ke jalan, dan mendapati dirinya berhadapan langsung dengan alam semesta yang luas. Ruang tanpa batas.. tidak ada penghalang palsu antara dirinya dan dunia yang ia tinggali. Ia merasakan seluruh keberadaan mengalir ke dalam jiwanya, dan kebahagiaan yang besar membanjirinya. Maka mulailah
ظَلَامُ نَفْسِهِ يَنْقَشِعُ لِيَحُلَّ مَكَانَهُ نُورٌ جَلِيلٌ ، نُورٌ تُدْرِكُهُ بَصِيرَتُهُ قَبْلَ أَنْ يَرَاهُ بَصَرُهُ . وَرَاحَ يُقَلِّبُ وَجْهَهُ فِي السَّمَاءِ لِيُدْرِكَ الْحَقِيقَةَ الْعَمِيقَةَ الَّتِي تَتَلَهَّفُ عَلَيْهَا نَفْسُهُ ، لِيَكْشِفَ حَقِيقَةَ الْإِلَهِ الَّذِي يُحِسُّ بِهِ يَسْرِي فِيهِ مَسْرَى الدَّمِ ، وَأَخَذَ يَبْتَهِلُ :
kegelapan dirinya tersingkap, digantikan oleh cahaya agung, cahaya yang dipahami oleh mata batinnya sebelum dilihat oleh mata kepalanya. Ia membolak-balikkan pandangannya ke langit untuk memahami kebenaran mendalam yang dirindukan oleh jiwanya, untuk menyingkap hakikat Tuhan yang ia rasakan mengalir di dalam dirinya seperti aliran darah, dan ia mulai memohon:
— يَا رَبِّ ! أَنَا مُحِبٌّ .. قَلْبِي يَعْرِفُكَ .. رُوحِي تَشْعُرُ بِكَ .. أُرِيدُ وَجْهَكَ .. أُرِيدُ أَنْ أَرَاكَ ..
— "Wahai Tuhanku! Aku mencintai-Mu.. hatiku mengenal-Mu.. jiwaku merasakan kehadiran-Mu.. aku ingin wajah-Mu.. aku ingin melihat-Mu.."
وَصَفَتْ نَفْسُهُ وَأُرْهِفَتْ رُوحُهُ حَتَّى لَكَادَتْ أَنْ تَرَى رُوحَ الْحَقِيقَةِ الَّتِي حَوْلَهُ ، بَيْدَ أَنَّهُ مَا يَزَالُ يَبْحَثُ عَنْ وَجْهِ إِلَهِهِ ، فَرَاحَ يُعَاوِدُ الِابْتِهَالَ فِي حَرَارَةٍ :
Jiwanya menjadi jernih dan ruhnya menjadi peka hingga ia hampir melihat ruh kebenaran yang ada di sekitarnya, namun ia masih terus mencari wajah Tuhannya, maka ia mengulangi permohonannya dengan penuh harap:
— أُرِيدُ وَجْهَكَ .. يَارَبِّ أَرِنِي وَجْهَكَ .. أُرِيدُ أَنْ أَرَاكَ ..
— "Aku ingin wajah-Mu.. wahai Tuhanku perlihatkanlah wajah-Mu padaku.. aku ingin melihat-Mu.."
وَكَانَتِ اللَّيْلَةُ بِلَا قَمَرٍ وَلَا نُجُومٍ ، لَيْلَةً مِنْ لَيَالِي آخِرِ الشَّهْرِ ، وَكَانَ كَوْكَبُ الْمُشْتَرَى بَازِغًا يَتَلَأْلَأُ فَرَاحَ يَنْظُرُ إِلَيْهِ وَيُفَكِّرُ فِيهِ ، فَإِذَا بِوَجْدٍ فَيَّاضٍ يَمْلَأُ وِجْدَانَهُ وَيَغْمُرُ رُوحَهُ ، وَإِذَا بِطَمْأَنِينَةٍ عَجِيبَةٍ تَغْشَاهُ فَقَالَ فِي فَرَحٍ :
Malam itu tanpa bulan dan tanpa bintang, malam di akhir bulan, dan planet Jupiter muncul berkilauan, ia memandangnya dan memikirkannya, maka meluaplah perasaan yang memenuhi sanubarinya dan membanjiri jiwanya, dan ketenangan yang aneh menyelimutinya, lalu ia berkata dengan gembira:
— هَذَا رَبِّي !
— "Ini Tuhanku!"
وَخُيِّلَ إِلَيْهِ أَنَّهُ اهْتَدَى إِلَى مِفْتَاحِ الْأَسْرَارِ الْمُغْلَقَةِ ، أَسْرَارِ الْحَيَاةِ الْخَالِدَةِ ، الْحَيَاةِ الْعَمِيقَةِ ، أَلَمْ يُسْفِرْ لَهُ الْإِلَهُ عَنْ وَجْهِهِ ! وَرَفَعَ عَيْنَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ وَبَيْنَ جَنْبَيْهِ فَرَحٌ فَيَّاضٌ ، وَكَادَتِ الْحِكْمَةُ تَسْتَقِرُّ فِي قَلْبِهِ فَقَدِ اهْتَدَى إِلَى الْإِلَهِ وَعَرَفَ طَرِيقَ الْوُصُولِ إِلَيْهِ . بَيْدَ أَنَّ نَبْعَ سُرُورِهِ غَاضَ فَجْأَةً ، وَنَضَبَتِ الْحِكْمَةُ قَبْلَ أَنْ تَسْتَقِرَّ فِي سُوَيْدَاءِ قَلْبِهِ ، فَقَدِ اخْتَفَى الْإِلَهُ مِنْ رُقْعَةِ السَّمَاءِ ، وَتَرَكَهُ فِي بَيْدَاءِ الْحَيَاةِ وَحْدَهُ بِلَا سَنَدٍ وَلَا مُعِينٍ . أَفَلَ الْإِلَهُ . أَيَكُونُ إِلَهًا ذَلِكَ الَّذِي يَأْفُلُ ؟ لَا .. إِنِّي لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ .
Terbayang baginya bahwa ia telah menemukan kunci rahasia yang terkunci, rahasia kehidupan yang kekal, kehidupan yang dalam, bukankah Tuhan telah memperlihatkan wajah-Nya kepadanya! Ia mengangkat matanya ke langit dengan kegembiraan yang meluap di dadanya, dan hikmah hampir saja menetap di hatinya, karena ia telah menemukan Tuhan dan tahu jalan menuju-Nya. Namun sumber kegembiraannya tiba-tiba surut, dan hikmah mengering sebelum menetap di lubuk hatinya, karena Tuhan telah menghilang dari cakrawala langit, meninggalkannya di padang kehidupan sendirian tanpa sandaran dan penolong. Tuhan telah terbenam. Mungkinkah itu Tuhan yang terbenam? Tidak.. sesungguhnya aku tidak mencintai mereka yang terbenam.
وَدَارَ إِبْرَاهِيمُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَكَرَّ رَاجِعًا إِلَى الدَّارِ وَمَا تَسَرَّبَ الْيَأْسُ إِلَى قَلْبِهِ ، فَقَدْ غَشِيَهُ الْإِشْرَاقُ وَانْسَلَّ نُورُ الْإِلَهِ إِلَى وِجْدَانِهِ ، فَإِنْ كَانَتْ عَيْنَاهُ عَجَزَتَا عَنْ إِدْرَاكِ كُنْهِهِ ، فَإِنَّ إِلَهَهُ الَّذِي يُحِبُّهُ وَالَّذِي تَعَلَّقَ بِهِ فُؤَادُهُ لَنْ يَتْرُكَهُ فِي حَيْرَتِهِ يَبْحَثُ عَنْهُ دُونَ أَنْ يَجِدَهُ ، فَإِنَّ الْحُبَّ لَا يَكْتَمِلُ إِلَّا فِي فَنَاءِ الْمُحِبِّ فِي الْمَحْبُوبِ . وَدَخَلَ إِلَى فِرَاشِهِ وَنَامَ ، وَلَكِنَّ نَفْسَهُ كَانَتْ مُتَيَقِّظَةً تُجَاهِدُ أَنْ تَرَى وَجْهَ إِلَهِ الْكَوْنِ فِي وُضُوحٍ ، فَإِنْ كَانَ سَنَا الْكَوْكَبِ قَدْ بَهَرَ عَيْنَيْهِ عَنِ الْحَقِيقَةِ الْخَالِدَةِ زَمَنًا حَتَّى أَفَلَ فَكَفَرَ بِهِ ، فَالْحَقِيقَةُ الْعَمِيقَةُ لَا تَزَالُ تَخْفِقُ بَيْنَ جَنَبَاتِ الْكَوْنِ وَإِنْ لَمْ يَهْتَدِ إِلَيْهَا . إِنَّهَا مَوْجُودَةٌ وَإِنْ لَمْ يَضَعْ يَدَهُ عَلَيْهَا ، كُلُّ مَا فِي الْحَيَاةِ يُعْلِنُ عَنْ بَدِيعِ صُنْعِهَا ، عَنْ قُدْرَتِهَا ، عَنْ مَشِيئَتِهَا .. فَإِنْ خُدِعَ بِنُورِ الْكَوْكَبِ اللَّيْلَةَ فَإِنَّهُ سَيُعَاوِدُ الْبَحْثَ حَتَّى يَجِدَ رَبَّ الْأَرْبَابِ . وَاسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ وَخَرَجَ إِلَى الشُّرْفَةِ الْمُطِلَّةِ عَلَى فَنَاءِ الدَّارِ وَالَّتِي يَسْتَطِيعُ مِنْهَا أَنْ يَمُدَّ عَيْنَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ ، السَّمَاءِ الَّتِي انْجَذَبَ إِلَيْهَا فَرَاحَ يَتَأَمَّلُ فِيهَا كَمَا يَتَأَمَّلُ فِي كُلِّ مَا تَصِلُ إِلَيْهِ عَيْنَاهُ ، فَأَحَسَّ تَنَاسُقًا مَعَ كُلِّ مَا حَوْلَهُ ، وَتَعَاطُفًا مَعَ الْكَوْنِ الْعَظِيمِ . إِنَّهُ يَنْهَبُ الْوُجُودَ بِرُوحِهِ وَيَسْتَشْعِرُ رَحَابَةَ الْحُبِّ الَّتِي تَمْلَأُ جَوَانِحَهُ ، بَيْدَ أَنَّ الْبَذْرَةَ الَّتِي بُذِرَتْ فِي وِجْدَانِهِ لَمْ تَتَحَوَّلْ بَعْدُ إِلَى نَبْتَةٍ رُوحِيَّةٍ تَسْمُو إِلَى مَا فَوْقَ الطَّبِيعَةِ وَالْجُثْمَانِ ، وَإِنَّ زَيْتَ نَفْسِهِ الَّذِي يُغَذِّي أَفْكَارَهُ لَمْ يَتَحَوَّلْ بَعْدُ إِلَى نُورٍ إِلَهِيٍّ فَيَّاضٍ . إِنَّهُ لَا يَزَالُ مُقَيَّدًا بِأَغْلَالِ الطَّبِيعَةِ الَّتِي يَثْوِي فِي أَحْضَانِهَا ، مَشْدُودٌ بِذَاتِهِ الْمَحْصُورَةِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ، وَإِنَّ رُوحَهُ لَا تَزَالُ فِي طَرِيقِ التَّحَوُّلِ إِلَى نُورٍ طَاهِرٍ يَسْتَطِيعُ أَنْ يُبَدِّدَ الظَّلَامَ عَنِ الْحَقِيقَةِ الْخَالِدَةِ . وَأَخَذَتْ يُقَلِّبُ وَجْهَهُ فِي كُلِّ مَا حَوْلَهُ : السَّمَاءُ .. السَّحَابُ .. الشَّجَرُ .. الطَّيْرُ .. عَبِيرُ الْحُقُولِ .. مَاءُ النَّهْرِ الرَّقْرَاقُ .. إِنَّ هَذِهِ كُلَّهَا رُسُلٌ
Ibrahim berbalik dan kembali ke rumah, keputusasaan tidak meresap ke dalam hatinya, karena cahaya telah menyelimutinya dan cahaya Tuhan telah menyusup ke sanubarinya. Jika matanya tidak mampu memahami hakikat-Nya, maka Tuhan yang ia cintai dan yang menjadi sandaran hatinya tidak akan membiarkannya dalam kebingungan mencari-Nya tanpa menemukannya, karena cinta tidak akan sempurna kecuali dengan kefanaan pencinta di dalam yang dicintai. Ia masuk ke tempat tidurnya dan tidur, namun jiwanya tetap terjaga berjuang untuk melihat wajah Tuhan semesta alam dengan jelas. Jika cahaya planet itu sempat menyilaukan matanya dari kebenaran abadi untuk sementara sampai ia terbenam, maka ia pun tidak mempercayainya lagi. Namun kebenaran yang dalam masih tetap berdenyut di antara sisi-sisi alam semesta meskipun ia belum mendapat petunjuk kepadanya. Ia ada meskipun ia belum meletakkan tangannya di atasnya, segala sesuatu dalam hidup ini mengumumkan indahnya ciptaan-Nya, kuasa-Nya, dan kehendak-Nya.. jika ia tertipu oleh cahaya planet malam ini, ia akan mengulangi pencarian sampai ia menemukan Tuhan segala tuhan. Ia terbangun dari tidurnya dan keluar ke balkon yang menghadap ke halaman rumah, yang darinya ia bisa memandang ke langit, langit yang menarik hatinya, maka ia pun merenung di dalamnya sebagaimana ia merenung pada segala sesuatu yang dipandang oleh matanya, ia merasakan harmoni dengan segala sesuatu di sekitarnya, dan simpati dengan alam semesta yang agung. Ia menyerap keberadaan dengan ruhnya dan merasakan kelapangan cinta yang memenuhi dadanya, namun benih yang disemai di dalam sanubarinya belum berubah menjadi tanaman ruhani yang melampaui alam dan jasad, dan minyak jiwanya yang memberi nutrisi bagi pikirannya belum berubah menjadi cahaya Ilahi yang melimpah. Ia masih terbelenggu oleh rantai alam tempat ia berada, terikat oleh dirinya yang terkungkung antara langit dan bumi, dan ruhnya masih dalam perjalanan transformasi menuju cahaya suci yang mampu mengusir kegelapan dari kebenaran abadi. Ia membolak-balikkan pandangannya pada segala sesuatu di sekitarnya: Langit.. awan.. pohon.. burung.. harum ladang.. air sungai yang mengalir.. sesungguhnya ini semua adalah utusan
الْخَالِقِ إِلَى ضَمِيرِهِ ، إِنَّهَا تَمْلَؤُهُ بِالْحَنِينِ إِلَيْهِ ، إِنَّهُ عَلَى وَشْكِ أَنْ يَصِلَ إِلَى غَايَةِ الْوُجُودِ ، بَيْدَ أَنَّهُ مَا يَزَالُ سَجِينَ فِكْرَةٍ .. فِكْرَةِ رُؤْيَتِهِ وَجْهَ الْإِلَهِ . وَهَبَطَ فِي الدَّرَجِ وَكُلُّ مَا حَوْلَهُ يَجْذِبُهُ إِلَيْهِ وَيَمْلَأُ نَفْسَهُ بِالْفَرَحِ ، وَمَا كَانَ يُعَكِّرُ اكْتِمَالَ نَشْوَتِهِ إِلَّا اللَّهْفَةُ إِلَى أَنْ يَهْتَدِيَ إِلَى الْإِلَهِ الَّذِي يَبْحَثُ عَنْهُ . وَانْسَابَ فِي فَنَاءِ الدَّارِ خَفِيفًا كَالطَّيْفِ . يَحُسُّ أَنَّهُ وُلِدَ مِنْ جَدِيدٍ مِيلَادًا أَعْظَمَ مِنْ مِيلَادِهِ يَوْمَ وَضَعَتْهُ إِيمْتِلَى مُنْذُ سِنِينَ . وَوَصَلَ إِلَى مَعْبَدِ الْبَيْتِ الْخَاصِّ ، وَبَلَغَ سَمْعَهُ صَلَوَاتُ أَبِيهِ وَأَخَوَيْهِ نَاحُورَ وَهَارَانَ ، وَعَجِبَ فِي نَفْسِهِ كَيْفَ يَرْكَعُ أَبُوهُ وَأُمُّهُ وَنَاحُورُ وَهَارَانُ تَمَاثِيلَ صَنْعَةِ آزرَ بِيَدَيْهِ كَانَتِ الصَّرَاصِيرُ مُنْذُ قَلِيلٍ تَسْعَى عَلَى وَجْهِهِ وَهُوَ عَاجِزٌ أَنْ يُبْعِدَهَا عَنْهُ . لَقَدْ هُزِمَتْ نُفُوسُهُمْ أَرْوَاحَهُمْ وَطُمِسَتْ عُقُولُهُمْ . إِنَّهُمْ ضَحَايَا زَيْفٍ حَجَبَ عَنْهُمْ لُبَّ الْحَقِيقَةِ وَحَطَّمَ التَّنَاسُقَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْكَوْنِ . لَقَدِ اسْتَبَدَّتْ بِهِمْ تَقَالِيدُ الْأَجْدَادِ فَأَطْفَأَتِ النُّورَ الْبَاطِنِيَّ الَّذِي تَرَى بِهِ الْبَصَائِرُ رُسُلَ الْخَالِقِ فِي زَفِيفِ الْهَوَاءِ وَرَفِيفِ أَوْرَاقِ الشَّجَرِ ، فِي السَّحَرِ ، فِي الشَّرْقِ وَالْغُرُوبِ . لَقَدِ اهْتَدَى إِلَى أَنَّ عِبَادَةَ الْأَصْنَامِ ضَلَالٌ مُبِينٌ ، وَأَنَّ لِهَذَا الْكَوْنِ الْعَرِيضِ رَبًّا يَنْشَرِحُ صَدْرُهُ كُلَّمَا اسْتَشْعَرَ وُجُودَهُ فِي أَعْمَاقِهِ ، وَيَتَهَلَّلُ بِالْفَرَحِ كُلَّمَا امْتَزَجَتْ رُوحُهُ بِرُوحِ الْحَيَاةِ الَّتِي تَضُمُّهُ إِلَى صَدْرِهَا ، فَإِنْ كَانَ لَمْ يَرَ وَجْهَ اللَّهِ بَعْدُ فَإِنَّهُ فِي الطَّرِيقِ إِلَيْهِ . وَتَحَرَّكَ حُبُّهُ الْفَيَّاضُ لِأُمِّهِ وَأَبِيهِ وَأَخَوَيْهِ فَسَاءَهُ أَنْ يَتْرُكَهُمْ فِي ضَلَالَتِهِمْ يَعْمَهُونَ ، وَدَفَعَهُ ذَلِكَ الْحُبُّ إِلَى أَنْ يَقْتَحِمَ الْمَخَاطِرَ لِيُنْفِذَ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى قَلْبِهِ ، لِيُخْرِجَهُمْ مِنَ الْبَاطِلِ إِلَى الْحَقِّ ، وَهَلْ هُنَاكَ خَطَرٌ أَعْظَمُ مِنْ تَسْفِيهِ الْعَقَائِدِ وَرَفْعِ مِعْوَلِ الْهَدْمِ فِي وَجْهِ الدِّينِ ؟
Sang Pencipta bagi nuraninya, ia memenuhinya dengan kerinduan kepada-Nya, ia hampir sampai pada tujuan keberadaan, namun ia masih tawanan sebuah ide.. ide melihat wajah Tuhan. Ia menuruni tangga dan segala sesuatu di sekitarnya menariknya dan mengisi jiwanya dengan kegembiraan, dan tidak ada yang mengganggu kesempurnaan kenikmatannya kecuali keinginan untuk mendapat petunjuk kepada Tuhan yang ia cari. Ia meluncur di halaman rumah dengan ringan seperti bayangan. Ia merasa baru lahir kembali, kelahiran yang lebih agung daripada kelahirannya hari ketika Imtila melahirkannya bertahun-tahun yang lalu. Ia sampai ke kuil rumah pribadi, dan telinganya mendengar doa-doa ayahnya dan kedua saudaranya Nahur dan Haran, dan ia heran dalam dirinya sendiri bagaimana ayahnya, ibunya, Nahur dan Haran bersujud kepada patung-patung buatan tangan Azar yang sesaat lalu belalang-belalang merayap di wajahnya dan ia tidak mampu mengusirnya darinya. Jiwa mereka telah mengalahkan ruh mereka dan akal mereka telah terhapus. Mereka adalah korban kepalsuan yang menutupi inti kebenaran dari mereka dan menghancurkan harmoni antara mereka dan alam semesta. Tradisi nenek moyang telah menguasai mereka sehingga memadamkan cahaya batin yang dengannya mata batin melihat utusan Sang Pencipta dalam hembusan udara dan gemerisik daun pohon, di waktu sahur, di timur dan barat. Ia telah mendapat petunjuk bahwa penyembahan berhala adalah kesesatan yang nyata, dan bahwa alam semesta yang luas ini memiliki Tuhan yang membuat dadanya lapang setiap kali ia merasakan kehadiran-Nya di kedalaman jiwanya, dan berseri-seri dengan kegembiraan setiap kali ruhnya bercampur dengan ruh kehidupan yang mendekapnya ke dadanya. Jika ia belum melihat wajah Tuhan, ia sedang dalam perjalanan menuju-Nya. Cintanya yang melimpah kepada ibu, ayah, dan kedua saudaranya tergerak, maka ia sedih membiarkan mereka dalam kesesatan mereka yang membabi buta, dan cinta itu mendorongnya untuk menantang bahaya demi menyelamatkan orang yang paling dicintai hatinya, untuk mengeluarkan mereka dari kebatilan menuju kebenaran. Dan adakah bahaya yang lebih besar daripada merendahkan keyakinan dan mengangkat linggis kehancuran di hadapan agama?
وَكَانَتِ الشَّمْسُ تَغْمُرُ الْمَعْبَدَ كُلَّهُ إِلَّا أَنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ يَرَاهُ غَارِقًا فِي الظُّلُمَاتِ ، وَكَانَ آزرُ وَأَهْلُ بَيْتِهِ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ أَقْرَبُ مَا يَكُونُونَ إِلَى الْحَقِيقَةِ الْخَالِدَةِ .. إِلَى رَبِّ الْأَرْبَابِ مَرْدُوخَ ، بَيْدَ أَنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ يَرَاهُمْ يَخْبِطُونَ فِي مُسْتَنْقَعَاتِ الْبَاطِلِ . لَقَدْ طَهَّرُوا أَنْفُسَهُمْ بِالْمَاءِ قَبْلَ أَنْ يَقِفُوا بَيْنَ يَدَى أَصْنَامِهِمْ ، غَسَلُوا أَجْسَامَهُمْ وَلَكِنَّهُ لَمْ يَمَسَّ أَرْوَاحَهُمْ وَلَنْ يَنْظِفَهَا مِنْ أَدْرَانِهَا . أَلَا مَا أَجْمَلَ الِاغْتِسَالَ إِنْ أَحَسَّ الْمُغْتَسِلُ أَنَّهُ بِالْمَاءِ الطَّاهِرِ إِنَّمَا يَغْسِلُ رُوحَهُ . وَدَخَلَ إِبْرَاهِيمُ الْمَعْبَدَ وَتَقَدَّمَ إِلَى التِّمْثَالِ الْإِلَهِ وَهُوَ يَسْتَشْعِرُ أَلَمًا ، وَلَمْ يَجْعَلْهُ الْأَلَمُ يَنْكُصُ عَلَى عَقِبِهِ فَقَدْ عَرَفَ أَنَّ السَّعَادَةَ لَيْسَتْ فِي اجْتِنَابِ الْأَلَمِ بَلْ فِي تَحَمُّلِهِ مِنْ أَجْلِ مَنْ فَاضَ قَلْبُهُ بِحُبِّهِمْ . وَانْتَزَعَ الْإِلَهَ مِنْ مَكَانِهِ وَأَلْقَى بِهِ بَعِيدًا ، فَإِذَا بِصَيْحَاتِ إِنْكَارٍ تَنْبَعِثُ مِنْ كُلِّ الْأَفْوَاهِ ، وَإِذَا بِالْفَزَعِ يَرْتَسِمُ عَلَى الْوُجُوهِ ، وَإِذَا بِوَجْهِ إِيمْتَالَى يَمْتَقِعُ وَقَلْبُهَا يَخْفِقُ فِي رُعْبٍ وَهَلَعٍ . كَانَتْ فِي فَزَعٍ مِنْ أَنْ يَحِلَّ غَضَبُ الْآلِهَةِ جَمِيعًا عَلَى ابْنِهَا الْآبِقِ مِنْ حَظِيرَةِ الْإِيمَانِ ! وَهَرَعَ آزرُ إِلَى التِّمْثَالِ وَالْغَضَبُ يَكَادُ يَفْجُرُ صَدْرَهُ وَيَكْتُمُ أَنْفَاسَهُ ، وَرَاحَ يَمْسَحُ التِّمْثَالَ فِي خَوْفٍ وَيَقُولُ لِإِبْرَاهِيمَ :
Matahari menyinari seluruh kuil, namun Ibrahim melihatnya tenggelam dalam kegelapan. Azar dan keluarganya mengira mereka adalah yang paling dekat dengan kebenaran abadi.. kepada Tuhan segala tuhan, Marduk, namun Ibrahim melihat mereka terperosok dalam rawa-rawa kebatilan. Mereka menyucikan diri dengan air sebelum berdiri di hadapan berhala mereka, mereka mencuci tubuh mereka namun air itu tidak menyentuh ruh mereka dan tidak akan membersihkannya dari kotorannya. Betapa indahnya mandi jika orang yang mandi merasakan bahwa dengan air suci itu ia sedang membasuh ruhnya. Ibrahim masuk ke kuil dan maju ke patung berhala itu sambil merasakan sakit, dan rasa sakit itu tidak membuatnya mundur karena ia tahu bahwa kebahagiaan bukanlah dalam menghindari rasa sakit melainkan dalam menanggungnya demi orang-orang yang hatinya meluap karena mencintai mereka. Ia mencabut berhala itu dari tempatnya dan melemparkannya jauh-jauh, tiba-tiba teriakan penolakan muncul dari setiap mulut, dan ketakutan tergambar di wajah-wajah, dan wajah Imtali menjadi pucat dan jantungnya berdegup dalam ketakutan dan kepanikan. Ia merasa takut murka para dewa akan menimpa putranya yang melarikan diri dari kelompok keimanan! Azar bergegas ke patung itu dengan kemarahan yang hampir meledakkan dadanya dan menahan napasnya, ia mulai mengusap patung itu dengan ketakutan dan berkata kepada Ibrahim:
— أَجَنَنْتَ ؟ مَاذَا فَعَلْتَ أَيُّهَا الشَّقِيُّ ! لِتَنْزِلَنَّ الْآلِهَةُ غَضَبَهَا عَلَيْكَ .. إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا فَعَلْتَ ..
— "Apakah kau sudah gila? Apa yang telah kau lakukan, wahai orang celaka! Para dewa pasti akan menurunkan murka mereka kepadamu.. aku berlepas diri dari apa yang telah kau lakukan.."
وَذَهَبَ آزرُ لِيُعِيدَ تِمْثَالَ مَرْدُوخَ إِلَى مَكَانِهِ ، إِلَّا أَنَّ إِبْرَاهِيمَ أَلْقَى بِتِمْثَالِ نَانَا عَلَى الْأَرْضِ وَهُوَ يَقُولُ :
Azar pergi untuk mengembalikan patung Marduk ke tempatnya, namun Ibrahim melemparkan patung Nana ke tanah sambil berkata:
— مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ ؟
— "Patung-patung apa ini yang kalian sembah?"
فَقَالَ نَاحُورُ فِي غَضَبٍ :
Nahur berkata dengan marah:
— إِنَّهَا آلِهَتُنَا يَا إِبْرَاهِيمُ !
— "Ini adalah tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim!"
فَالْتَفَتَ إِبْرَاهِيمُ إِلَى أَبِيهِ الْغَاضِبِ وَقَالَ :
Ibrahim menoleh kepada ayahnya yang marah dan berkata:
— يَا أَبَتِ ، لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا ؟!
— "Wahai ayah, mengapa kau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak bisa menolongmu sedikit pun?!"
فَقَالَ آزرُ فِي غَضَبٍ :
Azar berkata dengan marah:
— وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ ، أَرَٰغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ ؟
— "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya, apakah kau tidak menyukai tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?"
— أَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ .
— "Aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah."
فَدَنَتْ إِيمْتَالَى مِنْ ابْنِهَا وَقَالَتْ :
Imtali mendekati putranya dan berkata:
— يَا بُنَيَّ هَذِهِ آلِهَتُنَا الَّتِي نَضَرَعُ إِلَيْهَا كُلَّ يَوْمٍ لِتُعْطِيَنَا الْخُبْزَ الَّذِي نَأْكُلُهُ ، وَلَوْلَاهَا مَا نَصَبَ مَلِكٌ وَلَا وُلِدَ كَاهِنٌ أَعْظَمُ .
— "Wahai anakku, ini adalah tuhan-tuhan kami yang kami sembah setiap hari agar memberikan roti yang kita makan, dan seandainya bukan karena mereka, tidak akan ada raja yang bertahta dan tidak akan lahir imam yang agung."
وَرَأَى آزرُ أَنْ يَنْضَمَّ إِلَى زَوْجِهِ فِي نُصْحِ ابْنِهِ الَّذِي أَتَى أَمْرًا إِدًّا ، وَأَهَانَ الْآلِهَةَ دُونَ أَنْ يَخْشَى بَطْشَهَا فَقَالَ :
Azar melihat untuk bergabung dengan istrinya dalam menasihati putranya yang telah melakukan perkara besar, dan menghina para dewa tanpa takut akan murka mereka, maka ia berkata:
— وَلَوْلَاهَا مَا جَادَتِ السُّحُبُ وَلَا هَطَلَتِ الْأَمْطَارُ مِنَ السَّمَاءِ ، وَلَا خَرَجَتِ النَّبَاتَاتُ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا فَاضَتِ الْأَنْهَارُ بِالْمَاءِ .
— "Seandainya bukan karena mereka, awan tidak akan bermurah hati dan hujan tidak akan turun dari langit, tanaman tidak akan keluar dari bumi dan sungai tidak akan meluap dengan air."
— إِنَّهَا يَا أَبَتِ مِنْ صُنْعِ يَدَيْكَ ، أَنْتَ رَبُّهَا ، فَكَيْفَ صَارَتْ يَا أَبَتِ أَرْبَابًا لَكَ ؟
— "Sesungguhnya itu, wahai ayah, adalah buatan tanganmu sendiri, kau adalah tuhannya, lalu bagaimana bisa ia menjadi tuhan bagimu?"
فَقَالَ آزرُ فِي هُدُوءٍ لِيَنْزِعَ مِنْ رَأْسِ ابْنِهِ الْفِكْرَةَ الْخَاطِئَةَ الَّتِي اسْتَقَرَّتْ فِيهِ ، وَيَمْحُوَ مِنْ قَلْبِهِ ظِلَالَ الشَّكِّ الَّتِي رَانَتْ عَلَيْهِ :
Azar berkata dengan tenang untuk mencabut dari kepala putranya ide salah yang telah menetap di sana, dan menghapus dari hatinya bayang-bayang keraguan yang menyelimutinya:
— إِنَّهَا يَا بُنَيَّ رَمْزٌ لِمَنْ رَهْبَتُهُ وَخَشْيَتُهُ تُضَاهِيَانِ السَّمَاءَ ، وَظِلُّهُ مُنْتَشِرٌ عَلَى جَمِيعِ الْأَقَالِيمِ ، وَتَسَامِيهِ يَبْلُغُ عِنَانَ السَّمَاءِ . إِنَّهَا رَمْزٌ لِمَنْ يَحْمِلُ إِلَيْهِ السَّادَةُ وَالْأُمَرَاءُ الْهَدَايَا وَالْقَرَابِينَ الْمُقَدَّسَةَ ، وَيُقِيمُونَ لَهُ الصَّلَوَاتِ ، وَيَتْلُونَ لَهُ الدَّعَوَاتِ وَالتَّضَرُّعَاتِ .
— "Sesungguhnya itu, wahai anakku, adalah simbol bagi seseorang yang keagungan dan rasa takut kepadanya menandingi langit, dan bayangannya tersebar di seluruh wilayah, dan keagungannya mencapai batas langit. Itu adalah simbol bagi seseorang yang kepadanya para tuan dan pangeran membawa hadiah dan persembahan suci, dan mengadakan doa baginya, dan membacakan doa serta permohonan untuknya."
وَتَنَاوَلَ إِبْرَاهِيمُ تِمْثَالًا مِنْ تَمَاثِيلِ الْآلِهَةِ وَحَطَّمَهُ بَيْنَ يَدَيْهِ وَقَالَ :
Ibrahim mengambil sebuah patung berhala dan menghancurkannya di antara kedua tangannya dan berkata:
— أَلَا تَرَى يَا أَبَتِ أَنَّهُ لَا يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ نَفْعًا وَلَا يَدْرَأُ عَنْ نَفْسِهِ الْهَوَانَ ؟
— "Tidakkah kau lihat, wahai ayah, bahwa ia tidak bisa memberi manfaat bagi dirinya sendiri dan tidak bisa menolak kehinaan dari dirinya sendiri?"
أَحْقَرُ ذَلِكَ الْإِلَهُ الَّذِي أَدُقُّ عُنُقَهُ بِيَدَيَّ .
"Betapa hinanya tuhan itu yang kupatahkan lehernya dengan tanganku."
فَقَالَتْ إِيمْتَالَى فِي رُعْبٍ :
Imtali berkata dalam ketakutan:
— صَهٍ ، صَهٍ يَا إِبْرَاهِيمُ حَتَّى لَا تَسْمَعَكَ الْآلِهَةُ فَتَبْعَثُ بِكَ إِلَى الْعَالَمِ السُّفْلِيِّ ، لِلدُّودِ وَعَذَابِ الْهَوْنِ .
— "Diam, diam wahai Ibrahim, agar para dewa tidak mendengarmu dan mengirimmu ke dunia bawah, ke tempat belatung dan siksaan kehinaan."
فَقَالَ إِبْرَاهِيمُ سَاخِرًا :
Ibrahim berkata dengan mengejek:
— أَوَ لَمْ تَسْمَعْنِي بَعْدُ ؟
— "Atau apakah mereka belum mendengarku?"
وَأَشَارَ إِلَى أُذْنَيْ مَرْدُوخَ الْكَبِيرَتَيْنِ اللَّتَيْنِ تَرْمُزَانِ إِلَى الْحِكْمَةِ :
Ia menunjuk ke telinga Marduk yang besar yang melambangkan hikmah:
— وَمَا فَائِدَةُ هَاتَيْنِ الْأُذُنَيْنِ الْكَبِيرَتَيْنِ إِنْ كَانَ لَا يَسْمَعُ ؟ وَهَاتَيْنِ الْعَيْنَيْنِ الْوَاسِعَتَيْنِ إِنْ كَانَ لَا يَرَى ؟ وَهَاتَيْنِ الشَّفَتَيْنِ إِنْ كَانَ لَا يَنْطِقُ ؟ وَهَذَا الْأَنْفِ إِنْ كَانَ لَا يَشُمُّ ؟..
— "Dan apa gunanya kedua telinga besar ini jika dia tidak mendengar? Dan kedua mata lebar ini jika dia tidak melihat? Dan kedua bibir ini jika dia tidak berbicara? Dan hidung ini jika dia tidak mencium?.."
وَالْتَفَتَ إِلَى أُمِّهِ وَقَالَ :
Ia menoleh kepada ibunya dan berkata:
— لَا تَرَاعِي يَا أُمَّاهْ فَالِهَتُكُمْ أَهْوَنُ مِنْ أَنْ تَنَالَنِي بِسُوءٍ .
— "Jangan takut, wahai ibu, tuhan-tuhan kalian terlalu lemah untuk menyakitiku."
فَصَاحَ نَاحُورُ لِيُرْضِيَ أَبَاهُ وَأُمَّهُ :
Nahur berteriak untuk menyenangkan ayah dan ibunya:
— كَفَى يَا إِبْرَاهِيمُ ، فَالِهَتُنَا قَادِرَةٌ عَلَى أَنْ تُحِيلَكَ حِجَارَةً .
— "Cukup wahai Ibrahim, tuhan-tuhan kami mampu mengubahmu menjadi batu."
فَقَالَ إِبْرَاهِيمُ فِي مَرَارَةٍ :
Ibrahim berkata dengan getir:
— عَجِبْتُ لِمَنْ يَرَى النُّورَ وَيُصِرُّ عَلَى أَنْ يُغْمِضَ عَيْنَيْهِ عَلَى الظَّلَامِ خَشْيَةَ أَنْ يَبْهَرَهُ النُّورُ ، لَيْسَتْ آلِهَتُكُمْ عَلَى شَيْءٍ . فَإِنْ كَانَتْ لَهَا قُدْرَةٌ وَمَشِيئَةٌ لَكُنْتُ أَوَّلَ الرَّاكِعِينَ لِقُدْرَتِهَا السَّاجِدِينَ لِمَشِيئَتِهَا ، وَلَكِنَّهَا أَعْجَزُ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَهَا شَيْءٌ ..
— "Aku heran pada orang yang melihat cahaya tetapi bersikeras menutup matanya dari kegelapan karena takut cahaya akan menyilaukannya, tuhan-tuhan kalian sama sekali tidak berharga. Jika mereka memiliki kekuatan dan kehendak, niscaya aku akan menjadi orang pertama yang bersujud kepada kekuatan mereka dan bersujud kepada kehendak mereka, namun mereka terlalu lemah untuk memiliki apa pun.."
فَقَالَ آزرُ وَإِيمْتَالَى وَأَخَوَاهُ :
Azar, Imtali, dan kedua saudaranya berkata:
— إِنَّهَا آلِهَةُ آبَائِنَا وَسَنَعْبُدُهَا يَا إِبْرَاهِيمُ ! وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ .
— "Itu adalah tuhan-tuhan nenek moyang kami dan kami akan menyembahnya wahai Ibrahim! Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya."
قَالَ وَهُوَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ فِي أَشْفَاقٍ :
Dia berkata sambil menatap mereka dengan penuh rasa kasihan:
— لَقَدْ كُنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ .
— "Sesungguhnya kalian dan bapak-bapak kalian berada dalam kesesatan yang nyata."

💬 SYARH NYABLAK USTADZ BCA
(Betawi Cengkareng Asli)
- Klik buat baca syarah gaya Abi Thoufur untuk episode ini -
Assalaamu'alaikum Sahabat BABA...!!

"Assalamu’alaikum, jama’ah! Malem itu, Kota Ur lagi pules-pulesnye. Tapi Ibrahim? Kagak bisa merem, Cing! Matenye emang di kasur, tapi pikirannye lagi 'balapan' ama ombak di lautan. Die mikir: 'Nih alam semesta pasti ada nyang punya. Kagak mungkin jalan sendiri kayak angkot kagak ada sopirnye.'"

[SCENE 1: GALAU BERKELAS DI TENGAH MALEM]

"Bener, Bang! Ibrahim keluar ke balkon, nyari angin seger. Pas die nengok ke langit, eh ada Planet Jupiter (Al-Musytari) lagi kinclong-kinclongnye. Saking terpanane, Ibrahim sempet kepikir, 'Nah, ini dia kali Tuhan ane!' Hatinye tenang bentar. Tapi eh... pas subuh mau nongol, ntu planet 'cabut' alias tenggelam!"

"Di situ Ibrahim dapet insight tingkat dewa: 'Lah, masa Tuhan ilang? Masa Tuhan kalah ama waktu? Kagak! Ane kagak demen ama Tuhan nyang hobi ngumpet (tenggelam)!' Iman Ibrahim makin kuat, bukan lewat taklid buta, tapi lewat tadabbur alam nyang bener-bener logis."

⚠️ [SCENE 2: JANGKRIK DI ATAS DEWA]

"Abis merenung di luar, Ibrahim masuk ke bengkel bokapnye, si Azar. Pas matenye udeh biasa ama gelap, die liat pemandangan nyang bikin geleng-geleng. Ada jangkrik ama belalang lagi asyik 'nongkrong' di muka patung Marduk! Ada nyang lagi jilat-jilat matenye patung, ada nyang masuk ke kuping patung."

"Ibrahim ngebatin sambil nyengir pait: 'Busyet dah, ini dewa nyang disembah-sembah orang sekota, diusir jangkrik sebiji aje kagak mampu! Boro-boro mau nolongin manusia, jagain idungnye sendiri dari belalang aje kagak becus!' Di sini Ibrahim makin yakin, penyembahan berhala itu bener-bener 'zong' alias penipuan massal!"

[SCENE 3: LINGGIS TAUHID & GEGER DI KUIL RUMAH]

"Besoknye, pas matahari lagi terik, Ibrahim masuk ke kuil pribadi keluarganye. Di situ udeh ada Azar, Emak Imtali, ama abang-abangnye, Nahur ama Haran. Mereka lagi khusyuk mandi, mau sembahyang. Pas Ibrahim liat ntu patung-patung berdiri sok hebat, keberanian Ibrahim memuncak!"

"Ibrahim kagak pake babibu lagi! Die tarik ntu patung Marduk, die lempar! Terus patung Dewi Nana juga die banting ke tanah! BRAK! PRANG! Sontak, satu keluarga langsung jantungan! Emak Imtali mukenye pucet kayak mayat, takut kualat kena kutuk. Si Azar? Wah, napasnye udeh Senin-Kemis saking marahnya!"

[SCENE 4: DEBAT PANAS BAPAK VS ANAK]

"Azar teriak: 'Heh Ibrahim! Lu udeh gila ye?! Lu mau kita mokat kena marah dewa?!' Ibrahim dengan santuy tapi nusuk nanya balik: 'Yah, ngapa Ayah nyembah barang nyang budek, buta, ama kagak bisa ngapa-ngapain?!' Azar jawabnye pake alasan klasik: 'Ya emang dari dulu kakek buyut kite begini, ini simbol keagungan langit!'"

"Ibrahim makin 'nyelekit' omongannye: 'Yah, ini patung kan Ayah nyang bikin pake tangan sendiri. Masa Ayah nyembah 'anak buah' Ayah sendiri? Kalo dewa ini hebat, coba suruh die bales ane sekarang! Nih, lehernye ane patahin, diem aje!' Busyet, si Nahur malah nakut-nakutin: 'Ati-ati lu Him, ntar dirubah jadi batu!' Ibrahim malah ngejek: 'Lah, mereka denger ane ngomong aje kagak, gimane mau ngerubah ane jadi batu?'"

[SCENE 5: KESESATAN NYANG NYATA]

"Ibrahim liat maknye, Imtali, nyang ketakutan setengah mati. Ibrahim bilang: 'Mak, jangan takut. Dewa-dewa ini lebih lemah dari debu. Mereka kagak bakal bisa nyakitin ane.' Tapi tetep aje, Azar ama keluarganye lebih milih 'warisan' nenek moyang daripada cahaya akal nyang Ibrahim tawarin."

"Akhirnye Ibrahim ngomong kalimat pamungkas nyang bikin kuping mereka panas: 'Bener-bener dah, kalian ama bapak-bapak kalian dulu, semuanya ada dalam kesesatan nyang nyata!' Waduh! Ini pernyataan perang ideologi, Bang! Hubungan anak ama bapak udeh di ujung tanduk!"

[OUTRO]

"Ibrahim udeh resmi 'keluar' dari barisan penyembah berhala. Die udeh berani ngerusak simbol kesyirikan di dalem rumahnye sendiri. Tapi, gimane reaksi warga Ur kalo tau anak 'produsen dewa' malah jadi penghancur dewa?"

"Jangan ke mane-mane, tetep di Kisah Abul Anbiya! Episode depan bakal makin pecah, Ibrahim bakal berhadapan ama satu kota! Ane Abi Nyablak, mohon pamit. Inget, mending 'tenggelam' di jalan bener daripada 'berdiri' di atas patung! Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh!"

— ABI THOUFUR • THE NYABLAK TEACHER • MAN 1 JAKARTA —
BONUS EXCLUSIVE

🎁 Bingkisan Sayang dari Abi: APA HIKMAH DI BALIK EPISODE INI BUAT KITA?

Eits, jangan bubar dulu! Biar ente kagak cuma baca ceritanya doang, Abi kasih "Kado Ilmu" soal apa yang bisa kita petik dari kisah Nabi Ibrahim عليه السلام yang lagi gencar-gencarnya ngebongkar kesesatan di Kota Ur.

🛡️ Catatan Aqidah Abi:

"Iman itu kagak bisa warisan, Cing! Ibrahim ngebuktiin kalo Tuhan itu bukan benda nyang tenggelam atau ilang. Tauhid itu hasil dari proses mikir (tadabbur) nyang dalem, bukan asal ikut-ikutan tradisi nenek moyang nyang udeh kagak jelas juntrungannye. Jangan sampe iman kita setipis tisu, kena angin dikit goyang!"

Catatan Ibadah Abi:

"Ibrahim ngajarin kita buat berani 'ngebanting' berhala. Berhala zaman sekarang mah bukan cuma patung kayu, tapi ego, harta, sama jabatan nyang sering kita sembah-sembah sampe lupa sholat. Kalo patung kayu aje Ibrahim berani banting, masa kita kalah ama 'berhala' nyang ada di dalem diri sendiri?"

⚖️ Catatan Mu'amalah Abi:

"Debat sama orang tua emang gak enak, apalagi soal keyakinan. Tapi Ibrahim kasih contoh, tegas itu perlu kalo udah nyangkut prinsip kebenaran. Jangan sampe gara-gara pengen dibilang anak berbakti, kita malah ikut kesesatan nyang nyata. Bakti bukan berarti ngebeo, Cing! Tetep kudu pake adab, tapi prinsip kudu tegak!"

Alhamdulillah...

Tuh kan, Ibrahim aje berani 'nyablak' benerin keadaan, masa kita umat Muhammad SAW malah diem bae ngeliat kemungkaran? Semoga kisah ini bikin kita makin sadar pentingnye 'nyalain' lampu akal sebelum bertindak. Kalau ngerasa dapet pencerahan atau malah bingung, mending tulis di kolom komentar, jangan dipendem sendiri, ntar jadi penyakit hati! Sampe ketemu di episode selanjutnya nyang bakal makin gokil.


~ ABI THOUFUR (THE NYABLAK TEACHER) ~

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ ، وَبِاللهِ الْهِدَايَةُ وَالتَّوْفِيْقُ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi