BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

Serial Abul Anbiyaa #05 | Gugatan Pertama Bocah Babil: Rahasia di Balik Keheningan Ibrahim Kecil

Thumbnail BABA Blog

بِسْمِ اللهِ الرَّحمْنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُم ْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Abi Ahmad Thoufur

Disajikan oleh : Abi Ahmad Thoufur

(Ustadz Betawi Nyablak Asli Cengkareng)

🏛️ COCOLAN SAMBEL BABA 🏛️

✍️ Muqoddimah ala Ustadz Betawi Nyablak

Gimane kabar antum semua, jama'ah setia BABA? Moga sehat, berkah, dan senantiasa dalam lindungan Allah ﷻ. Yuk, kite lanjut lagi napak tilas perjalanan sang bapak para nabi.

Setelah Ibrahim kecil mulai tumbuh, rasa penasaran di dadanya makin menjadi-jadi saat melihat ayahnya, Azar, sibuk memahat berhala. Kali ini, ketajaman akal Ibrahim mulai berbenturan dengan tradisi penyembahan yang dilakukan orang tuanya. Saat sang ayah mengajaknya masuk ke kuil agung untuk pertama kalinya, sebuah pemandangan yang janggal justru membuat fitrah Ibrahim makin menjerit. Mari kita simak episode pergulatan iman ini.

📖 مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَالَّذِينَ مَعَهُ

Karya : Abdul Hamid Judah As-Sahhar

✦ ✧ ✦

أَبُو الْأَنْبِيَاءِ

Bapak Para Nabi ﴿

✧ ✦ ✧

Gugatan Pertama Bocah Babil:
Rahasia di Balik Keheningan Ibrahim Kecil

Yuk, baca naskah aslinye. Nyang baca harus fokus, nyang ngebatin harus khusyuk!
ABUL ANBIYA
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Gugatan Pertama Bocah Babil: Rahasia di Balik Keheningan Ibrahim Kecil

Ketika kegelisahan fitrah menantang dogma purba di balik dinding kuil Babilonia.

وَمَرَّتِ الْأَيَّامُ وَوَضَعَتْ إِمْتَالَي وَلَدَيْنِ ذَكَرَيْنِ ، فَأَوْفَتْ بِوَعْدِهَا لِلسَّيِّدِ الْكَبِيرِ وَسَمَّتْ أَكْبَرَهُمَا « نَاحُورَ » وَسَمَّتِ الْآخَرَ « هَارَانَ » تَيَمُّنًا بِاسْمِ عَمِّهِ الْحَبِيبِ ، وَشَبَّ إِبْرَاهِيمُ وَرَاحَ يَتَجَوَّلُ فِي الْبَيْتِ ، يَمْرَحُ فِي الشُّرْفَةِ الَّتِي تَنْفَتِحُ عَلَيْهَا أَبْوَابُ غُرَفِ الطَّبَقَةِ الْعُلْيَا ، وَيَهْبِطُ فِي الدَّرَجِ إِلَى فِنَاءِ الدَّارِ الدَّاخِلِيِّ الَّذِي تُطِلُّ عَلَيْهِ نَوَافِذُ الْبَيْتِ وَيَذْهَبُ إِلَى حَيْثُ يَجْلِسُ أَبُوهُ يَصْنَعُ تَمَاثِيلَ الْآلِهَةِ .
Dan hari-hari pun berlalu, dan Imtala melahirkan dua anak laki-laki, maka ia menepati janjinya kepada tuan yang besar (Nahur) dan menamakan anak yang tertua dari keduanya dengan nama "Nahur" dan menamakan yang lain "Haran" demi tabarruk (mengambil berkah) dengan nama pamannya yang tercinta. Dan Ibrahim tumbuh besar lalu mulai berjalan-jalan di dalam rumah, bermain-main di balkon tempat pintu-pintu kamar di lantai atas terbuka menghadapnya, dan ia turun melalui anak tangga menuju pekarangan dalam rumah yang menjadi muara jendela-jendela rumah, lalu ia pergi ke tempat di mana ayahnya duduk membuat patung berhala para dewa.
كَانَ يُمْضِي أَغْلَبَ وَقْتِهِ يَرْصُدُ أَبَاهُ وَهُوَ يَنْشُرُ الْخَشَبَ وَيُشَكِّلُهُ فِي مَهَارَةٍ عَجِيبَةٍ . كَانَ يَصْنَعُ فِي الْغَالِبِ تِمْثَالًا عَلَى هَيْئَةِ إِنْسَانٍ إِلَّا أَنَّ أُذُنَيْهِ كَبِيرَتَانِ ، وَكَانَ ذَلِكَ الْإِنْسَانُ يَحْمِلُ السِّلَاحَ الْمُقَدَّسَ وَيَرْبُضُ تَحْتَ قَدَمَيْهِ وَحْشٌ ، وَكَانَ بَعْدَ أَنْ يَنْتَهِيَ مِنْ صُنْعِهِ يَضَعُ عَلَى رَأْسِ التِّمْثَالِ تَاجًا ، وَيُلْبِسُهُ رِدَاءً كَاهِنٍ أَكْبَرَ تَصْنَعُهُ أُمُّهُ ، وَكَانَ يَلُفُّ حَوْلَ وَسَطِهِ حِزَامًا مِنْ سَعَفِ النَّخْلِ .
Ia menghabiskan sebagian besar waktunya mengamati ayahnya yang sedang menggergaji kayu dan membentuknya dengan keahlian yang menakjubkan. Ayahnya biasanya membuat patung dalam bentuk manusia, hanya saja kedua telinganya sangat besar, dan manusia itu memegang senjata suci sementara di bawah kedua kakinya mendekam seekor binatang buas. Dan setelah selesai membuatnya, ia meletakkan mahkota di atas kepala patung tersebut, memakaikannya jubah pendeta agung yang dibuat oleh ibunya, dan melingkarkan ikat pinggang dari pelepah kurma di sekeliling pinggangnya.
إِنَّهُ يَذْكُرُ أَنَّهُ قَالَ لِأَبِيهِ مَرَّةً :
Ia ingat bahwasanya ia pernah berkata kepada ayahnya pada suatu kali:
— إِنَّ أُذُنَيْهِ كَبِيرَتَانِ يَا أَبِي ، أَكْبَرُ مِنْ آذَانِنَا ؟
— "Sesungguhnya kedua telinganya sangat besar wahai ayahku, lebih besar dari telinga-telinga kita?"
— إِنَّهُ مَرْدُوخُ رَبُّ الْأَرْبَابِ يَا بُنَيَّ ، وَهَاتَانِ الْأُذُنَانِ الْكَبِيرَتَانِ تَرْمُزَانِ إِلَى فَهْمِهِ الْعَمِيقِ .
— "Dia adalah Marduk, tuhan sekalian tuhan wahai anakku, dan kedua telinga yang besar itu melambangkan pemahamannya yang mendalam."
وَنَظَرَ إِلَى التِّمْثَالِ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْ أَبِيهِ وَرَنَّتْ فِي أُذُنَيْهِ مَقَالَتُهُ : « فَهْمُهُ الْعَمِيقُ .. فَهْمُهُ الْعَمِيقُ » وَلَمْ يَفْهَمْ إِبْرَاهِيمُ شَيْئًا فَقَدْ كَانَ لَا يَزَالُ حَدَثًا ، وَكَانَ غَايَةُ مَا يَفْهَمُهُ أَنَّ أَبَاهُ يَصْنَعُ دُمًى لِلَّعِبِ وَالْعَبَثِ !

وَرَأَى أَبَاهُ يَصْنَعُ تَمَاثِيلَ لِأُنَاسٍ يَجْلِسُونَ عَلَى كَرَاسِيَّ ، وَأُنَاسٍ يَحْمِلُونَ
Dan ia memandangi patung yang ada di hadapan kedua tangan ayahnya, sementara ucapan ayahnya terngiang-ngiang di kedua telinganya: "Pemahamannya yang mendalam... pemahamannya yang mendalam," namun Ibrahim tidak memahami apa pun karena ia masih sangat belia, dan puncak dari apa yang ia pahami adalah bahwa ayahnya hanyalah membuat boneka-boneka untuk mainan dan keisengan semata!

Dan ia melihat ayahnya membuat patung-patung untuk orang-orang yang duduk di atas kursi-kursi, dan orang-orang yang membawa...
حِرَابًا ، وَرَآهُ مَرَّةً يَصْنَعُ تِمْثَالًا لِسَيِّدَةٍ فَقَالَ لَهُ :
...tombak-tombak, dan pada suatu kali ia melihat ayahnya membuat patung seorang wanita, maka ia berkata kepadanya:
— مَنْ هَذِهِ يَا أَبِي ؟
— "Siapa ini wahai ayahku?"
— هَذِهِ عِشْتَارُ ، عِشْتَارُ الْغَضُوبُ ، عِشْتَارُ الْعَطُوفُ .
— "Ini adalah Ishtar, Ishtar sang pemarah, Ishtar sang penyayang."
وَلَمْ يَقُلْ عِشْتَارُ إِلَهَةُ اللَّذَّةِ ، فَمَا كَانَ يَدْرِي بَعْدُ مَا اللَّذَّةُ وَمَا الْأَلَمُ . وَفِي ذَاتِ يَوْمٍ رَآهُ يَصْنَعُ عَرْشًا وَتَاجًا فَقَالَ :
Dan ia tidak mengatakan Ishtar dewi kenikmatan, karena anak itu belum tahu apa itu kenikmatan dan apa itu rasa sakit. Dan pada suatu hari ia melihat ayahnya membuat singgasana dan mahkota, maka ia berkata:
— وَمَنْ هَذَا يَا أَبِي ؟
— "Dan siapa ini wahai ayahku?"
— هَذَا الْإِلَهُ إِنْلِيلُ هَذَا الَّذِي أَحْدَثَ الطُّوفَانَ الَّذِي رَوَيْتُ لَكَ قِصَّتَهُ .
— "Ini adalah tuhan Enlil, dialah yang mendatangkan air bah yang ceritanya pernah aku kisahkan kepadamu."
— لِمَ أَفْهَمَ يَا أَبِي لِمَاذَا أَغْرَقَ الْبِلَادَ وَأَهْلَكَ النَّاسَ ؟
— "Aku belum paham wahai ayahku, mengapa dia menenggelamkan negeri dan membinasakan manusia?"
— لِأَنَّ النَّاسَ ضَلُّوا ، أَفْسَدُوا فِي الْأَرْضِ .. عَصَوُا الْآلِهَةَ .
— "Karena manusia telah sesat, mereka berbuat kerusakan di bumi... mereka mendurhakai para dewa."
وَلَمْ يَفْهَمِ الصِّلَةَ بَيْنَ الْآلِهَةِ وَتِلْكَ التَّمَاثِيلِ الَّتِي يَصْنَعُهَا أَبُوهُ بِيَدَيْهِ وَيُشَكِّلُهَا كَيْفَ يَشَاءُ ، يَدُقُّ عَلَى رُؤُوسِهَا بِقَدُومِهِ ، وَقَدْ يَشُقُّ أَحَدَهَا شَقًّا ، أَوْ يَدُقُّ عُنُقَهُ إِذَا لَمْ تُعْجِبْهُ صَنْعَتُهُ .

وَدَخَلَ مَعْبَدَ الدَّارِ فَرَأَى مِحْرَابًا فِي وَسَطِهِ ، وَرَأَى التَّمَاثِيلَ الَّتِي صَنَعَهَا أَبُوهُ بِيَدَيْهِ . وَقَدْ ثَارَتْ دَهْشَتُهُ لَمَّا رَأَى أَبَاهُ يَرْكَعُ لِلتَّمَاثِيلِ الَّتِي ابْتَدَعَهَا فَنُّهُ ، وَزَادَتْ دَهْشَتُهُ لَمَّا رَأَى جَدَّهُ يَفْعَلُ مَا يَفْعَلُهُ أَبُوهُ ، وَبَلَغَ عَجَبُهُ مُنْتَهَاهُ لَمَّا رَأَى أُمَّهُ تَفْعَلُ مَا يَفْعَلُهُ أَبُوهُ وَجَدُّهُ .
Dan ia tidak memahami kaitan antara para dewa dengan patung-patung yang dibuat oleh ayahnya dengan kedua tangannya sendiri serta dibentuknya sesuka hatinya; ia memukul kepala-kepalanya dengan kapak pemahatnya, dan terkadang membelah salah satunya hingga terbelah, atau mematahkan lehernya jika buatannya itu tidak memuaskan hatinya.

Ia masuk ke tempat peribadatan rumah lalu melihat sebuah mihrab di tengah-tengahnya, dan melihat patung-patung yang dibuat oleh ayahnya dengan kedua tangannya sendiri. Maka timbullah rasa takjubnya ketika melihat ayahnya ruku' bersujud kepada patung-patung yang diciptakan oleh keahlian seninya sendiri, dan bertambahlah ketakjubannya ketika melihat kakeknya melakukan apa yang dilakukan oleh ayahnya, serta puncaknya adalah rasa heran yang luar biasa saat melihat ibunya pun melakukan apa yang dilakukan oleh ayah dan kakeknya.
وَذَاتَ يَوْمٍ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَكْتُمَ مَا يَدُورُ بِرَأْسِهِ ، فَدَنَا مِنْ أَبِيهِ بَعْدَ أَنْ أَتَمَّ صَلَاتَهُ وَقَالَ لَهُ :
Dan pada suatu hari ia tidak mampu lagi menyembunyikan apa yang berputar di dalam kepalanya, maka ia mendekati ayahnya setelah ayahnya menyelesaikan salatnya dan berkata kepadanya:
— لِمَاذَا تَرْكَعُ يَا أَبِي لِهَذِهِ التَّمَاثِيلِ ؟
— "Mengapa engkau ruku' bersujud wahai ayahku kepada patung-patung ini?"
— لِأَنَّهَا الْآلِهَةُ الَّتِي خَلَقَتْنَا ؟ .
— "Karena mereka adalah para dewa yang telah menciptakan kita?"
— أَنْتَ الَّذِي صَنَعْتَهَا يَا أَبِي بِيَدِكَ . أَنْتَ الَّذِي تَخْلُقُهَا كُلَّ يَوْمٍ !
— "Engkaulah yang membuatnya wahai ayahku dengan tanganmu sendiri. Engkaulah yang menciptakan mereka setiap hari!"
— لَا يَا إِبْرَاهِيمُ ، أَنَا أَصْنَعُ رَمْزًا لِلْآلِهَةِ أُجَسِّمُهَا لِأَعْيُنِ النَّاسِ . أَمَّا الْآلِهَةُ فَهِيَ فِي السَّمَاءِ جَالِسَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا .
— "Tidak wahai Ibrahim, aku hanyalah membuat simbol bagi para dewa untuk mewujudkannya bagi mata manusia. Adapun para dewa, mereka berada di langit duduk di atas singgasananya masing-masing."
وَدَنَا آزَرُ مِنْ إِبْرَاهِيمَ وَضَمَّهُ إِلَى صَدْرِهِ فِي حَنَانٍ وَقَالَ لَهُ :
Dan Azar pun mendekat kepada Ibrahim lalu mendekapnya ke dadanya dengan penuh kasih sayang dan berkata kepadanya:
— أَتَذْكُرُ كَوْكَبَ الْمُشْتَرِي الَّذِي كَانَ فِي السَّمَاءِ ، لَيْلَةَ كُنَّا جَالِسِينَ فَوْقَ سَطْحِ الدَّارِ ؟
— "Apakah engkau ingat planet Jupiter yang berada di langit, pada malam ketika kita sedang duduk di atas atap rumah?"
— أَذْكُرُهُ يَا أَبَتَاهُ .
— "Aku mengingatnya wahai ayahku."
— هَذَا هُوَ كَبِيرُ الْآلِهَةِ ، مَرْدُوخُ الْعَظِيمُ رَبُّ الْأَرْبَابِ .
— "Itulah dia pemimpin para dewa, Marduk yang agung tuhan sekalian tuhan."
وَأَشَارَ الْأَبُ إِلَى تِمْثَالِ مَرْدُوخَ وَقَالَ :
Dan sang ayah menunjuk ke arah patung Marduk seraya berkata:
— هَذَا التِّمْثَالُ الَّذِي صَنَعْتُهُ إِنْ هُوَ إِلَّا رَمْزٌ لِكَبِيرِ الْآلِهَةِ .
— "Patung yang aku buat ini tidak lain hanyalah simbol bagi pemimpin para dewa."
وَلَاحَ فِي وَجْهِ إِبْرَاهِيمَ أَنَّهُ لَا يَفْهَمُ مَا يَقُولُهُ أَبُوهُ . وَاسْتَمَرَّ آزَرُ فِي حَدِيثِهِ :
Dan tampaklah pada wajah Ibrahim bahwa ia tidak memahami apa yang diucapkan oleh ayahnya. Namun Azar terus melanjutkan pembicaraannya:
— أَرَأَيْتَ الْقَمَرَ يَا إِبْرَاهِيمُ ؟
— "Apakah engkau melihat rembulan wahai Ibrahim?"
— نَعَمْ يَا أَبَتِ .
— "Ya, wahai ayahku."
— إِنَّهُ الْإِلَهُ نَانَا .. إِلَهُ مَدِينَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ . إِنَّهُ الْإِلَهُ نَانَا ، وَفِي بَعْضِ الْبِلَادِ الْأُخْرَى الْإِلَهُ سِينْ .
— "Itulah dewa Nanna... tuhan kota kita wahai Ibrahim. Dialah dewa Nanna, dan di beberapa negeri yang lain ia disebut dewa Sin."
وَأَشَارَ إِلَى تِمْثَالٍ مِنَ التَّمَاثِيلِ الَّتِي صَنَعَهَا وَقَالَ :
Dan ia menunjuk ke salah satu patung dari patung-patung yang ia buat seraya berkata:
— هَذَا التِّمْثَالُ الَّذِي صَنَعْتُهُ إِنْ هُوَ إِلَّا رَمْزٌ لَهُ .
— "Patung yang aku buat ini tidak lain hanyalah simbol baginya."
ثُمَّ قَالَ فِي هُدُوءٍ :
Kemudian ia berkata dengan tenang:
— أَرَأَيْتَ الشَّمْسَ يَا إِبْرَاهِيمُ ؟
— "Apakah engkau melihat matahari wahai Ibrahim?"
وَلَمْ يَدَعْهُ إِبْرَاهِيمُ يُتِمُّ مَقَالَتَهُ . وَسَأَلَهُ :
Dan Ibrahim tidak membiarkannya menyelesaikan ucapannya. Ia langsung bertanya:
— وَلِمَاذَا تَعْبُدُ يَا أَبِي كُلَّ هَذِهِ الْآلِهَةِ ؟
— "Dan mengapa engkau menyembah semua tuhan berhala ini wahai ayahku?"
— لِأَنَّهَا هِيَ الَّتِي خَلَقَتْنَا وَرَزَقَتْنَا وَأَسْبَلَتْ حِمَايَتَهَا عَلَيْنَا .
— "Karena mereka itulah yang telah menciptakan kita, menganugerahi kita rezeki, dan membentangkan perlindungannya atas kita."
فَشَرَدَ إِبْرَاهِيمُ قَلِيلًا وَقَالَ :
Maka Ibrahim termenung sejenak lalu berkata:
— وَمَنِ الَّذِي خَلَقَ هَذِهِ الْآلِهَةَ يَا أَبَتَاهُ ؟
— "Lalu siapakah yang menciptakan dewa-dewa ini wahai ayahku?"
فَرَاحَ آزَرُ يُرَتِّلُ فِي إِيمَانٍ :
حِينَ لَمْ تَكُنِ السَّمَاءُ الْعُلَا قَدْ سُمِّيَتْ بَعْدُ ،
وَلَمْ يَكُنْ لِلْأَرْضِ مِنْ تَحْتِهَا اسْمٌ بَعْدُ .
Maka Azar mulai melantunkan syair teologisnya dengan penuh keyakinan:
"Ketika langit yang tinggi di atas belum lagi diberi nama,
Dan bumi yang berada di bawahnya belum lagi memiliki sebuah nama..."
اخْتَلَطَتِ الْمِيَاهُ مِنْ أَبْسُو الْأَزَلِيِّ أَبِيهِمْ ،
وَمِنْ تِيَامَاتَ الصَّاخِبَةِ أُمِّ الْجَمِيعِ ، فَاتَّحَدَا .
وَحِينَ لَمْ تَكُنِ الْأَجَامُ قَدْ نَبَتَتْ بَعْدُ ، وَلَمْ تَكُنْ غِيَاضُ الْقَصَبِ قَدْ عَرَفَتْ طَرِيقَهَا إِلَى الْوُجُودِ ،
وَحِينَ لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ إِلَهٌ لَهُ اسْمٌ ،
وَحِينَ لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ قَدَرٌ مَرْسُومٌ ،
خُلِقَتِ الْآلِهَةُ .
"Air bercampur dari Apsu yang azali, ayah mereka,
dan dari Tiamat yang gemuruh, ibu bagi segalanya, maka keduanya menyatu.
Dan ketika rawa-rawa belum lagi ditumbuhi rumput, dan hutan-hutan gelagah belum mengenal jalannya menuju eksistensi,
Dan ketika belum ada satu tuhan pun yang memiliki nama,
Dan ketika belum ada takdir yang digariskan,
Maka diciptakanlah para dewa."
نَظَرَ إِبْرَاهِيمُ إِلَى أَبِيهِ طَوِيلًا ، وَلَمْ تَقْبَلْ فِطْرَتُهُ السَّلِيمَةُ ذَلِكَ التَّفْسِيرَ ، كَانَتْ بُذُورُ الشَّكِّ قَدْ أُلْقِيَتْ فِي أَغْوَارِ نَفْسِهِ بَيْدَ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَدْرِي بَعْدُ مَا يَقُولُ . قَالَ لَهُ أَبُوهُ :
Ibrahim memandangi ayahnya dalam-dalam, dan fitrahnya yang lurus tidak dapat menerima penjelasan tersebut. Benih-benih keraguan telah tertanam di lubuk jiwanya yang paling dalam, meskipun ia belum tahu apa yang harus ia katakan. Ayahnya berkata kepadanya:
— عِنْدَمَا تَكْبُرُ يَا بُنَيَّ وَتَتَّسِعُ مَدَارِكُكَ ، وَيَمْنَحُكَ الْإِلَهُ مَرْدُوخُ نِعْمَةَ الْفَهْمِ ، فَسَتُدْرِكُ أَسْرَارَ الْآلِهَةِ .
— "Ketika engkau besar nanti wahai anakku dan cakrawala pemikiranmu meluas, serta tuhan Marduk menganugerahimu nikmat pemahaman, maka engkau akan mengerti rahasia para dewa."
وَصَمَتَ الْأَبُ قَلِيلًا ثُمَّ قَالَ :
Dan sang ayah terdiam sejenak kemudian berkata:
— غَدًا آخُذُكَ مَعِي إِلَى الْمَعْبَدِ ، وَبَعْدَ غَدٍ نَذْهَبُ إِلَى جَدِّكَ نَاحُورَ لِيُعَلِّمَكَ الْحِسَابَ وَالنَّظَرَ فِي النُّجُومِ .
— "Besok aku akan membawamu bersamaku ke kuil (ma'bad), dan lusa kita akan pergi ke tempat kakekmu, Nahur, agar dia mengajarimu ilmu hitung dan cara melihat bintang-bintang."
فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ خَرَجَ آزَرُ وَإِبْرَاهِيمُ وَانْطَلَقَا إِلَى مَعْبَدِ الْإِلَهِ نَانَا إِلَهِ الْقَمَرِ ، فَلَمَّا بَلَغَا حَرَمَ الْمَدِينَةِ — الْبُقْعَةَ الْمُقَدَّسَةَ بِهَا — رَاحَ إِبْرَاهِيمُ يَتَلَفَّتُ . كَانَ الْحَرَمُ الْمُقَدَّسُ فَسِيحًا ، طُولُهُ أَرْبَعُمِائَةِ ذِرَاعٍ وَعَرْضُهُ مِائَتَا ذِرَاعٍ ، وَقَامَ عَلَى قَاعِدَةٍ مُرْتَفِعَةٍ فِي الزَّاوِيَةِ الْغَرْبِيَّةِ مِنْهُ الزَّقُورَةُ ، الْبُرْجُ الْمُدَرَّجُ ، أَعْظَمُ مَبَانِي الْمَدِينَةِ ارْتِفَاعًا .

رَفَعَ إِبْرَاهِيمُ بَصَرَهُ يَنْظُرُ إِلَى الْبُرْجِ الشَّاهِقِ ، فَرَأَى عِنْدَ قِمَّتِهِ شَيْئًا لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَتَبَيَّنَهُ فَقَالَ لِأَبِيهِ :
Maka keesokan harinya, Azar dan Ibrahim keluar lalu keduanya bertolak menuju kuil dewa Nanna, tuhan rembulan. Ketika mereka berdua sampai di kawasan suci kota—yaitu tempat sakral di sana—Ibrahim mulai memandangi sekelilingnya. Kawasan suci itu sangat luas, panjangnya empat ratus hasta dan lebarnya dua ratus hasta, dan berdiri di atas pondasi yang tinggi di sudut sebelah baratnya adalah Ziggurat, yaitu menara berundak, bangunan yang paling tinggi menjulang di kota itu.

Ibrahim mengangkat pandangannya melihat menara yang menjulang tinggi itu, lalu melihat di puncaknya sesuatu yang tidak mampu ia pastikan kejelasannya, maka ia berkata kepada ayahnya:
— مَا هَذَا الَّذِي عِنْدَ الْبُرْجِ يَا أَبَتِ ؟
— "Apa itu yang berada di atas menara wahai ayahku?"
فَقَالَ آزرُ فِي زَهْوٍ :
Azar berkata dengan bangga:
— هَذَا مَزَارُ الْإِلَهِ نَانَا .
— Ini adalah tempat ziarah dewa Nanna.
— وَلِمَاذَا بُنِيَ عَلَى هَذَا الِارْتِفَاعِ الشَّاهِقِ ؟
— Dan mengapa dibangun di atas ketinggian yang menjulang ini?
— إِنَّنَا فِي الْأَصْلِ مِنَ الْجِبَالِ يَا إِبْرَاهِيمَ ، وَكَانَ آلِهَتُنَا يَعِيشُونَ عَلَى قِمَمِ الْجِبَالِ . فَلَمَّا جِئْنَا إِلَى هَذِهِ السُّهُولِ لَمْ نَجِدْ مُرْتَفَعَاتٍ ، فَبَنَيْنَا هَذِهِ الْأَبْرَاجَ وَجَعَلْنَا مَزَارَاتِ الْآلِهَةِ عِنْدَ قِمَمِهَا . إِنَّ هَذَا بُرْجٌ عَظِيمٌ يَا بُنَيَّ ، وَلَكِنْ إِذَا كَبِرْتَ وَصِرْتَ رَجُلًا وَقَدَّرَتْ لَكَ الْآلِهَةُ الذَّهَابَ إِلَى بَابِلَ ، فَسَتَرَى بُرْجًا يَلِيقُ بِمَقَامِ رَبِّ الْأَرْبَابِ .
— Pada asalnya kita berasal dari pegunungan wahai Ibrahim, dan tuhan-tuhan kita hidup di puncak gunung. Ketika kita datang ke dataran ini, kita tidak menemukan tempat tinggi, maka kita membangun menara-menara ini dan menjadikan tempat ziarah para dewa di puncaknya. Ini adalah menara yang agung wahai anakku, tetapi jika engkau besar nanti dan menjadi seorang pria, dan para dewa mentakdirkanmu pergi ke Babil, maka engkau akan melihat menara yang layak dengan kedudukan Tuhan segala tuhan.
وَرَأَى إِبْرَاهِيمُ عِنْدَ قَاعِدَةِ الزَّقُّورَةِ سَاحَةً وَاسِعَةً تُحِيطُ بِهَا غُرَفٌ كَثِيرَةٌ . فَقَالَ لِأَبِيهِ :
Ibrahim melihat di dasar Ziggurat sebuah lapangan luas yang dikelilingi oleh banyak ruangan. Ia berkata kepada ayahnya:
— وَمَا هَذِهِ الْغُرَفُ يَا أَبَتَاهُ ؟
— Dan ruangan apakah ini wahai ayahku?
— هَذِهِ مَخَازِنُ الْمَعْبَدِ يَا بُنَيَّ .
— Ini adalah gudang-gudang kuil wahai anakku.
وَرَأَى عِنْدَهَا بَعْضَ الْفَلَّاحِينَ يَجْلِبُونَ عَلَى ظُهُورِ الْحَمِيرِ الْحُبُوبَ وَالزَّيْتَ وَالسَّمْنَ وَالْجُلُودَ وَالصُّوفَ وَالْكَتَّانَ ، وَرَأَى أُنَاسًا مِنَ الْمَدِينَةِ يَجْلِبُونَ الْأَقْمِشَةَ وَالْمَلَابِسَ . إِنَّهَا النُّذُورُ الَّتِي نَذَرُوهَا لِلْإِلَهِ نَانَا ! رَاحُوا يُقَدِّمُونَ النُّذُورَ إِلَى كَهَنَةِ الْمَعْبَدِ ، فَكَانَ الْكَهَنَةُ يَأْخُذُونَهَا مِنْهُمْ فَيَزِنُونَهَا وَيُدَوِّنُونَهَا فِي سِجِلٍّ قَبْلَ أَنْ تُنْقَلَ إِلَى الْمَخَازِنِ ، ثُمَّ يُحَرِّرُونَ بِهَا إِيصَالًا عَلَى لَوْحَةٍ طِينِيَّةٍ ، تُحْفَظُ مِنْهُ نُسْخَةٌ فِي سِجِلَّاتِ الْمَعْبَدِ ، وَتُسَلَّمُ نُسْخَةٌ لِلَّذِينَ يُوفُونَ بِنُذُورِهِمْ .
Ia melihat di sana beberapa petani membawa di atas punggung keledai biji-bijian, minyak, samin, kulit, wol, dan linen, dan ia melihat orang-orang dari kota membawa kain dan pakaian. Itu adalah nazar yang mereka nazarkan untuk dewa Nanna! Mereka pergi menyerahkan nazar kepada para imam kuil, dan para imam mengambilnya dari mereka, menimbangnya, dan mencatatnya dalam buku catatan sebelum dipindahkan ke gudang, kemudian mereka membuatkan tanda terima di atas lempengan tanah liat, yang disimpan salinannya di catatan kuil, dan diserahkan salinannya kepada mereka yang memenuhi nazar mereka.
سَارَ إِبْرَاهِيمُ بِخُطَىً وَئِيدَةٍ يَمُدُّ بَصَرَهُ إِلَى كُلِّ شَيْءٍ ، فَوَقَعَتْ عَيْنَاهُ عَلَى رَصِيفٍ قَرِيبٍ مِنَ الْمَعْبَدِ يَقَعُ عَلَى رَأْسِ قَنَاةٍ ، وَقَدْ رَسَتْ عَلَى الرَّصِيفِ سُفُنٌ مُحَمَّلَةٌ بِالْأَخْشَابِ وَالذَّهَبِ وَالنُّحَاسِ وَالْأَحْجَارِ الْكَرِيمَةِ وَالْبَخُورِ . وَلَفَتَ إِبْرَاهِيمُ نَظَرَ أَبِيهِ إِلَى تِلْكَ السُّفُنِ ، فَقَالَ آزرُ وَهُوَ يَبْتَسِمُ ابْتِسَامَةَ رِضًا :
Ibrahim berjalan dengan langkah perlahan, memandang ke segala sesuatu, lalu matanya tertuju pada dermaga dekat kuil yang terletak di ujung saluran air, dan di dermaga itu telah bersandar kapal-kapal yang sarat dengan kayu, emas, tembaga, batu permata, dan dupa. Ibrahim menarik perhatian ayahnya ke kapal-kapal tersebut, maka Azar berkata sambil tersenyum penuh kepuasan:
— هَذِهِ يَا بُنَيَّ هَدَايَا الْمَعْبَدِ وَنُذُورُ النَّاسِ .
— Ini wahai anakku adalah hadiah kuil dan nazar orang-orang.
وَارْتَفَعَتْ ضَوْضَاءُ النَّاسِ وَهُمْ يَتَصَايَحُونَ وَيَتَدَافَعُونَ لِتَقْدِيمِ الْهَدَايَا لِلْإِلَهِ نَانَا . وَرَأَى إِبْرَاهِيمُ فَوْقَ مَدْخَلِ الْفِنَاءِ الَّذِي يَضُمُّ مَخَازِنَ الْمَعْبَدِ بِنَاءً ذَا طَبَقَتَيْنِ ، وَفَطِنَ آزرُ إِلَى أَنَّ ابْنَهُ يُقَلِّبُ وَجْهَهُ فِي ذَلِكَ الْبِنَاءِ فَقَالَ لَهُ :
Dan meninggilah kebisingan orang-orang sementara mereka berseru dan saling berdesakan untuk memberikan hadiah kepada dewa Nanna. Ibrahim melihat di atas pintu masuk halaman yang memuat gudang-gudang kuil sebuah bangunan dua tingkat, dan Azar menyadari bahwa putranya membalikkan wajahnya ke bangunan itu, lalu ia berkata kepadanya:
— هَذِهِ مَسَاكِنُ مُوَظَّفِي الْمَعْبَدِ .
— Ini adalah tempat tinggal pegawai kuil.
— كُلُّ هَذِهِ الْغُرَفِ لِمُوَظَّفِي الْمَعْبَدِ ؟
— Semua ruangan ini untuk pegawai kuil?
— إِنَّهُمْ يُمَارِسُونَ فِيهَا أَعْمَالَهُمْ .
— Mereka mempraktikkan pekerjaan mereka di dalamnya.
— أَعْمَالُهُمْ ؟!
— Pekerjaan mereka?!
— أَعْمَالُهُمْ أَجَلُّ شَأْنًا مِنْ أَعْمَالِ الدَّوْلَةِ ، فَالْدَّوْلَةُ تَخْدُمُ النَّاسَ أَمَّا مُوَظَّفُو الْمَعْبَدِ فَيَخْدُمُونَ الْآلِهَةُ . الْمَلِكُ نَفْسُهُ خَادِمٌ مِنْ خُدَّامِ الْمَعْبَدِ ، فَهُوَ يَوْمَ بِنَاءِ الْمَعْبَدِ يَحْمِلُ عَلَى رَأْسِهِ وِعَاءَ الْمَلَاطِ ، وَيُقَدِّمُ الْقَرَابِينَ لِلْآلِهَةِ وَيَرْجُو مُخْلِصًا أَنْ تَقْبَلَهَا مِنْهُ .
— Pekerjaan mereka lebih agung kedudukannya daripada pekerjaan negara, negara melayani manusia, sedangkan pegawai kuil melayani dewa-dewa. Raja sendiri adalah salah satu pelayan kuil, maka di hari pembangunan kuil, ia memanggul di atas kepalanya wadah adukan semen, dan mempersembahkan kurban kepada dewa-dewa dan berharap dengan tulus agar mereka menerimanya darinya.
— إِنَّهَا غُرَفٌ كَثِيرَةٌ .
— Ini ruangan yang banyak.
— إِنَّهَا غُرَفُ كَبِيرِ الْكَهَنَةِ ، وَالْكَهَنَةِ ، وَمُدِيرِ أَمْلَاكِ الْمَعْبَدِ ، وَرَئِيسِ الْحَرَمِ ، وَالْكَتَبَةِ .
— Ini adalah ruangan-ruangan imam besar, para imam, direktur properti kuil, kepala tempat suci, dan para juru tulis.
وَشَرَدَ آزرُ قَلِيلًا؛ كَانَتْ أُمْنِيَتُهُ أَنْ يَكُونَ كَاهِنًا مِنْ هَؤُلَاءِ الْكَهَنَةِ الَّذِينَ أَسْعَدَهُمُ الْحَظُّ أَنْ يُكَرِّسُوا حَيَاتَهُمْ لِخِدْمَةِ الْآلِهَةِ ، وَلَكِنَّ الْفَأْلَ لَمْ يُحَقِّقْ لَهُ أَغْلَى أُمْنِيَةٍ رَاوَدَتْ خَيَالَهُ . وَرَنَّ فِي ضَمِيرِهِ صَوْتُ صَدِيقِهِ لُوجَالٍ وَهُوَ يَقُولُ لَهُ :
« لَوْ دَفَعْتَ لِلْأُورِيجَالُّو الثَّمَنَ لَكُنْتَ الْآنَ كَاهِنًا أَوْ كَبِيرًا لِلْكَهَنَةِ » . وَضَايَقَهُ أَنْ تَطُوفَ بِذِهْنِهِ مِثْلُ هَذِهِ الْأَقْوَالِ الْفَاجِرَةِ ، فَرَاحَ يُجَاهِدُ أَنْ يَمْحُوَ مِنْ ذِهْنِهِ هَذِهِ الْخَوَاطِرَ الَّتِي تُقْلِقُهُ وَتَجْعَلُهُ يَتَلَفَّتُ مَرْعُوبًا خَشْيَةَ أَنْ تَبْطِشَ بِهِ الْآلِهَةُ . وَرَأَى إِبْرَاهِيمُ الْعَاهِرَاتِ الْمُقَدَّسَاتِ جَالِسَاتٍ فِي الطَّرِيقِ الْمُقَدَّسِ يَغْزِلْنَ الصُّوفَ وَيَنْسِجْنَهُ ، فَقَالَ لِأَبِيهِ وَهُوَ يَنْظُرُ إِلَيْهِنَّ :
Azar melamun sejenak; keinginannya adalah menjadi salah satu dari imam-imam yang beruntung, yang mendedikasikan hidup mereka untuk melayani dewa-dewa, namun nasib tidak mengabulkan keinginan termahal yang merasuk dalam imajinasinya. Terdengar di dalam nuraninya suara temannya, Lujal, saat ia berkata kepadanya:
"Jika kau membayar harganya kepada Urigallu, niscaya sekarang kau telah menjadi imam atau imam besar." Dan mengganggunya pikiran bahwa perkataan-perkataan keji seperti itu melintas di benaknya, maka ia berjuang untuk menghapus dari benaknya pikiran-pikiran yang mencemaskannya dan membuatnya menoleh dengan ketakutan karena khawatir para dewa akan menghukumnya. Ibrahim melihat para pelacur suci duduk di jalan suci memintal wol dan menenunnya, maka ia berkata kepada ayahnya saat melihat mereka:
— مَنْ هَؤُلَاءِ يَا أَبَتِ ؟
— Siapa mereka wahai ayah?
— هَؤُلَاءِ اللَّاتِي وَهَبْنَ أَنْفُسَهُنَّ لِخِدْمَةِ الْآلِهَةِ .
— Mereka adalah wanita-wanita yang menghibahkan diri mereka untuk melayani dewa-dewa.
وَسَارَ إِلَى الْفِنَاءِ الدَّاخِلِيِّ فَإِذَا بِمَعْبَدِ نَانَا أَمَامَهُمَا . كَانَ أَشْبَهَ بِالْقَلْعَةِ بِجُدْرَانِهِ السَّمِيكَةِ وَأَبْرَاجِهِ الْمُحَصَّنَةِ ، وَيُقَابِلُهُ مَعْبَدُ زَوْجَتِهِ نِينْكَالَ ، ثُمَّ يَقُومُ بَعْدَ ذَلِكَ الْمَزَارُ الْمُشْتَرَكُ وَالطَّرِيقُ الْمُقَدَّسُ الَّذِي يُفْضِي إِلَى قُدْسِ الْأَقْدَاسِ . وَمَلَأَتْ خَيَاشِيمَ إِبْرَاهِيمَ رَوَائِحُ لَحْمٍ يُطْهَى ، فَرَاحَ يَتَلَفَّتُ فَوَقَعَتْ عَيْنَاهُ عَلَى مَطْبَخِ الْمَعْبَدِ حَيْثُ تُطْهَى الضَّحَايَا ، وَعَلَى الْمَخَابِزِ وَمَحَالِّ تَسْخِينِ الْمِيَاهِ وَالْمَنَاضِدِ الْحَجَرِيَّةِ الَّتِي تُقْطَعُ عَلَيْهَا الذَّبَائِحُ . وَدَخَلَ نَعْبُدُ إِلَهَ الْقَمَرِ خَلْفَ أَبِيهِ ، فَأَلْفَى نَفْسَهُ فِي سَاحَةٍ وَاسِعَةٍ زُيِّنَتْ جُدْرَانُهَا بِنُقُوشٍ مِنَ الْفُسَيْفِسَاءِ مُحَلَّاةٍ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالزُّمُرُّدِ وَالْفَيْرُوزِ وَالْمَرْجَانِ ، وَوَقَعَتْ عَيْنَاهُ عَلَى كُوَّةٍ كُسِيَتْ بِالذَّهَبِ وَقَامَ فِيهَا تِمْثَالٌ لَا يَكَادُ يَفْتَرِقُ عَنِ التَّمَاثِيلِ الَّتِي يَصْنَعُهَا أَبُوهُ . كَانَ لِرَجُلٍ جَالِسٍ عَلَى عَرْشِهِ يَحْمِلُ فِي يَدِهِ الْفَأْسَ وَسِلْسِلَةَ الْقِيَاسِ . وَبَيْنَ الدَّهْشَةِ وَالْعَجَبِ رَأَى النَّاسَ يَرْكَعُونَ لِلتِّمْثَالِ فِي خُشُوعٍ ، وَازْدَادَ عَجَبُهُ لِمَا رَأَى أَبَاهُ يَتَقَدَّمُ مِنَ التِّمْثَالِ فِي إِيمَانٍ وَيَهْمِسُ فِي صَوْتٍ مُتَهَدِّجٍ :
Dia berjalan ke halaman dalam dan ternyata kuil Nanna ada di depan mereka. Kuil itu lebih mirip benteng dengan tembok-tembok tebal dan menara-menara berbentengnya, dan di hadapannya terdapat kuil istrinya, Ninkal, kemudian setelah itu terdapat tempat ziarah bersama dan jalan suci yang mengarah ke tempat paling suci. Hidung Ibrahim dipenuhi bau daging yang dimasak, ia menoleh ke sana kemari lalu matanya tertuju pada dapur kuil tempat kurban dimasak, dan ke tempat pembuatan roti, tempat pemanasan air, dan meja batu tempat hewan kurban dipotong. Dia masuk ke tempat ibadah dewa bulan di belakang ayahnya, lalu mendapati dirinya berada di lapangan luas yang dinding-dindingnya dihiasi ukiran mosaik yang dihiasi emas, perak, zamrud, pirus, dan karang, dan matanya tertuju pada lubang yang dilapisi emas dan di sana berdiri patung yang hampir tidak ada bedanya dengan patung-patung yang dibuat oleh ayahnya. Patung itu milik seorang pria yang duduk di atas takhtanya memegang kapak dan rantai pengukur di tangannya. Di antara rasa heran dan kagum, ia melihat orang-orang bersujud kepada patung dengan khusyuk, dan kekagumannya bertambah ketika melihat ayahnya mendekati patung itu dengan iman dan berbisik dengan suara gemetar:
— الْإِلَهُ نَانَا إِلَهُ الْقَمَرِ ، ارْكَعْ يَا إِبْرَاهِيمُ .
— Dewa Nanna dewa bulan, bersujudlah wahai Ibrahim.
وَرَكَعَ آزرُ وَوَقَفَ إِبْرَاهِيمُ مُنْتَصِبًا يَتَلَفَّتُ . رَأَى أَبَاهُ يَذْرِفُ الدُّمُوعَ وَهُوَ يَبْتَهِلُ وَيَتَوَسَّلُ ، وَرَأَى رِجَالًا وَنِسَاءً يَبْكُونَ وَعَبَرَاتُهُمْ تَخْنُقُهُمْ ، وَعَجِبَ مِنْ أَنْ يَجْرِيَ كُلُّ ذَلِكَ أَمَامَ تِمْثَالٍ كَانَ أَبُوهُ هَذَا الصَّبَاحَ يَصْنَعُ مِثْلَهُ ، وَيَدُقُّ رُءُوسَهَا بِقَدَمِهِ ، وَيُلْبِسُهَا مِنَ الْأَثْوَابِ الَّتِي تَصْنَعُهَا أُمُّهُ . وَخَطَرَ بِذِهْنِهِ الصَّافِي أَنَّ الْفَلَّاحِينَ الَّذِينَ وَفَدُوا مِنْ كُلِّ فَجٍّ مِنَ الْبِلَادِ يَحْمِلُونَ الْخَيْرَاتِ إِلَى مَخَازِنِ الْمَعْبَدِ إِنَّمَا وَفَدُوا مِنْ أَجْلِ هَذَا الصَّنَمِ ، وَأَنَّ أَهْلَ الْمَدِينَةِ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْمَلَابِسِ وَشَوَاقِلِ الْفِضَّةِ إِنَّمَا جَاءُوا بِهَذِهِ الْهَدَايَا لِهَذَا الصَّنَمِ ، وَأَنَّ السُّفُنَ الْكَبِيرَةَ الرَّاسِيَةَ عَلَى رَصِيفِ الْمَعْبَدِ وَالَّتِي تَحْمِلُ الْحُبُوبَ وَالْأَخْشَابَ وَالْأَنْعَامَ وَكُلَّ مَا تُنْبِتُهُ الْأَرْضُ مِنْ خَيْرَاتٍ ، مَا وَفَدَتْ بِالنُّذُورِ إِلَّا تَقَرُّبًا مِنْ هَذَا الصَّنَمِ . وَبُذِرَتْ فِي نَفْسِهِ الطَّاهِرَةِ بَذْرَةٌ سَوْفَ تَتَعَهَّدُهَا الْأَيَّامُ بِالرِّعَايَةِ وَالسُّقْيَا حَتَّى تَزْدَهِرَ وَتُثْمِرَ . اجْتَمَعَ فِي سَاحَةِ الْمَعْبَدِ « الْعَامِيلُو » الْأَحْرَارُ وَ « الْمِسْكِينُو » أَبْنَاءُ الطَّبَقَةِ الْمُتَوُسِّطَةِ وَالْعَبِيدُ ، الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ .. الشُّيُوخُ وَالْعَجَائِزُ وَالشُّبَّانُ وَالْوِلْدَانُ ؛ كَانُوا جَمِيعًا يَرْكَعُونَ أَمَامَ تِمْثَالِ نَانَا ، إِلَّا إِبْرَاهِيمَ فَقَدْ وَقَفَ شَامِخَ الرَّأْسِ يَرْنُو إِلَى كُلِّ مَا يَجْرِي حَوْلَهُ بِعَيْنَيْنِ مَفْتُوحَتَيْنِ وَقَلْبٍ سَلِيمٍ وَذِهْنٍ لَمَّاحٍ . وَبَلَغَ أُذُنَيْهِ صَلَاةُ أَبِيهِ فَأَرْهَفَ السَّمْعَ . كَانَ يَبْتَهِلُ إِلَى صَنَمِ مَرْدُوخَ :
Azar bersujud dan Ibrahim berdiri tegak menoleh ke sana kemari. Ia melihat ayahnya meneteskan air mata saat ia berdoa dan memohon, dan ia melihat pria dan wanita menangis dan isak tangis mencekik mereka, dan ia heran bahwa semua itu terjadi di depan patung yang pagi ini dibuat oleh ayahnya, ia menginjak kepalanya dengan kakinya, dan memakaikannya pakaian yang dibuat oleh ibunya. Dan terlintas dalam pikirannya yang jernih bahwa para petani yang datang dari setiap penjuru negeri membawa barang berharga ke gudang kuil, mereka datang demi berhala ini, dan penduduk kota yang datang membawa pakaian dan keping perak, mereka datang dengan hadiah-hadiah ini untuk berhala ini, dan kapal-kapal besar yang bersandar di dermaga kuil yang membawa biji-bijian, kayu, ternak, dan segala hasil bumi yang berharga, tidaklah datang membawa nazar kecuali untuk mendekatkan diri kepada berhala ini. Dan tertanamlah dalam jiwanya yang suci benih yang akan dirawat oleh hari-hari dengan perhatian dan siraman hingga ia berkembang dan berbuah. Berkumpullah di halaman kuil kaum "Amelu" (orang merdeka) dan "Muskenu" (golongan menengah) dan para budak, pria dan wanita.. orang tua, lansia, pemuda dan anak-anak; mereka semua bersujud di depan patung Nanna, kecuali Ibrahim, ia berdiri dengan kepala tegak memandang segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya dengan mata terbuka, hati yang suci, dan pikiran yang cerdas. Telinganya menangkap doa ayahnya, ia pun mempertajam pendengarannya. Ia sedang berdoa kepada berhala Marduk:
« إِلَهِي ! مِثْلَمَا قَدَّرْتَ مَصَائِرَ مَا صَنَعَتْ يَدَاكَ . وَرَزَقْتَهَا الْخُبْزَ لِتَأْكُلَ ، وَبَارَكْتَهَا وَقَبِلْتَ مِنْهَا قَرَابِينَهَا ؛ فَبَارِكْ لِي يَا إِلَهِي فِيمَا صَنَعَتْ يَدَايَ ، وَتَقَبَّلْهُ مِنِّي قَرَابِينَ لِعَظَمَةِ أُلُوهِيَّتِكَ » .
"Tuhanku! Sebagaimana Engkau menetapkan nasib dari apa yang dibuat oleh kedua tanganmu. Dan Engkau memberinya rezeki roti untuk dimakan, dan Engkau memberkatinya serta menerima kurban darinya; maka berkahilah aku wahai Tuhanku atas apa yang dibuat oleh kedua tanganku, dan terimalah dariku sebagai kurban bagi keagungan ketuhanan-Mu."
أَدَارَ عَيْنَيْهِ فِي التَّمَاثِيلِ الْكَثِيرَةِ الْقَائِمَةِ فِي الْمَعْبَدِ ، وَوُلِدَتْ فِي ذِهْنِهِ فِكْرَةٌ لَمْ تَكُنْ وَاضِحَةً ، كَانَتْ بَعْدُ مُغَلَّفَةً بِضَبَابٍ كَثِيفٍ ، كَانَتْ بَعْدُ خَيْطًا رَفِيعًا مُضِيئًا سَوْفَ يَتَّضِحُ رُوَيْدًا رُوَيْدًا حَتَّى يَتَأَلَّقَ النُّورُ وَيَبْهَرَ ذِهْنَهُ : أَيُّ هَذِهِ الْأَصْنَامِ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَسْتَجِيبَ لِدُعَاءِ أَبِيهِ ؟ وَأَتَمَّ آزرُ صَلَاتَهُ وَدُعَاءَهُ وَتَوَسُّلَاتِهِ وَابْتِهَالَاتِهِ ، وَجَفَّفَ مَا بَقِيَ فِي عَيْنَيْهِ مِنْ دُمُوعٍ ، ثُمَّ ذَهَبَ إِلَى حَيْثُ وَقَفَ إِبْرَاهِيمُ وَقَالَ لَهُ يُشِيرُ إِلَى تِمْثَالِ مَرْدُوخَ :
Ia mengarahkan pandangannya ke patung-patung yang banyak berdiri di kuil, dan lahirlah dalam pikirannya sebuah ide yang belum jelas, masih terselubung kabut tebal, masih berupa benang tipis bercahaya yang akan menjadi jelas sedikit demi sedikit sampai cahaya itu bersinar dan menyilaukan pikirannya: Manakah dari berhala-berhala ini yang mampu menjawab doa ayahnya? Azar menyelesaikan salat, doa, permohonan, dan ibadahnya, lalu ia menyeka sisa air mata di matanya, kemudian ia pergi ke tempat Ibrahim berdiri dan berkata kepadanya sambil menunjuk patung Marduk:
— اذْهَبْ يَا بُنَيَّ وَارْكَعْ لِكَبِيرِ الْآلِهَةِ « رَبِّ الْأَرْبَابِ » مَلِكِ الْمُلُوكِ .
— Pergilah wahai anakku dan bersujudlah kepada pembesar dewa-dewa "Tuhan segala tuhan", Raja segala raja.
فَدَارَ إِبْرَاهِيمُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَغَادَرَ الْمَعْبَدَ مَهْرُولًا ، وَانْطَلَقَ أَبُوهُ فِي أَثَرِهِ حَتَّى لَحِقَ بِهِ فِي فِنَاءِ الْحَرَمِ الْمُقَدَّسِ بِالْقُرْبِ مِنَ الزَّقْوَةِ بُرْجِ نَانَا الصَّرْحِ الْمُدَرَّجِ ، وَقَالَ لَهُ :
Ibrahim berbalik dan meninggalkan kuil dengan bergegas, dan ayahnya pergi menyusulnya hingga ia berhasil mengejarnya di halaman tempat suci dekat Ziggurat (menara Nanna), bangunan berundak itu, dan berkata kepadanya:
— لِمَاذَا لَمْ تَرْكَعْ لِكَبِيرِ الْآلِهَةِ يَا إِبْرَاهِيمُ ؟
— Mengapa engkau tidak bersujud kepada pembesar dewa-dewa wahai Ibrahim?
نَظَرَ إِبْرَاهِيمُ إِلَى أَبِيهِ نَظْرَةً طَوِيلَةً وَلَمْ يَحُرْ جَوَابًا ، فَقَالَ لَهُ آزرُ :
Ibrahim menatap ayahnya dengan tatapan panjang dan tidak memberikan jawaban, maka Azar berkata kepadanya:
— لَا تَزَالُ صَغِيرًا يَا بُنَيَّ ، إِنِّي عِنْدَمَا رَكَعْتُ أَمَامَ رَبِّ الْأَرْبَابِ وَابْتَهَلْتُ إِلَيْهِ فِي حَرَارَةٍ سَالَتْ دُمُوعِي وَأَلْقَى فِي رَوْعِي أَنْ سَيَكُونُ لَكَ يَا إِبْرَاهِيمُ شَأْنٌ عَظِيمٌ مَعَ الْآلِهَةِ ، وَمَعَ مَرْدُوخَ كَبِيرِهِمُ الْعَظِيمِ .
— Engkau masih kecil wahai anakku, sesungguhnya ketika aku bersujud di depan Tuhan segala tuhan dan berdoa kepadanya dengan penuh kehangatan, air mataku menetes dan ia menanamkan dalam benakku bahwa engkau wahai Ibrahim akan memiliki kedudukan yang agung di sisi dewa-dewa, dan bersama Marduk pembesar mereka yang agung.
وَانْطَلَقَا حَتَّى بَلَغَا الْفِنَاءَ الْخَارِجِيَّ وَلَاحَتْ لَهُمَا الْبَوَّابَةُ الَّتِي تَقُودُ إِلَى الْحَرَمِ الْمُقَدَّسِ ، قَالَ آزرُ وَقَدْ شَرَدَ بِبَصَرِهِ كَأَنَّمَا يَحْلُمُ ، أَوْ كَأَنَّمَا يُحَاوِلُ أَنْ يَرَى الْمُسْتَقْبَلَ :
Mereka pergi hingga sampai di halaman luar dan tampaklah bagi mereka gerbang yang menuju ke tempat suci, Azar berkata sambil melamun, seolah-olah ia sedang bermimpi, atau seolah-olah ia sedang mencoba melihat masa depan:
— أَتَرَى هَذِهِ الْبَوَّابَةَ يَا إِبْرَاهِيمُ ؟
— Apakah kau melihat gerbang ini wahai Ibrahim?
فَهَزَّ إِبْرَاهِيمُ رَأْسَهُ أَنْ نَعَمْ ، فَقَالَ آزرُ فِي نَبَرَاتٍ حَالِمَةٍ :
Ibrahim menganggukkan kepalanya tanda setuju, lalu Azar berkata dengan nada bermimpi:
— عِنْدَمَا تَكْبُرُ يَا إِبْرَاهِيمُ سَتَقِفُ عِنْدَ هَذِهِ الْبَوَّابَةِ ، وَتَبِيعُ لِلنَّاسِ تَمَاثِيلَ الْآلِهَةِ الَّتِي أَصْنَعُهَا .. وَسَتُبَارِكُكَ الْآلِهَةُ يَا بُنَيَّ .
— Ketika kau besar nanti wahai Ibrahim, kau akan berdiri di gerbang ini, dan menjual kepada orang-orang patung dewa-dewa yang aku buat.. dan dewa-dewa akan memberkatimu wahai anakku.
وَارْتَسَمَتْ عَلَى وَجْهِ آزرُ إِشْرَاقَةُ أَمَلٍ وَتَفَاؤُلٍ ، وَلَمْ يَبْدُ عَلَى وَجْهِ إِبْرَاهِيمَ الِاقْتِنَاعُ .
Dan terlukislah di wajah Azar sinar harapan dan optimisme, namun tidak tampak di wajah Ibrahim rasa yakin.

💬 SYARH NYABLAK USTADZ BCA
(Betawi Cengkareng Asli)
- Klik buat baca syarah gaya Abi Thoufur untuk episode ini -
Assalaamu'alaikum Sahabat BABA...!!

"Jama'ah BABA nyang dimuliain Allah! Hari ini kita lanjutin petualangan Ibrahim عليه السلام. Kemaren kita udeh liat bapaknye, si Azar, yang panik ama ramalan. Sekarang, liat nih bocah makin gede, makin pinter, tapi logikanye makin tajam ngeliatin bapaknye yang jualan 'tuhan' dari kayu. Cekidot naskah Episode 5!"

[BAGIAN 1: RUMAH PENUH PATUNG & DUA ADEK BARU]

Abi Thoufur: "Assalamu’alaikum, jama’ah! Balik lagi di Kisah Abul Anbiya. Hari berganti, Ibrahim udeh bukan bayi merah lagi. Die udeh makin lincah, lari-larian di balkon rumah Azar nyang bertingkat. Eh, tapi kabar gembira nih, Mpok Imtala nambah momongan lagi! Dua jagoan lahir: Nahur (pake nama kakeknye) ama Haran (pake nama pamannye). Rumah Azar makin rame dah tuh kayak pasar malam!"

Abi Nyablak: "Rame sih rame, Bang! Tapi Ibrahim ini tipenye bukan bocah nyang cuma main petak umpet. Die demen banget nongkrongin bapaknye, si Azar, nyang lagi sibuk 'proyekan' pahat kayu. Ibrahim ngeliatin gimana kayu gelondongan dipotong, diserut, terus berubah jadi patung manusia nyang kupingnye gede banget! Udah kayak antena parabola dah tuh kuping!"

[BAGIAN 2: FILOSOFI KUPING GEDE & LOGIKA ANAK KECIL]

Abi Thoufur: "Ibrahim nyelutuk: 'Bapak, itu patung kok kupingnye lebar bener? Kagak proporsional amat kite liatnye.' Azar nyengir bangga: 'Tong, ini namanya Marduk, Bosnye para dewa! Kuping gede itu simbol kalo die pahamnye dalem banget. Segala urusan die denger!'"

Abi Nyablak: "Ibrahim cuma manggut-manggut, tapi dalem atinye die ngebatin: 'Paham dalem gimane? Orang dipahat dikit aje diem bae, kena debu kagak bisa bersin.' Bagi Ibrahim kecil, itu patung mah kagak ada bedanye ama boneka kayu buat mainan! Kagak ada wibawanye pisan!"

[BAGIAN 3: ISHTAR NYANG GALAK AMA ENLIL NYANG BIKIN BANJIR]

Abi Thoufur: "Kagak cuma Marduk, Azar juga bikin patung Ishtar, dewi nyang katanya bisa galak bisa penyayang. Terus ada lagi si Enlil, dewa nyang katanya bikin banjir besar zaman dulu. Ibrahim nanya: 'Napa die tenggelemin orang, Beh?' Azar jawab: 'Sebab manusianye pada bandel, kagak nurut ama dewa!'"

Abi Nyablak: "Ibrahim makin bingung, Cing! Die ngeliat bapaknye lagi asik ngegetok palu ke kepala 'dewa' nyang lagi dibikin. Kalo bapaknye kagak sreg, itu leher dewa bisa dipatahin atau dibelah dua. Ibrahim mikir: 'Lah, dewa kok nasibnye tergantung kapak bapak ane? Kalo bapak lagi bad mood, pensiun dah tuh dewa!' Fitrahnye Ibrahim udeh mulai nolak, ini mah bukan Tuhan, ini mah barang dagangan!"

[BAGIAN 4: DRAMA DI KUIL ZIGGURAT]

Abi Thoufur: "Besoknye, Azar ngajak Ibrahim ke 'Pusat Perbelanjaan Rohani' alias Kuil Ziggurat Dewa Nanna. Menaranya tinggi bener, Bang! Ibrahim nanya: 'Napa tinggi amat, Beh?' Azar jawab: 'Dulu nenek moyang kite orang gunung, dewa tinggal di puncak. Pas pindah ke sini nyang tanahnye rata, kite bikin gunung buatan biar dewa betah!'"

Abi Nyablak: "Ibrahim ngeliat pemandangan nyang bikin geleng-geleng. Petani bawa minyak, gandum, sampe wol buat disetor ke gudang kuil. Pendeta-pendeta sibuk nyatet 'nota' pake lempengan tanah liat. Ibrahim mikir: 'Ini kuil ape kantor pajak? Dewanye laper amat ya, musti dikasih setoran begini banyak!' Kagak masuk di akal sehatnye si bocah jenius ini!"

[BAGIAN 5: TANGISAN AZAR & TEGAKNYA IBRAHIM]

Abi Thoufur: "Pas masuk ke dalem kuil nyang penuh emas perak, Azar langsung 'gaspol' ibadah. Die ruku, die sujud, sampe mewek-mewek di depan patung batu nyang pegang kapak. Azar teriak: 'Dewa Nanna, berkahin dong jualan ane! Terimalah sesembahan ane!'"

Abi Nyablak: "Di saat semua orang (kaum Amelu, Muskenu, sampe budak) pada nunduk gemeteran, Ibrahim mah beda! Die berdiri tegak, kepalenye dongak, matenye melotot ngeliatin itu patung. Die ngebatin: 'Ini kan patung nyang tadi pagi bapak injek kepalenye pas lagi dipahat? Kok sekarang bapak nangis-nangis di depannye? Aneh bin ajaib!' Ibrahim nyadar, ini semua cuma sandiwara besar nyang dibikin manusie!"

[BAGIAN 6: CITA-CITA AZAR NYANG SALAH ALAMAT]

Abi Thoufur: "Pas mau pulang, Azar rangkul Ibrahim. Mukenye sumringah, die bilang: 'Tong, ntar kalo lu udeh gede, lu bakal mangkal di gerbang ini. Lu bakal jadi sales patung paling jago! Lu jualin karya bapak, biar dewa berkahin lu!'"

Abi Nyablak: "Azar udeh ngayal Ibrahim bakal nerusin 'Dinasti Sales Patung'. Tapi Ibrahim? Die diem bae. Mukenye kagak ada yakin-yakinnye. Dalem atinye Ibrahim udeh punya rencana lain. Die kagak mau jadi sales patung, die mau jadi 'pembongkar' rahasia kepalsuan dewa-dewa itu! Sian si Azar, mimpi Ibrahim bakal jadi pengusaha sukses, padahal ntar Ibrahim bakal jadi orang nyang bikin kerajaan patung bapaknye bangkrut total demi Tauhid!"

[OUTRO]

Abi Thoufur: "Waduh, makin panas nih, jama’ah! Bibit-bibit 'revolusi' udeh ada di otak Ibrahim kecil. Gimane kelanjutan debat bokap-anak ini? Apakah Azar bakal sadar atau malah makin 'halu' ama dewa-dewanye?"

Abi Nyablak: "Makanye, tetep pantengin Kisah Abul Anbiya! Jangan sampe ketinggalan, ntar nyeselnye kayak beli nasi uduk tapi kagak pake sambel! Ane Abi Thoufur, mohon pamit. Udzkurullaah wa sholluu 'alan Nabi! Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh!"

— ABI THOUFUR • THE NYABLAK TEACHER • MAN 1 JAKARTA —
BONUS EXCLUSIVE

🎁 Bingkisan Sayang dari Abi: APA HIKMAH DI BALIK EPISODE INI BUAT KITA?

Eits, jangan bubar dulu! Biar ente kagak cuma baca ceritanya doang, Abi kasih "Kado Ilmu" soal apa yang bisa kita petik dari sikap kritis Ibrahim عليه السلام kecil dan kebobrokan sistem berhala di Kota Ur ini.

🛡️ Catatan Aqidah Abi:

"Kemurnian tauhid seringkali muncul dari fitrah yang belum tercemar. Ibrahim kecil tidak butuh bukti rumit untuk tahu mana Tuhan dan mana boneka; ketajaman akalnya adalah anugerah Allah. Ini mengajarkan kita bahwa mengenal Allah itu sebenarnya sederhana selama hati kita tidak tertutup oleh debu kemusyrikan."

Catatan Ibadah Abi:

"Ibadah itu hubungan antara hamba dan Sang Pencipta, bukan transaksi dagang. Kaum Babil menjadikan kuil sebagai tempat setoran, persis seperti orang yang menganggap ibadah hanya sebagai syarat biar rezeki lancar. Mari kita luruskan niat, ibadah karena Allah, bukan karena mengharap 'imbalan' sesaat dari sesembahan yang tidak berdaya."

⚖️ Catatan Mu'amalah Abi:

"Berpikirlah kritis! Jangan mau jadi 'pengikut' buta cuma karena tradisi atau takut sama lingkungan. Ibrahim kecil saja berani bertanya dan meragukan kepalsuan di depannya, masa kita yang sudah dewasa malah takut untuk menyuarakan kebenaran hanya karena takut dianggap beda?"

Alhamdulillah...

Sekian dulu ye buat episode kali ini. Moga-moga kisah Ibrahim عليه السلام ini bisa jadi bahan renungan kita biar makin beradab dan mantep akidahnya. Kalau ada yang ganjel atau mau nanya-nanya soal sirah, tulis aje di kolom komentar. Atau kalau mau mampir ke MAN 1 Jakarta Barat, sok mangga, pintu terbuka lebar! Tapi inget, kalo mampir jangan tangan kosong, bawa kopi item ama rokoknye biar ngobrol kite makin syahdu... wkwkwk!


~ ABI THOUFUR (THE NYABLAK TEACHER) ~

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ ، وَبِاللهِ الْهِدَايَةُ وَالتَّوْفِيْقُ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi