اِرْتَفَعَ صُرَاخُ مَوْلُودٍ فِي بَيْتِ آزرَ ، فَقَدْ وَضَعَتْ إِمْتَالَى مَا فِي بَطْنِهَا وَجَاءَ ذَكَرًا . كَانَ اللَّيْلُ حَالِكَ السَّوَادِ ، وَكَانَ الضَّوْءُ الْمُنْبَعِثُ مِنَ الْمِسْرَجَةِ خَافِتًا ، فَالْفَتِيلَةُ الصَّغِيرَةُ الطَّافِيَةُ فَوْقَ سَطْحِ الزَّيْتِ فِي الْإِنَاءِ الْفَخَّارِيِّ لَا تُرْسِلُ إِلَّا نُورًا يُجَاهِدُ أَنْ يُبَدِّدَ فَحْمَةَ اللَّيْلِ الْجَاثِمَةَ عَلَى أَنْفَاسِهِ ، بَيْدَ أَنَّ إِمْتَالَى أَحَسَّتْ نُورًا يَغْمُرُ الْمَكَانَ بَعْدَ أَنْ خَرَجَ مِنْهَا مَا كَانَ فِي أَحْشَائِهَا .
Pekikan tangis bayi baru lahir membumbung di rumah Azar, karena Imtala telah melahirkan apa yang ada di dalam kandungannya dan bayi itu terlahir laki-laki. Malam saat itu hitam pekat, dan cahaya yang memancar dari lampu minyak sangat redup, sumbu kecil yang mengapung di atas permukaan minyak dalam wadah tembikar itu tidak memancarkan kecuali berkas cahaya yang berjuang keras mengusir kepekatan arang malam yang menghimpit helaan napasnya, akan tetapi Imtala merasakan cahaya yang menyelimuti tempat itu setelah apa yang ada di dalam perutnya itu keluar.
وَكَانَتْ قَبْلَ أَنْ تَضَعَ حَمْلَهَا خَائِفَةً قَلِقَةً ، تَخْشَى آلَامَ الْوَضْعِ الَّتِي كَانَتِ النِّسْوَةُ يُسْهِبْنَ فِي وَصْفِهَا ، وَلَكِنَّهَا عِنْدَمَا وَضَعَتْ حَمْلَهَا لَمْ تَسْتَشْعِرْ أَلَمًا ؛ فَقَدْ طَافَ بِهَا نُعَاسٌ لَذِيذٌ وَاسْتَيْقَظَتْ مِنْهُ عَلَى بُكَاءِ وَلِيدِهَا ، فَمَسَّ أُذُنَيْهَا مَسًّا رَقِيقًا كَأَعْذَبِ الْأَلْحَانِ ، وَخَفَقَ قَلْبُهَا بِالْحَنَانِ ، وَتَفَتَّحَتْ نَفْسُهَا لِلْحَيَاةِ . لَقَدْ صَارَ لِلْحَيَاةِ مَعْنًى آخَرُ وَطَعْمٌ آخَرُ بَعْدَ أَنْ نَامَ وَلِيدُهَا إِلَى جِوَارِهَا : مَعْنًى أَعْمَقُ مِنَ الْمَعْنَى الَّذِي كَانَتْ تَفْهَمُهُ يَوْمَ كَانَتْ حَيَاتُهَا كُلُّهَا لآزرَ ، وَطَعْمٌ أَلَذُّ مِنْ طَعْمِ الْحَيَاةِ يَوْمَ كَانَتْ تَعِيشُ فِي كَنَفِ زَوْجِهَا بِلَا وَلَدٍ .
Dan sebelum melahirkan kandungannya, dia dirundung rasa takut dan cemas, mengkhawatirkan rasa sakit melahirkan yang sering digambarkan secara berlebihan oleh kaum perempuan, akan tetapi ketika dia melahirkan kandungannya dia tidak merasakan sakit; karena dia sempat terbuai oleh rasa kantuk yang nikmat dan terbangun darinya oleh suara tangis bayinya, maka tangisan itu menyentuh kedua telinganya dengan kelembutan bagaikan alunan melodi yang paling merdu, dan bergetarlah hatinya dengan penuh kasih sayang, serta jiwanya terbuka lebar menyongsong kehidupan. Sungguh kehidupan kini memiliki makna lain dan rasa yang lain setelah bayinya tertidur di sampingnya: makna yang jauh lebih dalam daripada makna yang dia pahami dahulu ketika seluruh hidupnya hanya untuk Azar, dan rasa yang lebih nikmat daripada rasa kehidupan ketika dia dahulu hidup di bawah naungan suaminya tanpa seorang anak.
وَنَامَتْ فِي الْبَيْتِ الْكَبِيرِ مَعَ وَلِيدِهَا وَحْدَهُمَا بَعْدَ أَنْ انْطَلَقَتِ الْجَارِيَةُ إِلَى بَيْتِ نَاحُورَ لِتُخْبِرَهُ أَنَّ إِمْتَالَى وَضَعَتْ ذَكَرًا ، وَلِيَقُومَ الْجَدُّ بِالصَّلَاةِ شُكْرًا لِلْآلِهَةِ عَلَى مَا أَنْعَمَتْ ، فَلَمْ تَحِسَّ وَحْشَةً بَلْ اسْتَشْعَرَتْ أُنْسًا وَأَمْنًا .
Dan dia tidur di rumah besar itu bersama bayinya berdua saja setelah budak perempuan itu bergegas pergi ke rumah Nahor untuk mengabarkan kepadanya bahwa Imtala telah melahirkan seorang anak laki-laki, dan agar sang kakek dapat mendirikan sembahyang sebagai wujud syukur kepada para dewa atas nikmat yang telah dianugerahkan, maka dia tidak merasakan kesepian melainkan merasakan ketenteraman dan keamanan.
وَطَرَقَتِ الْجَارِيَةُ بَابَ نَاحُورَ ، وَانْفَرَجَ الْبَابُ عَنْ جَارِيَةٍ تَفْرُكُ عَيْنَيْهَا فَقَالَتْ جَارِيَةُ آزرَ :
Dan budak perempuan itu mengetuk pintu rumah Nahor, dan pintu itu terbuka sedikit menampakkan seorang budak perempuan lain yang sedang mengucek kedua matanya, lalu budak perempuan Azar berkata:
— أَيْنَ السَّيِّدُ الْكَبِيرُ ؟
— Di mana tuan besar?
— نَائِمٌ فِي غُرْفَتِهِ . مَا الَّذِي جَاءَ بِكِ السَّاعَةَ ؟
— Beliau sedang tidur di kamarnya. Apa yang membawamu kemari pada jam begini?
وَلَمْ تُحِرِ الْجَارِيَةُ جَوَابًا ، وَانْطَلَقَتْ فِي الدِّهْلِيزِ الْقَصِيرِ إِلَى فِنَاءِ الدَّارِ الرَّئِيسِيِّ حَيْثُ قَامَتْ حَوْلَهُ غُرَفُ الطَّبَقَةِ السُّفْلَى ، ثُمَّ اتَّجَهَتْ إِلَى السُّلَّمِ مَارَّةً بِالْأَعْمِدَةِ السَّامِقَةِ الَّتِي تَرْتَكِزُ عَلَيْهَا الشُّرْفَةُ الْخَشَبِيَّةُ الَّتِي تَدُورُ حَوْلَ الْبَيْتِ مِنَ الدَّاخِلِ ، وَرَاحَتْ تَرْقَى فِي الدَّرَجِ حَتَّى بَلَغَتِ الشُّرْفَةَ الَّتِي تُؤَدِّي إِلَى غُرَفِ الطَّبَقَةِ الثَّانِيَةِ .
Dan budak perempuan itu tidak membalas jawaban sepatah kata pun, dia langsung menerobos lorong pendek menuju halaman utama rumah tempat kamar-kamar lantai bawah berjejer di sekelilingnya, kemudian dia menuju tangga melewati tiang-tiang tinggi yang menyangga balkon kayu yang mengitari bagian dalam rumah, dan dia mulai menaiki anak tangga hingga mencapai balkon yang menghubungkan ke kamar-kamar di lantai dua.
وَاتَّجَهَتْ إِلَى غُرْفَةِ السَّيِّدِ الْكَبِيرِ وَطَرَقَتِ الْبَابَ فِي رِفْقٍ ، وَمَرَّتْ لَحَظَاتٌ ثُمَّ فُتِحَ الْبَابُ عَنْ نَاحُورَ . كَانَ حَلِيقَ الرَّأْسِ وَاللِّحْيَةِ لِكَأَنَّمَا كَانَ كَاهِنًا مِنْ كَهَنَةِ الْآلِهَةِ ، وَقَدْ خَلَّفَتْ يَدُ السِّنِينَ آثَارَهَا فِي وَجْهِهِ وَحَوْلَ عَيْنَيْهِ ، فَمَا إِنْ وَقَعَتْ عَيْنَاهُ عَلَى الْجَارِيَةِ حَتَّى قَالَ :
Dan dia menuju kamar tuan besar lalu mengetuk pintu dengan lembut, beberapa saat berlalu kemudian pintu itu terbuka menampakkan Nahor. Kepalanya gundul dan jenggotnya klimis tercukur seolah-olah dia adalah salah seorang imam dari para imam dewa, dan tangan tahun-tahun telah meninggalkan bekas-bekasnya pada wajahnya dan di sekitar kedua matanya, maka begitu kedua matanya tertuju kepada budak perempuan itu, dia langsung berkata:
— وَضَعَتْ إِمْتَالَى !
— Imtala telah melahirkan!
فَهَزَّتِ الْجَارِيَةُ رَأْسَهَا أَنْ نَعَمْ .
Maka budak perempuan itu menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan.
— وَضَعَتْ ذَكَرًا !
— Melahirkan seorang anak laki-laki!
وَقَالَتِ الْجَارِيَةُ فِي فَرَحٍ :
Dan budak perempuan itu berkata dengan gembira:
— لَكَأَنَّهُ الْقَمَرُ .
— Sungguh parasnya elok laksana bulan.
وَرَفَعَ نَاحُورُ عَيْنَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ ، كَانَتْ لَيْلَةً بِلَا قَمَرٍ وَلَا نُجُومٍ فَأَحَسَّ انْقِبَاضًا . كَانَ يَرْجُو أَنْ يُولَدَ حَفِيدُهُ فِي لَيْلَةٍ مِنَ اللَّيَالِي الَّتِي يَتَجَلَّى فِيهَا الْإِلَهُ نَانَا ، فِي لَيْلَةٍ يَكْتَمِلُ فِيهَا بَدْرًا ، لِيَكُونَ لِحَفِيدِهِ نَصِيبٌ مِنَ الْخَيْرِ الْعَمِيمِ الَّذِي يُصِيبُ الْمَحْظُوظِينَ مِمَّنْ يُولَدُونَ تَحْتَ عَيْنِ إِلَهِ الْقَمَرِ .
Dan Nahor mengangkat kedua matanya ke langit, saat itu adalah malam tanpa rembulan dan tanpa bintang-bintang sehingga dia merasakan firasat yang sesak. Dia tadinya berharap cucunya terlahir pada salah satu malam di mana dewa Nana menampakkan keagungannya, pada malam saat rembulan purnama sempurna, agar cucunya mendapat bagian dari kebaikan yang melimpah ruah yang mendatangi orang-orang beruntung yang dilahirkan di bawah pengawasan dewa bulan.
وَأَعَادَ عَيْنَيْهِ إِلَى وَجْهِ الْجَارِيَةِ وَقَالَ :
Dan dia mengalihkan kembali kedua matanya ke wajah budak perempuan itu lalu berkata:
— عُودِي لِسَيِّدَتِكِ وَقُولِي لَهَا إِنِّي قَادِمٌ .
— Kembalilah kepada nyonyamu dan katakan kepadanya bahwa aku segera datang.
وَانْصَرَفَتِ الْجَارِيَةُ ، وَدَخَلَ الْجَدُّ لِيَتَطَهَّرَ قَبْلَ أَنْ يَنْطَلِقَ لِيُصَلِّيَ لِحَفِيدِهِ وَيَدْعُوَ الْآلِهَةَ أَنْ تُبَارِكَهُ ، وَأَنْ يُبَالِغَ فِي الدُّعَاءِ لِيُعَوِّضَهُ عَنْ سُوءِ الطَّالِعِ الَّذِي جَعَلَهُ يَفِدُ إِلَى الدُّنْيَا فِي يَوْمٍ اخْتَفَتْ فِيهِ الْآلِهَةُ فِي الْقُبَّةِ الزَّرْقَاءِ .
Dan budak perempuan itu pun pergi, sementara sang kakek masuk untuk bersuci sebelum berangkat memanjatkan sembahyang bagi cucunya dan meminta para dewa agar memberkatinya, serta bersungguh-sungguh dalam berdoa demi menebus kemalangan nasib yang membuatnya datang ke dunia pada hari di saat para dewa menghilang dari kubah langit yang biru.
وَانْسَابَ نَاحُورُ فِي سَوَادِ اللَّيْلِ إِلَى بَيْتِ ابْنِهِ وَهُوَ يُفَكِّرُ فِي اسْمٍ يُطْلِقُهُ عَلَيْهِ ، خَطَرَ بِبَالِهِ أَنْ يُسَمِّيَهُ نَاحُورَ تَخْلِيدًا لِاسْمِهِ ، وَاسْتَرَاحَ لِلْفِكْرَةِ فَرَاحَ يُوَسِّعُ مِنْ خُطْوَتِهِ لِيُعْلِنَ بِذَلِكَ الِاسْمَ أَمَامَ الْآلِهَةِ ، وَيَتَوَسَّلَ إِلَيْهَا أَنْ يَكُونَ مُبَارَكًا .
Dan Nahur berjalan mengalir di kegelapan malam menuju rumah putranya seraya memikirkan sebuah nama untuk disematkan kepadanya. Terlintas di benaknya untuk menamainya Nahur demi mengabadikan namanya sendiri, ia pun merasa tenang dengan ide itu lalu mulai memperlebar langkah kakinya agar dapat mengumumkan nama tersebut di hadapan para dewa, serta memohon kepada mereka agar anak itu menjadi anak yang diberkati.
وَبَلَغَ نَاحُورُ بَيْتَ ابْنِهِ ، وَلَمْ يَصْعَدْ إِلَى الطَّبَقَةِ الْعُلْيَا حَيْثُ تَرْقُدُ إِمْتَالَى وَحَفِيدُهُ بَلْ عَرَجَ إِلَى مَعْبَدِ الدَّارِ الْخَاصِّ ، كَانَ غُرْفَةً مُسْتَطِيلَةً ضَيِّقَةً يَتَوَسَّطُهَا مُصَلًّى وَمِحْرَابٌ ، وَتَحْتَ بَلَاطِهَا قَبْوٌ يُدْفَنُ فِيهِ مَوْتَى الْأُسْرَةِ .
Nahur pun sampai di rumah putranya, ia tidak naik ke lantai atas tempat Imtala dan cucunya berbaring, melainkan berbelok menuju kuil khusus di dalam rumah tersebut. Kuil itu berupa ruangan persegi panjang yang sempit, yang di tengahnya terdapat tempat shalat dan mihrab, dan di bawah ubinnya terdapat ruang bawah tanah tempat memakamkan anggota keluarga yang wafat.
رَكَعَ نَاحُورُ أَمَامَ تِمْثَالِ إِلَهِ الْقَمَرِ وَرَاحَ يُصَلِّي فِي خُشُوعٍ وَيَدْعُو وَيَبْتَهِلُ :
Nahur berlutut di hadapan patung dewa bulan dan mulai berdoa dengan khusyuk, memohon serta bersimpuh:
— أَيُّهَا الْأَبُ نَانَا ، إِنِّي أُذْرِفُ الدُّمُوعَ لِعَظَمَتِكَ . حَتَّى يَرِقَّ لَنَا قَلْبُكَ وَتَقِفَ إِلَى جَانِبِنَا . إِنَّ ابْنِي آزرَ أَيُّهَا الْإِلَهُ الْعَظِيمُ قَدْ أَنْجَبَ وَلَدًا ، وَإِنِّي أُسَمِّيهِ نَاحُورَ وَأَهَبُهُ لَكَ ، فَاجْعَلْ سَيِّدَ الْحِكْمَةِ يَهَبُهُ قَبَسًا مِنْ حِكْمَتِهِ ، وَيُطْعِمُهُ مِنْ « طَعَامِ الْحَيَاةِ » ، وَيَسْقِيهِ يَا إِلَهِي مِنْ « مَاءِ الْحَيَاةِ » . أَيُّهَا الْأَبُ نَانَا بَسِّرْهُ لِمَا يُرْضِيكَ ، وَاحْفَظْهُ مِنْ أَنْ يَتَرَدَّى فِي الْعَالَمِ السُّفْلِيِّ ، وَلَا تَكْتُبْ عَلَيْهِ أَنْ يَذْهَبَ إِلَى « الْأَرْضِ الَّتِي لَا رَجْعَةَ مِنْهَا » . أَنْتَ عَادِلٌ أَيُّهَا الْأَبُ الْعَظِيمُ ، وَقَدْ وَهَبْتُهُ لَكَ فَتَقَبَّلْهُ خَادِمًا لِلسَّمَاءِ الْمُقَدَّسَةِ ، خَادِمًا لِلْآلِهَةِ ، وَامْنَحْهُ يَا إِلَهِي الَّلمْسَةَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي مَنَحْتَهَا لِأَبِيهِ ، حَتَّى يَصْنَعَ لِعَظَمَتِكَ وَلِعَظَمَتِكَ الْبُعُولِ الْكِرَامِ تَمَاثِيلَ تَرْضَى عَنْهَا ، وَيَرْضَى عَنْهَا السَّادَةُ الْآلِهَةُ فِي السَّمَاءِ .
— Wahai bapak Nana, sesungguhnya aku mencucurkan air mata demi keagungan-Mu. Agar hati-Mu melembut kepada kami dan Engkau berdiri di sisi kami. Sesungguhnya putraku, Azar, wahai Dewa yang agung, telah melahirkan seorang anak laki-laki, dan sesungguhnya aku menamainya Nahur serta mempersembahkannya untuk-Mu, maka jadikanlah sang penguasa hikmah menganugerahinya secercah dari hikmahnya, dan memberinya makan dari "makanan kehidupan", serta memberinya minum, ya Tuhanku, dari "air kehidupan". Wahai bapak Nana, tuntunlah dia menuju apa yang meridhakan-Mu, jagalah dia agar tidak terjerumus ke alam bawah, dan janganlah Engkau takdirkan dia pergi ke "tanah yang tidak ada jalan kembali darinya". Engkau adil wahai bapak yang agung, dan aku telah mempersembahkannya untuk-Mu, maka terimalah dia sebagai pelayan langit yang suci, pelayan bagi para dewa, dan anugerahilah dia ya Tuhanku, sentuhan suci yang telah Engkau anugerahkan kepada ayahnya, sehingga dia dapat membuat patung-patung demi keagungan-Mu dan keagungan para tuan yang mulia, yang Engkau ridhai, dan diridhai pula oleh para tuan dewa di langit.
وَاسْتَغْرَقَ نَاحُورُ فِي الرُّكُوعِ وَإِطْلَاقِ الْبُخُورِ حَتَّى بَعَثَ إِلَهُ الشَّمْسِ شَمَاسُ أَشِعَّتَهُ فَغَمَرَتِ الْمَعْبَدَ ، وَتَعَلَّقَ الْبُخُورُ بِهَا فَبَدَتْ كَسَتَائِرَ شَفَّافَةٍ مِنَ الْفِضَّةِ ، فَنَهَضَ وَانْطَلَقَ إِلَى الطَّبَقَةِ الْعُلْيَا حَيْثُ تَرْقُدُ إِمْتَالَى وَوَلِيدُهَا . وَأَلْقَى عَلَى إِمْتَالَى تَحِيَّةً رَقِيقَةً ، ثُمَّ مَالَ وَحَمَلَ حَفِيدَهُ وَرَفَعَهُ وَقَبَّلَهُ ، ثُمَّ عَادَ يَتَفَرَّسُ فِي وَجْهِهِ وَيَقُولُ :
Dan Nahur tenggelam dalam sujudnya serta mengepulkan kemenyan hingga dewa matahari, Syamas, memancarkan sinarnya lalu membanjiri kuil tersebut, dan asap kemenyan bergantungan bersamanya hingga tampak seperti tirai perak yang transparan, lalu ia bangkit dan bergegas menuju lantai atas tempat Imtala dan bayinya berbaring. Ia menyampaikan salam yang lembut kepada Imtala, kemudian membungkuk dan menggendong cucunya, mengangkatnya serta menciumnya, lalu kembali memandangi wajahnya dengan cermat seraya berkata:
— سَمَّيْتُهُ نَاحُورَ ، وَصَلَّيْتُ لِلْآلِهَةِ عَسَى أَنْ تَتَقَبَّلَهُ بِقَبُولٍ حَسَنٍ .
— Aku telah menamainya Nahur, dan aku telah berdoa kepada para dewa semoga mereka menerimanya dengan penerimaan yang baik.
فَقَالَتْ إِمْتَالَى وَهِيَ تَتَحَامَى أَنْ تَلْتَقِيَ بِعَيْنَيْهِ :
Maka Imtala berkata seraya menghindari tatapan matanya:
— نَاحُورُ اسْمٌ عَزِيزٌ عَلَيْنَا . حَبِيبٌ إِلَى قُلُوبِنَا ؛ وَلَكِنْ ..
— Nahur adalah nama yang berharga bagi kami. Sangat dicintai oleh hati kami; akan tetapi...
— وَلَكِنْ مَاذَا ؟
— Akan tetapi apa?
فَقَالَتْ فِي ارْتِبَاكٍ :
Ia berkata dengan gugup:
— كُنَّا اتَّفَقْنَا أَنَا وَآزرُ أَنْ نُطْلِقَ اسْمَ نَاحُورَ عَلَى أَوَّلِ أَوْلَادِنَا الذُّكُورِ .
— Kita sebelumnya telah sepakat, aku dan Azar, untuk menyematkan nama Nahur pada anak laki-laki pertama kami.
— وَمَا الَّذِي حَدَثَ ؟
— Dan apa yang telah terjadi?
— جَاءَنِي هَاتِفٌ فِي الْمَنَامِ وَقَالَ لِي سَمِّيهِ « إِبْرَاهِيمَ » .
— Datang kepadaku suara tanpa rupa dalam mimpi dan berkata kepadaku: namai dia "Ibrahim".
وَسَادَ الصَّمْتُ بَيْنَهُمَا بُرْهَةً وَقَالَتْ إِمْتَالَى :
Dan keheningan pun menguasai di antara keduanya sesaat, lalu Imtala berkata:
— هَذِهِ مَشِيئَةُ الْآلِهَةِ . سَأُسَمِّيهِ « إِبْرَاهِيمَ » ، وَسَأُسَمِّي أَوَّلَ مَوْلُودٍ ذَكَرٍ أَضَعُهُ بَعْدَهُ « نَاحُورَ » . فَنَاحُورُ اسْمٌ غَالٍ عِنْدَنَا ، وَسَأُسَمِّي الَّذِي بَعْدَهُ « هَارَانَ » تَبَرُّكًا بِاسْمِ عَمِّهِ الْحَبِيبِ .
— Ini adalah kehendak para dewa. Aku akan menamainya "Ibrahim", dan aku akan menamai anak laki-laki pertama yang aku lahirkan setelahnya dengan nama "Nahur". Karena Nahur adalah nama yang sangat berharga bagi kami, dan aku akan menamai anak setelahnya dengan nama "Haran" demi mengambil berkah dari nama pamannya yang tercinta.
وَشَرَدَ نَاحُورُ يُفَكِّرُ ، فَمَعْنَى « إِبْرَاهِيمَ » أَبُو الْقَبَائِلِ .. أَبُو الْأُمَمِ . وَقَدْ رَأَى فِي مَنَامِهِ أَنَّ نُورًا خَرَجَ مِنْ صُلْبِ ابْنِهِ أَضَاءَ السَّمَاءَ ، وَهَا هِيَ ذِي إِمْتَالَى تَسْمَعُ فِي مَنَامِهَا هَاتِفًا يَدْعُوهَا أَنْ تُسَمِّيَ وَلَدَهَا « إِبْرَاهِيمَ » ، أَنْ تُسَمِّيَهُ أَبَا الْأُمَمِ ، فَتَهَلَّلَتْ أَسَارِيرُهُ وَانْقَشَعَتْ مِنْ صَدْرِهِ مَوْجَةُ الْأَسَى الَّتِي طَافَتْ بِهِ لِمَا أَعْرَضَتْ إِمْتَالَى عَنِ اسْمِهِ . إِنَّهُ رَأَى رُؤْيَا وَرَأَتْ إِمْتَالَى رُؤْيَا . فَقَالَ فِي ابْتِهَالٍ :
Dan Nahur pun termenung berpikir, makna "Ibrahim" adalah bapak suku-suku... bapak bangsa-bangsa. Dan ia telah melihat dalam mimpinya bahwasanya seberkas cahaya keluar dari tulang sulbi putranya menerangi langit, dan sekarang Imtala mendengar di dalam mimpinya sebuah suara tanpa rupa yang menyerunya agar menamai anaknya "Ibrahim", agar menamainya bapak bangsa-bangsa, maka berseri-serilah wajahnya dan sirnalah dari dadanya gelombang kesedihan yang sempat meliputinya ketika Imtala enggan menggunakan namanya. Sesungguhnya ia telah melihat sebuah visi (mimpi) dan Imtala pun melihat sebuah visi. Maka ia berkata dalam kepasrahan:
— « إِبْرَاهِيمُ » اسْمٌ عَظِيمٌ .
— "Ibrahim" adalah nama yang agung.
وَنَظَرَ إِلَى حَفِيدِهِ الَّذِي كَانَ لَا يَزَالُ بَيْنَ يَدَيْهِ نَظْرَةً طَوِيلَةً ثُمَّ قَالَ :
Ia memandangi cucunya yang masih berada di kedua tangannya dengan tatapan yang lama, kemudian berkata:
— سَيَكُونُ لَكَ شَأْنٌ عَظِيمٌ مَعَ الْآلِهَةِ ، سَيَقْتَرِنُ اسْمُكَ بِالسَّمَاءِ ، سَيَتَأَلَّقُ نَجْمُكَ فِي الْقُبَّةِ الزَّرْقَاءِ .
— Kamu akan memiliki kedudukan yang agung di hadapan para dewa, namamu akan disandingkan dengan langit, bintangmu akan bersinar cemerlang di kubah yang biru.
وَخَرَجَ نَاحُورُ مُنْشَرِحَ الصَّدْرِ لِيُقَدِّمَ لِلْآلِهَةِ قُرْبَانًا اعْتِرَافًا بِفَضْلِهَا ،
Dan Nahur keluar dengan dada yang lapang untuk mempersembahkan kurban kepada para dewa sebagai bentuk pengakuan atas kemurahan mereka,
وَشُكْرًا عَلَى النِّعْمَةِ الَّتِي أَنْعَمَتْ بِهَا عَلَى آلِهِ ، وَفِدَاءً لِلْوَلِيدِ الَّذِي رَأَى أَوَّلَ مَا رَأَى فِي يَوْمِهِ الْأَوَّلِ نُورَ شَمَاشُ إِلَهِ النُّورِ .
Dan ungkapan syukur atas nikmat yang telah dianugerahkan kepada keluarganya, serta sebagai tebusan bagi sang bayi yang hal pertama kali ia lihat di hari pertamanya adalah cahaya Syamas, dewa cahaya.
وَمَرَّتْ عَلَى إِمْتَالَى أَيَّامٌ وَهِيَ سَعِيدَةٌ بِإِبْرَاهِيمَ ، مُتَلَهِّفَةٌ عَلَى عَوْدَةِ آزرَ لِيَرَى ابْنَهُ الْحَبِيبَ .
Hari-hari pun berlalu bagi Imtala dalam keadaan bahagia bersama Ibrahim, seraya mendambakan kepulangan Azar agar dapat melihat putra tercintanya.
وَذَاتَ لَيْلَةٍ دَخَلَتِ الْجَارِيَةُ عَلَى سَيِّدَتِهَا فَرِحَةً وَقَالَتْ :
Dan pada suatu malam, pelayan wanita masuk menemui nyonyanya dengan gembira lalu berkata:
— وَصَلَتِ الْقَافِلَةُ الْقَادِمَةُ مِنْ بَابِلَ ، وَعَمَّا قَلِيلٍ سَيَكُونُ سَيِّدِي هُنَا .
— Kafilah yang datang dari Babil telah tiba, dan sesaat lagi tuanku akan berada di sini.
وَنَهَضَتْ إِمْتَالَى تَتَزَيَّنُ وَتَتَأَهَّبُ لِاسْتِقْبَالِ الزَّوْجِ الْغَائِبِ ، فَمَشَّطَتْ شَعْرَهَا وَجَعَلَتْهُ مِنْ أَمَامٍ لِيَتَمَوَّجَ عَلَى كَتِفَيْهَا ، وَارْتَدَتْ قَمِيصًا طَوِيلًا ، وَزَيَّنَتْ مِعْصَمَهَا بِأَسْوِرَةٍ ، ثُمَّ اسْتَبَقَتْ إِلَى الْبَابِ تَرْقُبُ مَجِيءَ زَوْجِهَا .
Maka Imtala bangkit berhias diri dan bersiap-siap untuk menyambut suami yang telah lama pergi, ia menyisir rambutnya dan menatanya dari depan agar berombak di kedua bahunya, mengenakan gaun yang panjang, menghiasi pergelangan tangannya dengan gelang-gelang, lalu bergegas menuju pintu menanti kedatangan suaminya.
وَصَعِدَ آزرُ فِي الدَّرَجِ الدَّاخِلِيِّ وَهُوَ يَنْظُرُ إِلَى أَعْلَى ؛ كَانَ الظَّلَامُ دَامِسًا فَقَدْ كَانَ نُورُ الْمِسْرَجَةِ الَّتِي تُضِيءُ دَاخِلَ الدَّارِ خَافِتًا وَاهِنًا ، وَعَلَى الرَّغْمِ مِنَ الظَّلَامِ فَقَدْ رَأَى زَوْجَتَهُ بِعَيْنِ بَصِيرَتِهِ ، فَرَاحَ يُهَرْوِلُ فِي الدَّرَجِ حَتَّى بَلَغَهَا وَاحْتَوَاهَا بَيْنَ ذِرَاعَيْهِ ، وَدَخَلَا مَعًا لِتَقُصَّ إِمْتَالَى عَلَى زَوْجِهَا كَيْفَ وَضَعَتْ وَلِيدَهَا ، وَكَيْفَ جَاءَهَا هَاتِفٌ فِي الْمَنَامِ يَأْمُرُهَا أَنْ تَدْعُوَهُ إِبْرَاهِيمَ .
Dan Azar menaiki tangga dalam rumah seraya memandang ke atas; keadaan gelap gulita karena cahaya lampu minyak yang menerangi bagian dalam rumah sangat redup dan lemah, namun terlepas dari kegelapan itu ia dapat melihat istrinya dengan mata batinnya, ia pun bergegas menaiki tangga hingga mencapainya dan mendekapnya di antara kedua lengannya, lalu mereka masuk bersama agar Imtala dapat menceritakan kepada suaminya bagaimana ia melahirkan bayinya, dan bagaimana sebuah suara tanpa rupa datang kepadanya dalam mimpi memerintahkannya untuk menamainya Ibrahim.
وَعَادَ آزرُ إِلَى صُنْعِ تَمَاثِيلِ الْآلِهَةِ وَبَيْعِهَا فِي الْأَسْوَاقِ ، وَكَانَ وَحِيدًا ، وَكَانَ يَجِدُ مَشَقَّةً فِي جَمْعِ بَيْنَ صُنْعِ تَمَاثِيلِهِ وَالْخُرُوجِ لِعَرْضِهَا عَلَى النَّاسِ أَمَامَ مَعْبَدِ الْإِلَهِ نَانَا ، فَرَاحَ يَتَعَجَّلُ مُرُورَ الزَّمَنِ لِيَشِبَّ إِبْرَاهِيمُ وَيُعَاوِنَهُ فِي بَيْعِ تَمَاثِيلِ الْآلِهَةِ الَّتِي يَخْلُقُهَا بِيَدَيْهِ .
Dan Azar kembali membuat patung-patung dewa dan menjualnya di pasar-pasar, ia seorang diri dan mendapati kesulitan dalam membagi waktu antara membuat patung-patungnya dengan pergi keluar untuk menawarkannya kepada orang-orang di depan kuil dewa Nana, ia pun sangat mengharapkan waktu berlalu cepat agar Ibrahim tumbuh besar dan membantunya menjual patung-patung dewa yang ia ciptakan dengan kedua tangannya sendiri.
وَجَاءَ لُوجَالُ يَزُورُ صَدِيقَهُ وَيُهَنِّئُهُ بِالْمَوْلُودِ ، فَاجْتَمَعَا فِي غُرْفَةِ الِاسْتِقْبَالِ الْمُقَابِلَةِ لِمَدْخَلِ الدَّارِ ، وَدَارَ الْحَدِيثُ بَيْنَهُمَا فَقَالَ لُوجَالُ وَهُوَ يَدْنُو بِرَأْسِهِ مِنْ آزرَ :
Dan Lujal datang mengunjungi sahabatnya serta mengucapkan selamat atas kelahiran bayinya, mereka berkumpul di ruang tamu yang berhadapan dengan jalan masuk rumah, dan perbincangan pun bergulir di antara keduanya lalu Lujal berkata seraya mendekatkan kepalanya kepada Azar:
— تَذَكَّرْ أَنِّي عَرَضْتُ عَلَيْكَ وَنَحْنُ فِي الطَّرِيقِ أَنْ نُكَوِّنَ شَرِكَةً مَعًا ، وَأَنْ يَكُونَ لِكُلٍّ مِنَّا نَصِيبٌ عَلَى الشُّيُوعِ فِي الْفِضَّةِ وَالتِّجَارَةِ وَالْعَبِيدِ وَالْإِمَاءِ ، وَأَنْ
— Ingatlah bahwasanya aku telah menawarkan kepadamu ketika kita sedang di perjalanan untuk membentuk persekutuan dagang bersama, dan agar masing-masing dari kita memiliki bagian kepemilikan bersama atas perak, perdagangan, budak laki-laki, dan budak perempuan, serta agar
تَتَّسِعَ مُعَامَلَاتُنَا فَتَشْمَلَ الْخَارِجَ وَالدَّاخِلَ .
transaksi-transaksi kita semakin luas hingga mencakup luar dan dalam negeri.
— تَعْلَمُ يَا لُوجَالُ أَنِّي لَا أَمْتَلِكُ مَالًا .
— Kamu tahu, wahai Lujal, bahwasanya aku tidak memiliki modal harta.
— سَيَكُونُ رَأْسُ مَالِ الشَّرِكَةِ مِينَا وَاحِدًا مِنَ الْفِضَّةِ ( ٥٠٥ جَم ) .
— Modal perusahaan ini nantinya adalah satu mina perak (505 gram).
— أَنَا لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَدْفَعَ نِصْفَ هَذَا الْقَدْرِ .
— Aku tidak sanggboep membayar setengah dari jumlah itu.
فَقَالَ لُوجَالُ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يَبْتَسِمُ :
Maka Lujal berkata kepada sahabatnya seraya tersenyum:
— أَنْتَ تَمْلِكُ هَذَا الْبَيْتَ ، أَلَيْسَ كَذَلِكَ ؟
— Kamu memiliki rumah ini, bukankah begitu?
— يُمْكِنُكَ أَنْ تَقْتَرِضَ الْمَبْلَغَ مِنْ مَعْبَدِ الْإِلَهِ نَانَا بِضَمَانِ هَذَا الْبَيْتِ .
— Kamu bisa meminjam sejumlah uang dari kuil dewa Nana dengan jaminan rumah ini.
— وَفَائِدَةُ الْمَبْلَغِ ؟
— Dan bunga dari uang tersebut?
— تُسَدَّدُ مِنَ الْأَرْبَاحِ .
— Dibayarkan dari keuntungan dagang.
— وَمَا الَّذِي يَضْطَرُّنِي إِلَى هَذَا ؟ أَنَا رَجُلٌ قَانِعٌ .. أَنَا سَعِيدٌ بِحَيَاتِي هَذِهِ .
— Dan apa yang memaksaku melakukan ini? Aku adalah orang yang qana'ah (menerima apa adanya)... aku bahagia dengan kehidupanku saat ini.
— أَنْتَ فِي حَاجَةٍ إِلَى مَالٍ كَثِيرٍ يَا آزرُ ..
— Kamu membutuhkan banyak modal harta, wahai Azar...
— مَاذَا أَفْعَلُ بِهِ ؟
— Apa yang akan aku perbuat dengan modal itu?
فَرَمَقَهُ لُوجَالُ بِنَظْرَةٍ خَبِيثَةٍ وَقَالَ :
Maka Lujal meliriknya dengan tatapan licik lalu berkata:
— لِمَاذَا لَمْ تُعَيَّنْ كَاهِنًا فِي مَعْبَدِ إِلَهِ الْقَمَرِ يَا آزرُ ؟
— Mengapa kamu tidak diangkat menjadi pendeta di kuil dewa bulan, wahai Azar?
— لِأَنِّي لَسْتُ مِنْ أَبْنَاءِ الْأُمَرَاءِ ، وَلِأَنَّ الْفَأْلَ لَمْ يُرَشِّحْنِي لِأَنْ أَكُونَ كَاهِنًا .
— Karena aku bukan keturunan para pangeran/bangsawan, dan karena ramalan tanda-tanda alam tidak mencalonkan aku untuk menjadi pendeta.
وَضَحِكَ لُوجَالُ ضِحْكَةً مَحْدُودَةً وَقَالَ :
Dan Lujal tertawa kecil tertahan lalu berkata:
— الْفَأْلُ ؟! أَتُصَدِّقُ هَذَا يَا آزرُ ؟ إِنَّكَ لَمْ تُصْبِحْ كَاهِنًا لِأَنَّكَ لَا تَمْلِكُ الْمَالَ الَّذِي يَرْفَعُكَ إِلَى مَرْتَبَةِ الْكَهَانَةِ .
— Ramalan tanda alam?! Apakah kamu mempercayai hal ini, wahai Azar? Sesungguhnya kamu tidak menjadi pendeta hanyalah karena kamu tidak memiliki harta yang mampu mengangkatmu ke derajat kependetaan.
فَقَالَ آزرُ فِي فَزَعٍ :
Maka Azar berkata dengan ketakutan:
— اسْكُتْ يَا لُوجَالُ .. أَنْتَ كَافِرٌ .. كَافِرٌ .
— Diamlah wahai Lujal... kamu kafir... kafir.
وَلَمْ يُمْسِكْ لُوجَالُ لِسَانَهُ وَاسْتَمَرَّ يَقُولُ :
Namun Lujal tidak menahan lidahnya dan terus berbicara:
— لَوْ أَنَّكَ دَفَعْتَ لِلْأُورِيجَالُّو فِي بَابِلَ مَالًا وَفِيرًا لَكَانَ الْفَأْلُ اخْتَارَكَ ، وَلَكُنْتَ الْيَوْمَ كَاهِنًا أَوْ كَاهِنًا أَكْبَرَ لِلْإِلَهِ نَانَا .
— Seandainya kamu menyerahkan sejumlah uang yang banyak kepada Urijallu di Babil, niscaya ramalan tanda alam akan memilihmu, dan tentulah kamu hari ini sudah menjadi pendeta atau pendeta agung bagi dewa Nana.
فَقَال آزرُ وَهُوَ يَضَعُ سَبَّابَتَيْهِ فِي أُذُنَيْهِ حَتَّى لَا يَسْمَعَ مَا يَقُولُ صَدِيقُهُ فِي حَقِّ الْآلِهَةِ :
Maka Azar berkata seraya meletakkan kedua jari telunjuknya di kedua telinganya agar tidak mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya mengenai para dewa:
— اسْكُتْ يَا كَافِرُ .. لَوْ لَمْ تَكُنْ صَدِيقِي لَوَشَيْتُ بِكَ ..
— Diamlah wahai kafir... Seandainya kamu bukan sahabatku, niscaya aku telah melaporkanmu...
— هَذِهِ هِيَ الْحَقِيقَةُ يَا آزرُ ، وَلَكِنَّكَ لَا تُحِبُّ أَنْ تَرَى الْحَقِيقَةَ . إِنَّهَا تِجَارَةٌ .. بَلْ أَرْوَجُ تِجَارَةٍ فِي بَابِلَ . لَوْ عُرِفَ عَنِّي الصَّلَاحُ الَّذِي عُرِفَ عَنْكَ لَوَضَعْتُ كُلَّ مَا أَمْلِكُ ، بَلْ لَاسْتَدَنْتُ مِنَ الْأَصْدِقَاءِ وَمِنَ الْمَعَابِدِ لِأَضَعَ مَبْلَغًا ضَخْمًا فِي يَدِ الْأُورِيجَالُّو لِيَجْعَلَ الْآلِهَةَ فِي مَجْمَعِهَا تَخْتَارُنِي لِأَكُونَ كَاهِنًا مِنْ كِبَارِ كَهَنَةِ الْهَيَاكِلِ ، لَأَصْبَحْتُ شَخْصِيَّةً هَامَّةً تَتَدَفَّقُ شَوَاقِلُ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ إِلَى خَزَائِنِي ؛ وَلَكِنِّي فَاسِقٌ يَا آزرُ ، وَإِنِّي أَدْفَعُ الْآنَ ثَمَنَ ذَلِكَ الْفُسُوقِ ، وَأَبْحَثُ عَنْ مَوْرِدٍ آخَرَ لِأَكْسِبَ مَالًا يَرْفَعُ قَدْرِي ، وَيَجْعَلُنِي أَهْلًا لِأَنْ أُدْعَى لِحَفَلَاتِ الْمَلِكِ وَاحْتِفَالَاتِ رِجَالِ الدِّينِ .
— Inilah kebenaran itu wahai Azar, akan tetapi kamu tidak suka melihat kebenaran. Sesungguhnya hal ini adalah bisnis... bahkan bisnis yang paling laku di Babil. Seandainya kesalehan yang dikenal ada padamu itu dikenal ada padaku, niscaya aku akan pertaruhkan semua yang aku miliki, bahkan aku akan berutang dari teman-teman dan dari kuil-kuil untuk menyerahkan sejumlah uang yang sangat besar ke tangan Urijallu agar dia membuat para dewa di persemayamannya memilihku menjadi salah satu pendeta besar di kuil-kuil, sehingga aku menjadi tokoh penting yang membuat syikal-syikal emas dan perak mengalir deras ke kas-kas pribadiku; akan tetapi aku ini orang fasik wahai Azar, dan sekarang aku sedang membayar harga kefasikan tersebut, serta mencari sumber penghasilan lain untuk mendapatkan harta yang dapat mengangkat kedudukanku, dan menjadikanku layak untuk diundang ke pesta-pesta raja dan perayaan para tokoh agama.
— لَنْ أُشَارِكَكَ أَبَدًا يَا لُوجَالُ .
— Aku tidak akan pernah mau bersekutu dagang denganmu, wahai Lujal.
— لِأَنَّ تِجَارَتَكَ سَتَبُورُ ، لَنْ تُبَارِكَهَا الْآلِهَةُ .
— Karena perdaganganmu pasti akan merugi, para dewa tidak akan memberkatinya.
— أَنْتَ وَاهِمٌ يَا آزرُ ، الْآلِهَةُ لَا تُبَارِكُ إِلَّا تِجَارَةَ الْفَاسِقِينَ لِأَنَّ الدُّنْيَا لَهُمْ ، تَلَفَّتْ يَا عَزِيزِي فِي أُورَ وَقُلْ لِي : مَنْ مِنَ الصَّالِحِينَ يَمْلِكُ مَالًا ؟
— Kamu keliru wahai Azar, para dewa tidak memberkati kecuali perdagangan orang-orang fasik karena dunia ini adalah milik mereka, menolehlah wahai sahabatku di Ur dan katakan kepadaku: siapa di antara orang-orang saleh yang memiliki kekayaan harta?
فَقَالَ آزرُ فِي حَمَاسٍ :
Maka Azar berkata dengan penuh semangat:
— الْمَلِكُ وَرِجَالُ الدِّينِ .
— Raja dan para tokoh agama.
فَجَزَّ لُوجَالُ عَلَى نَوَاجِذِهِ وَقَال :
Maka Lujal mengertakkan gigi gerahamnya lalu berkata:
— يَضِيقُ صَدْرِي وَلَا يَنْطَلِقُ لِسَانِي ، لَوْ قُلْتُ رَأْيِي فِيهِمْ فَلَنْ تَقُومَ لِشَرِكَتِنَا الَّتِي أَرْجُوهَا قَائِمَةٌ أَبَدًا .
— Dadaku terasa sesak dan lidahku kelu, seandainya aku mengutarakan pendapatku tentang mereka, niscaya persekutuan dagang kita yang aku harapkan tidak akan pernah bisa tegak berdiri selama-lamanya.
— وَلِمَاذَا تُصِرُّ عَلَى أَنْ تَكُونَ بَيْنَنَا شَرِكَةٌ ؟
— Dan mengapa kamu bersikeras agar ada persekutuan dagang di antara kita?
— تَعَوَّدْتُ أَنْ أُصَارِحَكَ يَا آزرُ ، أَنَا لَا أَمْلِكُ بَيْتًا وَلَا أَرْضًا وَلَا شَيْئًا يُمْكِنُ أَنْ يَضْمَنَ الدَّيْنَ الَّذِي أَقْتَرِضُهُ ؛ وَلَكِنِّي أَمْلِكُ الْمَوْهِبَةَ وَالتَّجَارِبَ وَالْمَهَارَةَ، مَالُكَ مَعَ مَوْهِبَتِي .. هَذِهِ هِيَ الشَّرِكَةُ .
— Aku terbiasa untuk jujur berterus terang kepadamu wahai Azar, aku tidak memiliki rumah, tidak memiliki tanah, dan tidak memiliki apa pun yang dapat menjamin utang yang akan aku pinjam; akan tetapi aku memiliki bakat, pengalaman, dan keahlian. Hartamu berpadu dengan bakatku... inilah bentuk persekutuan dagang itu.
— أَلَمْ تَقُلْ لِي إِنَّ رَأْسَ مَالِ الشَّرِكَةِ مِينَا مِنَ الْفِضَّةِ ؟
— Bukankah kamu telah mengatakan kepadaku bahwa modal perusahaan adalah satu mina perak?
— سَتَدْفَعُ أَنْتَ نِصْفَ مِينَا وَتُقَدَّرُ جُهْدِي بِنِصْفِ مِينَا .
— Kamu yang membayar setengah mina, dan kerja keras jagaku dihargai senilai setengah mina.
— لَا بُدَّ مِنْ وُجُودِ صَكٍّ مَكْتُوبٍ يُعَيِّنُ الْوَاجِبَاتِ الْمَفْرُوضَةَ عَلَيْكَ يَا لُوجَالُ .
— Harus ada dokumen tertulis yang menetapkan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadamu, wahai Lujal.
— هَاتِ لَوْحًا نَكْتُبْ فِيهِ الشُّرُوطَ .
— Ambilkan sabak (lohk) tanah liat agar kita bisa menuliskan syarat-syaratnya di sana.
وَأَحْضَرَ آزرُ لَوْحًا مِنْ طِينٍ لَمْ يَجِفَّ بَعْدُ ، وَأَحْضَرَ قَلَمًا سِنُّهُ مُثَلَّثُ الشَّكْلِ ، وَقَدَّمَهُمَا إِلَى لُوجَالُ ، فَشَرَدَ لُوجَالُ قَلِيلًا ثُمَّ بَدَأَ يَكْتُبُ وَهُوَ يُرَدِّدُ مَا يَكْتُبُهُ :
Dan Azar membawakan sabak dari tanah liat yang belum mengering, serta membawakan pena yang ujungnya berbentuk segitiga (baji), lalu menyerahkan keduanya kepada Lujal. Lujal termenung sejenak kemudian mulai menulis seraya melafalkan apa yang ia tulis:
— رَأْسُ مَالِ الشَّرِكَةِ مِينَا مِنَ الْفِضَّةِ ، يُقَدِّمُ آزرُ نِصْفَ مِينَا ، وَيُقَدَّرُ جُهْدُ لُوجَالُ بِنِصْفِ مِينَا ، وَعَلَى لُوجَالُ عِنْدَ عَوْدَتِهِ مِنْ رِحْلَتِهِ أَنْ يُقَدِّمَ لِآزَرَ مَا دَفَعَهُ فِي رَأْسِ الْمَالِ مُقَابِلَ إِيصَالٍ بِذَلِكَ ، وَأَنْ يُقَدِّمَ لَهُ كَذَلِكَ نِصْفَ الْأَرْبَاحِ ، وَأَنْ يَحْتَجِزَ لِنَفْسِهِ النِّصْفَ الْآخَرَ ، وَيَتَحَمَّلُ آزرُ مَصَارِيفَ الرِّحْلَةِ .
— Modal persekutuan dagang ini adalah satu mina perak, Azar menyerahkan setengah mina, dan kerja keras Lujal dihargai senilai setengah mina, dan wajib bagi Lujal sekembalinya dari perjalanannya untuk menyerahkan kembali kepada Azar apa yang telah ia bayarkan sebagai modal dengan disertai kuitansi tanda terima atas hal tersebut, serta wajib baginya untuk menyerahkan pula kepadanya setengah dari keuntungan dagang, dan menahan setengah bagian lainnya untuk dirinya sendiri, sedangkan Azar menanggung biaya perjalanan.
فَقَاطَعَهُ آزرُ :
Maka Azar menyela perkataannya:
— نَتَحَمَّلُ مَصَارِيفَ الرِّحْلَةِ مُنَاصَفَةً .
— Kita menanggung biaya perjalanan dibagi dua sama rata.
— وَلَوْ أَنَّ هَذَا يُخَالِفُ الْعُرْفَ التِّجَارِيَّ فِي بَابِلَ ، فَإِنِّي أَقْبَلُ ذَلِكَ لِأَنَّكَ صَدِيقِي ...
— Walaupun hal ini menyelisihi adat kebiasaan dagang di Babil, sesungguhnya aku menerima hal itu karena kamu adalah sahabatku...
— وَإِنْ قُمْتَ بِصَفَقَاتٍ غَيْرِ مُرْبِحَةٍ ؟
— Dan bagaimana jika kamu melakukan transaksi-transaksi yang tidak mendatangkan keuntungan?
— تَتَحَمَّلُ وَحْدَكَ الْخَسَارَةَ .
— Kamu sendiri yang menanggung kerugiannya.
— حَتَّى وَلَوْ كَانَ ذَلِكَ بِسَبَبِ إِهْمَالِكَ أَوْ سُوءِ تَصَرُّفِكَ ؟
— Bahkan sekalipun hal itu disebabkan oleh kelalaianmu atau buruknya tindakanmu?
— إِنْ جَاءَتِ الْخَسَارَةُ نَتِيجَةَ إِهْمَالِي أَوْ سُوءِ تَصَرُّفِي كَانَ عَلَيَّ أَنْ أُعِيدَ إِلَيْكَ مَا دَفَعْتَهُ مُضَاعَفًا . هَذَا هُوَ الْعُرْفُ التِّجَارِيُّ ، أَمَّا إِذَا ضَاعَ الْمَالُ بِسَبَبِ سُوءِ الْأَمْنِ فِي الطُّرُقِ أَوْ لِأَسْبَابٍ قَهْرِيَّةٍ أُخْرَى فَإِنِّي لَا أَدْفَعُ شَيْئًا .
— Jika kerugian itu datang sebagai akibat dari kelalaianku atau buruknya tindakanku, maka wajib bagiku untuk mengembalikan apa yang telah kamu bayarkan dalam jumlah dua kali lipat. Inilah aturan adat kebiasaan dagang; adapun jika harta itu hilang disebabkan buruknya keamanan di jalanan atau karena faktor-faktor keadaan memaksa (force majeure) lainnya, maka sesungguhnya aku tidak membayar apa pun.
— وَمَا أَدْرَانِي أَنَّ الْمَالَ قَدْ فُقِدَ بِأَسْبَابٍ قَهْرِيَّةٍ ؟
— Dan apa yang membuatku tahu bahwa harta tersebut benar-benar hilang karena keadaan memaksa?
— سَأُقْسِمُ بِذَلِكَ أَمَامَ الْآلِهَةِ .
— Aku akan bersumpah tentang hal itu di hadapan para dewa.
فَابْتَسَمَ آزرُ ابْتِسَامَةً هَازِئَةً وَقَال :
Maka Azar tersenyum dengan senyuman menyindir lalu berkata:
— لَكَأَنَّكَ مُؤْمِنٌ بِهَا . مَا أَيْسَرَ الْقَسَمَ الْكَاذِبَ عَلَى مَنْ كَانَ كَافِرًا مِثْلَكَ .
— Seolah-olah kamu mempercayainya saja. Alangkah mudahnya sumpah palsu bagi orang yang kafir sepertimu.
— أَلَا تَثِقُ بِي يَا آزرُ ؟
— Apakah kamu tidak percaya kepadaku wahai Azar?
— إِنِّي أَثِقُ بِكَ يَا لُوجَالُ ، وَإِنْ كَانَ غَرِيبًا أَنْ يَثِقَ مُؤْمِنٌ بِكَافِرٍ . أَفْضَلُ أَنْ تَكُونَ الشَّرِكَةُ بَيْنَنَا بِالتَّضَامُنِ ، أَنْتَ تَدْفَعُ نِصْفَ رَأْسِ الْمَالِ وَأَنَا أَدْفَعُ النِّصْفَ الْآخَرَ .
— Sesungguhnya aku percaya kepadamu wahai Lujal, walaupun aneh rasanya jika seorang yang beriman mempercayai orang yang kafir. Aku lebih memilih agar persekutuan dagang di antara kita ini berasaskan kemitraan setara (solidaritas), kamu membayar setengah modal usaha dan aku membayar setengah bagian lainnya.
— وَمِنْ أَيْنِ لِي نِصْفُ مِينَا مِنَ الْفِضَّةِ ؟
— Dan dari mana aku bisa mendapatkan setengah mina perak?
— تَسْتَطِيعُ أَنْ تَقْتَرِضَهُ يَا لُوجَالُ .
— Kamu bisa meminjamnya, wahai Lujal.
— وَمَصَارِيفُ الرِّحْلَةِ ؟
— Dan biaya perjalanan bagaimana?
— مِنَ الْعَدْلِ أَنْ أَتَحَمَّلَهَا وَحْدِي وَنَقْتَسِمَ الْأَرْبَاحَ وَالْخَسَائِرَ بِالتَّسَاوِي ، وَإِذَا صُفِّيَتِ الشَّرِكَةُ فَإِنَّهَا تُصَفَّى تَصْفِيَةً عَامَّةً مِنْ قَشِّ التِّبْنِ إِلَى الذَّهَبِ .
— Bagian dari keadilan adalah aku menanggungnya sendiri sedangkan kita membagi keuntungan dan kerugian secara sama rata, dan apabila persekutuan dagang ini dilikuidasi (dibubarkan), maka ia akan diaudit secara menyeluruh dari perkara sekecil jerami hingga emas.
فَقَالَ لُوجَالُ فِي حَمَاسٍ :
Maka Lujal berkata dengan penuh semangat:
— اتَّفَقْنَا .
— Kita sepakat.
— وَإِنْ رَأَيْتُ أَنْ أُرْسِلَ عَبْدًا مِنْ عَبِيدِي مَعَكَ ؟
— Dan bagaimana jika aku memutuskan untuk mengirim seorang budakku bersamamu?
— تَتَكَفَّلُ بِطَعَامِهِ وَشَرَابِهِ وَمَلْبَسِهِ .
— Kamu yang menanggung makanan, minuman, dan pakaiannya.
— وَلَكِنَّهُ لَيْسَ فِي خِدْمَتِي ، إِنَّهُ فِي خِدْمَةِ الشَّرِكَةِ ، فَعَلَى الشَّرِكَةِ أَنْ تَتَكَفَّلَ بِطَعَامِهِ وَمَلْبَسِهِ .
— Akan tetapi dia bukan bekerja untuk melayaniku, dia bekerja untuk melayani persekutuan dagang ini, maka pihak perusahaanlah yang wajib menanggung makanan dan pakaiannya.
فَضَحِكَ لُوجَالُ وَقَال :
Maka Lujal tertawa lalu berkata:
— دَمُ التِّجَارَةِ يَجْرِي فِي عُرُوقِكَ يَا آزرُ وَإِنْ كُنْتَ صَانِعَ تَمَاثِيلِ الْآلِهَةِ .
— Darah bisnis mengalir di dalam urat nadimu wahai Azar, meskipun kamu adalah seorang pembuat patung dewa.
— الدَّمُ الَّذِي يَجْرِي فِي عُرُوقِي دَمُ مَرْدُوخَ الْعَظِيمِ ، مُنْذُ أَنْ خَلَطَ دَمَهُ بِالطِّينِ وَخَلَقَنَا وَدِمَاؤُهُ تَجْرِي فِي عُرُوقِنَا ، إِنِّي أَعْجَبُ يَا لُوجَالُ كَيْفَ أَنَّ دَمَ الْإِلَهِ يَجْرِي فِيكَ وَتَرْتَكِبُ كُلَّ هَذِهِ الْمَعَاصِي وَالْآثَامِ .
— Darah yang mengalir di urat nadiku adalah darah Marduk yang agung, sejak ia mencampur darahnya dengan tanah clay lalu menciptakan kita, maka darahnya selalu mengalir di urat nadi kita. Sesungguhnya aku heran wahai Lujal, bagaimana bisa darah tuhan mengalir di dalam dirimu namun kamu justru melakukan semua maksiat dan dosa-dosa ini.
فَقَالَ لُوجَالُ سَاخِرًا :
Maka Lujal berkata mengejek:
— إِنِّي لَا أَرْتَكِبُ الْمَعَاصِي بِدَمِي ، بَلْ أَرْتَكِبُهَا بِنَصِيبِ الطِّينِ الَّذِي فِيَّ .
— Sesungguhnya aku tidak melakukan kemaksiatan dengan darahku, melainkan aku melakukannya dengan bagian unsur tanah clay yang ada dalam diriku.
وَشَرَدَ آزرُ بُرْهَةً ، وَظَلَّ لُوجَالُ يَرْمُقُهُ وَيَحْتَرِمُ صَمْتَهُ ، حَتَّى بَانَ فِي وَجْهِ آزرَ الِانْفِعَالُ وَقَالَ :
Dan Azar terdiam merenung sesaat, dan Lujal terus memandanginya seraya menghormati keheningannya, hingga tampak raut emosional di wajah Azar lalu ia berkata:
— طَافَتْ بِرَأْسِي أُمْنِيَّةٌ .
— Terlintas di kepalaku sebuah impian/harapan.
— أَنْ تَسْتَمِرَّ الشَّرِكَةُ بَيْنَنَا وَتَزْدَهِرَ حَتَّى يَشِبَّ إِبْرَاهِيمُ وَيَذْهَبَ مَعَكَ إِلَى بِلَادِ الْمَعَادِنِ وَأَخْشَابِ الْأَرْزِ وَالْأَحْجَارِ الْكَرِيمَةِ . لَمْ أَرَ مِنْ بِلَادِ الدُّنْيَا غَيْرَ أُورَ وَبَابِلَ وَمَا بَيْنَهُمَا ؛ وَلَكِنِّي أَرْجُو أَنْ يَرَى ابْنِي الْعَالَمَ ، أَنْ يَذْهَبَ جَنُوبًا وَشَمَالًا وَشَرْقًا وَغَرْبًا .
— Agar kemitraan dagang di antara kita ini terus berlanjut dan berkembang pesat hingga Ibrahim tumbuh besar lalu pergi bersamamu menuju negeri-negeri penghasil logam, kayu aras (cedar), dan batu-batu mulia. Aku tidak pernah melihat negeri-negeri di dunia ini selain Ur, Babil, dan wilayah di antara keduanya; akan tetapi aku berharap agar putraku bisa melihat dunia, pergi ke selatan, utara, timur, dan barat.
— وَمَا الَّذِي يَرْبِطُكَ بِالْأَرْضِ يَا آزرُ ؟ تَعَالَ مَعِي مَا دُمْتَ تَتَوْقُ إِلَى زِيَارَةِ الدُّنْيَا .
— Dan apa yang mengikatmu dengan tanah air ini wahai Azar? Pergilah bersamaku selagi kamu rindu untuk menjelajahi dunia.
— لَا أُطِيقُ الْبُعْدَ عَنْ أَرْضِ الْآلِهَةِ أَبَدًا . لَوْ انْقَضَى يَوْمٌ دُونَ أَنْ أُصَلِّيَ فِي الْمَعْبَدِ فَإِنِّي لَا أَحْسِبُهُ مِنْ عُمْرِي .
— Aku tidak akan sanggup menjauh dari tanah para dewa sama sekali. Seandainya berlalu satu hari saja tanpa aku beribadah di dalam kuil, maka sesungguhnya aku tidak menghitung hari itu sebagai bagian dari usiaku.
— هَيَّا نُحَرِّرِ الْعَقْدَ وَنُوَقِّعْهُ ، وَنَبْتَهِلْ إِلَى الْآلِهَةِ أَنْ تَمُدَّ فِي عُمْرِهِ حَتَّى يَرِثَهُ إِبْرَاهِيمُ وَإِخْوَتُهُ ، وَابْنِي نُورُ شَمَاشُ وَإِخْوَتُهُ .
— Ayo kita susun akad persekutuan ini dan menandatanganinya, serta mari bersimpuh doa kepada para dewa agar memanjangkan umur bisnis ini hingga dapat diwarisi oleh Ibrahim dan saudara-saudaranya, serta anakku Nur-Syamas beserta saudara-saudaranya.
وَرَمَقَهُ آزرُ فِي دَهَشٍ وَقَالَ :
Dan Azar meliriknya dengan penuh keheranan lalu berkata:
— أَنْتَ مُحَيِّرٌ يَا لُوجَالُ ، تَسْخَرُ مِنَ الْآلِهَةِ وَتُسَمِّي ابْنَكَ نُورَ شَمَاشُ ، ثُمَّ لَا تَفْتَأُ تَذْكُرُ الِابْتِهَالَ إِلَى الْآلِهَةِ .
— Kamu ini membingungkan wahai Lujal, kamu mengejek para dewa namun menamai anakmu Nur-Syamas, kemudian kamu tidak henti-hentinya menyebut tentang bersimpuh doa kepada para dewa.
— أَنَا مُؤْمِنٌ يَا آزرُ ، وَإِنْ كَانَ إِيمَانِي يَخْتَلِفُ عَنْ إِيمَانِ الْكَثِيرِينَ ، أَنَا مُؤْمِنٌ مُتَحَرِّرٌ .
— Aku ini orang yang beriman wahai Azar, meskipun keimananku berbeda dari keimanan kebanyakan orang, aku adalah seorang yang beriman yang liberal (bebas/berpikir merdeka).
— مَا دُمْتَ مُؤْمِنًا يَا صَدِيقِي فَهَيَّا إِلَى الْمَعْبَدِ نُقْسِمْ بِمَرْدُوخَ وَشَمَاشُ وَنَانَا أَنَّنَا سَنُخْلِصُ لِهَذِهِ الشَّرِكَةِ وَنُوَقِّعِ الْعَقْدَ أَمَامَ السَّبْعَةَ عَشَرَ شَاهِدًا مِنَ الْكَهَنَةِ الْأَطْهَارِ .
— Selagi kamu adalah orang yang beriman wahai sahabatku, maka ayo kita pergi ke kuil untuk bersumpah demi Marduk, Syamas, dan Nana bahwasanya kita akan tulus setia pada persekutuan dagang ini, serta menandatangani akad kontrak di hadapan tujuh belas orang saksi dari kalangan para pendeta yang suci.
— هَيَّا يَا آزرُ ، وَإِنْ كُنْتُ لَا أَثِقُ أَنَّ الْكَهَنَةَ الشُّهُودَ مِنَ الْأَطْهَارِ .
— Ayo berangkat wahai Azar, meskipun aku sebetulnya tidak percaya kalau para pendeta yang menjadi saksi itu termasuk orang-orang yang suci.
وَرَمَقَهُ آزرُ فِي عِتَابٍ ، ثُمَّ انْطَلَقَا إِلَى مَعْبَدِ نَانَا لِيُؤَسِّسَا شَرِكَةً لِلتِّجَارَةِ فِي الشَّعِيرِ وَالْعَبِيدِ وَالْإِمَاءِ ، تَعْمَلُ فِي دَاخِلِ الْبِلَادِ وَخَارِجِهَا .
Dan Azar meliriknya dengan tatapan mencela, kemudian keduanya berangkat menuju kuil dewa Nana untuk mendirikan sebuah persekutuan dagang dalam bisnis komoditas jelai (barley), budak laki-laki, dan budak perempuan, yang beroperasi di dalam negeri maupun di luar negeri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar