BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

Serial Abul Anbiyaa #07 | Di Balik Tirai Kematian: Ibrahim dan Rahasia Tanah yang Tak Kembali

Thumbnail BABA Blog

بِسْمِ اللهِ الرَّحمْنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُم ْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Abi Ahmad Thoufur

Disajikan oleh : Abi Ahmad Thoufur

(Ustadz Betawi Nyablak Asli Cengkareng)

🏛️ COCOLAN SAMBEL BABA 🏛️

✍️ Muqoddimah ala Ustadz Betawi Nyablak

Nyambung lagi nih, Jama'ah kesayangan Abi! Gimane kabarnye hari ini? Masih semangat kan nyimak kelanjutan kisah dari Blog Anak Betawi Asli? Mumpung masih anget, ayo kite lanjut lagi "ngoprek" sejarah di Episode ke-7 ini, moga jadi wasilah nambah ilmu yang berkah buat kite semua!

Pada episode kali ini, kite bakal ngeliat kegelisahan Ibrahim muda yang makin memuncak. Pasca kematian kakeknye, Nahur, Ibrahim makin ngeliat betapa agama cuma dijadiin alat dagang buat para imam yang serakah. Hati dan akal sehat Ibrahim terusik ngeliat kedzaliman demi kedzaliman atas nama dewa. Nyok, kite simak gimane pergulatan batin Ibrahim saat dia mulai ngeliat hakikat yang sebenarnya di balik megahnya kuil Nana!

📖 مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ

Karya : Abdul Hamid Judah As-Sahhar

✦ ✧ ✦

أَبُو الْأَنْبِيَاءِ

Bapak Para Nabi ﴿

✧ ✦ ✧

Di Balik Tirai Kematian:
Ibrahim dan Rahasia Tanah yang Tak Kembali

Yuk, baca naskah aslinye. Nyang baca harus fokus, nyang ngebatin harus khusyuk!
ABUL ANBIYA
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Di Balik Tirai Kematian: Ibrahim dan Rahasia Tanah yang Tak Kembali

Saat Nahur menjemput ajal, Ibrahim menyaksikan ritual tebusan yang sia-sia, memicu pertanyaan mendalam dalam jiwanya tentang hakikat hidup dan kematian.

رَاحَ إِبْرَاهِيمُ يُفَكِّرُ فِي مَوْتِ جَدِّهِ نَاحُورَ ، وَفِي الْكَاهِنِ الَّذِي تَقَاضَى سَبْعَ أَوَانٍ مِنَ الْخَمْرِ ، وَأَرْبَعَمِائَةٍ وَعِشْرِينَ رَغِيفًا ، وَمِائَةً وَعِشْرِينَ قَامًا مِنَ الْحُبُوبِ ، وَرِدَاءً وَجَدْيًا وَسَرِيرًا ، ثَمَنًا لِمُوَارَاةِ جُثَّتِهِ فِي التُّرَابِ .
Ibrahim mulai berpikir tentang kematian kakeknya, Nahur, dan tentang imam yang meminta bayaran tujuh bejana arak, empat ratus dua puluh roti, dan seratus dua puluh takaran gandum, serta pakaian, anak kambing, dan tempat tidur, sebagai harga untuk menguburkan jenazahnya di dalam tanah.
وَاشْتَغَلَ فِكْرُهُ بِالْكَهَنَةِ الْآخَرِينَ الَّذِينَ قَرَّبُوا الْقَرَابِينَ إِلَى الْأَصْنَامِ اسْتِعْطَافًا لِلْآلِهَةِ أَيَّامَ نَاحُورَ ، وَأُولَئِكَ الَّذِينَ اسْتَخَارُوا الْأَوَانِيَ . لَقَدْ تَقَاضَوْا لِقَاءِ أَعْمَالِهِمْ شَوَاقِلَ كَثِيرَةً مِنَ الْفِضَّةِ ، وَجُورًا كَثِيرَةً مِنَ الشَّعِيرِ ، وَرُءُوسًا كَثِيرَةً مِنَ الْمَاعِزِ وَالْغَنَمِ . وَثَارَ فِي نَفْسِهِ سُؤَالٌ : أَيُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ هَؤُلَاءِ عِبَادًا مُخْلِصِينَ لِآلِهَةٍ عِظَامٍ ، أَمْ أَنَّهُمْ إِنَّمَا يَتَّخِذُونَ مِنَ الدِّينِ تِجَارَةً ؟
Pikirannya sibuk dengan para imam lain yang mempersembahkan kurban kepada berhala untuk menarik simpati para dewa di masa Nahur, dan mereka yang meminta petunjuk melalui bejana. Mereka meminta sebagai imbalan atas pekerjaan mereka banyak keping perak, banyak jelai, dan banyak kepala kambing serta domba. Maka bangkitlah di dalam dirinya sebuah pertanyaan: Mungkinkah mereka ini adalah hamba-hamba yang tulus kepada dewa-dewa yang agung, ataukah mereka hanya menjadikan agama sebagai perdagangan?
وَبَذَرَتْ فِي نَفْسِهِ بُذُورُ الشَّكِّ ، وَلَمْ يَسْتَطِعِ الْبَقَاءَ فِي الدَّارِ فَانْطَلَقَ إِلَى مَعْبَدِ نَانَا يَرْقُبُ أَعْمَالَ رِجَالِ الدِّينِ عَنْ كَثَبٍ بِعَيْنَيْنِ مَفْتُوحَتَيْنِ ، فَمَا كَانَ يُحِبُّ أَنْ يَقْطَعَ بِرَأْيٍ قَبْلَ أَنْ يَتَثَبَّتَ وَيَتَحَقَّقَ .
Maka tertanamlah benih-benih keraguan di dalam dirinya, dan ia tidak mampu untuk tetap tinggal di rumah, maka ia berangkat menuju kuil Nana untuk mengamati perbuatan para agamawan dari dekat dengan mata yang terbuka lebar, karena ia tidak suka memutuskan suatu pendapat sebelum ia memastikan dan membuktikannya.
سَارَ فِي شَوَارِعِ أُورَ ، فِي شَوَارِعِ الْمَدِينَةِ الَّتِي تَتَنَفَّسُ الدِّينَ وَالطُّقُوسَ ، وَتَتَرَدَّدُ فِي جَنَبَاتِهَا التَّسَابِيحُ لِلْآلِهَةِ الْعِظَامِ الَّذِينَ يَلْتَقُونَ فِي مَجْمَعِهِمْ وَيُقَرِّرُونَ مَا يَشَاءُونَ .
Ia berjalan di jalan-jalan Ur, di jalan-jalan kota yang bernapas dengan agama dan ritual, dan di sekelilingnya bergema puji-pujian bagi dewa-dewa agung yang berkumpul di majelis mereka dan memutuskan apa yang mereka kehendaki.
وَرَاحَ يُفَكِّرُ فِي عَشَرَاتِ الْآلِهَةِ الَّتِي تُسَيْطِرُ عَلَى الْكَوْنِ وَالْحَيَاةِ شَأْنَهَا أَنْ تُبْرِمَ أَمْرًا وَتَقْضِيَ قَضَاءً أَوْ تَحْكُمَ حُكْمًا يَنْفُذُ فِي عِبَادِهَا مِنَ الْبَشَرِ . وَلَاحَ لَهُ مَعْبَدُ نَانَا وَبُرْجُهُ الْعَالِي ، فَسَارَ وَالشَّاطِئُ فَرَأَى جَمْعًا مِنَ النَّاسِ فِيهِمْ بَعْضُ الْكَهَنَةِ ، فَوَسَّعَ مِنَ خُطْوَتِهِ حَتَّى بَلَغَ الزِّحَامَ فَإِذَا بِالْكَهَنَةِ يُوثِقُونَ رَجُلًا وَامْرَأَةً بِالْحِبَالِ لِيُلْقَوْا بِهِمَا فِي النَّهَرِ ، فَقَدْ ضُبِطَا مُتَلَبِّسَيْنِ بِالزِّنَا .
Dan ia mulai memikirkan puluhan dewa yang menguasai alam semesta dan kehidupan, yang urusannya adalah menetapkan suatu perkara dan memutuskan suatu ketetapan atau menghukum dengan hukum yang berlaku bagi hamba-hambanya dari kalangan manusia. Dan tampaklah baginya kuil Nana dan menaranya yang tinggi, maka ia berjalan ke arah pantai dan melihat sekumpulan orang di antaranya terdapat beberapa imam, maka ia memperlebar langkahnya hingga sampai ke kerumunan itu, tiba-tiba para imam sedang mengikat seorang pria dan seorang wanita dengan tali untuk dilemparkan ke sungai, karena mereka telah tertangkap basah melakukan perzinahan.
وَأَلْفَى نَفْسَهُ يَتَفَرَّسُ فِي وُجُوهِ الْكَهَنَةِ أَصْحَابِ الرُّءُوسِ الْحَلِيقَةِ ، وَتَطُوفُ بِرَأْسِهِ أَسْئِلَةٌ : أَهَؤُلَاءِ الْكَهَنَةُ الَّذِينَ يَدْفَعُونَ بِالزَّوَانِي وَالزَّانِيَةِ إِلَى الْمَاءِ أَطْهَارٌ بَرَرَةٌ ؟ أَلَمْ يَرْتَكِبْ أَحَدُهُمْ مِثْلَ هَذِهِ الْمَعْصِيَةِ ؟ أَهُمْ أَهْلُ حَقٍّ لِأَنْ يُدِينُوا النَّاسَ ؟
Dan ia mendapati dirinya mengamati wajah para imam yang berkepala plontos, dan berputarlah di kepalanya pertanyaan-pertanyaan: Apakah para imam yang mendorong para pezina ke dalam air ini adalah orang-orang yang suci dan benar? Tidakkah salah satu dari mereka melakukan maksiat seperti ini? Apakah mereka berhak untuk menghukum orang lain?
وَلَمْ يَقْتَنِعْ بِمَا رَأَى فَدَارَ عَلَى عَقِبِهِ وَانْطَلَقَ ، فَإِذَا بِهِ يَرَى الْعَاهِرَاتِ الْمُقَدَّسَاتِ يَجْلِسْنَ عَلَى جَانِبَيِ الطَّرِيقِ الْمُقَدَّسِ ، وَرِجَالًا تَشِعُّ الشَّهْوَةُ مِنْ أَعْيُنِهِمْ يَلْقَوْنَ فِي حُجُورِهِنَّ شَوَاقِلَ الْفِضَّةِ فَمَا يَكُونُ مِنْهُنَّ إِلَّا أَنْ يَنْهَضْنَ وَيَتْبَعْنَهُمْ ! وَاشْتَدَّ عَجَبُ إِبْرَاهِيمَ لِهَذِهِ الْمُفَارَقَاتِ : فَتَيَاتٌ يَرْتَكِبْنَ الْفَوَاحِشَ بِاسْمِ الْآلِهَةِ فَيُصْبِحْنَ مُقَدَّسَاتٍ ، وَفَتَيَاتٌ يُضْبَطْنَ مُتَلَبِّسَاتٍ بِالزِّنَا فَيُلْقَى بِهِنَّ فِي الْمَاءِ .
Dan ia tidak merasa puas dengan apa yang ia lihat, maka ia berbalik arah dan pergi, tiba-tiba ia melihat pelacur-pelacur suci sedang duduk di kedua sisi jalan suci, dan pria-pria yang nafsu memancar dari mata mereka melemparkan kepingan perak ke pangkuan mereka, maka tidaklah mereka lakukan selain bangkit dan mengikuti mereka! Dan bertambah heranlah Ibrahim terhadap kontradiksi-kontradiksi ini: gadis-gadis yang melakukan perbuatan keji atas nama dewa, maka mereka menjadi suci, dan gadis-gadis yang tertangkap basah melakukan perzinahan, maka mereka dilemparkan ke dalam air.
وَهَمَسَ فِي نَفْسِهِ هَامِسٌ : وَلَكِنْ مَنْ يُلْقَى بِهِنَّ فِي الْمَاءِ مُتَزَوِّجَاتٌ . وَإِذَا بِصَوْتٍ يَرِنُّ فِي نَفْسِهِ : إِنَّ مَنْ يَثُورُ عَلَى الزِّنَا يَنْبَغِي أَنْ يَثُورَ عَلَيْهِ ، سَوَاءً أَكَانَتْ مُرْتَكِبَتُهُ مُتَزَوِّجَةً أَمْ عَاهِرَةً .. أَمْ مَخْدُوعَةً بِاسْمِ الْآلِهَةِ . الْفَاحِشَةُ هِيَ الْفَاحِشَةُ ، فَلَا يَنْبَغِي أَنْ تُقَدَّسَ إِذَا ارْتُكِبَتْ بِاسْمِ عَشْتَارَ ، وَأَنْ تُلطَّخَ بِالْعَارِ إِذَا ارْتُكِبَتْ بِاسْمِ الشَّيْطَانِ .
Dan berbisiklah dalam dirinya seseorang: Tetapi mereka yang dilemparkan ke dalam air adalah wanita-wanita yang bersuami. Dan tiba-tiba suara bergema di dalam dirinya: Sesungguhnya siapa yang menentang perzinahan, maka ia harus menentangnya, baik pelaku yang melakukannya itu wanita bersuami atau pelacur.. atau tertipu atas nama dewa. Perbuatan keji adalah perbuatan keji, maka tidak seharusnya ia dianggap suci jika dilakukan atas nama Ishtar, dan tidak seharusnya ia dicemarkan dengan aib jika dilakukan atas nama setan.
عَشْتَارُ ! عَشْتَارُ ! كَيْفَ يُمْكِنُ أَنْ تَرْتَفِعَ إِلَى مَرْتَبَةِ الْآلِهَةِ ؟ إِنَّ لَهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ عَشِيقًا : تَمُوزَ إِلَهَ الْإِنْبَاتِ عَشِيقَهَا ، جَلْجَامَشَ الْبَطَلَ الْإِنْسَانَ عَشِيقَهَا . وَهِيَ الْإِلَهَةُ اضْطَجَعَتْ مَعَ رِجَالٍ مِنَ الْبَشَرِ .. لِمَاذَا لَا يَثُورُ الْآلِهَةُ لِكَرَامَتِهِمُ الَّتِي تُهْدِرُهَا عَشْتَارُ كُلَّ يَوْمٍ ، فَيُوثِقُونَهَا هِيَ وَعُشَّاقَهَا بِالْحِبَالِ وَيُلْقَوْنَ بِهِمْ فِي النَّهْرِ ؟
Ishtar! Ishtar! Bagaimana mungkin ia bisa naik ke martabat dewa? Sesungguhnya ia memiliki setiap hari seorang kekasih: Tammuz, dewa kesuburan, sebagai kekasihnya, Gilgames, pahlawan manusia, sebagai kekasihnya. Dan ia adalah dewi yang telah berbaring dengan manusia.. Mengapa para dewa tidak bangkit demi kehormatan mereka yang disia-siakan oleh Ishtar setiap hari, lalu mereka mengikatnya bersama kekasih-kekasihnya dengan tali dan melemparkan mereka ke sungai?
أَلَمْ يَشْرَعِ الْآلِهَةُ هَذَا الْعِقَابَ لِمَنْ يَضْبِطُ مُتَلَبِّسًا بِالزِّنَا ؟ فَلِمَاذَا إِذَنْ لَا يُوقَعُ عَلَى عَشْتَارَ وَعُشَّاقِهَا وَهِيَ تَرْتَكِبُ الْفَوَاحِشَ تَحْتَ نَظَرِ الْآلِهَةِ جَمِيعًا ؟ وَبَلَغَ الْفَنَاءَ الْمُقَدَّسَ حَيْثُ مَخَازِنُ الْآلِهَةِ فَوَجَدَ حَرَكَةً نَشِيطَةً ، كَانَ فِي الْفَنَاءِ الْمُقَدَّسِ جَمْعٌ مِنْ رِجَالِ الْقَصْرِ وَرِجَالِ الْمَعْبَدِ ، فَاقْتَرَبَ لِيَشْهَدَ وَيَسْمَعَ . كَانَتْ إِيرَادَاتُ الْمَعْبَدِ تُوزَعُ بَيْنَ رِجَالِ الْقَصْرِ وَرِجَالِ الدِّينِ؛ وَوُضِعَتِ الْأَسْلَابُ مِنَ الشَّعِيرِ وَالْفَوَاكِهِ وَالْمَلَابِسِ عَلَى ظَهْرِ الْحَمِيرِ ، وَرَاحَ كُلُّ يَقْبِضُ نَصِيبَهُ مِنَ الْأَنْعَامِ وَالْأَغْنَامِ وَالْخَنَازِيرِ ، حَتَّى الْمَلِكُ وَالْإِيشَاكُو الْكَاهِنُ الْأَعْظَمُ وَالْأُورِيجَالُّو كَانَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْهَدَايَا الَّتِي يَهَبُهَا الْمَخْدُوعُونَ فِي الْآلِهَةِ لِلْمَعْبَدِ .
Bukankah para dewa telah mensyariatkan hukuman ini bagi siapa yang tertangkap basah melakukan perzinahan? Maka mengapa hal itu tidak dijatuhkan kepada Ishtar dan kekasih-kekasihnya padahal ia melakukan perbuatan keji di bawah pengawasan para dewa semuanya? Dan sampailah ia ke pelataran suci di mana gudang-gudang para dewa berada, maka ia menemukan gerakan yang aktif, adalah di pelataran suci kumpulan orang-orang istana dan orang-orang kuil, maka ia mendekat untuk menyaksikan dan mendengar. Pendapatan kuil dibagikan antara orang-orang istana dan para agamawan; dan diletakkan hasil jarahan berupa jelai, buah-buahan, dan pakaian di atas punggung keledai, dan masing-masing pergi mengambil bagiannya dari ternak, domba, dan babi, bahkan raja dan Ishakku, sang imam agung, serta Urigallu, mereka memiliki bagian dari hadiah-hadiah yang diberikan oleh orang-orang yang tertipu oleh dewa kepada kuil.
وَلِكَيْ تَخْرُسَ أَلْسِنَةُ رِجَالِ الْمَلِكِ وَرِجَالِ الْإِيشَاكُو وَرِجَالِ الْأَمْنِ ؛ رَاحَ الْكَهَنَةُ يُوَزِّعُونَ عَلَيْهِمُ الشَّعِيرَ وَالْمَلَابِسَ وَالْقُمَاشَ وَالْمَعَزَّ وَالطُّيُورَ . كَانَ الْكَهَنَةُ يُذِلُّونَ هَؤُلَاءِ عَنْ طِيبِ خَاطِرٍ وَيُعْطُونَهُمْ عَنْ رِضًا ، فَذَلِكَ يُيَسِّرُ لَهُمُ الظُّلْمَ ، وَيَضْمَنُ لَهُمُ السَّلَامَةَ إِذَا فَرَضُوا الْجَوْرَ عَلَى الشَّعْبِ . رَأَى إِبْرَاهِيمُ بِعَيْنَيْهِ مَا رَفَضَ أَنْ يَرَاهُ أَبُوهُ آزرُ ، وَسَمِعَ أُمُورًا تَدِينُ الْكَهَنَةَ تَفُوقُ فِي قَسْوَتِهَا مَا قَالَهُ لُوجَالُ فِي رِجَالِ الدِّينِ فَأَثَارَ غَضَبَ آزرَ حَتَّى قَالَ لِصَدِيقِهِ : لَوْلَا مَا بَيْنَنَا مِنْ صَدَاقَةٍ لَوَشَيْتُ بِكَ !. وَهَزَّ إِبْرَاهِيمُ رَأْسَهُ سُخْرِيَةً : هَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ يَقْطَعُونَ يَدَ السَّارِقِ ، وَيَقُومُ عَلَيْهِمُ الدِّينُ !
Dan agar diam lidah orang-orang raja, orang-orang Ishakku, dan orang-orang keamanan; pergilah para imam membagikan kepada mereka jelai, pakaian, kain, kambing, dan burung. Para imam merendahkan mereka dengan kerelaan hati dan memberi mereka dengan rasa senang, karena itu memudahkan bagi mereka kezaliman, dan menjamin bagi mereka keselamatan jika mereka memaksakan kesewenang-wenangan atas rakyat. Ibrahim melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang ayahnya, Azar, menolak untuk melihatnya, dan ia mendengar hal-hal yang menghukum para imam, yang melebihi dalam kekejamannya apa yang dikatakan Lujal tentang orang-orang agama, maka itu membangkitkan kemarahan Azar hingga ia berkata kepada temannya: Andai bukan karena apa yang ada di antara kita dari pertemanan, niscaya aku akan mengadukanmu!. Dan Ibrahim menggelengkan kepalanya dengan sinis: Merekalah orang-orang yang memotong tangan pencuri, dan agama berdiri di atas mereka!
وَدَخَلَ الْمَعْبَدَ فَإِذَا بِتَمَاثِيلَ ضَخْمَةٍ مِنَ الْحِجَارَةِ لِمَرْدُوخَ وَنَانَا وَشَمَاشَ وَعَشْتَارَ وَعَشَرَاتِ الْآلِهَةِ الْأُخْرَى . وَإِذَا بِتَمَاثِيلَ لِلْمَلِكِ فِي مِشْكَاةٍ تُقَدَّمُ لَهَا فُرُوضُ التَّمْجِيدِ الْإِلَهِيِّ ، فَقَدْ رَفَعَ الْمَلِكُ نَفْسَهُ إِلَى مَصَافِّ الْآلِهَةِ ، وَقَالَ إِنَّهُ إِلَهُ الْمُلُوكِ جَمِيعًا . وَرَاحَ يَقْلِبُ وَجْهَهُ فِي التَّمَاثِيلِ ؛ إِنَّ أَبَاهُ يَصْنَعُ مِثْلَهَا ، وَهَذِهِ التَّمَاثِيلُ جَمِيعًا مِنَ صُنْعِ أُنَاسٍ مِثْلِ أَبِيهِ ، فَمَنْ أَيْنَ لَهُمْ أَنْ يَقَرَّرُوا أَنَّهَا تَمْثُلُ الْآلِهَةَ حَقًّا مَا دَامَ أَنَّ أَحَدًا مِنَ الْبَشَرِ لَمْ يَرَ هَؤُلَاءِ الْآلِهَةَ ؟! وَأَحَسَّ فِي قَرَارَةِ نَفْسِهِ أَنَّهُ يُنْكِرُ هَذِهِ الْأَصْنَامَ .
Dan ia masuk ke kuil, tiba-tiba ada patung-patung batu yang besar untuk Marduk, Nana, Shamash, Ishtar, dan puluhan dewa lainnya. Dan tiba-tiba ada patung-patung untuk raja di dalam ceruk yang dipersembahkan kepadanya aturan-aturan pemuliaan ilahi, karena raja telah mengangkat dirinya ke derajat para dewa, dan ia berkata bahwa ia adalah dewa bagi para raja semuanya. Dan ia mulai membolak-balik pandangannya pada patung-patung tersebut; sesungguhnya ayahnya membuat yang serupa, dan patung-patung ini semuanya adalah hasil buatan manusia seperti ayahnya, maka dari mana bagi mereka untuk memutuskan bahwa patung-patung itu mewakili dewa secara nyata selama tidak seorang pun dari manusia yang pernah melihat dewa-dewa ini?! Dan ia merasakan di dalam lubuk hatinya bahwa ia mengingkari berhala-berhala ini.
وَوَقَعَتْ عَيْنَاهُ عَلَى الْأَغْذِيَةِ وَالْأَشْرِبَةِ الْمُكَوَّمَةِ أَمَامَ التَّمَاثِيلِ : عَشْتَارُ لَهَا ثَمَانِيَةَ عَشَرَ إِنَاءً لِلشُّرْبِ ، وَمَرْدُوخُ لَهُ اثْنَا عَشَرَ ، وَتَشْرَبُ الْآلِهَةُ جَمِيعًا لَبَنًا فِي الصَّبَاحِ . أَتَسْتَطِيعُ هَذِهِ الْأَحْجَارُ حَقًّا أَنْ تَأْكُلَ وَتَشْرَبَ ؟ إِذَا كَانَ الْمَلِكُ يَتَنَاوَلُ طَعَامَهُ فِي كُلِّ مَعْبَدٍ مِنَ الْمَعَابِدِ ؛ فَكَيْفَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَأْكُلَ فِي قَصْرِهِ مَعَ وُزَرَائِهِ وَحَاشِيَتِهِ وَنِدَمَائِهِ ؟ هَذِهِ الْآلِهَةُ نَهِمَةٌ لَا تَشْبَعُ ، تَأْكُلُ فِي بَابِلَ ، وَتَأْكُلُ فِي أُورَ . وَتَأْكُلُ فِي كَارِ شَمَاشَ ( قَلْعَةِ شَمَاشَ ) ، وَسِيبَّارَ ، وَفِي كُلِّ مَعْبَدٍ مِنَ الْمَعَابِدِ الْكَثِيرَةِ الْمُنْتَشِرَةِ فِي أَنْحَاءِ الْمَمْلَكَةِ ، أَمْ أَنَّ هَذِهِ دَعْوَى ادَّعَاهَا الْمُلُوكُ وَالْكُهَّانُ ؟!
Dan jatuhlah pandangan matanya pada makanan dan minuman yang ditumpuk di depan patung-patung: Ishtar baginya delapan belas bejana untuk minum, dan Marduk baginya dua belas, dan semua dewa meminum susu di pagi hari. Apakah batu-batu ini benar-benar bisa makan dan minum? Jika raja menyantap makanannya di setiap kuil dari kuil-kuil tersebut; maka bagaimana mungkin ia bisa makan di istananya bersama menteri-menterinya, pengikutnya, dan teman-teman minumnya? Dewa-dewa ini rakus dan tidak kenyang, makan di Babil, dan makan di Ur. Dan makan di Kar Shamash (benteng Shamash), dan Sippar, dan di setiap kuil dari banyak kuil yang tersebar di seluruh kerajaan, ataukah ini hanyalah klaim yang diklaim oleh para raja dan para imam?!
وَمَلَأَتْ خَيَاشِيمَهُ رَائِحَةُ الْبَخُورِ وَرَأَى دُخَانَهُ الْمُتَصَاعِدَ . وَطَالَمَا رَأَى ذَلِكَ الدُّخَانَ ، وَلَكِنَّهُ يَرَاهُ الْيَوْمَ سُحُبًا تَتَكَاثَفُ عَلَى عُقُولِ النَّاسِ ، وَأَسْتَارًا تَنْسَدِلُ عَلَى أَعْيُنِهِمْ . عَجَبٌ لِهَؤُلَاءِ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ الَّذِينَ يَتَقَدَّمُونَ مِنَ التَّمَاثِيلِ فِي خُشُوعٍ ، وَيَذْرِفُونَ بَيْنَ أَيْدِيهَا الدُّمُوعَ السَّخِينَةَ ، وَيَلْتَمِسُونَ الرِّضَا مِنَ الْأَحْجَارِ وَالْأَوْثَانِ ؟! كَيْفَ آمَنَ أَبُوهُ آزرُ وَعَمُّهُ هَارَانَ وَجَدُّهُ نَاحُورُ ، وَآبَاؤُهُمْ مِنْ قَبْلِهِمْ ، بِهَذِهِ التَّمَاثِيلِ الَّتِي لَا تَمْلِكُ لِنَفْسِهَا نَفْعًا وَلَا ضَرًّا ؟!
Dan memenuhi hidungnya bau kemenyan dan ia melihat asapnya yang membumbung tinggi. Dan sudah sekian lama ia melihat asap itu, tetapi ia melihatnya hari ini sebagai awan-awan yang menebal di atas akal manusia, dan tirai-tirai yang terulur di atas mata mereka. Sungguh mengherankan orang-orang laki-laki dan perempuan yang maju menghadap patung-patung dengan penuh kekhusyukan, dan meneteskan air mata yang panas di depannya, dan mengharapkan ridha dari batu-batu dan berhala?! Bagaimana mungkin ayahnya Azar, pamannya Haran, dan kakeknya Nahur, dan leluhur mereka sebelum mereka, beriman kepada patung-patung ini yang tidak memiliki untuk diri mereka sendiri manfaat dan tidak pula mudarat?!
وَخَرَجَ مِنَ الْمَعْبَدِ إِلَى الطَّرِيقِ الْمُقَدَّسِ الَّذِي جَلَسَتْ عَلَى جَانِبَيْهِ الْعَاهِرَاتُ ، وَأَجْتَازَ الْبَابَ الَّذِي يَلْفِظُ إِلَى الطَّرِيقِ الْعَامِ وَهُوَ يَتَلَفَّتُ ، يُحَاوِلُ أَنْ يَنْفُذَ إِلَى سِرِّ ذَلِكَ الْكَوْنِ الْعَجِيبِ . وَمَدَّ بَصَرَهُ نَاحِيَةَ الْجَنُوبِ الْغَرْبِيِّ وَهُوَ لَا يَدْرِي مَا يَجْثُمُ وَرَاءَ مَا يَصِلُ إِلَيْهِ بَصَرُهُ . لَقَدْ قَالَ لَهُ أَبُوهُ وَجَدُّهُ وَأُمُّهُ ، وَقَالَ لَهُ كُلُّ مَنْ سَأَلَهُ إِنَّ هُنَاكَ صَحْرَاءَ جَرْدَاءَ مَلِيئَةً بِالشَّيَاطِينِ وَالْأَشْبَاحِ ، وَقَدْ أَكَّدَ لَهُ الْجَمِيعُ تِلْكَ الْحَقِيقَةَ بَيْدَ أَنَّ عَقْلَهُ أَبَى أَنْ يَقْتَنِعَ بِهَا ، فَقَدِ اهْتَدَى عَقْلُهُ إِلَى أَنَّ كَثِيرًا مِمَّا يَقُولُونَ أَسَاطِيرُ وَأَوْهَامٌ . وَهَفَتْ نَفْسُهُ إِلَى تِلْكَ الصَّحْرَاءِ ، وَتَمَنَّى أَنْ يَضْرِبَ فِيهَا ، أَنْ يَكْشِفَ وَجْهَهَا اللِّثَامَ ، أَنْ يَعْرِفَ أَسْرَارَهَا ؛ فَقَدْ كَانَ تَوَّاقًا إِلَى اسْتِكْنَاهِ حَقَائِقِ الْأَشْيَاءِ .
Dan ia keluar dari kuil menuju jalan suci yang di kedua sisinya duduk para pelacur, dan ia melewati pintu yang mengarah ke jalan umum sambil menoleh, mencoba untuk menembus rahasia alam yang menakjubkan itu. Dan ia memanjangkan pandangannya ke arah barat daya sedangkan ia tidak tahu apa yang tersembunyi di balik apa yang dicapai oleh pandangannya. Sungguh ayahnya, kakeknya, dan ibunya telah berkata kepadanya, dan berkata kepadanya setiap orang yang ia tanya bahwa di sana ada gurun yang tandus yang dipenuhi dengan setan-setan dan hantu-hantu, dan semua orang telah menegaskan kepadanya kebenaran itu, akan tetapi akalnya menolak untuk merasa puas dengannya, karena akalnya telah mendapat petunjuk bahwa banyak dari apa yang mereka katakan adalah mitos-mitos dan khayalan-khayalan. Dan jiwanya merindukan gurun itu, dan ia berharap untuk menempuhnya, untuk membuka tabir wajahnya, untuk mengetahui rahasia-rahasianya; karena ia sangat ingin untuk memahami hakikat segala sesuatu.
وَرَأَى قَافِلَةً تَتَأَهَّبُ لِلْمَسِيرِ بِمَحَاذَاةِ سَاحِلِ الْبَحْرِ الْأَعْلَى ، بَحْرِ الشَّمْسِ الْغَارِبَةِ الْمُتَّجِهَةِ إِلَى دَلْتَا النِّيلِ ، فَعَزَمَ فِي نَفْسِهِ أَنْ يَخْرُجَ يَوْمًا - عِنْدَمَا يَشْتَدُّ عُودُهُ وَيُصْبِحُ رَجُلًا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَجُوبَ الْأَرْضَ - مَعَ قَافِلَةٍ مِنْ تِلْكَ الْقَوَافِلِ ، كَمَا يَجُوبُهَا الْآنَ شَرِيكُ أَبِيهِ لُوجَالُ . وَرَاحَ يَقْلِبُ وَجْهَهُ فِي السَّمَاءِ . وَيَمُدُّ بَصَرَهُ إِلَى الْبِحَارِ وَالْأَنْهَارِ وَالسُّهُولِ وَالْجِبَالِ ، وَالْحَدَائِقِ الَّتِي اكْتَسَتْ ثَوْبَ الرَّبِيعِ وَالْحُقُولِ الَّتِي اخْضَرَّتْ بِالزَّرْعِ ، وَالطُّيُورِ الَّتِي حَوْمَتْ فِي الْفَضَاءِ ، وَقِطْعَانِ الْمَاشِيَةِ وَالْأَنْعَامِ ، وَالنَّاسِ مِنْ شُيوخٍ وَعَجَائِزَ وَشُبَّانٍ وَشَابَّاتٍ وَبَنِينَ وَبَنَاتٍ ، فَهَمَسَ فِي نَفْسِهِ هَامِسٌ : هَذَا الْكَوْنُ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ خَالِقٍ ، مِنْ إِلَهٍ وَاحِدٍ قَادِرٍ ، فَلَوْ كَانَ لَهُ أَكْثَرُ مِنْ إِلَهٍ لَذَهَبَ كُلُّ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ ، وَفَسَدَ هَذَا النِّظَامُ الْبَدِيعُ الَّذِي يَسُودُ الْكَوْنَ .
Dan ia melihat kafilah yang bersiap untuk pergi menyusuri pesisir laut atas, laut matahari terbenam yang menuju ke delta Nil, maka ia bertekad dalam dirinya untuk keluar suatu hari nanti - ketika ia telah kuat dan menjadi pria yang mampu untuk menjelajahi bumi - bersama kafilah dari kafilah-kafilah itu, sebagaimana mitra ayahnya, Lujal, menjelajahinya sekarang. Dan ia mulai membolak-balikkan pandangannya ke langit. Dan memanjangkan pandangannya ke lautan, sungai-sungai, dataran-dataran, dan gunung-gunung, dan taman-taman yang mengenakan pakaian musim semi, dan ladang-ladang yang menghijau dengan tanaman, dan burung-burung yang terbang berputar di angkasa, dan kawanan ternak dan hewan ternak, dan orang-orang dari orang tua, wanita tua, pemuda, pemudi, anak laki-laki dan perempuan, maka berbisiklah dalam dirinya seseorang: Alam semesta ini pasti harus ada baginya seorang pencipta, dari seorang Tuhan yang Esa lagi Maha Kuasa, jika baginya ada lebih dari satu tuhan, niscaya setiap tuhan akan pergi membawa apa yang ia ciptakan, dan niscaya rusaklah sistem yang indah ini yang menguasai alam semesta.
هَذِهِ الشَّمْسُ تَشْرُقُ مِنَ الشَّرْقِ وَتَغْرُبُ فِي الْغَرْبِ ، وَهَذَا الْقَمَرُ يَظْهَرُ فِي السَّمَاءِ هِلَالًا صَغِيرًا لَا يَزَالُ يَكْبُرُ حَتَّى يَكْتَمِلَ بَدْرًا ثُمَّ يَبْدَأُ فِي الصِّغَرِ حَتَّى يَخْتَفِيَ فَيَتِمَّ بِذَلِكَ شَهْرٌ، وَهَذِهِ الْفُصُولُ تَتَابَعُ لَا الصَّيْفُ يَسْبِقُ الْخَرِيفَ وَلَا الشِّتَاءُ يَأْتِي فِي أَوَانِ الصَّيْفِ . نِظَامٌ دَقِيقٌ دَبَّرَهُ صَانِعٌ حَكِيمٌ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ وَاحِدًا مِنَ التَّمَاثِيلِ الْعَاجِزَةِ . إِنَّ لِهَذَا الْكَوْنِ رَبًّا قَادِرًا ، وَلَكِنْ مَنْ يَكُونُ ذَلِكَ الرَّبُّ ؟
Matahari ini terbit dari timur dan terbenam di barat, dan bulan ini muncul di langit sebagai sabit kecil yang terus membesar hingga menjadi purnama kemudian mulai mengecil hingga menghilang, maka sempurnalah dengan itu satu bulan, dan musim-musim ini saling mengikuti, tidak musim panas mendahului musim gugur dan tidak pula musim dingin datang di musim panas. Sistem yang teliti yang diatur oleh Pembuat yang bijaksana, tidak mungkin ia menjadi salah satu dari patung-patung yang lemah. Sesungguhnya bagi alam semesta ini ada Tuhan yang Maha Kuasa, akan tetapi siapakah Tuhan itu?
وَانْطَلَقَ وَهُوَ فِي رِفْقَةِ ذَاتِهِ يُفَكِّرُ وَيُمعِنُ الْفِكْرَ حَتَّى وَصَلَ إِلَى حَقْلٍ مَنَحَهُ الْمَلِكُ لِلْإِيشَاكُو الْكَاهِنِ الْأَعْظَمِ ، فَرَأَى ثِيرَانَ الْآلِهَةِ تَسْتَخْدِمُ فِي رَيِّ الْأَرْضِ ، وَالْكَهَنَةَ يَقْطِفُونَ الْفَاكِهَةَ مِنْ أَشْجَارِ جِيرَانِهِمْ وَيَسْتَوْلُونَ عَلَيْهَا ، فَإِذَا مَا ظَهَرَ الْغَضَبُ فِي أَعْيُنِ أَصْحَابِ الْأَرْضِ قِيلَ لَهُمْ إِنَّ مَا يُؤْخَذُ مِنْهُمْ إِنَّمَا يُؤْخَذُ لِلْآلِهَةِ لِتُبَارِكَ لَهُمْ فِي أَرْضِهِمْ وَمَحَاصِيلِهِمْ وَذُرِّيَّتِهِمْ ، فَيَزُولُ الْغَضَبُ عَنْهُمْ وَتَتَهَلَّلُ وُجُوهُهُمْ بِالْبِشْرِ وَالْحُبُورِ .
Ia pun pergi bersama dirinya sendiri, merenung dan berpikir dalam-dalam hingga sampai ke ladang yang diberikan raja kepada Ishaku, sang imam besar. Ia melihat lembu-lembu milik dewa digunakan untuk mengairi tanah, dan para imam memetik buah dari pohon tetangga mereka lalu mengambilnya. Jika kemarahan muncul di mata pemilik tanah, dikatakan kepada mereka bahwa apa yang diambil dari mereka hanyalah diambil untuk para dewa agar memberkati tanah, hasil panen, dan keturunan mereka, maka kemarahan pun hilang dari mereka dan wajah mereka berseri-seri dengan kegembiraan dan kebahagiaan.
وَطَافَ بِذِهْنِهِ خَاطِرٌ : لَا بُدَّ أَنْ تُحَرَّرَ عُقُولُ هَؤُلَاءِ الضَّحَايَا مِنْ عُبُودِيَّةِ الْكَهَنَةِ ، أَنْ تُفْتَحَ أَعْيُنُهُمْ عَلَى حَقِيقَةِ ضَلَالِهِمْ وَفَسَادِهِمْ ، أَنْ يَثُورُوا عَلَى الْأَصْنَامِ الَّتِي لَا تَنْفَعُهُمْ وَلَكِنْ تَضُرُّهُمْ ، فَبِاسْمِهَا تُسْلَبُ مِنْهُمْ أَشْيَاؤُهُمْ لِتَمْتَلِئَ خَزَائِنُ الْمَلِكِ وَالْإِيشَاكُو وَالْكَهَنَةِ ، وَتَفِيضَ مَخَازِنُهُمْ بِالْخَيْرَاتِ الَّتِي تُقَدَّمُ إِلَى مَخَازِنِ الْمَعَابِدِ عَنْ طِيبِ خَاطِرٍ ؛ فَقَدْ أَدْخَلَ رِجَالُ الدِّينِ فِي رَوْعِ ضَحَايَاهُمْ أَنَّ الْآلِهَةَ قَادِرَةٌ عَلَى أَنْ تُطِيلَ أَيَّامَهُمْ عَلَى الْأَرْضِ قَبْلَ أَنْ تَبْعَثَ بِهِمْ إِلَى الْعَالَمِ السُّفْلِيِّ ، إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي لَا رَجْعَةَ مِنْهَا !
Sebuah pikiran melintas di benaknya: Pikiran para korban ini harus dibebaskan dari perbudakan para imam, mata mereka harus dibuka terhadap kebenaran kesesatan dan kerusakan mereka, agar mereka bangkit melawan berhala-berhala yang tidak memberi manfaat namun justru mencelakakan mereka. Atas nama berhala-berhala itulah barang-barang mereka dirampas agar pundi-pundi raja, Ishaku, dan para imam penuh, dan gudang-gudang mereka meluap dengan kekayaan yang dipersembahkan ke gudang-gudang kuil dengan kerelaan hati; karena para agamawan telah memasukkan ke dalam hati para korban bahwa para dewa mampu memperpanjang umur mereka di bumi sebelum mengirim mereka ke dunia bawah, ke tanah yang tidak ada jalan kembali darinya!
وَرَجَعَ إِبْرَاهِيمُ إِلَى الْبَيْتِ فَوَجَدَ أَخَوَيْهِ نَاحُورَ وَهَارَانَ يَلْعَبَانِ فِي فِنَاءِ الدَّارِ ؛ فَلَمَّا رَأَيَاهُ أَقْبَلَا عَلَيْهِ وَقَالَ لَهُ نَاحُورُ :
Ibrahim kembali ke rumah, ia mendapati kedua saudaranya, Nahor dan Haran, sedang bermain di halaman rumah; ketika mereka melihatnya, mereka menghampirinya dan Nahor berkata kepadanya:
— أَيْنَ كُنْتِ ؟ إِنَّ أَبِي يَبْحَثُ عَنْكِ .
— Dari mana kamu? Sesungguhnya ayah sedang mencarimu.
— أَيْنَ أَبِي ؟
— Di mana ayah?
— يُصَلِّي فِي مِحْرَابِهِ .
— Sedang shalat di mihrabnya.
وَذَهَبَ إِبْرَاهِيمُ إِلَى مَعْبَدِ آزرَ فَوَجَدَهُ قَائِمًا يُصَلِّي وَأَمَامَهُ تِمْثَالُ إِلَهِ الْقَمَرِ ، وَهُوَ يَبْتَهِلُ إِلَيْهِ فِي حَرَارَةٍ وَإِيمَانٍ :
Ibrahim pergi ke kuil Azar, ia menemukannya sedang berdiri shalat di depan patung dewa bulan, dan ia berdoa kepadanya dengan penuh semangat dan keyakinan:
يَارَبِّ ! يَا مَنْ تَمْتَدُّ قُدْرَتُهُ الْوَهَّابَةُ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ، يَا مَنْ يَجْلِبُ الْغُيُوثَ وَالْمَوَاسِمَ ، وَيَسْهَرُ عَلَى الْأَحْيَاءِ . يَا مَنْ يُعَظِّمُ فِي السَّمَاءِ عَالِيَةً وَصِيَّتُهُ . وَيَعْظُمُ فِي الْأَرْضِ عَالِيَةً وَصِيَّتُهُ . يَا مَنْ تُسَبِّحُ لَهُ الْأَرْوَاحُ السَّمَاوِيَّةُ وَالْأَرْوَاحُ الْأَرْضِيَّةُ ؛ مَشِيئَتُكَ أَنْتَ فِي السَّمَاءِ مُشْرِقَةٌ . نَسْأَلُكَ أَنْ تَكْشِفَ لَنَا مَشِيئَتَكَ عَلَى الْأَرْضِ ؛ فَإِنَّ مَشِيئَتَكَ تُطِيلُ الْحَيَاةَ وَتَبْسُطُ الرَّجَاءَ . وَتَشْمَلُ كُلَّ كَائِنٍ . وَأَنْتَ تَقْضِي بِالْعَدْلِ فِي أَقْدَارِ النَّاسِ ، وَمَا مِنْ أَحَدٍ يَنْفُذُ إِلَى سِرِّهَا أَوْ يَقِيسُ عَلَيْهَا . أَنْتَ رَبُّ الْأَرْبَابِ تَجِلُّ عَنِ الشَّبِيهِ وَالنَّظِيرِ .
Wahai Tuhan! Wahai Engkau yang kuasa-Nya yang agung terbentang di antara langit dan bumi, wahai Engkau yang mendatangkan hujan dan musim, dan berjaga atas yang hidup. Wahai Engkau yang perintah-Nya agung di langit. Dan perintah-Nya agung di bumi. Wahai Engkau yang disucikan oleh roh-roh langit dan roh-roh bumi; kehendak-Mu lah yang bersinar di langit. Kami memohon kepada-Mu untuk menyingkapkan kehendak-Mu bagi kami di bumi; karena kehendak-Mu memperpanjang hidup dan menebarkan harapan. Dan meliputi setiap makhluk. Dan Engkau memutuskan dengan adil dalam takdir manusia, dan tak seorang pun yang dapat menembus rahasianya atau mengukurnya. Engkau adalah Tuhan segala tuhan, yang jauh dari keserupaan dan padanan.
وَرَاحَ إِبْرَاهِيمُ يَتَأَمَّلُ فِي هَذِهِ الصَّلَاةِ ، أَهَذِهِ صِفَاتُ التِّمْثَالِ الَّذِي صَنَعَهُ أَبُوهُ بِيَدَيْهِ ؟! إِنَّهُ لَأَعْجَزُ مِنْ أَنْ تَكُونَ لَهُ قُدْرَةٌ ، أَعْجَزُ مِنْ أَنْ يَجْلِبَ غَيْثًا ، أَعْجَزُ مِنْ أَنْ تَكُونَ لَهُ إِرَادَةٌ ، إِنْ كَانَ لَهُ فِي الْأَرْضِ صِيتٌ فَمَا لَهُ فِي السَّمَاءِ قَرَارٌ وَلَا بُرْهَانٌ وَلَا مَشِيئَةٌ . وَانْتَبَهَ إِبْرَاهِيمُ عَلَى صَوْتِ أَبِيهِ يُنَادِيهِ بَعْدَ أَنْ فَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ :
Ibrahim mulai merenungkan doa ini, apakah ini sifat-sifat patung yang dibuat ayahnya dengan tangannya sendiri?! Ia sungguh terlalu lemah untuk memiliki kekuatan, terlalu lemah untuk mendatangkan hujan, terlalu lemah untuk memiliki kehendak. Jika ia memiliki nama di bumi, maka ia tidak memiliki ketetapan di langit, tidak ada bukti, dan tidak ada kehendak. Ibrahim terbangun oleh suara ayahnya yang memanggilnya setelah selesai shalat:
— إِبْرَاهِيمُ ؟ أَيْنَ كُنْتَ ؟
— Ibrahim? Di mana kamu?
— فِي الْمَعْبَدِ .
— Di kuil.
وَتَهَلَّلَتْ أَسَارِيرُ الْأَبِ فَقَدْ حَسِبَ أَنَّ إِبْرَاهِيمَ إِنَّمَا ذَهَبَ إِلَى الْمَعْبَدِ لِيُؤَدِّيَ لِلْأَرْبَابِ صَلَاةً تُطِيلُ أَيَّامَهُ عَلَى الْأَرْضِ ، وَمَا دَارَ بِخَلَدِهِ أَنَّ الَّذِي قَادَهُ إِلَى الْمَعْبَدِ إِنَّمَا هُوَ الشَّكُّ فِي الْآلِهَةِ وَفِي الْمَلِكِ الْإِلَهِ وَفِي الْإِيشَاكُو وَالْأُورِيجَالُّو وَالْكَهَنَةِ وَرِجَالِ الدِّينِ . قَالَ الْأَبُ وَهُوَ فِي طَرِيقِهِ إِلَى حَيْثُ يَصْنَعُ تَمَاثِيلَ الْآلِهَةِ :
Wajah sang ayah berseri-seri karena ia menyangka Ibrahim pergi ke kuil untuk menunaikan doa kepada tuhan-tuhan agar memperpanjang usianya di bumi, dan tidak terlintas di benaknya bahwa yang membawanya ke kuil adalah keraguan terhadap tuhan-tuhan, raja dewa, Ishaku, Urigallu, para imam, dan agamawan. Sang ayah berkata saat dalam perjalanan menuju tempat ia membuat patung-patung tuhan:
— لَقَدِ انْتَهَيْتُ مِنْ صُنْعِ بَعْضِ تَمَاثِيلِ الْآلِهَةِ ، فَخُذْهَا وَبِعْهَا .
— Aku telah selesai membuat beberapa patung tuhan, ambil dan juallah.
فَحَمَلَ إِبْرَاهِيمُ تَمَاثِيلَ مَرْدُوخَ وَنَانَا وَعَشْتَارَ وَانْطَلَقَ إِلَى الْمَعْبَدِ يَقْلِبُ التَّمَاثِيلَ بَيْنَ يَدَيْهِ فِي هُزْءٍ وَسُخْرِيَةٍ ، وَيُعْجَبُ فِي نَفْسِهِ : كَيْفَ يَرْكَعُ إِنْسَانٌ عَاقِلٌ لِهَذِهِ التَّمَاثِيلِ الَّتِي لَا تَمْلِكُ لِنَفْسِهَا نَفْعًا وَلَا ضَرًا ؟ كَيْفَ يُعْقَلُ أَنْ تُطِيلَ مَشِيئَتُهَا الْحَيَاةَ وَتَبْسُطَ لَهَا الرَّجَاءَ ، وَأَنْ تَكُونَ لَهَا أَسْرَارٌ لَا يَنْفُذُ إِلَيْهَا أَحَدٌ ؟ وَقَفَ أَمَامَ الْمَعْبَدِ يَحْمِلُ تَمَاثِيلَ الْآلِهَةِ بَيْنَ يَدَيْهِ وَيَقُولُ :
Ibrahim membawa patung Marduk, Nana, dan Ishtar, lalu pergi ke kuil sambil membolak-balik patung-patung itu di tangannya dengan ejekan dan cemoohan, dan ia merasa heran dalam dirinya: Bagaimana manusia berakal bisa bersujud kepada patung-patung ini yang tidak memiliki kekuatan untuk memberi manfaat atau mudarat bagi diri mereka sendiri? Bagaimana bisa akal menerima bahwa kehendak mereka dapat memperpanjang hidup dan membentangkan harapan, serta memiliki rahasia yang tidak dapat dijangkau oleh siapapun? Ia berdiri di depan kuil membawa patung-patung tuhan di tangannya dan berkata:
— مَنْ يَشْتَرِي مَا يَضُرُّهُ وَلَا يَنْفَعُهُ ؟
— Siapa yang membeli sesuatu yang mencelakakannya dan tidak memberinya manfaat?
وَبَلَغَ نِدَاؤُهُ آذَانَ النَّاسِ فَرَاحُوا يَرْمُونَهُ فِي غَيْظٍ وَعُيُونُهُمْ يَتَطَايَرُ مِنْهَا الشَّرَرُ ، إِنَّهُ يَسْفِهُ أَحْلَامَهُمْ عَلَى الْمَلَإِ دُونَ أَنْ يَخْشَى بَطْشَهُمْ ، وَهَمَّ رَجُلٌ بِأَنْ يَضْرِبَهُ وَإِذَا بِآخَرَ يَقُولُ لَهُ :
Seruannya sampai ke telinga orang-orang, mereka melemparkan pandangan dengan kemarahan dan mata mereka memercikkan api. Ia menghina impian mereka di depan umum tanpa takut akan tindakan keras mereka, dan seorang pria hendak memukulnya, lalu orang lain berkata kepadanya:
— دَعْهُ لَانْتِقَامِ الْآلِهَةِ فَإِنَّهَا سَتَثْأَرُ مِنْهُ ، وَسَيَكُونُ الْعِقَابُ الَّذِي تُنْزِلُهُ بِهِ رَهِيبًا . لَوْ تَرَكْنَاهُ فَلَتَنْزِلَنَّ الْآلِهَةُ عَلَيْنَا خَسْفًا مِنَ السَّمَاءِ ، إِذَا تَرَكْنَا مَنْ يَنَالُ مِنْهَا بِمَشْيٍ عَلَى الْأَرْضِ . إِنَّهُ فَتًى لَمَا يَدْخُلُ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ ، فَلَعَلَّ الْآلِهَةَ أَنْ تَهْدِيَهُ . لَا بُدَّ مِنْ تَأْدِيبِهِ . إِنْ أَرَدْتَ أَنْ تُكْرِمَ الْآلِهَةَ فَلَا تَدَعْهَا بَيْنَ يَدَيْهِ ، ادْفَعْ ثَمَنَهَا وَخُذْهَا . أَنَا لَا أَشْتَرِيهَا مِمَّنْ يَسْخَرُ مِنْهَا وَمِنَّا .
— Biarkan dia untuk pembalasan para dewa karena mereka akan membalasnya, dan hukuman yang akan mereka turunkan kepadanya akan sangat mengerikan. Jika kita membiarkannya, maka para dewa akan menimpakan azab dari langit kepada kita, jika kita membiarkan orang yang merendahkan mereka berjalan di muka bumi. Dia adalah pemuda yang belum dimasuki iman ke dalam hatinya, semoga para dewa memberinya petunjuk. Ia harus diberi pelajaran. Jika kamu ingin memuliakan tuhan-tuhan, jangan biarkan mereka di tangannya, bayar harganya dan ambillah. Aku tidak akan membelinya dari orang yang mengejek mereka dan kami.
وَدَارَ الرَّجُلُ عَلَى عَقِبِهِ وَانْصَرَفَ وَهُوَ يَرْمِي إِبْرَاهِيمَ بِنَظَرَاتٍ يَتَطَايَرُ مِنْهَا الشَّرَرُ ، وَعَادَ إِبْرَاهِيمُ يَقُولُ وَهُوَ ثَابِتُ الْجَنَانِ وَقَدْ هَانَ النَّاسُ فِي عَيْنَيْهِ :
Pria itu berbalik dan pergi sambil melemparkan pandangan dengan kilatan api ke arah Ibrahim. Ibrahim kembali berkata dengan hati yang tetap teguh sementara manusia terasa remeh di matanya:
— مَنْ يَشْتَرِي مَا يَضُرُّهُ وَلَا يَنْفَعُهُ ؟
— Siapa yang membeli sesuatu yang mencelakakannya dan tidak memberinya manfaat?
وَضَاقَتِ الْعَاهِرَاتُ الْمُقَدَّسَاتُ بِهَذِهِ السُّخْرِيَةِ ، فَقَامَتْ إِلَيْهِ وَاشْتَرَتْ مِنْهُ تِمْثَالَ عَشْتَارَ لِتُنْقِذَهَا مِنَ الْمَهَانَةِ . فَقَدْ عَزَّ عَلَيْهَا أَنْ يَنَالَ فَتًى مِنْ كِبْرِيَاءِ عَشْتَارَ الْمُتَأَلِّهَةِ دُونَ أَنْ يَخْشَى أَنْ تُذِلَّهُ ، وَقَدْ أَذَلَّتْ مَنْ هُوَ أَرْفَعُ مِنْهُ شَأْنًا ؛ أَذَلَّتِ الْآلِهَةَ تَمُوزَ الْإِلَهَ الْإِنْبَاتَ يَرْكَعُ تَحْتَ قَدَمَيْهَا ، وَأَذَلَّتْ صَنَادِيدَ الْبَشَرِ وَأَحْرَقَتْهُمْ بِنَارِ الْوَجْدِ . وَقَبْلَ أَنْ تَنْصَرِفَ قَالَتْ لَهُ :
Para pelacur suci merasa gerah dengan ejekan ini, maka salah satu dari mereka bangkit menghampirinya dan membeli patung Ishtar untuk menyelamatkannya dari kehinaan. Baginya berat jika seorang pemuda dapat mengusik kebanggaan Ishtar sang dewi tanpa takut ia akan menghinakannya, padahal ia telah menghinakan orang yang derajatnya lebih tinggi dari pemuda itu; ia menghinakan dewa Tammuz, dewa pertumbuhan, hingga bersujud di bawah kakinya, dan menghinakan para pemimpin manusia serta membakar mereka dengan api gairah. Sebelum ia pergi, ia berkata kepadanya:
— لَوْلَا أَنَّهَا عَطُوفٌ لَأَنْزَلَتْ بِكَ غَضَبَهَا ، وَلَكِنْ لَا تَطْمَعْ فِي عَطْفِهَا كَثِيرًا فَإِنَّهَا مُتَقَلِّبَةٌ ، فَحَاذِرْ يَا فَتَى مِنْ تَقَلُّبَاتِهَا .
— Seandainya dia tidak penyayang, niscaya ia akan menimpakan murkanya padamu, tetapi jangan terlalu berharap pada kasih sayangnya karena ia berubah-ubah, maka berhati-hatilah wahai pemuda dari perubahan-perubahannya.
وَابْتَسَمَ إِبْرَاهِيمُ فِي هُزْءٍ فَقَالَتْ لَهُ :
Ibrahim tersenyum mengejek, maka ia berkata kepadanya:
— إِنَّ فِيكَ غُرُورَ الشَّبَابِ وَتَمَرُّدَهُ ، غَدًا عِنْدَمَا تَكْبُرُ تَعْلَمُ مَا لَذَّةُ الْخُضُوعِ لِلْآلِهَةِ ، وَمَا لَذَّةُ التَّضْحِيَةِ .
— Dalam dirimu ada kesombongan masa muda dan pemberontakannya, besok ketika kamu tumbuh dewasa kamu akan tahu betapa nikmatnya ketundukan kepada tuhan-tuhan, dan betapa nikmatnya pengorbanan.
وَشَرَدَتْ بِبَصَرِهَا قَلِيلًا وَغَمْغَمَتْ :
Ia mengalihkan pandangannya sebentar dan bergumam:
— مَا أَلَذَّ التَّضْحِيَةِ !
— Betapa nikmatnya pengorbanan itu!
ثُمَّ مَدَّتْ إِلَيْهِ يَدَهَا وَقَالَتْ :
Kemudian ia mengulurkan tangannya kepadanya dan berkata:
— تَعَالَ مَعِي أُعَلِّمُكَ كَيْفَ تُضَحِّي ، كَيْفَ تَتَذَوَّقُ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ .
— Ikutlah denganku, aku akan mengajarimu cara berkorban, cara mencicipi manisnya iman.
فَأَشَاحَ إِبْرَاهِيمُ بِوَجْهِهِ عَنْهَا ، ثُمَّ دَارَ عَلَى عَقِبِهِ وَانْصَرَفَ وَانْصَرَفَ يَحْمِلُ بَيْنَ يَدَيْهِ تَمَاثِيلَ الْآلِهَةِ وَيُحِسُّ فِي قَلْبِهِ رِضًا ، فَقَدْ نَفَسَ عَنْ بَعْضِ مَا يُحِسُّهُ نَحْوَ هَذِهِ الْأَصْنَامِ الَّتِي لَا تُبْصِرُ وَلَا تَسْمَعُ . وَسَارَ عَلَى الشَّاطِئِ ، وَإِذَا بِهِ يَرَى الْفُرَاتَ يَجْرِي عَذْبًا لِيَصُبَّ فِي بَحْرِ الشَّمْسِ الْمُشْرِقَةِ الْعَظِيمِ ، فَخَطَرَ لَهُ أَنْ يَسْخَرَ مِنَ الْأَصْنَامِ الَّتِي يَحْمِلُهَا ، فَهَبَطَ إِلَى حَيْثُ الْمَاءِ الْعَذْبِ وَغَمَسَ رُءُوسَ التَّمَاثِيلِ فِي الْمَاءِ وَقَالَ :
Ibrahim memalingkan wajahnya darinya, kemudian berbalik dan pergi, ia pergi sambil membawa patung-patung tuhan di tangannya dan merasa puas di dalam hatinya, karena ia telah melampiaskan sebagian dari apa yang dirasakannya terhadap berhala-berhala yang tidak melihat dan tidak mendengar ini. Ia berjalan di pantai, dan tiba-tiba ia melihat sungai Eufrat mengalir jernih untuk bermuara di laut matahari yang agung dan cerah, maka terpikir olehnya untuk mengejek berhala-berhala yang dibawanya, ia turun ke tempat air tawar dan mencelupkan kepala patung-patung itu ke dalam air dan berkata:
— أَلَا تَشْرَبُونَ !
— Tidakkah kalian minum!
وَكَانَ لُوجَالُ عَائِدًا مِنْ رِحْلَتِهِ فِي طَرِيقِهِ إِلَى الْبَيْتِ فَوَقَعَتْ عَيْنَاهُ عَلَى مَا يَفْعَلُهُ إِبْرَاهِيمُ بِآلِهَةِ قَوْمِهِ ، فَوَقَفَ يَرْقُبُهُ مِنْ بَعِيدٍ فِي إِكْبَارٍ .
Lujal sedang kembali dari perjalanannya dalam perjalanan menuju rumah, matanya tertuju pada apa yang dilakukan Ibrahim terhadap tuhan-tuhan kaumnya, maka ia berdiri mengawasinya dari jauh dengan penuh kekaguman.
كَانَ لُوجَالُ يَسْخَرُ فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ مِنْ مُعْتَقَدَاتِ قَوْمِهِ وَلَكِنَّهُ لَمْ يُفَكِّرْ فِي أَنْ يُعْلِنَ رَأْيَهُ عَلَى الْمَلَإِ ، وَلَمْ يَخْطُرْ لَهُ عَلَى قَلْبٍ أَنْ يَنَالَ مِنْهَا أَوْ يَفْعَلَ بِهَا مَا يَفْعَلُهُ ذَلِكَ الْفَتَى .
Lujal terkadang mengejek kepercayaan kaumnya, namun ia tidak berpikir untuk mengumumkan pendapatnya di depan umum, dan tidak pernah terlintas dalam hatinya untuk mencela atau melakukan terhadap berhala-berhala tersebut seperti yang dilakukan oleh pemuda itu.
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَشُجَاعٌ ، فَهُوَ يَنَالُ مِنَ الْآلِهَةِ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ ، وَيُحَقِّرُ الْأَصْنَامَ وَإِنْ كَانَ أَبُوهُ يَصْنَعُهَا وَيَعُولُ أُسْرَتَهُ مِنْ أَثْمَانِ بَيْعِهَا . تَرَى أَدَارَ ذَلِكَ بِخَلْدِ إِبْرَاهِيمَ ؟ إِنَّهُ لَا رَيْبَ يَعِي كُلَّ مَا يَفْعَلُ . وَظَلَّ لُوجَالُ يَرْقُبُ إِبْرَاهِيمَ فِي إِعْجَابٍ وَصَوْتٌ يَهْمِسُ فِي أَغْوَارِهِ :
Sesungguhnya Ibrahim adalah pemberani, karena ia mencela tuhan-tuhan di hadapan orang banyak, dan menghina berhala-berhala meskipun ayahnya yang membuatnya dan menafkahi keluarganya dari hasil penjualannya. Apakah hal itu terlintas di benak Ibrahim? Tidak diragukan lagi, ia menyadari semua yang dilakukannya. Lujal terus mengawasi Ibrahim dengan kekaguman, dan sebuah suara berbisik di kedalaman dirinya:
— لِيَكُونَنَّ لَكَ شَأْنٌ مَعَ أَبِيكَ .. وَقَوْمِكَ وَالْآلِهَةِ جَمِيعًا !
— Sungguh akan ada urusan bagimu dengan ayahmu.. kaummu, dan tuhan-tuhan semuanya!

💬 SYARH NYABLAK USTADZ BCA
(Betawi Cengkareng Asli)
- Klik buat baca syarah gaya Abi Thoufur untuk episode ini -
Assalaamu'alaikum Sahabat BABA...!!

"Jama'ah BABA nyang dimuliain Allah! Gimane kabarnye, Cing, Nyak, Babe? Masih idup kan? Eh maksud ane, masih sehat kan? Alhamdulillah! Hari ini kita lanjutin lagi ngebongkar kisah Abul Anbiya, Nabi Ibrahim عليه السلام di episode ke-7. Siap-siap, soalnye Ibrahim muda mulai 'berulah' nih!"

[BAGIAN 1: TARIF MATI NYANG MELEJIT]

"Habis kakek Nahur mokat, Ibrahim bukannye sedih nyari kembang, tapi die malah ngitungin 'nota tagihan' dari para imam kuil. Bayangin, Cing! Buat nguburin atu jenazah doang, ntu imam minta 7 bejana arak, 420 roti, gandum segerobak, ampe kasur kakeknye juga diangkut! Ini mau nguburin orang apa mau pindahan rumah?"

"Bener, Bang! Ibrahim ngebatin, 'Nih imam kuil beneran hamba dewa ape sales distributor roti?' Die ngeliat agama cuma jadi kedok buat nyari 'cuan' gede. Belom lagi sogokan perak ama kambing buat 'pelicin' doa. Ibrahim mulai nanem benih keraguan: 'Kalo emang dewa itu hebat, napa wakil-wakilnye pada matre bener?'"

⚠️ [BAGIAN 2: HUKUM TEBANG PILIH & MPOK-MPOK KUIL]

"Lagi asyik mikir, Ibrahim liat ada rame-rame di pinggir sungai. Ternyata ada pasangan nyang ketauan selingkuh lagi diiket mau diceburin ke laut. Hukumannye sadis! Tapi pas Ibrahim nengok ke jalan sebelah, eh ada pelacur-pelacur nyang dibilang 'suci' lagi dapet saweran perak atas nama Dewi Ishtar!"

"Nah, ini die nyang bikin Ibrahim pengen garuk-garuk aspal! Ibrahim mikir: 'Lah, nyang selingkuh dilempar ke aer, tapi nyang jual diri atas nama dewi malah dibilang suci? Standar gandanye kagak nahan!' Die makin heran ama Dewi Ishtar, nyang katanya dewi tapi demen gonta-ganti cowok, dari Dewa Tammuz ampe pahlawan Gilgames. Ibrahim ngebatin: 'Napa kagak Ishtar-nye aje nyang diiket terus diceburin?' Waduh, berani bener nih bocah!"

[BAGIAN 3: SALES PATUNG PALING JUJUR SE-DUNIA]

"Balik ke rumah, bokapnye, si Azar, udeh nyelesein stok patung baru: Marduk, Nana, Ishtar. Ibrahim disuruh jualan. Bukannye nawarin 'Ayo beli dewa pelindung murah meriah', Ibrahim malah teriak nyeleneh di depan kuil!"

"Ibrahim teriaknye gini: 'Siapa nyang mau beli barang nyang bakal nyelakain die dan kagak ada gunenye sama sekali?!' Busyet! Orang-orang pasar langsung melotot, matenye merah kayak kena asep sate. Ada nyang mau mukul, tapi dicegah temennye, katanye: 'Udeh, biarin dewa aje nyang bales, ntar die kualat!' Ibrahim mah tetep santuy, die malah makin kenceng teriaknye. Kagak ada takut-takutnye!"

[BAGIAN 4: RAYUAN MPOK KUIL VS IMAN IBRAHIM]

"Ada satu pelacur kuil nyang ngerasa gerah denger sindiran Ibrahim. Die beli patung Ishtar biar ntu patung kagak dihina-hina terus. Terus die godain Ibrahim, tangannye dijulurin, ngajak Ibrahim 'belajar' manisnye iman lewat pengorbanan."

"Eits, Ibrahim bukan pemuda kaleng-kaleng, Bang! Die buang muka, langsung balik badan. Rayuan Mpok Kuil kagak mempan! Ibrahim malah lari ke pinggir sungai Eufrat, terus ntu patung-patung dewa 'dicedokin' (dicelupin) palenye ke aer sambil nanya: 'Nih, kagak mau minum lu pada?' Hahaha! Dewa dipaksa minum, ya kelelep dah!"

[BAGIAN 5: LUJAL NYANG TERPANA]

"Ternyata, aksi Ibrahim dicelupin patung ke aer itu diliat ama Lujal, temennye si Azar nyang baru balik dagang. Lujal nyang biasanye juga suka nyindir agama kaumnye, kali ini bener-bener kagum ama nyalinya Ibrahim."

"Lujal ngebatin: 'Nih bocah bakal bikin sejarah gede! Die berani ngelawan arus di depan mata orang banyak, padahal makan sehari-harinye dari hasil jual ntu patung.' Lujal udeh feeling, Ibrahim bukan sembarang pemuda. Bakal ada urusan besar antara Ibrahim, Azar, dan seluruh dewa di Ur!"

[OUTRO]

Abi Thoufur: "Ibrahim udeh mulai berani unjuk gigi, Jama'ah! Die kagak cuma mikir di dalem ati, tapi udeh mulai ngerusak 'kenyamanan' orang-orang nyang nyembah berhala. Gimane nasib Ibrahim pas Azar tau dagangannye kagak laku malah dihina-hina?"

Abi Nyablak: "Pantengin terus kelanjutan kisahnya cuma di Kisah Abul Anbiya! Jangan lupa ngopi biar kagak oleng kayak patung Ishtar! Ane Abi Thoufur, mohon pamit. tetap sehat, tetap semangat dan tetap bahagia!!! Shollu 'alan Nabi! Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh!"

— ABI THOUFUR • THE NYABLAK TEACHER • MAN 1 JAKARTA —
BONUS EXCLUSIVE

🎁 Bingkisan Sayang dari Abi: APA HIKMAH DI BALIK EPISODE 7 INI?

Eits, jangan bubar dulu! Biar ente kagak cuma baca kenekatan Ibrahim di episode 7 ini doang, Abi kasih "Kado Ilmu" soal apa yang bisa kita petik dari aksi Ibrahim muda saat ngeritik bisnis kuil bokapnye sendiri.

🛡️ Catatan Aqidah Abi:

"Ibrahim ngeliat 'ketuhanan' di Ur cuma jadi ajang dagang. Pelajaran buat kita: iman itu harus murni karena Allah, bukan karena ikut-ikutan tradisi keluarga atau nyari keuntungan duniawi. Kalo yang disembah masih bisa 'dicedokin' aer sampe kelelep, berarti itu bukan Tuhan!"

Catatan Ibadah Abi:

"Ibadah itu hubungan antara hamba ama Penciptanya. Jangan dibikin jadi ladang 'cuan' kayak imam-imam kuil di Ur nyang narik tarif mati selangit. Ibadah nyang bener itu harus bikin kita makin takwa, bukan makin matre apalagi pake embel-embel sogokan biar doa dikabulin."

⚖️ Catatan Mu'amalah Abi:

"Lihat keberanian Ibrahim nolak rayuan Mpok Kuil dan nyindir kerumunan orang banyak. Jadi pemuda harus punya prinsip! Jangan mau digeret arus nyang salah cuma gara-gara takut dibilang beda atau dikucilin. Berani jujur itu mahal harganya, tapi berkahnya awet banget!"

Alhamdulillah...

Udah tuntas ya bahasan episode 7! Ibrahim udeh mulai nunjukin taringnya di hadapan berhala-berhala Ur. Moga-moga keberanian Ibrahim muda ini nular ke kita semua. Kalau mau diskusi lanjut, tulis di kolom komentar. Kalau mau mampir ke MAN 1 Jakarta Barat, pintu selalu terbuka lebar! Tapi inget, bawa martabak manis atu loyang atau kue cubit kek biar obrolan makin manis. Atau kalau lagi mager, transfer donasi ke nomor rekening Abi yang ada di atas juga kagak nape, apalagi kalau digitnya 10 ke atas... wkwkwk, makin syahdu dah tuh doa Abi buat ente!


~ ABI THOUFUR (THE NYABLAK TEACHER) ~

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ ، وَبِاللهِ الْهِدَايَةُ وَالتَّوْفِيْقُ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi