BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

Serial Abul Anbiyaa #03 | Ritual Agung Esagila : Di Balik Pahatan Tujuh Jari Berhala Azar

Thumbnail BABA Blog

بِسْمِ اللهِ الرَّحمْنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُم ْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Abi Ahmad Thoufur

Disajikan oleh : Abi Ahmad Thoufur

(Ustadz Betawi Nyablak Asli Cengkareng)

🏛️ COCOLAN SAMBEL BABA 🏛️

✍️ Muqoddimah ala Ustadz Betawi Nyablak

Gimane kabarnye nih, Cing, Nyak, Babe? Masih pada semangat ngikutin kisah perjalanan Azar? Biar hari-hari makin berkah, yuk kite selami lagi hikmah di balik sejarah yang penuh pelajaran ini.

Kisah kali ini membawa kite ke jantung kemegahan Babil, tempat di mana ritual agung Esagila menjadi pusat segale-gale. Di tengah hiruk-pikuk pesta tahun baru dan megahnye Menara Babil, Azar justru terjebak dalam pergulatan antara keyakinan, perdagangan, dan pencarian jati diri. Mari kite selami bagaimane Azar, sebagai pemahat yang dianugerahi keahlian, bersinggungan dengan keyakinan kaumnye di tanah Babil yang sarat misteri.

📖 مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَالَّذِينَ مَعَهُ

Karya : Abdul Hamid Judah As-Sahhar

✦ ✧ ✦

أَبُو الْأَنْبِيَاءِ

Bapak Para Nabi ﴿

✧ ✦ ✧

Judul Episode: Ritual Agung Esagila : Di Balik Pahatan Tujuh Jari Berhala Azar

Yuk, baca naskah aslinye. Nyang baca harus fokus, nyang ngebatin harus khusyuk!
ABUL ANBIYA
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Ritual Agung Esagila: Di Balik Pahatan Tujuh Jari Berhala Azar

Ketika kecemasan hati seorang pemahat berhala berpacu dengan kemegahan pesta tahun baru Babilonia.

— بَابِلُ .. بَابُ اللهِ .. الْإِيسَاجِيلُ .. مَعْبَدُ مَرْدُوخَ . وَارْتَفَعَتِ الْأَصْوَاتُ بِالِابْتِهَالِ إِلَى مَرْدُوخَ رَبِّ الْأَرْبَابِ فَقَدْ وَصَلَتِ الْقَافِلَةُ إِلَى أَرْضِ بَابِلَ ، وَلَاحَتْ لِلْعُيُونِ الْأَبْرَاجُ الضَّخْمَةُ الرَّابِضَةُ فَوْقَ أَسْوَارِهَا ، وَبُرْجُ بَابِلَ الْمُتَسَامَى فِي كِبْرِيَاءَ يُعْلِنُ لِلْمَلَإِ أَنَّهُ مَزَارُ مَرْدُوخَ الْعَظِيمِ كَبِيرِ آلِهَةِ الْبِلَادِ .
— Babil.. pintu Allah.. Esagila.. kuil Marduk. Suara-suara membubung tinggi dalam permohonan kepada Marduk, Tuhan segala tuhan, karena kafilah telah sampai di tanah Babil, dan menara-menara raksasa yang tegak di atas dinding-dindingnya tampak di mata, serta menara Babil yang menjulang dengan keangkuhan mengumumkan kepada khalayak bahwa itu adalah tempat ziarah Marduk yang agung, tuhan besar negeri itu.
وَتَقَدَّمَ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ وَالْعَبِيدُ وَالْإِمَاءُ عَلَى ضِفَّةِ النَّهْرِ فِي خُشُوعٍ وَقُلُوبُهُمْ عَامِرَةٌ بِالْيَقِينِ ، حَتَّى لُوجَالُ طَافَتْ بِهِ مَوْجَةٌ مِنْ إِيمَانٍ هَزَّتْهُ وَجَعَلَتْهُ يُشْخِصُ بِبَصَرِهِ إِلَى الْبُرْجِ الَّذِي يَعْرُجُ إِلَى السَّمَاءِ وَهُوَ خَافِقُ الْقَلْبِ يَسْتَشْعِرُ رَهْبَةً مِنَ الْمَجْهُولِ ، مِنَ الْغَيْبِ الَّذِي يَخْفَى فِي جَوْفِهِ أَقْدَارَ النَّاسِ .
Laki-laki, perempuan, budak pria, dan budak wanita maju ke tepi sungai dengan khusyuk dan hati mereka dipenuhi dengan keyakinan, bahkan Lujal diliputi oleh gelombang keimanan yang mengguncangnya dan membuatnya menatap menara yang menjulang ke langit, sementara hatinya berdegup kencang merasakan ketakutan akan hal yang tidak diketahui, akan ghaib yang menyembunyikan takdir manusia di dalam perutnya.
وَالْتَفَتَ آزرُ إِلَى لُوجَالَ وَقَالَ :
Azar menoleh ke arah Lujal dan berkata:
— أُرِيدُ أَنْ أَشْتَرِيَ أُضْحِيَّةً قَبْلَ أَنْ نَذْهَبَ إِلَى الْإِيسَاجِيلِ .
— Aku ingin membeli kurban sebelum kita pergi ke Esagila.
— إِنِّي شَحَنْتُ أُضْحِيَّتِي مِنْ أُورَ فِي قَارِبٍ ، وَقَدْ فَعَلَ كَثِيرُونَ مِثْلَ مَا فَعَلْتُ .
— Sesungguhnya aku telah mengirim kurbanku dari Ur dengan perahu, dan banyak orang melakukan seperti yang aku lakukan.
— سَتَتَكَلَّفُ فِي نَقْلِهَا مِثْلَ ثَمَنِهَا .
— Biaya pengangkutannya akan sama dengan harganya.
— اتَّفَقْنَا عَلَى أَنْ نَدْفَعَ ثَلَاثَةَ شَوَاقِلَ مِنْ فِضَّةٍ ، لِقَاءِ نَقْلِ ثَلَاثَةِ ثِيرَانٍ وَسِتِّينَ رَأْسًا مِنَ الْغَنَمِ .
— Kami sepakat untuk membayar tiga syikal perak, untuk mengangkut tiga ekor lembu dan enam puluh ekor domba.
— ثَلَاثَةُ شَوَاقِلَ لِرِحْلَةٍ وَاحِدَةٍ ؟!
— Tiga syikal untuk satu perjalanan?!
— اسْتَأْجَرْنَا قَارِبًا كَبِيرًا حُمُولَتُهُ ٦٠ جُورًا .
— Kami menyewa perahu besar dengan kapasitas 60 gur.
— مِثْلُ هَذَا الْقَارِبِ لَا يَزِيدُ ثَمَنُهُ عَلَى عِشْرِينَ شَاكِلًا مِنْ فِضَّةٍ .
— Perahu seperti itu harganya tidak lebih dari dua puluh syikal perak.
— لَا تَنْسَ أَنَّنَا فِي الْمَوْسِمِ يَا آزرُ ، سِعْرُ النَّقْلِ كَسِعْرِ الشَّعِيرِ غَيْرُ ثَابِتٍ عَلَى مَدَارِ السَّنَةِ . قَدْ يَصِلُ ثَمَنُ الشَّعِيرِ فِي مَوْسِمِ الْحَصَادِ إِلَى شَاكِلٍ وَثُلُثَيْ شَاكِلٍ لِلْجُورِ ، أَمَّا فِي نِهَايَةِ الْمَوْسِمِ فَيَرْتَفِعُ ثَمَنُهُ إِلَى أَكْثَرَ مِنْ ثَلَاثَةِ شَوَاقِلَ ؛ وَكَذَلِكَ النَّقْلُ يَرْتَفِعُ سِعْرُهُ فِي الْمَوَاسِمِ ، وَعِيدُ رَأْسِ السَّنَةِ أَهَمُّ مَوْسِمٍ لِلنَّقْلِ ، فَمَا أَكْثَرَ الْوَافِدِينَ إِلَى بَابِلَ فِي هَذَا الْعِيدِ .
— Jangan lupa bahwa kita sedang dalam musim, wahai Azar, harga pengangkutan seperti harga jelai tidak tetap sepanjang tahun. Harga jelai pada musim panen bisa mencapai satu syikal dan dua pertiga syikal per gur, sedangkan di akhir musim harganya naik menjadi lebih dari tiga syikal; begitu juga pengangkutan harganya naik pada musim-musim tertentu, dan hari raya Tahun Baru adalah musim terpenting untuk pengangkutan, betapa banyaknya orang yang datang ke Babil pada hari raya ini.
وَقَالَ آزرُ وَهُوَ يَسْتَخْرِجُ مِنْ جَيْبِهِ سَبِيكَةً مِنَ الذَّهَبِ :
Azar berkata seraya mengeluarkan sebongkah emas dari sakunya:
— أُرِيدُ أَنْ أَسْتَبْدِلَ هَذِهِ بِفِضَّةٍ .
— Aku ingin menukar ini dengan perak.
— شَاكِلُ الذَّهَبِ الْيَوْمَ بِعَشَرَةِ شَوَاقِلَ مِنَ الْفِضَّةِ .
— Satu syikal emas hari ini setara dengan sepuluh syikal perak.
فَقَالَ آزرُ فِي اسْتِيَاءٍ :
Azar berkata dengan kesal:
— كَانَ شَاكِلُ الذَّهَبِ فِي أُورَ بِأَحَدَ عَشَرَ شَاكِلًا مِنَ الْفِضَّةِ ؛ فَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهُ هُنَا بِعَشَرَةٍ ؟
— Satu syikal emas di Ur setara dengan sebelas syikal perak; bagaimana kamu tahu bahwa di sini setara dengan sepuluh?
فَقَالَ لُوجَالُ وَهُوَ يَبْتَسِمُ فِي خُبْثٍ :
Lujal berkata sambil tersenyum licik:
— إِنَّنَا فِي الْمَوْسِمِ يَا عَزِيزِي آزرُ ، وَمَا قِيمَةُ شَاكِلٍ مِنَ الْفِضَّةِ فِي سَبِيلِ الْإِلَهِ الْعَظِيمِ . سَبَائِكُ الذَّهَبِ الَّتِي تَمْلِكُهَا كُلُّهَا مِنْ فَضْلِهِ وَمِنْ فَضْلِ تَمَاثِيلِهِ الَّتِي تَصْنَعُهَا .
— Kita sedang dalam musim, wahai Azar sayang, apa gunanya satu syikal perak demi tuhan yang agung. Bongkahan emas yang kamu miliki semuanya adalah berkat-Nya dan berkat patung-patung yang kamu buat.
— حَقًّا لَقَدْ بَارَكَتِ الْآلِهَةُ فِي أَصَابِعِي وَشَرَّفَتْنِي بِأَنْ أَصْنَعَ تِمْثَالَ رَبِّ الْأَرْبَابِ فِي عِيدِهِ الْكَبِيرِ .
— Sungguh, para tuhan telah memberkati jari-jariku dan memuliakanku dengan membuat patung Tuhan segala tuhan pada hari raya-Nya yang besar.
— إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى الْمَرْفَإِ لِتَسَلُّمِ أُضْحِيَّتِي وَبَضَائِعِي .
— Aku akan pergi ke dermaga untuk mengambil kurban dan barang daganganku.
— بَضَائِعُكَ ؟
— Barang daganganmu?
— شَحَنْتُ بَعْضَ الشَّعِيرِ .. الشَّعِيرُ فِي سَائِرِ الْأَيَّامِ كَالْفِضَّةِ فِي الْأَسْوَاقِ ، أَمَّا فِي الْعِيدِ فَهُوَ أَفْضَلُ مِنَ الْفِضَّةِ ، سَأَبِيعُهُ وَأَشْتَرِيَ شَوَاقِلَ الْفِضَّةِ جَارِيَةً .
— Aku mengirim jelai.. Jelai di hari-hari biasa seperti perak di pasar, adapun saat hari raya ia lebih baik dari perak, aku akan menjualnya dan membeli syikal perak yang sedang berlaku.
وَصَمَتَ لُوجَالُ قَلِيلًا ثُمَّ قَالَ :
Lujal terdiam sejenak kemudian berkata:
— مَا أَجْمَلَ الْجَوَارِيَ اللَّائِي يُعْرَضْنَ فِي سُوقِ بَابِلَ فِي إِدْبَارِ الْعِيدِ الْكَبِيرِ !
— Betapa cantiknya budak-budak perempuan yang ditampilkan di pasar Babil saat berakhirnya hari raya besar!
وَهُمْ بِأَنْ يَذْهَبَ إِلَى حَيْثُ تَرْسُو الْقَوَارِبُ بِالْمَرْفَإِ لِيَتَسَلَّمَ أُضْحِيَّتَهُ وَشَعِيرَهُ ، بَيْدَ أَنَّهُ الْتَفَتَ إِلَى آزرُ وَقَالَ :
Dan dia hendak pergi ke tempat perahu-perahu bersandar di dermaga untuk mengambil kurban dan jelai miliknya, namun dia menoleh kepada Azar dan berkata:
— أَيْنَ أَلْقَاكَ ؟
— Di mana aku bisa menemuimu?
— سَأَذْهَبُ بَعْدَ أَنْ أُقَدِّمَ قُرْبَانِي إِلَى إِلَهِ « أُورِيجَالُّو » .
— Aku akan pergi setelah mempersembahkan kurbanku kepada dewa "Urigallu".
— آسِفٌ ، نَسِيتُ أَّنَّكَ سَتَكُونُ فِي ضِيَافَةِ إِلَهِ « أُورِيجَالُّو » ، هَنِيئًا لَكَ ، فَضُيُوفُ كَبِيرِ الْكَهَنَةِ يَنْزِلُونَ الْمَعْبَدَ عَلَى الرَّحْبِ وَالسَّعَةِ .
— Maaf, aku lupa bahwa kamu akan berada dalam jamuan dewa "Urigallu", selamat untukmu, tamu-tamu sang imam besar turun ke kuil dengan penuh keterbukaan dan keluasan.
فَقَالَ آزرُ فِي كِبْرِيَاءٍ :
Azar berkata dengan bangga:
— مَا دُمْتُ فِي بَابِلَ فَأَنَا فِي ضِيَافَةِ رَبِّ الْأَرْبَابِ .
— Selama aku di Babil, maka aku berada dalam jamuan Tuhan segala tuhan.
وَانْطَلَقَ لُوجَالُ وَبَعْضٌ مَنْ كَانُوا فِي الْقَافِلَةِ إِلَى الْمَرْفَإِ لِتَسَلُّمِ الْأَنْعَامِ الَّتِي حَمَلُوهَا فِي السَّفِينَةِ ، وَتَقَدَّمَ آخَرُونَ لِيَدْخُلُوا الْمَدِينَةَ الْمُقَدَّسَةَ مَدِينَةَ الْإِلَهِ مَرْدُوخَ الْعَظِيمِ ، وَرَاحَ أَحَدُ رِجَالِ الدِّينِ يَرْتَلُ قَصِيدَةَ الْخَلِيقَةِ وَيَرْوِي كَيْفَ انْتَصَرَ مَرْدُوخُ عَلَى تِيَامَاتَ إِلَهَةِ الْفَضَاءِ :
Lujal dan beberapa orang yang berada dalam kafilah berangkat ke dermaga untuk mengambil ternak yang mereka bawa di perahu, sementara yang lain maju untuk memasuki kota suci, kota dewa Marduk yang agung, dan salah seorang agamawan mulai melantunkan syair penciptaan dan menceritakan bagaimana Marduk menang atas Tiamat, dewi angkasa:
اخْتَلَطَتْ مِيَاهُ « تِيَامَاتَ » الْبَحْرِ بِمِيَاهِ « أَبْسُو » الْمُحِيطِ ،
وَمِنْ ذَلِكَ الِاخْتِلَاطِ وُلِدَتِ الْآلِهَةُ جَمِيعًا .
وَلَمْ يَرْضَيَا عَمَّا أَنْجَبَا .. فَقَرَّرَا أَنْ يُحَطِّمَاهَا جَمِيعًا ..
حَمَلَتْ تِيَامَاتُ الْكَرَاهِيَةَ لِأَبْنَائِهَا .
أُمُّ الْجَمِيعِ خَالِقَةُ الْأَشْيَاءِ كُلِّهَا ،
جَمَعَتْ أَسْلِحَتَهَا الَّتِي لَا تُبَارَى ، وَوَلَدَتْ أَفَاعِيَ ضَخْمَةً ، حَادَّةَ الْأَنْيَابِ لَا قَلْبَ لَهَا .
اسْتَبْدَلَتِ الدَّمَ بِالسَّمِّ فِي أَجْسَادِهَا ،
وَأَلْبَسَتِ التِّنَّانِينَ الْمُخِيفَةَ ثَوْبَ الرُّعْبِ ،
وَأَمَرَتْ بِتَدَفُّقِ الْأَفَاعِي وَالزَّوَاحِفِ الْوَحْشِيَّةِ ،
وَالْوُحُوشِ الضَّارِيَةِ وَالْكِلَابِ الْمُزَمْجِرَةِ وَالرِّجَالِ الْعَقَارِبِ .
Air laut "Tiamat" bercampur dengan air "Abzu" samudera,
Dan dari pencampuran itulah lahir semua dewa.
Mereka berdua tidak ridha dengan apa yang telah mereka lahirkan.. maka mereka memutuskan untuk menghancurkan mereka semua..
Tiamat mengandung kebencian terhadap anak-anaknya.
Ibu dari semuanya, pencipta segala sesuatu,
Dia mengumpulkan senjatanya yang tak tertandingi, dan melahirkan ular-ular raksasa, tajam taringnya dan tak punya hati.
Dia mengganti darah dengan racun dalam tubuh mereka,
Dia memakaikan baju kengerian pada naga-naga yang menakutkan,
Dan memerintahkan aliran ular dan reptil buas,
Serta binatang-binatang buas, anjing-anjing yang menggeram, dan manusia kalajengking.
وَانْخَلَعَ قَلْبُ الْآلِهَةِ لَمَّا رَأَتْ تِيَامَاتَ وَجَيْشَهَا .
Dan tergoncanglah hati para dewa saat melihat Tiamat dan tentaranya.
وَجَاءَ مَرْدُوخُ الْعَظِيمُ وَقَالَ :
Maka datanglah Marduk yang agung dan berkata:
— « أَنَا الْمُنْتَقِمُ » ، « لِأُقَيِّدَنَّ تِيَامَاتَ فِي الْأَغْلَالِ لِتَبْقَى الْحَيَاةُ لَكُمْ » .
— "Akulah sang pembalas," "sungguh akan aku ikat Tiamat dalam belenggu agar kehidupan tetap ada untuk kalian."
وَدَارَتِ الْمَعْرَكَةُ ، وَانْتَصَرَ مَرْدُوخُ عَلَى تِيَامَاتَ . وَفِي مَجْمَعِ الْآلِهَةِ تُوِّجَ مَرْدُوخُ رَبًّا لِلْأَرْبَابِ ، مَلِكًا عَلَى جَمِيعِ الْآلِهَةِ . وَأَعْلَنَ مَرْدُوخُ الْمُنْتَصِرُ عَزْمَهُ عَلَى أَنْ يَعْجِنَ الطِّينَ بِدَمِهِ لِيَخْلُقَ الْإِنْسَانَ . وَاجْتَمَعَتِ الْآلِهَةُ مَرَّةً أُخْرَى ، وَأَعْلَنَتْ أَسْمَاءَهُ الْخَمْسِينَ .
Maka berkecamuklah pertempuran, dan Marduk menang atas Tiamat. Di kumpulan para dewa, Marduk dinobatkan sebagai tuhan segala tuhan, raja atas semua dewa. Marduk yang menang mengumumkan tekadnya untuk menguleni tanah liat dengan darahnya guna menciptakan manusia. Para dewa berkumpul sekali lagi dan mengumumkan lima puluh namanya.
وَمَرَّ الرَّكْبُ بِالْقَلْعَةِ مُنْطَلِقًا إِلَى الطَّرِيقِ الْمُقَدَّسِ ، وَوَقَعَتْ أَعْيُنُ النَّاسِ عَلَى بَوَّابَةِ عَشْتَارَ وَكَانَتْ رَائِعَةً غَايَةَ الرَّوْعَةِ ، فَأَخَذُوا يَرْمُقُونَهَا فِي إِعْجَابٍ ؛ كَانَتْ مَبْنَيَيْنِ هَائِلَيْنِ مِنَ الْآجُرِّ ، لِكُلِّ مَبْنًى بَابٌ مِنَ الْأَمَامِ وَآخَرُ مِنَ الْخَلْفِ وَبَيْنَهُمَا بَهْوٌ ، وَقَدْ زُيِّنَتِ الْبَوَّابَةُ بِصُوَرِ حَيَوَانَاتٍ فِي صُفُوفٍ أُفُقِيَّةٍ ، بَلَغَ عَدَدُهَا قَرَابَةَ خَمْسِمِائَةٍ وَسَبْعِينَ ، لُوِّنَتْ بِأَلْوَانِهَا الطَّبِيعِيَّةِ فَجَاءَتِ الْبَوَّابَةُ آيَةً تَخْلُبُ أَلْبَابَ النَّاسِ . وَانْسَابَ الرَّكْبُ فِي الطَّرِيقِ الْمُقَدَّسِ وَكَانَ مِنْ بَلَاطَاتٍ مُرَبَّعَةٍ مِنَ الْحَجَرِ الْجِيرِيِّ .
Kafilah melewati benteng menuju Jalan Suci, dan mata orang-orang tertuju pada Gerbang Ishtar yang sangat menakjubkan, maka mereka memandanginya dengan kagum; ia terdiri dari dua bangunan besar dari batu bata, setiap bangunan memiliki pintu depan dan pintu belakang dengan serambi di antaranya. Gerbang itu dihiasi dengan gambar-gambar binatang dalam barisan horizontal, jumlahnya hampir lima ratus tujuh puluh, diwarnai dengan warna aslinya sehingga gerbang itu menjadi keajaiban yang memukau pikiran orang-orang. Kafilah itu mengalir di Jalan Suci yang terbuat dari ubin-ubin batu kapur persegi.
وَكَانَ عَلَى كُلٍّ مِنْ جَانِبَيْهِ جِدَارٌ يَبْلُغُ سُمْكُهُ سَبْعَةَ أَمْتَارٍ ، تَعْلُوهُ أَبْرَاجٌ نُحِتَتْ عَلَيْهَا صُوَرُ سِبَاعٍ بَارِزَةٍ ، تَبْدُو كَأَنَّمَا تَتَهَيَّأُ لِلْوُثُوبِ عَلَى مَنْ يَقْتَحِمُ الْحَرَمَ . وَبَلَغَ الرَّكْبُ الْفِنَاءَ الْخَارِجِيَّ وَكَانَتْ حَوَائِطُهُ مُقَسَّمَةً – عَلَى مَسَافَاتٍ مُتَسَاوِيَةٍ – بِأَعْمِدَةٍ مُرَبَّعَةٍ حُفِرَتْ فِيهَا قَنَوَاتٌ بِالْقُرْبِ مِنْ قَوَاعِدِهَا وَقِمَمِهَا ، وَانْسَابَ النَّاسُ إِلَى الْفِنَاءِ الْأَوْسَطِ مِنْ إِحْدَى الْبَوَّابَاتِ الْكَثِيرَةِ الْمُكَفَّتَةِ بِالْبُرُونْزِ ، وَكَانَ الْفِنَاءُ يَزْدَانُ كَذَلِكَ بِأَعْمِدَةٍ مُرَبَّعَةٍ ، وَفِي نِهَايَةِ الْبَهْوِ إِلَى الْغَرْبِ كَانَ هَيْكَلُ مَرْدُوخَ ؛ فَمَا إِنْ وَقَعَتْ أَعْيُنُ النَّاسِ عَلَيْهِ حَتَّى ضَجُّوا بِالدُّعَاءِ وَالِابْتِهَالِ .
Di setiap sisi jalan terdapat dinding setebal tujuh meter, di atasnya terdapat menara-menara yang diukir dengan relief gambar singa, tampak seolah-olah bersiap menerkam siapa pun yang menerobos tempat suci. Kafilah sampai di halaman luar yang dinding-dindingnya terbagi – pada jarak yang sama – oleh pilar-pilar persegi yang di dalamnya terukir saluran di dekat dasar dan puncaknya. Orang-orang mengalir ke halaman tengah melalui salah satu dari banyak gerbang yang dilapisi perunggu. Halaman itu juga dihiasi dengan pilar-pilar persegi, dan di ujung serambi ke arah barat terdapat kuil Marduk; maka begitu mata orang-orang tertuju padanya, mereka pun riuh dengan doa dan permohonan.
وَهَمَسَ النَّاسُ فِي خُشُوعٍ : « قُدْسُ الْأَقْدَاسِ » . كَانُوا يَتَوَقَّفُونَ لِلدُّخُولِ لِلْمُثُولِ بَيْنَ يَدَيِ الْإِلَهِ الْعَظِيمِ ، وَلَكِنْ لَمْ يَكُنْ مَسْمُوحًا بِالدُّخُولِ إِلَّا لِلْكَهَنَةِ وَالْأَمِيرِ . وَرَاحَ آزرُ يَتَلَفَّتُ فَرَأَى خَارِجَ قُدْسِ الْأَقْدَاسِ مَذْبَحًا ذَهَبِيًّا ، وَرَأَى بِجَانِبِهِ مَذْبَحًا آخَرَ كَبِيرًا لِذَبْحِ الْمَاشِيَةِ ، فَتَذَكَّرَ زَوْجَتَهُ إِيمْتَالِي وَالَّذِي الَّذِي فِي بَطْنِهَا لَمْ يَرَ النُّورَ بَعْدُ ، فَذَهَبَ وَاشْتَرَى كَبْشًا قَدَّمَهُ لِلْكَاهِنِ لِيَذْبَحَهُ قُرْبَانًا لِلْآلِهَةِ لِتَبَارَكَ لَهُ فِي زَوْجِهِ وَفِي ذَلِكَ الَّذِي فِي بَطْنِهَا . وَعَادَ آزرُ إِلَى الطَّرِيقِ الْمُقَدَّسِ وَاتَّجَهَ شَمَالًا إِلَى حَيْثُ تَقَعُ « الزَّفُّوَةُ » ، وَهِيَ مَبْنًى مُكَوَّنٌ مِنْ مَصَاطِبَ مَبْنِيٍّ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ ، تَدْفُقُ كُلَّمَا عَلَتْ . كَانَتْ أَشْبَهَ بِهَرَمٍ مُدَرَّجٍ قَاعِدَتُهُ مُرَبَّعٌ طُولُ ضِلْعِهِ ٣٧٠ مِتْرًا ، يَقُومُ فِي وَسَطِهِ مَصْطَبَةٌ ضَخْمَةٌ طُولُ ضِلْعِهَا ١٧٠ مِتْرًا ، وَفَوْقَهَا مَصْطَبَةٌ ثَالِثَةٌ ، فَرَابِعَةٌ فَخَامِسَةٌ . حَتَّى تَبْلُغَ الْمَصَاطِبُ ثَمَانٍ .
Orang-orang berbisik dengan khusyuk: "Tempat Mahakudus." Mereka berhenti sebelum masuk untuk menghadap di depan Tuhan yang agung, namun tidak diperbolehkan masuk kecuali bagi para imam dan pangeran. Azar menoleh dan melihat di luar Tempat Mahakudus ada altar emas, dan di sampingnya ada altar lain yang besar untuk menyembelih ternak. Dia teringat istrinya, Imtali, dan anak yang di dalam kandungannya yang belum melihat cahaya. Maka dia pergi membeli seekor domba jantan dan memberikannya kepada imam untuk disembelih sebagai kurban bagi para dewa agar memberkatinya dalam hal istrinya dan anak di kandungannya. Azar kembali ke Jalan Suci dan menuju ke utara ke tempat "Zaffuwah" berada, yaitu bangunan yang terdiri dari undakan-undakan yang dibangun bertumpuk, semakin kecil ke atas. Bangunan itu seperti piramida bertingkat dengan dasar persegi yang panjang sisinya 370 meter, di tengahnya terdapat undakan besar dengan panjang sisi 170 meter, dan di atasnya ada undakan ketiga, keempat, dan kelima, hingga undakan itu berjumlah delapan.
وَعَزَمَ آزرُ أَنْ يَصْعَدَ إِلَى قِمَّةِ « الزَّفُّوَةِ » ، فَاتَّجَهَ إِلَى طَرِيقٍ يَدُورُ صَاعِدًا حَوْلَ طَبَقَاتِ الْبُرْجِ ، وَرَاحَ يَرْقَى فِيهِ حَتَّى بَلَغَ مُنْتَصَفَهُ وَجَدَ غُرْفَةً بِهَا مَقَاعِدُ يَسْتَرِيحُ عَلَيْهَا مَنْ يُرِيدُونَ أَنْ يَلْتَقِطُوا أَنْفَاسَهُمْ قَبْلَ أَنْ يَسْتَأْنِفُوا الصُّعُودَ إِلَى الْقِمَّةِ ، إِلَى حَيْثُ الْمَزَارِ . جَلَسَ آزرُ يَسْتَرِيحُ ، وَسُرْعَانَ مَا طَافَ بِذِهْنِهِ قَوْلُ أَبِيهِ لَهُ :
Azar bertekad untuk naik ke puncak "Zaffuwah", maka dia menuju jalan yang berputar naik mengelilingi lantai menara. Dia terus mendaki hingga sampai di tengah jalan dan menemukan ruangan dengan kursi-kursi untuk beristirahat bagi mereka yang ingin mengatur napas sebelum melanjutkan pendakian ke puncak, ke tempat ziarah. Azar duduk beristirahat, dan segera terlintas di benaknya ucapan ayahnya:
— « أَنْتَ مُبَارَكٌ يَا آزرُ ، سَيَكُونُ لَكَ شَأْنٌ عَظِيمٌ يَا بُنَيَّ ، رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ أَنَّ نُورًا أَضَاءَ السَّمَاءَ قَدْ خَرَجَ مِنْ صُلْبِكَ .. اِسْمَعْ نَصِيحَتِي يَا بُنَيَّ ، قَدِّمِ الْخُضُوعَ لِإِلَهِكَ كُلَّ يَوْمٍ بِالتَّضْحِيَاتِ وَالصَّلَوَاتِ وَالْبُخُورِ .. »
— "Engkau diberkati wahai Azar, engkau akan memiliki kedudukan yang agung wahai anakku. Aku melihat dalam mimpi bahwa cahaya menerangi langit keluar dari tulang sulbimu. Dengarkan nasihatku wahai anakku, persembahkanlah ketundukan kepada Tuhanmu setiap hari dengan kurban, doa, dan dupa."
فَلَمْ يُطِقِ التَّرَيُّثَ حَتَّى يَسْتَرِدَّ أَنْفَاسَهُ ، فَهُوَ فِي شَوْقٍ لِيَصِلَ إِلَى الْمَزَارِ لِيُقَدِّمَ صَلَاتَهُ إِلَى رَبِّ الْأَرْبَابِ وَيُحْرِقَ بَيْنَ يَدَيْهِ الْبُخُورَ ، إِنَّ الْآلِهَةَ هُنَاكَ فِي السَّمَاءِ ، وَكُلَّمَا عَرَجَ فِي صُعُودِهِ اقْتَرَبَ مِنْهَا . وَنَهَضَ آزرُ وَاسْتَأْنَفَ عُرُوجَهُ حَتَّى بَلَغَ آخِرَ طَبَقَةٍ وَجَدَ هَيْكَلًا كَبِيرًا لَهُ سَرِيرٌ مُزَخْرَفٌ ، تَقُومُ إِلَى جَانِبِهِ مَائِدَةٌ مِنَ الذَّهَبِ كَانَ يَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْمَزَارَ لَا يَمْضِي اللَّيْلَ فِيهِ إِلَّا امْرَأَةٌ قَرَوِيَّةٌ يَخْتَارُهَا الْإِلَهُ مِنْ بَيْنَ صُوَيْحِبَاتِهَا الْقَادِمَاتِ مِنَ الرِّيفِ . فَعَزَمَ عَلَى أَنْ يُتِمَّ صَلَاتَهُ قَبْلَ أَنْ يَسْدُلَ اللَّيْلُ أَسْتَارَهُ ، فَتَلَفَّتَ فَرَأَى تِمْثَالًا لِمَرْدُوخَ مَوْضُوعًا فِي كُوَّةٍ ، فَاتَّجَهَ إِلَيْهِ وَسَجَدَ لَهُ فِي خُشُوعٍ ، وَرَاحَ يَبْتَهِلُ إِلَيْهِ وَالدُّمُوعُ تَسِيلُ عَلَى خَدَّيْهِ :
Dia tidak sabar menunggu untuk mengatur napasnya, karena dia sangat ingin sampai ke tempat ziarah untuk mempersembahkan doanya kepada Tuhan segala tuhan dan membakar dupa di hadapan-Nya. Sesungguhnya para dewa ada di sana di langit, dan semakin tinggi pendakiannya, semakin dia dekat kepada mereka. Azar bangkit dan melanjutkan pendakiannya hingga sampai di lantai terakhir dan menemukan kuil besar yang memiliki tempat tidur berukir, di sampingnya terdapat meja emas. Dia tahu bahwa tempat ziarah ini tidak akan dilewati malamnya kecuali oleh seorang wanita desa yang dipilih oleh Tuhan dari antara teman-temannya yang datang dari pedesaan. Dia bertekad untuk menyelesaikan doanya sebelum malam menjatuhkan tirainya. Dia menoleh dan melihat patung Marduk diletakkan di ceruk, maka dia menuju kepadanya dan bersujud dengan khusyuk, dan mulai berdoa kepadanya sementara air mata mengalir di pipinya:
— « يَا إِلَهِي ، يَا مَنْ أَنْتَ أَبِي الَّذِي وَلَدَنِي ، سَاعِدْنِي عَلَى الْخُرُوجِ مِنَ الظَّلَامِ إِلَى النُّورِ ، وَاغْفِرْ لِي خَطَايَايَ فَقَدْ صَدَقَ الْحُكَمَاءُ حِينَ قَالُوا : لَمْ يُولَدْ لِأُمٍّ طِفْلٌ بِلَا خَطِيئَةٍ . فَالطِّفْلُ الطَّاهِرُ الْبَرِيءُ لَمْ يَشْهَدِ الْوُجُودَ مُنْذُ الْقِدَمِ . »
— "Ya Tuhanku, wahai Engkau yang merupakan ayahku yang melahirkanku, bantulah aku untuk keluar dari kegelapan menuju cahaya, dan ampunilah dosa-dosaku, karena benarlah para bijak ketika mereka berkata: Tidak ada anak yang lahir dari seorang ibu tanpa dosa. Maka anak yang suci dan murni belum pernah ada sejak dahulu kala."
— « إِلَهِي ! يَا مَنْ أَنْتَ أَبِي الَّذِي وَلَدَنِي ، بَارِكْ لِي فِي إِيمْتَالِي ، فَهِيَ حَاضِرِي وَمُسْتَقْبَلِي ، وَتَقَبَّلْ مِنِّي مَا فِي بَطْنِهَا ، فَإِنْ هِيَ وَضَعَتْهَا أُنْثَى ، فَإِنْ فِي ابْنَتِي خَلَاصِي . إِلَهِي ! يَا مَنْ أَنْتَ أَبِي الَّذِي وَلَدَنِي ، أَمَّا إِنْ جَاءَ مَا فِي بَطْنِ إِيمْتَالِي ذَكَرًا ، فَاجْعَلْهُ يَا إِلَهِي مُبَارَكًا ، وَاقْبَلْهُ خَادِمًا مِنْ خُدَّامِكَ ، كَاهِنًا مِنْ كَهَنَتِكَ ، مِصْدَاقًا لِلرُّؤْيَا أَبِي ، فَقَدْ رَأَى نُورًا يَخْرُجُ مِنْ صُلْبِي يَنْدُرُ السَّمَاءَ . »
— "Tuhanku! Wahai Engkau ayahku yang melahirkanku, berkahilah aku dalam Imtali, karena dia adalah masa kini dan masa depanku, dan terimalah dariku apa yang ada dalam kandungannya. Jika dia melahirkan anak perempuan, maka dalam putriku lah keselamatanku. Tuhanku! Wahai Engkau ayahku yang melahirkanku, namun jika yang ada dalam kandungan Imtali adalah laki-laki, maka jadikanlah dia, wahai Tuhanku, diberkati, dan terimalah dia sebagai pelayan dari pelayan-pelayan-Mu, seorang imam dari imam-imam-Mu, sebagai pembuktian mimpi ayahku, karena dia melihat cahaya keluar dari tulang sulbiku yang menyinari langit."
وَتَذَكَّرَ مَا رَآهُ أَبُوهُ مِنِ انْكِفَاءِ الْآلِهَةِ عَلَى وُجُوهِهَا ، فَقَالَ وَهُوَ يَنْشُجُ بِالْبُكَاءِ :
Dia teringat apa yang dilihat ayahnya tentang para dewa yang tersungkur di atas wajah mereka, maka dia berkata sambil terisak menangis:
— « إِلَهِي ! يَا مَنْ أَنْتَ أَبِي الَّذِي وَلَدَنِي ، إِنْ كَانَ بِكَ عَلَيْنَا غَضَبٌ فَارْفَعْ غَضَبَكَ عَنَّا ، وَأَوْحِ إِلَيْنَا بِمَا يُرْضِيكَ فَإِنَّا مُطِيعُونَ ، وَلَوْ أَمَرْتَنَا أَنْ نَذْبَحَ أَنْفُسَنَا قُرْبَانًا لَكَ . »
— "Tuhanku! Wahai Engkau ayahku yang melahirkanku, jika Engkau marah kepada kami, maka angkatlah kemarahan-Mu dari kami, dan wahyukanlah kepada kami apa yang membuat-Mu rida, karena kami taat, meskipun Engkau memerintahkan kami untuk menyembelih diri kami sendiri sebagai kurban bagi-Mu."
« إِلَهِي ! يَا مَنْ أَنْتَ أَبِي الَّذِي وَلَدَنِي ، بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَالِنَا فَهِيَ قُرَّةُ أَعْيُنِنَا ، وَتَقَبَّلْ مِنَّا وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا وَاهْدِنَا وَاشْرَحْ صُدُورَنَا وَزَوِّدْنَا بِمَلَائِكَةٍ ذَوِي سِيمَاءَ لَطِيفَةٍ خَبِيرَةٍ . » وَاسْتَشْعَرَ آزرُ رَاحَةً ، فَنَهَضَ وَرَاحَ يَهْبِطُ فِي الطَّرِيقِ الْمُنْحَدِرِ مُنْشَرِحَ الصَّدْرِ ، وَانْطَلَقَ إِلَى « أُورِيجَالُّو » كَبِيرِ الْكَهَنَةِ ، وَقَدَّمَ لَهُ نَفْسَهُ ، فَأَمَرَ « أُورِيجَالُّو » أَنْ يُؤْخَذَ آزرُ إِلَى حُجْرَتِهِ لِيَبْقَى بِهَا حَتَّى يَسْتَدْعِيَ لِلِاحْتِفَالِ بِعِيدِ رَبِّ الْأَرْبَابِ الْكَبِيرِ . وَاعْتَكَفَ آزرُ فِي حُجْرَتِهِ يَتَطَهَّرُ وَيُصَلِّي وَيَدْعُو كَبِيرَ الْآلِهَةِ أَنْ يُوَفِّقَهُ أَنْ يَصْنَعَ لَهُ تِمْثَالًا يَرْضَاهُ .
"Tuhanku! Wahai Engkau ayahku yang melahirkanku, berkahilah pekerjaan kami karena itu adalah penyejuk mata kami. Terimalah dari kami, sucikan hati kami, tunjuki kami, lapangkan dada kami, dan bekali kami dengan malaikat yang berpenampilan lembut dan ahli." Azar merasakan kenyamanan, maka dia bangkit dan mulai menuruni jalan yang menurun dengan dada yang lapang. Dia pergi ke "Urigallu", imam besar, dan memperkenalkan dirinya. "Urigallu" memerintahkan agar Azar dibawa ke kamarnya untuk tinggal di sana sampai dipanggil untuk perayaan besar Tuhan segala tuhan. Azar menyendiri di kamarnya untuk bersuci, berdoa, dan memohon kepada Tuhan para dewa agar memberinya taufik untuk membuat patung yang Dia ridai.
وَجَاءَ أَوَّلُ نِيسَانَ وَغَصَّ الطَّرِيقُ الْمُقَدَّسُ بِالنَّاسِ ، وَبِمَوَاكِبِ الْآلِهَةِ الَّتِي جَاءَتْ مِنْ أَنْحَاءِ بَابِلَ لِتَشْتَرِكَ فِي عِيدِ مَرْدُوخَ رَبِّ الْأَرْبَابِ وَلِتُقَدِّمَ لَهُ الْوَلَاءَ وَالْخُضُوعَ ، وَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُ النَّاسِ بِالِابْتِهَالَاتِ :
Datanglah awal bulan Nisan dan Jalan Suci dipenuhi orang-orang, serta iring-iringan para dewa yang datang dari seluruh penjuru Babil untuk berpartisipasi dalam perayaan Marduk, Tuhan segala tuhan, dan untuk mempersembahkan kesetiaan serta ketundukan kepadanya. Suara orang-orang pun meninggi dengan doa-doa:
— « إِلَهِي ! قَلْعَتِي ! اغْفِرْ لِي . كُنْ رَحِيمًا يَا إِلَهِي وَاعْفُ عَنِّي . إِلَهِي اسْتَمِعْ إِلَى تَضَرُّعِي فَأَنْتَ حَقًّا يَا إِلَهِي أَبِي ، مَنْ مِثْلُكَ يَا إِلَهِي يَعْفُو عَنْ سَيِّئَاتِي ؟ »
— "Tuhanku! Bentengku! Ampunilah aku. Jadilah penyayang wahai Tuhanku dan maafkanlah aku. Tuhanku, dengarkanlah permohonanku karena Engkau sungguh wahai Tuhanku adalah ayahku, siapakah yang seperti-Mu wahai Tuhanku yang memaafkan keburukan-keburukanku?"
وَتَرْتَفِعُ التَّوَسُّلَاتُ ، وَيَضِجُّ الْمَعْبَدُ بِالدُّعَاءِ ، وَتَنْهَمِرُ الدُّمُوعُ مِنَ الْعُيُونِ ، وَيَقِفُ النَّاسُ بِالْبَابِ يَنْتَظِرُونَ أَنْ يَأْذَنَ لَهُمُ « أُورِيجَالُّو » بِالدُّخُولِ . وَانْقَضَى أَوَّلُ نِيسَانَ ، وَفِي الْيَوْمِ الثَّانِي فِي عَمَايَةِ الصُّبْحِ اسْتَيْقَظَ « أُورِيجَالُّو » كَبِيرُ الْكَهَنَةِ وَطَهَّرَ نَفْسَهُ بِمَاءِ النَّهْرِ وَارْتَدَى ثَوْبًا مِنَ الْكَتَّانِ ، وَانْطَلَقَ إِلَى قُدْسِ الْأَقْدَاسِ وَحْدَهُ . اتَّجَهَ إِلَى الْكُوَّةِ الْمُبَطَّنَةِ بِالذَّهَبِ الَّتِي وَضَعَ فِيهَا تِمْثَالَ مَرْدُوخَ الْعَظِيمِ وَتَلَا دُعَاءً حَارًّا ، ثُمَّ خَرَجَ وَفَتَحَ الْأَبْوَابَ فَتَدَفَّقَ السَّحَرَةُ وَالْمُغَنُّونَ إِلَى الْمَعْبَدِ . وَأَطْلَقَ الْبُخُورَ وَارْتَفَعَتِ الْأَصْوَاتُ الْعَذْبَةُ بِالتَّرْتِيلَاتِ ، وَقَامَ السَّحَرَةُ بِالطُّقُوسِ وَالْمَرَاسِيمِ وَتَقْدِيمِ الْقَرَابِينِ وَالشَّرَابِ إِلَى الْآلِهَةِ .
Permohonan meninggi, kuil riuh dengan doa, air mata bercucuran dari mata, dan orang-orang berdiri di depan pintu menunggu "Urigallu" mengizinkan mereka masuk. Hari pertama bulan Nisan berlalu, dan pada hari kedua di pagi hari, "Urigallu", imam besar, bangun dan membersihkan dirinya dengan air sungai dan mengenakan pakaian linen, lalu pergi ke Tempat Mahakudus sendirian. Dia menuju ceruk berlapis emas di mana dia meletakkan patung Marduk yang agung dan membacakan doa yang khusyuk, lalu dia keluar dan membuka pintu, sehingga para penyihir dan penyanyi mengalir ke kuil. Dupa dinyalakan, suara-suara merdu dengan kidung-kidung meninggi, dan para penyihir melakukan ritual, upacara, serta mempersembahkan kurban dan minuman kepada para dewa.
وَانْقَضَى الْيَوْمُ ، وَفِي الْيَوْمِ التَّالِي فَعَلَ « أُورِيجَالُّو » مَا فَعَلَهُ فِي الْيَوْمِ الْأَوَّلِ . وَعَقِبَ غُرُوبِ الشَّمْسِ بِثَلَاثِ سَاعَاتٍ أَرْسَلَ فِي طَلَبِ ثَلَاثَةِ صُنَّاعٍ وَنَسَّاجٍ لِيَصْنَعُوا تِمْثَالَيْنِ لِلْإِلَهِ ، فَجَاءَ آزرُ وَزُمَلَاؤُهُ ، وَعَكَفَ آزرُ عَلَى صُنْعِ تِمْثَالٍ ارْتِفَاعُهُ سَبْعُ أَصَابِعَ ، وَرَاحَ يَعْمَلُ وَهُوَ قَلِقٌ مُتَوَتِّرُ الْأَعْصَابِ يَرْجُو مِنْ كُلِّ قَلْبِهِ أَنْ يَرْضَى الْإِلَهُ عَمَّا يَفْعَلُ . وَحَانَ وَقْتُ الْغَدَاءِ فَقَدَّمَ لآزرَ صَدْرَ نَعْجَةٍ رَاحَ يَلْتَهِمُهُ فِي سُرْعَةٍ ، لِيَسْتَأْنِفَ عَمَلَهُ فِي هِمَّةٍ وَنَشَاطٍ .
Hari berlalu, dan pada hari berikutnya "Urigallu" melakukan apa yang dilakukannya pada hari pertama. Tiga jam setelah matahari terbenam, dia mengirim utusan untuk mencari tiga pengrajin dan penenun untuk membuat dua patung bagi Tuhan. Azar dan rekan-rekannya datang, dan Azar mulai membuat patung setinggi tujuh jari. Dia bekerja dengan cemas dan tegang, berharap dengan sepenuh hatinya agar Tuhan rida atas apa yang dia lakukan. Waktu makan siang tiba, dan dia menyajikan dada domba kepada Azar yang dia lahap dengan cepat, untuk melanjutkan pekerjaannya dengan semangat dan giat.
رَاحَ آزرُ يَصْنَعُ الْأُذُنَيْنِ الْكَبِيرَتَيْنِ اللَّتَيْنِ تَرْمِزَانِ إِلَى حِكْمَةِ مَرْدُوخَ ، وَصَوْتُ فِي أَغْوَارِهِ يُرَدِّدُ قَوْلَ إِلَهِ الْحِكْمَةِ يَوْمَ نَصَبَ فِي مَجْمَعِ الْآلِهَةِ إِلَهًا لِلْآلِهَةِ : « أَيَّ بُنَيَّ ! مَا الَّذِي لَا تَعْرِفُهُ وَأَسْتَطِيعُ أَنْ أُعَلِّمَكَ إِيَّاهُ ؟ إِنَّ كُلَّ مَا أَعْرِفُهُ تَعْرِفُهُ أَنْتَ » . وَرَاحَ آزرُ يَبْتَهِلُ إِلَى مَرْدُوخَ وَيَصْنَعُ تِمْثَالَهُ :
Azar mulai membuat dua telinga besar yang melambangkan kebijaksanaan Marduk, dan suara di kedalaman dirinya mengulangi ucapan Tuhan kebijaksanaan pada hari Ia menetapkan di kumpulan para dewa seorang Tuhan bagi para dewa: "Wahai anakku! Apa yang tidak engkau ketahui yang bisa aku ajarkan kepadamu? Sesungguhnya semua yang aku ketahui, engkau pun mengetahuinya." Azar mulai berdoa kepada Marduk sambil membuat patungnya:
— « أَيَّ خَالِقِي ، بَارِكْ لِي فِي عَمَلِي وَتَقَبَّلْهُ مِنِّي فَفِيهِ قُرَّةُ عَيْنِي . »
— "Wahai Penciptaku, berkahilah aku dalam pekerjaanku dan terimalah dariku karena di dalamnya terdapat penyejuk mataku."
وَعَكَفَ عَلَى صُنْعِ الثُّعْبَانِ الَّذِي يُمْسِكُهُ مَرْدُوخُ فِي يَسَارِهِ . وَرَاحَ الْوَقْتُ يَمُرُّ وَآزرُ غَارِقٌ فِي عَمَلِهِ لَا يُحِسُّ شَيْئًا مِمَّا حَوْلَهُ ، حَتَّى إِذَا مَا أَتَمَّ صُنْعَ التِّمْثَالِ دَفَعَهُ إِلَى الصَّائِغِ لِيُزَيِّنَهُ بِالذَّهَبِ وَالْأَحْجَارِ الْكَرِيمَةِ ، ثُمَّ لِيَلْبَسَهُ ثَوْبَهُ الْأَحْمَرَ وَيَلُفَّ حَوْلَ وَسَطِهِ حِزَامًا مِنْ سَعَفِ النَّخْلِ . وَجَاءَ الْيَوْمُ الرَّابِعُ يَوْمُ الِاحْتِفَالِ السِّرِّيِّ ، فَدَخَلَ « أُورِيجَالُّو » قُدْسَ الْأَقْدَاسِ وَبَقِيَ بِهِ ، كَانَ ذَلِكَ قَبْلَ أَنْ يَتَنَفَّسَ الصُّبْحُ بِأَرْبَعِ سَاعَاتٍ ، وَرَاحَ أَحَدُ السَّحَرَةِ يُطَهِّرُ الْمَعْبَدَ وَيَرُشُّهُ بِمَاءٍ جَلَبَ مِنْ بِئْرِ الْفُرَاتِ وَمِنْ خَزَّانِ دِجْلَةَ . وَمَرَّ الْوَقْتُ وَأَشْرَقَتِ الشَّمْسُ وَانْقَضَى عَلَى إِشْرَاقِهَا سَاعَتَانِ ، فَجَاءَ سَاحِرٌ آخَرُ وَأَخَذَ يُطَهِّرُ الْمَعْبَدَ مَرَّةً أُخْرَى وَيَمْسَحُ بِزَيْتِ الْأَرْزِ مَصَارِيعَ الْأَبْوَابِ ، وَيَمْسَحُ الْحَوَائِطَ بِجِسْمِ شَاةٍ قَطَعَ السَّيَّافُ رَأْسَهَا لِتَوِّهِ ، وَخَرَجَ الرَّجُلَانِ إِلَى الْخَلَاءِ يَحْمِلُ أَحَدُهُمَا جِسْمَ الشَّاةِ وَيَحْمِلُ الْآخَرُ رَأْسَهَا ، وَانْطَلَقَا فَأَلْقَيَا بِالْجِسْمِ وَالرَّأْسِ فِي الْفُرَاتِ . وَبَقِيَا خَارِجَ أَسْوَارِ الْمَدِينَةِ الْمُقَدَّسَةِ حَتَّى يَنْقَضِيَ الْعِيدُ . فَقَدْ دَنَّسَهُمَا الذَّبِيحَةُ .
Dia mulai membuat ular yang dipegang Marduk di tangan kirinya. Waktu berlalu dan Azar tenggelam dalam pekerjaannya, tidak merasakan apa pun di sekitarnya, sampai ketika dia menyelesaikan pembuatan patung itu, dia menyerahkannya kepada pengrajin emas untuk menghiasinya dengan emas dan permata, lalu memakaikan jubah merahnya dan melilitkan ikat pinggang dari pelepah kurma di pinggangnya. Hari keempat tiba, hari perayaan rahasia, "Urigallu" memasuki Tempat Mahakudus dan tetap di sana, itu terjadi empat jam sebelum subuh. Salah satu penyihir mulai membersihkan kuil dan memercikinya dengan air yang diambil dari sumur Efrat dan tangki Tigris. Waktu berlalu dan matahari terbit, dua jam setelah terbitnya, datanglah penyihir lain dan mulai membersihkan kuil lagi, menyeka daun pintu dengan minyak cedar, dan menyeka dinding dengan tubuh domba yang kepalanya baru saja dipenggal oleh algojo. Kedua pria itu keluar ke tempat terbuka, satu membawa tubuh domba dan yang lain membawa kepalanya, lalu mereka pergi dan melemparkan tubuh serta kepala itu ke Efrat. Mereka tetap berada di luar tembok kota suci sampai perayaan berakhir, karena mereka telah dicemari oleh kurban tersebut.
وَبَقِيَ كَبِيرُ الْكَهَنَةِ فِي قُدْسِ الْأَقْدَاسِ حَتَّى لَا يَتَدَنَّسَ بِمُشَاهَدَةِ الْمَعْبَدِ فِي أَثْنَاءِ تَطْهِيرِهِ ، وَبَعْدَ أَنْ تَمَّتْ مَرَاسِيمُ التَّطْهِيرِ خَرَجَ « أُورِيجَالُّو » بُعَيْدَ السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ ، وَاسْتَدْعَى الْمُوَظَّفِينَ التَّابِعِينَ لَهُ ، ثُمَّ انْطَلَقُوا فِي خُشُوعٍ إِلَى الْخِزَانَةِ لِاسْتِحْضَارِ « السَّمَاءِ الذَّهَبِيَّةِ » . وَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتٌ فِي الطَّرِيقِ الْمُقَدَّسِ ، وَتَرَدَّدَتْ فِي أَرْجَاءِ الْمَدِينَةِ الْمُقَدَّسَةِ الْعَتِيقَةِ هَمَسَاتٌ :
Imam besar tetap berada di Tempat Mahakudus agar tidak tercemar dengan melihat kuil selama pembersihannya. Setelah upacara pembersihan selesai, "Urigallu" keluar tak lama setelah jam ketiga dan memanggil stafnya, kemudian mereka pergi dengan khusyuk ke perbendaharaan untuk mengambil "Langit Emas". Suara-suara meninggi di Jalan Suci, dan bisikan-bisikan bergema di seluruh kota suci kuno:
— « الْمَلِكُ .. الْمَلِكُ » .
— "Raja... Raja."
كَانَ الْمَلِكُ يَتَقَدَّمُ فِي الطَّرِيقِ الْمُقَدَّسِ فِي مَوْكِبٍ فَخْمٍ وَقَدْ حَمَلَ الْكَهَنَةُ أَمَامَهُ تِمْثَالَ إِلَهِ مَنْطِقَتِهِ الْمَحَلِّيِّ . وَوَصَلَ الْمَوْكِبُ الْفَخْمُ إِلَى فِنَاءِ الْمَعْبَدِ الرَّئِيسِيِّ ، فَبَقِيَ الْمَلِكُ وَأَخَذَ سَائِرُ النَّاسِ يَنْسَحِبُونَ ، حَتَّى إِذَا بَقِيَ الْمَلِكُ وَحْدَهُ ، خَرَجَ إِلَيْهِ « أُورِيجَالُّو » مِنْ قُدْسِ الْأَقْدَاسِ ، وَخَلَعَ عَنْهُ شَارَاتِ الْمَلِكِ وَالصَّوْلَجَانَ وَالْحَلْقَةَ وَالْعَصَا ذَاتَ الْأَسْنَانِ وَالتَّاجَ ، وَوُضِعَتْ جَمِيعًا عَلَى مَقْعَدٍ أَمَامَ تِمْثَالِ مَرْدُوخَ ، ثُمَّ عَادَ إِلَى حَيْثُ كَانَ الْمَلِكُ فَضَرَبَهُ عَلَى خَدِّهِ ، ثُمَّ قَادَهُ إِلَى حَضْرَةِ الْإِلَهِ فِي قُدْسِ الْأَقْدَاسِ ، وَشَدَّ أُذُنَيْهِ وَجَعَلَهُ يَرْكَعُ ، فَأَطْرَقَ الْمَلِكُ رَأْسَهُ فِي خُشُوعٍ ثُمَّ رَاحَ يَتْلُو :
Raja berjalan di Jalan Suci dalam iring-iringan yang mewah, dan para imam membawa di depannya patung tuhan wilayah lokalnya. Iring-iringan mewah itu sampai di halaman kuil utama, raja tetap tinggal sementara orang-orang lain mulai menarik diri. Setelah raja tinggal sendirian, "Urigallu" keluar menemuinya dari Tempat Mahakudus, menanggalkan darinya lambang-lambang raja, tongkat kerajaan, cincin, tongkat bergigi, dan mahkota, lalu semuanya diletakkan di atas kursi di depan patung Marduk. Kemudian dia kembali ke tempat raja berada lalu menampar pipinya, lalu menuntunnya ke hadapan Tuhan di Tempat Mahakudus, menjewer telinganya, dan membuatnya berlutut. Raja menundukkan kepalanya dengan khusyuk lalu mulai membacakan:
— « أَنَا لَمْ أَرْتَكِبْ إِثْمًا يَا سَيِّدَ الْأَرَاضِي ، أَنَا لَمْ أُهْمِلْ فِي شَأْنِ أُلُوهِيَّتِكَ . أَنَا لَمْ أُحَطِّمْ بَابِلَ وَلَمْ آمُرْ بِتَفْرِقَتِهَا . أَنَا لَمْ أُزَعْزِعْ أَرْكَانَ « الْإِيسَاجِيلَ » وَلَمْ أَنْسَ طُقُوسَهُ . »
— "Aku tidak melakukan dosa wahai Tuhan penguasa bumi, aku tidak mengabaikan urusan ketuhanan-Mu. Aku tidak menghancurkan Babil dan tidak memerintahkan pemecahbelahannya. Aku tidak mengguncang pilar-pilar 'Esagila' dan tidak melupakan ritual-ritualnya."

— « أَنَا لَمْ أَضْرِبْ زُوَّارَكَ عَلَى حُدُودِهِمْ ، وَلَمْ أُسَبِّبْ لَهُمْ مَذَلَّةً . لَقَدْ فَاضَتْ عِنَايَتِي عَلَى بَابِلَ وَلَمْ أَهْدِمْ حَوَائِطَهَا . »
— "Aku tidak memukul pengunjung-Mu di perbatasan mereka, dan tidak menyebabkan kehinaan bagi mereka. Perhatianku telah melimpah atas Babil dan aku tidak menghancurkan tembok-temboknya."
فَقَالَ « أُورِيجَالُّو » لِلْمَلِكِ : « لَا تَخَفْ . سَيُبَارِكُكَ بَعْلٌ إِلَى الْأَبَدِ ، وَسَيُحَطِّمُ أَعْدَاءَكَ وَيَدْحَرُ خُصُومَكَ . »
Maka "Urigallu" berkata kepada raja: "Jangan takut. Ba'al akan memberkatimu selamanya, dan akan menghancurkan musuh-musuhmu serta mengusir lawan-lawanmu."

وَغَادَرَ الْمَلِكُ الْهَيْكَلَ ، وَسَارَ « أُورِيجَالُّو » بِخُطًا ثَقِيلَةٍ وَوَجَّهَ بَاسِرٌ إِلَى حَيْثُ وَضَعَ شَارَاتِ الْمَلِكِ فَعَادَ بِهَا ، وَأَلْبَسَ الْمَلِكَ التَّاجَ وَأَعَادَ إِلَيْهِ الصَّوْلَجَانَ وَالْحَلْقَةَ وَالْعَصَا ذَاتَ الْأَسْنَانِ ، وَضَرَبَهُ مَرَّةً أُخْرَى عَلَى خَدِّهِ .
Raja meninggalkan kuil, dan "Urigallu" berjalan dengan langkah berat menuju tempat ia meletakkan tanda-tanda kerajaan dan kembali membawanya, memakaikan mahkota kepada raja, mengembalikan tongkat kerajaan, cincin, dan tongkat bergigi kepadanya, lalu menampar pipinya lagi.

وَلَمْ تَتَسَاقَطْ دُمُوعُ الْمَلِكِ لَا وَهُوَ يَبْتَهِلُ إِلَى الْإِلَهِ وَلَا بَعْدَ أَنْ ضَرَبَهُ « أُورِيجَالُّو » عَلَى خَدِّهِ ، فَسَادَ الْمَكَانَ وَجُومٌ فَذَلِكَ فَأْلٌ سَيِّئٌ عَلَى أَنَّ الْإِلَهَ لَمْ يَتَقَبَّلِ الصَّلَاةَ وَلَا مَا نُحِرَ لَهُ مِنْ قَرَابِينِ ، وَأَنَّهُ غَاضِبٌ ، وَأَنَّ السَّنَةَ سَتَكُونُ سَنَةَ وَبَالٍ عَلَى الْمَلِكِ وَالْمَمْلَكَةِ .
Air mata raja tidak jatuh, baik saat ia berdoa kepada Tuhan maupun setelah "Urigallu" menampar pipinya, maka tempat itu diliputi keheningan, itu adalah pertanda buruk bahwa Tuhan tidak menerima doa maupun kurban yang disembelih untuk-Nya, dan bahwa Dia marah, serta tahun itu akan menjadi tahun kesengsaraan bagi raja dan kerajaan.

وَبَعْدَ الْغُرُوبِ رَبَطَ الْأُورِيجَالُّو حُزْمَةً مِنْ أَرْبَعِينَ قَصَبَةَ نَخِيلٍ ، وَوَضَعَهَا فِي حُفْرَةٍ وَسَطَ الْفِنَاءِ الرَّئِيسِيِّ لِلْمَعْبَدِ ، وَسَقَاهَا بِالْعَسَلِ وَالْقِشْدَةِ وَالزَّيْتِ ، وَجِيءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ وَذُبِحَ ، وَأَشْعَلَ الْمَلِكُ غُصْنًا قَرُبَهُ مِنْ حُزْمَةِ الْقَصَبِ فَتَأَجَّجَتْ فِيهَا النِّيرَانُ .
Setelah matahari terbenam, Urigallu mengikat seikat empat puluh pelepah kurma, meletakkannya di lubang di tengah halaman utama kuil, menyiramnya dengan madu, krim, dan minyak. Seekor anak sapi gemuk didatangkan dan disembelih, lalu raja membakar dahan yang didekatkannya ke ikatan pelepah itu, sehingga api berkobar di dalamnya.

مَرَّ الْيَوْمُ السَّابِعُ مِنْ أَيَّامِ الْعِيدِ فِي إِلْبَاسِ مَرْدُوخَ ثِيَابَهُ بَيْنَ تَرْتِيلِ الْمُغَنِّينَ وَإِطْلَاقِ الْبُخُورِ وَصَلَوَاتِ الرُّهْبَانِ .
Hari ketujuh perayaan berlalu dengan mengenakan pakaian Marduk di tengah lantunan penyanyi, penyalaan dupa, dan doa para rahib.

وَفِي الْيَوْمِ الثَّامِنِ أَقْبَلَ الْمَلِكُ تَحُفُّهُ حَاشِيَتُهُ ، وَدَخَلَ وَالْأُورِيجَالُّو مَعَهُ إِلَى قُدْسِ الْأَقْدَاسِ ، وَحَمَلَ الْمَلِكُ تِمْثَالَ الْإِلَهِ ، وَكَانَ هُوَ صَاحِبَ الْحَقِّ فِي وَضْعِهِ عَلَى الْمِحَفَّةِ ، وَسَارَ الْمَوْكِبُ الْمُقَدَّسُ حَتَّى إِذَا بَلَغَ الْفِنَاءَ الرَّئِيسِيَّ لِلْمَعْبَدِ تَوَقَّفَ مَرْدُوخُ بَيْنَ الْأَسْتَارِ ، فِي مَذْبَحٍ مَقَامٍ فِي وَسَطِ الْفِنَاءِ الرَّئِيسِيِّ .
Pada hari kedelapan, raja datang dikelilingi oleh para pengikutnya, dan masuk bersama Urigallu ke Tempat Mahakudus. Raja membawa patung Tuhan, dan dia adalah orang yang berhak meletakkannya di atas tandu. Iring-iringan suci berjalan sampai mencapai halaman utama kuil, Marduk berhenti di antara tirai-tirai, di altar yang didirikan di tengah halaman utama.

وَسُمِعَتْ ضَجَّةٌ فِي الطَّرِيقِ الْمُقَدَّسِ ؛ كَانَتْ مَوَاكِبُ آلِهَةِ مُدُنِ بَابِلَ كُلِّهَا قَادِمَةً .. إِنَّهَا فِي طَرِيقِهَا لِتَقْدِيمِ وَلَائِهَا لِمَرْدُوخَ الْعَظِيمِ : الْإِلَهُ سِين ، وَالْإِلَهُ وَالْإِلَهُ شَمَاش ، وَالْإِلَهَةُ عَشْتَار ، وَالْإِلَهُ نِنْجِرْسُو ، وَعَشَرَاتُ الْآلِهَةِ الْأُخْرَى فِي الْمحَفَّاتِ ، وَالْكَهَنَةُ يَرْتَلُونَ الصَّلَوَاتِ ، وَالنَّاسُ يَبْتَهِلُونَ فِي حَرَارَةٍ وَرَجَاءٍ .
Suara keributan terdengar di Jalan Suci; iring-iringan tuhan-tuhan dari seluruh kota Babil datang.. mereka dalam perjalanan untuk memberikan kesetiaan mereka kepada Marduk yang agung: dewa Sin, dewa Shamash, dewi Ishtar, dewa Ninurta, dan puluhan tuhan lainnya dalam tandu-tandu, sementara para imam melantunkan doa, orang-orang memohon dengan semangat dan penuh harap.

فَقَدْ فُتِحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاوَاتِ لِاسْتِقْبَالِ الدَّعَوَاتِ . كَانَتِ اللَّحْظَةُ مِنْ أَخْطَرِ لَحَظَاتِ الْحَيَاةِ ، فَفِي هَذَا الْيَوْمِ الْمُبَارَكِ تَتَقَرَّرُ أَقْدَارُ السَّنَةِ ، وَكُلُّ مَا يَجْرِي فِيهَا مِنْ أَحْدَاثٍ إِلَى أَنْ يَأْتِيَ الْيَوْمُ الثَّامِنُ مِنْ نِيسَانَ مِنَ الْعَامِ الْقَابِلِ .
Karena pintu langit telah dibuka untuk menerima doa. Itu adalah saat-saat paling berbahaya dalam hidup, karena pada hari yang diberkati ini takdir tahun ditentukan, beserta semua peristiwa yang terjadi di dalamnya sampai tiba hari kedelapan bulan Nisan tahun berikutnya.

وَصَلَتِ الْآلِهَةُ جَمِيعًا إِلَى الْفِنَاءِ الرَّئِيسِيِّ لِلْمَعْبَدِ ، وَارْتَفَعَتِ الِابْتِهَالَاتُ وَالدَّعَوَاتُ وَغَنَّى الْمُغَنُّونَ وَأُطْلِقَ الْبُخُورُ ، وَسَالَتِ الْعَبَرَاتُ وَارْتَفَعَ النَّحِيبُ وَالنَّشِيجُ .
Semua tuhan tiba di halaman utama kuil, doa dan permohonan meninggi, para penyanyi bernyanyi, dupa dinyalakan, air mata mengalir, dan ratapan serta isak tangis membubung.

وَسَارَ مَرْدُوخُ وَسَارَ خَلْفَهُ الْآلِهَةُ جَمِيعًا ، حَتَّى إِذَا بَلَغُوا هَيْكَلَ الْأَقْدَارِ ، الْهَيْكَلَ الَّذِي يَخُطُّ فِيهِ مَرْدُوخُ مَصَائِرَ النَّاسِ ، وَضَعَ مَرْدُوخُ وَأَطْلَقَ الْبُخُورُ وَقَامَ الْكَهَنَةُ بِالطُّقُوسِ وَالْمَرَاسِيمِ ، ثُمَّ أَخَذَ الْمَلِكُ بِيَدِ إِلَهِهِ وَحَمَلَهُ وَسَارَ ، وَانْطَلَقَتِ الْآلِهَةُ خَلْفَهُ صَفًّا صَفًّا .
Marduk berjalan diikuti oleh semua tuhan, sampai mereka mencapai Kuil Takdir, kuil tempat Marduk menuliskan nasib manusia, Marduk meletakkan [patungnya], menyalakan dupa, dan para imam melakukan ritual dan upacara. Kemudian raja memegang tangan Tuhannya, membawanya, dan berjalan, dan para tuhan mengikutinya berbaris satu demi satu.

تَرَكَ الْمَوْكِبُ أَبْهَاءَ الْمَعْبَدِ وَسَارَ فِي الطَّرِيقِ الْمُقَدَّسِ وَقَدْ غَصَّ بِالنَّاسِ . فَلَمَّا رَأَوْا رَبَّ الْأَرْبَابِ وَالْآلِهَةَ جَمِيعًا خَلْفَهُ ، اضْطَرَبَتْ قُلُوبُهُمْ رَهْبَةً وَخَرُّوا سَاجِدِينَ ، وَاسْتَأْنَفَ الْمَوْكِبُ الْمُقَدَّسُ طَرِيقَهُ ، فَاتَّجَهَ شَمَالًا وَاجْتَازَ بِوَابَةِ عَشْتَارَ حَتَّى أَوْفَى عَلَى الْفُرَاتِ . 
Iring-iringan itu meninggalkan aula kuil dan berjalan di Jalan Suci yang dipadati orang. Ketika mereka melihat Tuhan segala tuhan dan semua tuhan di belakangnya, hati mereka bergetar ketakutan dan mereka bersujud. Iring-iringan suci melanjutkan perjalanannya, menuju ke utara dan melewati gerbang Ishtar hingga mencapai Efrat. 

كَانَ يَنْتَظِرُ مَقْدِمَ كَبِيرِ الْآلِهَةِ قَارِبٌ مُقَدَّسٌ ، وَكَانَتْ قَوَارِبُ أُخْرَى تَنْتَظِرُ سَائِرَ الْآلِهَةِ . وَدَخَلَ مَرْدُوخُ إِلهُ الْآلِهَةِ وَخَالِقُ الْبَشَرِ قَارِبَهُ ، وَرَاحَتِ الْقَوَارِبُ الَّتِي تَحْمِلُ بَعُولَ بَابِلَ تَتَهَادَى عَلَى صَفْحَةِ الْفُرَاتِ ، بَيْنَ تَرَاتِيلِ الْمُنْشِدِينَ وَغِنَاءِ الْمُغَنِّينَ وَصَلَوَاتِ الْكَهَنَةِ وَابْتِهَالَاتِ النَّاسِ . 
Sebuah perahu suci sedang menunggu kedatangan Tuhan yang agung, dan perahu-perahu lain sedang menunggu tuhan-tuhan lainnya. Marduk, Tuhan para dewa dan pencipta manusia, memasuki perahunya, dan perahu-perahu yang membawa dewa-dewa Babil melaju dengan tenang di permukaan Efrat, di antara lantunan para penyanyi, nyanyian para penyanyi, doa para imam, dan permohonan orang-orang. 

وَوَصَلَتِ الْقَوَارِبُ إِلَى الشَّاطِئِ الْآخَرِ حَيْثُ يَقُومُ الْـ « إِيزُور » ، مَعْبَدُ الصَّلَوَاتِ . وَأَخَذَ الْمَلِكُ بِيَدِ مَرْدُوخَ فَحَمَلَهُ وَخَرَجَ مِنْ قَارِبِهِ ، وَخَرَجَتِ الْآلِهَةُ الْأُخْرَى مِنْ قَوَارِبِهَا لِتَسِيرَ خَلْفَهُ صَفًّا صَفًّا .
Perahu-perahu sampai di pantai lain tempat "Ezida" berdiri, kuil doa. Raja memegang tangan Marduk, membawanya, dan keluar dari perahunya, dan tuhan-tuhan lainnya keluar dari perahu mereka untuk berjalan di belakangnya berbaris satu demi satu.
وَانْطَلَقَ الرَّكْبُ الْمُقَدَّسُ إِلَى مَعْبَدِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ وُضِعَ رَبُّ الْأَرْبَابِ ، وَدَخَلَ عَلَيْهِ الْآلِهَةُ إِلَهٌ فِي إِثْرِ إِلَهٍ ، وَكَانَ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهِ إِلَهٌ حَيَّاهُ فِي رَهْبَةٍ وَرَكَعَ أَمَامَهُ ؛ كَانَتِ التَّحِيَّةُ تَنْطَلِقُ مِنْ أَفْوَاهِ الْكَهَنَةِ مُضْطَرِبَةً مُرْتَجِفَةً ، وَكَانُوا يَرْكَعُونَ فِي خُشُوعٍ وَقَدْ حَبَسُوا الْأَنْفَاسَ !
Dan rombongan suci itu berangkat menuju kuil doa tempat Tuhan segala tuhan diletakkan, dan para dewa masuk menemuinya satu demi satu, dan setiap kali ada dewa yang masuk menemuinya, dia memberi penghormatan dengan penuh ketakutan dan berlutut di hadapannya; penghormatan itu keluar dari mulut para imam dengan gemetar dan menggigil, dan mereka berlutut dalam kekhusyukan dan menahan napas!
وَتَرَكَ كَبِيرُ الْآلِهَةِ مَعَ الْآلِهَةِ الَّذِينَ يُمَثِّلُونَهُ فِي الْبُلْدَانِ وَيَسْتَمِدُّونَ مِنْهُ سُلْطَانَهُمْ ، وَأُغْلِقَتِ الْأَبْوَابُ ، وَجَاءَ النَّاسُ مِنْ كُلِّ فَجٍّ يَحِجُّونَ إِلَى الْـ « إِيزُور » مَعْبَدِ الصَّلَوَاتِ ، حَيْثُ اجْتَمَعَ الْآلِهَةُ جَمِيعًا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ يَسْتَمِعُونَ إِلَى نِدَاءَاتِ الْبَشَرِ .
Dan pemimpin para dewa ditinggalkan bersama para dewa yang mewakilinya di berbagai negeri dan yang memperoleh kekuasaan darinya, lalu pintu-pintu ditutup, dan orang-orang datang dari setiap penjuru berbondong-bondong menuju "Ezur", kuil doa, tempat berkumpulnya semua dewa di satu tempat yang sama untuk mendengarkan seruan umat manusia.
وَرَاحَ الْكَهَنَةُ يُعِدُّونَ الصِّحَافَ الرَّئِيسِيَّةَ الَّتِي تُقَدَّمُ لِلْآلِهَةِ ، إِنَّ النَّامُوسَ يَقْضِي بِتَقْدِيمِ وَاحِدٍ وَعِشْرِينَ خَرُوفًا عُمْرُ كُلِّ مِنْهَا سَنَتَانِ ، وَأَرْبَعِ نِعَاجٍ غُذِّيَتْ بِاللَّبَنِ ، وَخَمْسٍ وَعِشْرِينَ نَعْجَةً مِنَ الْمَرْتَبَةِ الثَّانِيَةِ ، وَثَوْرَيْنِ سَمِينَيْنِ ، وَعِجْلٍ رَضِيعٍ ، وَثَمَانِيَةِ حُمْلَانٍ ، وَسِتِّينَ طَيْرًا مِنْ نَوْعَيْنِ مُخْتَلِفَيْنِ ، وَثَلَاثِ دَجَاجَاتٍ ، وَسَبْعِ بَطَّاتٍ ، وَأَرْبَعَةِ خَنَازِيرَ مِنَ الْمُسْتَنْقَعَاتِ ، وَثَلَاثٍ مِنْ بَيْضِ الدَّجَاجِ ، وَثَلَاثٍ مِنْ بَيْضِ الْبَطِّ .
Dan para imam mulai menyiapkan hidangan utama yang dipersembahkan kepada para dewa, sesungguhnya aturan menetapkan untuk mempersembahkan dua puluh satu ekor domba jantan yang masing-masing berumur dua tahun, empat ekor domba betina yang disusui dengan susu, dua puluh lima ekor domba betina kelas dua, dua ekor sapi jantan yang gemuk, seekor anak sapi yang masih menyusu, delapan ekor anak domba, enam puluh ekor burung dari dua jenis yang berbeda, tiga ekor ayam, tujuh ekor bebek, empat ekor babi rawa, tiga butir telur ayam, dan tiga butir telur bebek.
وَأَخَذَ كَهَنَةٌ آخَرُونَ يُعِدُّونَ الشَّرَابَ فِي أَوَانِي الذَّهَبِ ، إِنَّ لِعَشْتَارَ وَحْدَهَا اثْنَيْ عَشَرَ إِنَاءً مِنَ النَّبِيذِ الْمَعْصُورِ ، وَلِسِينْ أَوْ نَانَا إِلَهِ الْقَمَرِ عَشَرَةً ، وَلِلْآلِهَةِ الْأُخْرَى أَوَانِي تَخْتَلِفُ فِي الْعَدَدِ وَإِنْ كَانَ شَرَابُهَا جَمِيعًا مِنَ النَّبِيذِ ، ذَلِكَ فِي الْغَدَاءِ وَالْعَشَاءِ ، أَمَّا فِي الصَّبَاحِ فَلَا تَشْرَبُ الْآلِهَةُ إِلَّا اللَّبَنَ الْمُصَفَّى ، وَيُقَدَّمُ لَهَا فِي أَوَانٍ مِنَ الْمَرْمَرِ .
Dan imam-imam lainnya mulai menyiapkan minuman di dalam bejana-bejana emas, sesungguhnya untuk Isytar saja ada dua belas bejana berisi anggur perasan, dan untuk Sin atau Nana dewa bulan ada sepuluh bejana, dan untuk dewa-dewa lainnya bejana-bejana yang berbeda jumlahnya meskipun minuman mereka semuanya adalah anggur, hal itu untuk makan siang dan makan malam, adapun di pagi hari para dewa tidak meminum kecuali susu murni, dan disajikan kepada mereka dalam bejana-bejana dari pualam (marmer).
وَرَكِبَ آزرُ فِي قَارِبٍ مَعَ الْقَاصِدِينَ إِلَى الْـ « إِيزُور » ، وَرَاحَ الْقَارِبُ يَتَمَايَلُ فَوْقَ مِيَاهِ الْفُرَاتِ يَكَادُ يَنُوءُ بِالنَّاسِ وَالنَّاسُ ذَاهِلُونَ عَنِ الْخَطَرِ الْمُحْدِقِ بِهِمْ ، فَقَدْ كَانُوا مَشْغُولِينَ بِآلِهَتِهِمْ . وَبَلَغَ الْقَارِبُ شَاطِئَ مَعْبَدِ الصَّلَوَاتِ وَكَانَ غَاصًّا بِالنَّاسِ ، فَقَفَزَ إِلَيْهِ آزرُ وَجَعَلَ يَشُقُّ طَرِيقَهُ وَيَدْفَعُ النَّاسَ بِمَنْكِبَيْهِ حَتَّى
Dan Azar naik ke perahu bersama orang-orang yang hendak menuju "Ezur", dan perahu itu mulai terombang-ambing di atas air sungai Efrat, hampir-hampir tenggelam karena sarat beban manusia, sementara orang-orang tidak menyadari bahaya yang mengancam mereka, karena mereka sibuk dengan dewa-dewa mereka. Dan perahu itu sampai di pantai kuil doa yang telah penuh sesak dengan manusia, maka Azar melompat ke pantai dan mulai meretas jalannya serta mendorong orang-orang dengan kedua pundaknya sampai...
وَقَفَ أَمَامَ تِمْثَالٍ لِمَرْدُوخَ قَائِمٍ فِي مِشْكَاةٍ فِي الْحَائِطِ ، فَرَكَعَ لَهُ وَقَالَ فِي حَرَارَةٍ :
Dia berdiri di depan patung Marduk yang berada di sebuah ceruk di dinding, lalu dia berlutut kepadanya dan berkata dengan penuh khidmat:
— مَوْلَايَ ! إِنَّ آثَامِي كَثِيرَةٌ وَذُنُوبِي عَظِيمَةٌ .
— إِلَهِي ! إِنَّ آثَامِي كَثِيرَةٌ وَذُنُوبِي عَظِيمَةٌ .
— إِلَهِي ! إِنَّ آثَامِي كَثِيرَةٌ وَذُنُوبِي عَظِيمَةٌ .
— أَيُّهَا الْإِلَهُ الَّذِي أَعْرِفُهُ أَوْ الَّذِي لَسْتُ أَعْرِفُهُ ! إِنَّ آثَامِي كَثِيرَةٌ وَذُنُوبِي عَظِيمَةٌ .
— أَيَّتُهَا الْآلِهَةُ الَّتِي أَعْرِفُهَا أَوْ الَّتِي لَسْتُ أَعْرِفُهَا ! إِنَّ آثَامِي كَثِيرَةٌ وَذُنُوبِي عَظِيمَةٌ .
— أَلَا فَلْيُخَفَّفِ الْغَضَبُ فِي قَلْبِ مَوْلَايَ .
— لِيَهْدَأِ الْإِلَهُ الَّذِي أَعْرِفُهُ أَوْ الَّذِي لَا أَعْرِفُهُ .
— لِتَهْدَأِ الْآلِهَةُ الَّتِي أَعْرِفُهَا أَوْ الَّتِي لَسْتُ أَعْرِفُهَا .
— أَيُّهَا الْإِلَهُ اغْفِرْ ذُنُوبِي ، فَمَنْ غَيْرُكَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ ؟
— أَيَّتُهَا الْآلِهَةُ اغْفِرِي ذُنُوبِي فَمَنْ غَيْرُكِ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ ؟
— أَيَّتُهَا الْآلِهَةُ الَّتِي أَعْرِفُهَا أَوْ الَّتِي لَسْتُ أَعْرِفُهَا ، اغْفِرِي ذُنُوبِي فَمَنْ غَيْرُكِ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ ؟
— Tuanku! Sesungguhnya dosa-dosaku banyak dan kesalahanku sangat besar.
— Tuhanku! Sesungguhnya dosa-dosaku banyak dan kesalahanku sangat besar.
— Tuhanku! Sesungguhnya dosa-dosaku banyak dan kesalahanku sangat besar.
— Wahai Tuhan yang aku kenal atau yang tidak aku kenal! Sesungguhnya dosa-dosaku banyak dan kesalahanku sangat besar.
— Wahai para dewa yang aku kenal atau yang tidak aku kenal! Sesungguhnya dosa-dosaku banyak dan kesalahanku sangat besar.
— Tidakkah kemurkaan di dalam hati tuanku diringankan.
— Tenanglah wahai Tuhan yang aku kenal atau yang tidak aku kenal.
— Tenanglah wahai para dewa yang aku kenal atau yang tidak aku kenal.
— Wahai Tuhan ampunilah dosa-dosaku, maka siapakah selain-Mu yang mengampuni dosa-dosa?
— Wahai dewi ampunilah dosa-dosaku, maka siapakah selain-mu yang mengampuni dosa-dosa?
— Wahai para dewa yang aku kenal atau yang tidak aku kenal, ampunilah dosa-dosaku, maka siapakah selain-mu yang mengampuni dosa-dosa?
مَرَّتْ أَيَّامُ الْعِيدِ وَالنَّاسُ يَحُجُّونَ إِلَى الْـ « إِيزُور » مَعْبَدِ الصَّلَوَاتِ ، وَبَدَأَ الْهَمْسُ يَسْرِي بَيْنَ النَّاسِ فَيَرْتَسِمُ الْهَلَعُ عَلَى الْوُجُوهِ وَتَرْتَفِعُ حَرَارَةُ الِابْتِهَالَاتِ وَيَنْبَعِثُ الدُّعَاءُ مِنْ أَعْمَاقِ الْقُلُوبِ .
Hari-hari raya telah berlalu dan orang-orang berbondong-bondong menuju "Ezur", kuil doa, dan bisik-bisik mulai menyebar di antara orang-orang hingga rasa ngeri tergambar pada wajah-wajah, dan suhu kepasrahan meningkat serta doa dipanjatkan dari lubuk hati yang paling dalam.
وَجَاءَ الْيَوْمُ الْحَادِي عَشَرَ مِنْ شَهْرِ نِيسَانَ آخِرِ أَيَّامِ الْعِيدِ الْكَبِيرِ ، فَوَفَدَ الْمَلِكُ تَحُفُّ بِهِ حَاشِيَتُهُ وَالْـ « أُورِيجَالُّو » وَالْكَهَنَةُ وَالْمُغَنُّونَ ، وَدَخَلَ الْمَلِكُ وَأَخَذَ بِيَدِ مَرْدُوخَ وَسَارَ وَمِنْ خَلْفِهِ الْآلِهَةُ جَمِيعًا صَفًّا صَفًّا ..
Dan datanglah hari kesebelas dari bulan Nisan, hari terakhir dari hari raya besar itu, maka datanglah raja dikelilingi oleh para pengawalnya, "Urigallu", para imam, dan para penyanyi, dan raja masuk lalu memegang tangan Marduk dan berjalan, sementara di belakangnya ada semua dewa berbaris rapi shaf demi shaf...
وَانْطَلَقَ الرَّكْبُ الْمُقَدَّسُ إِلَى نَهْرِ الْفُرَاتِ ، وَتَهَادَتِ الْقَوَارِبُ الْمُقَدَّسَةُ عَلَى صَفْحَةِ مَائِهِ ، وَاجْتَازَ الرَّكْبُ بَوَابَةَ عَشْتَارَ ، وَرَاحَ النَّاسُ يَتَطَلَّعُونَ إِلَى وَجْهِ
Dan rombongan suci itu berangkat menuju sungai Efrat, dan perahu-perahu suci bergerak perlahan di atas permukaan airnya, dan rombongan itu melewati gerbang Isytar, dan orang-orang mulai memandang ke wajah...
الْمَلِكِ فِي إِشْفَاقٍ وَيَتَهَامَسُونَ فَيَعْلُو وُجُوهَهُمُ الرُّعْبُ ، وَيَتَلَفَّتُونَ فِي خَوْفٍ كَأَنَّمَا سَتَنْقَضُّ السَّمَاءُ عَلَيْهِمْ أَوْ سَيَخْتَطِفُهُمُ الْمَجْهُولُ .
...Raja dengan rasa cemas dan mereka saling berbisik hingga rasa ngeri menyelimuti wajah mereka, dan mereka menoleh dalam ketakutan seolah-olah langit akan runtuh menimpa mereka atau ketidakpastian akan merenggut mereka.
وَسَارَ الرَّكْبُ فِي الطَّرِيقِ الْمُقَدَّسِ ، وَلَاحَ بُرْجُ بَابِلَ شَامِخًا كَأَنَّمَا يَتَطَاوَلُ لِيَنْطَحَ السَّمَاء... وَعَادَ الْمَوْكِبُ إِلَى الْمَعْبَدِ مِنْ حَيْثُ بَدَأَ ، وَدَخَلَ الْمَلِكُ وَالْـ « أُورِيجَالُّو » إِلَى قُدْسِ الْأَقْدَاسِ ، وَوُضِعَ مَرْدُوخُ فِي مِشْكَاتِهِ الْمُذَهَّبَةِ وَرَكَعَ الْمَلِكُ وَأَدَّى الصَّلَاةَ ، ثُمَّ خَرَجَ وَكَبِيرُ الْكَهَنَةِ فِي أَثَرِهِ .
Dan rombongan itu berjalan di jalan suci, dan menaralah menara Babel dengan megahnya seolah-olah menjulang tinggi hendak menanduk langit. Dan iring-iringan itu kembali ke kuil dari tempat asalnya dimulai, dan raja serta "Urigallu" masuk ke tempat maha kudus, dan Marduk diletakkan di ceruknya yang dilapisi emas, lalu raja berlutut dan menunaikan sembahyang, kemudian dia keluar dengan diikuti oleh imam besar di belakangnya.
خَرَجَتِ الْآلِهَةُ لِتَتَفَرَّقَ فِي الْبِلَادِ بَعْدَ أَنْ اجْتَمَعَتْ بِرَبِّ الْأَرْبَابِ وَقَدَّمَتْ لَهُ الْخُضُوعَ وَالْوَلَاءَ ، وَعَرَفَتْ مَا كَتَبَهُ لِلنَّاسِ فِي لَوْحِ قَدَرِهِ .
Dan para dewa keluar untuk berpencar ke berbagai penjuru negeri setelah mereka berkumpul dengan Tuhan segala tuhan serta mempersembahkan ketundukan dan kesetiaan kepadanya, dan mereka mengetahui apa yang telah dituliskan untuk manusia di dalam sabak takdirnya.
وَذَهَبَ لُوجَالُ إِلَى السُّوقِ وَبَاعَ شَعِيرَهُ بِشَوَاقِلَ كَثِيرَةٍ وَاشْتَرَى جَارِيَةً ، وَتَسَلَّمَ مِنَ الْبَائِعِ ضَمَانًا بِعَدَمِ وُجُودِ عُيُوبٍ بِهَا ، ثُمَّ انْطَلَقَ لِيَنْضَمَّ إِلَى الْقَافِلَةِ الْعَائِدَةِ إِلَى أُورَ .
Dan Lujal pergi ke pasar lalu menjual jelainya dengan harga banyak syikal dan membeli seorang budak perempuan, serta menerima jaminan dari penjual mengenai ketiadaan cacat padanya, kemudian dia berangkat untuk bergabung dengan kafilah yang kembali ke Ur.
وَالتَّقَى لُوجَالُ وَآزَرُ ، وَلَمَّا رَأَى آزَرُ الْجَارِيَةَ قَالَ لَهُ لُوجَالُ :
Dan Lujal serta Azar bertemu, dan ketika Azar melihat budak perempuan itu, Lujal berkata kepadanya:
— اِشْتَرَيْتُهَا بِعَشَرَةِ شَوَاقِلَ .
— Aku membelinya seharga sepuluh syikal.
ثُمَّ ضَحِكَ وَقَالَ :
Kemudian dia tertawa dan berkata:
— وَقَدْ بِعْتُ جَحْشِي بِعِشْرِينَ شَاقِلًا .
— Dan aku telah menjual keledai mudaku seharga dua puluh syikal.
قَالَ آزَرُ وَهُوَ يَبْتَسِمُ :
Azar berkata seraya tersenyum:
— أَيْ أَنَّكَ بِثَمَنِ الْجَحْشِ تَشْتَرِي جَارِيَتَيْنِ .
— Artinya dengan harga seekor keledai muda itu kamu bisa membeli dua orang budak perempuan.
وَفَهِمَهَا لُوجَالُ فَقَالَ :
Dan Lujal memahaminya, lalu dia berkata:
— وَلَكِنِّي لَمْ أَشْتَرِ إِلَّا جَارِيَةً وَاحِدَةً .
— Akan tetapi aku tidak membeli kecuali hanya satu budak perempuan saja.
وَظَهَرَ فِي وَجْهِ لُوجَالُ أَنَّهُ تَذَكَّرَ شَيْئًا ، وَرَأَى آزَرُ شُرُودَ نَظْرَتِهِ فَقَالَ لَهُ :
Dan tampak pada wajah Lujal bahwa dia mengingat sesuatu, dan Azar melihat pandangannya yang menerawang lalu berkata kepadanya:
— فِيمَ تُفَكِّرُ ؟
— أَسَمِعْتَ مَا هَمَسَ بِهِ النَّاسُ ؟
— Apa yang sedang kamu pikirkan?
— Apakah kamu mendengar apa yang dibisikkan oleh orang-orang?
قَالَ آزَرُ فِي اهْتِمَامٍ :
Azar berkata dengan penuh perhatian:
— وَبِمَ هَمَسُوا ؟
— Dan apa yang mereka bisikkan?
— قَالُوا إِنَّ الْمَلِكَ لَمْ يَبْكِ وَهُوَ يُصَلِّي لِمَرْدُوخَ ، وَلَمْ تَنْهَمِرْ دُمُوعُهُ لِمَا ضَرَبَهُ الْأُورِيجَالُّو عَلَى خَدِّهِ .
— Mereka berkata bahwa raja tidak menangis ketika dia menyembah Marduk, dan air matanya tidak bercucuran ketika Urigallu menampar pipinya.
— وَكَيْفَ عَرَفَ النَّاسُ ذَلِكَ ، إِذَا كَانَ الْمَلِكُ وَالْأُورِيجَالُّو وَحْدَهُمَا فِي حَضْرَةِ الْإِلَهِ ؟
— Dan bagaimana orang-orang bisa mengetahui hal itu, padahal raja dan Urigallu hanya berdua saja di hadapan dewa?
— نَزَلَ بِقَلْبِ كَبِيرِ الْكَهَنَةِ رُعْبٌ شَدِيدٌ ، خَافَ مِنْ غَضَبِ الْآلِهَةِ فَأَفْضَى إِلَى الْكَهَنَةِ الْمُقَرَّبِينَ بِمَخَاوِفِهِ .
— Rasa takut yang teramat sangat melanda hati sang imam besar, dia takut akan kemurkaan para dewa lalu dia membocorkan kekhawatirannya kepada para imam terdekat.
— وَلَمْ يَحْفَظِ الْكَهَنَةُ الْمُقَرَّبُونَ السِّرَّ فَبَاحُوا بِهِ لِلْمُقَرَّبِينَ مِنْهُمْ ؟
— Dan para imam terdekat tidak menjaga rahasia itu lalu mereka membocorkannya kepada orang-orang dekat mereka?
— هَذَا مَا حَدَثَ ، وَقَدْ أَفْضَى هَؤُلَاءِ بِالسِّرِّ إِلَى الْمُقَرَّبِينَ مِنْهُمْ فَذَاعَ النَّبَأُ بَيْنَ النَّاسِ .
— Itulah yang terjadi, dan mereka ini membocorkan rahasia tersebut kepada orang-orang dekat mereka hingga kabar itu tersebar luas di antara orang-orang.
— وَلَكِنِّي لَمْ أَسْمَعْ هَمْسَ النَّاسِ .
— Tetapi aku tidak mendengar bisikan orang-orang.
— كُنْتَ مَشْغُولًا فِي صَلَاتِكَ .
— Kamu tadi sedang sibuk dengan sembahyangmu.
وَشَرَدَ آزرُ وَتَذَكَّرَ مَا رَآهُ أَبُوهُ فِي كَبِدِ الْأُضْحِيَّةِ . لَقَدْ رَأَى أَنَّ الْآلِهَةَ جَمِيعًا انْكَفَأَتْ عَلَى وُجُوهِهَا فَنَزَلَ بِقَلْبِهِ هَمٌّ ثَقِيلٌ ، وَانْتَشَرَتْ فِي صَدْرِهِ رَهْبَةٌ وَغَمْغَمَ :
Dan pikiran Azar menerawang jauh dan teringat apa yang dilihat ayahnya di dalam hati hewan kurban. Dia telah melihat bahwasanya semua dewa tersungkur di atas wajah-wajah mereka, maka turunlah beban berat di dalam hatinya, dan rasa gentar menjalar di dadanya lalu dia bergumam:
— خَطْبٌ نَازِلٌ .
— Malapetaka akan turun.
وَلَمْ يَسْمَعْ لُوجَالُ مَا يَقُولُهُ فَسَأَلَهُ :
Dan Lujal tidak mendengar apa yang dikatakannya, lalu dia bertanya kepadanya:
— مَاذَا تَقُولُ ؟
— Apa yang kamu katakan?
— خَطْبٌ نَازِلٌ .. لَقَدْ غَضِبَتِ الْآلِهَةُ عَلَيْنَا .. جَمَدَتِ الدُّمُوعُ فِي عَيْنَيِ الْمَلِكِ . لَمْ يَذْرِفِ الدُّمُوعَ .. فَسَنَذْرِفُهَا نَحْنُ .. سِنِينَ .. سَنَتَأَلَّمُ .
— Malapetaka akan turun.. para dewa telah murka kepada kita.. air mata telah membeku di kedua mata raja. Dia tidak mencucurkan air mata.. maka kitalah yang akan mencucurkannya.. bertahun-tahun.. kita akan menderita.

💬 SYARH NYABLAK USTADZ BCA
(Betawi Cengkareng Asli)
- Klik buat baca syarah gaya Abi Thoufur untuk episode ini -
Assalaamu'alaikum Sahabat BABA...!!

"Assalamu’alaikum, Jama'ah Sambel Baba! Gimane kabarnye nih, Cing, Nyak, Babe? Masih pada kuat kan dengerin petualangan si Azar? Episode 3 ini spesial, Sob! Soalnye rombongan udeh nyampe di jantung dunie waktu itu: BABIL! Negeri nyang katanye 'Pintu Tuhan'. Begitu masuk gerbangnye, muke gile... Azar ama Lujal langsung disuguhin pemandangan Menara Babil nyang tingginye nauzubillah, kayak mau nyundul langit! Di sini bukan cuma iman nyang diuji, tapi dompet juga diperes!"

[SCENE 1: Debat Cuan: Emas Ur vs Emas Babil]

Abi Thoufur: "Nah, dengerin nih obrolan Azar ama Lujal. Si Azar mau beli hewan kurban, eh si Lujal udeh bawa sendiri dari Ur pake perahu. Azar nanya: 'Berapa ongkosnye, Jal?' Lujal jawab: 'Tiga syikal perak buat 3 lembu ama 60 domba.' Azar kaget: 'Muke gile! Mahal amat! Perahu gono mah paling harganya cuma 20 syikal, kok ongkosnye selangit?'"

Abi Nyablak: "Tuh, dengerin! Si Lujal nyengir, die bilang: 'Zar, ini kan lagi 'season' Tahun Baru! Harga transport udeh kayak harga tiket pesawat pas mudik Lebaran, naik tiga kali lipat!' Terus Azar mau tuker emasnye ke perak. Di Ur, 1 emas dapet 11 perak. Di Babil? Cuma dapet 10! Si Azar protes, tapi si Lujal malah ngeledek: 'Udeh lah Zar, jangan pelit-pelit buat Dewa Marduk. Emas ente kan juga dapetnye dari jualan patung Marduk!' Skakmat dah si Azar! Di sini kite belajar, dari zaman purba sampe sekarang, 'musim ibadah' emang selalu jadi 'musim cuan' buat para cukong!"

[Scene 2: Dongeng Tiamat: Tuhan Kok Berantem?]

Abi Thoufur: "Sambil jalan ke kuil, ada pendeta lagi baca puisi 'Enuma Elish' alias asal-usul dunie versi mereka. Katanye, dunie ini lahir dari percampuran air laut (Tiamat) ama air samudera (Abzu). Tapi, si Emak Tiamat ini malah benci ama anak-anaknye sendiri (para dewa). Die bikin tentara naga, ular berbisa, sampe manusia kalajengking buat ngebantai anak-anaknye! Terus Marduk maju: 'Ane nyang bakal lawan Emak Tiamat, tapi syaratnye ane harus jadi Bos para Dewa!' Akhirnye Marduk menang, Tiamat dibelah jadi dua, separonya jadi langit, separonya jadi bumi."

Abi Nyablak: "Kagak nahan ane denger dongengnye! Masa Tuhan berantem ama Emaknye sendiri? Pake racun-racunan, pake naga-nagaan... Ini mah naskah film Avengers kalah seru! Tapi ya itu, Jama'ah, saking gelapnye akidah zaman itu, hal nyang kagak masuk akal begini dijadiin iman. Mereka ngerasa manusia diciptain dari darah dewa nyang dicampur tanah. Pantesan kelakuan manusia zaman itu rada 'ajaib', lha Tuhannye aje dianggep tukang berantem!"

[Scene 3: Ritual Tampar Raja & Tangisan Palsu]

Abi Thoufur: "Nah, ini intinye! Si Azar dapet proyek prestisius dari Imam Besar (Urigallu). Die disuruh pahat dua patung kecil setinggi tujuh jari. Azar kerja sambil gemeteran, sambil nangis doa: 'Duh Marduk, berkahin tangan ane, berkahin bini ane nyang lagi hamil. Kalo anaknye cewek, bakal ane kasih ke kuil. Kalo cowok, jadiin imam kayak bokap ane nyang mimpi ada cahaya dari tulang sulbi ane.'"

Abi Nyablak: "Azar belon tau aje, cahaya nyang dimaksud bapaknye itu Nabi Ibrahim, nyang bakalan ngancurin tuh patung-patung die nanti! Hehehe. Terus, ada ritual paling aneh. Si Raja Babil dibawa ke tempat paling suci, dilepas mahkotanye, terus DITAMPAR pipinye ama Imam Besar! Kupingnye dijewer biar berlutut! Imam Besar bilang: 'Ba'al bakal berkahin ente kalo ente kagak macem-macem ama Babil.' Tapi ada syaratnye: Pas ditampar, si Raja HARUS NANGIS. Kalo air matanye keluar, berarti Dewa rida. Kalo kagak nangis? Berarti sial setahun penuh! Dan tebak ape? Pas ditampar, si Raja KAGAK NANGIS! Muke si Raja datar aje kayak tembok!"

[OUTRO: Ramalan Bencana]

Abi Thoufur: "Kabar si Raja kagak nangis langsung bocor ke pasar. Orang-orang Babil ketakutan, termasuk Lujal ama Azar. Azar inget ramalan bapaknye soal patung nyang nyungsep. Die bergumam: 'Bencana bakal dateng... Dewa marah... air mata Raja beku, berarti kite nyang bakal nangis bertahun-tahun.' Jama'ah, di sini kite liat, Azar tuh sebenernye udeh ngerasa ada nyang salah, tapi die masih 'cinta' ama berhala buatannye. Die lebih takut ama Marduk daripada ama Pencipta Langit dan Bumi. Gimane kelanjutan nasib Azar pas balik ke Ur? Apakah bininye lahiran dengan selamat? Dan kapan tuh 'Cahaya' nyang diramalin bakal muncul? Pantengin terus Kisah Abul Anbiya! Jangan lupa di-subscribe, di-like, biar ilmu kite berkah kayak ujan di musim kemarau! Wassalamu'alaikum!"

— ABI THOUFUR • THE NYABLAK TEACHER • MAN 1 JAKARTA —
BONUS EXCLUSIVE

🎁 Bingkisan Sayang dari Abi: APA HIKMAH DI BALIK EPISODE INI BUAT KITA?

Eits, jangan bubar dulu! Biar ente kagak cuma baca ceritanya doang, Abi kasih "Kado Ilmu" soal apa yang bisa kita petik dari ritual megah namun menyesatkan di Babil dalam kisah Abul Anbiya ini.

🛡️ Catatan Aqidah Abi:

"Seringkali kita silau dengan kemegahan duniawi yang mengatasnamakan agama. Babil dengan menara dan kuilnya membuktikan bahwa bangunan fisik yang megah tidak menjamin kebenaran akidah. Ingat, Allah itu Maha Esa dan tidak butuh 'panggung' berdarah atau tumbal untuk disembah. Jangan sampai kita menyembah 'Marduk modern' yang cuma mengejar gengsi dan logika manusiawi saja."

Catatan Ibadah Abi:

"Ibadah itu mestinya membawa ketenangan, bukan ketakutan akan ramalan atau mitos yang mencekam. Ritual di Esagila yang penuh drama dan pemerasan harta adalah contoh bagaimana ibadah dikotori oleh kepentingan duniawi. Ibadah yang benar itu murni, lahir dari hati yang bersih untuk mencari rida Allah, bukan karena paksaan atau ketakutan pada takhayul."

⚖️ Catatan Mu'amalah Abi:

"Waspadalah pada pola 'musim ibadah' yang dijadikan ajang cari untung. Orang-orang di Babil memanfaatkan momen sakral untuk menaikkan harga seenak jidat. Dalam bermuamalah, kejujuran harus tetap jadi panglima. Jangan sampai kita menjadi bagian dari orang yang melihat agama cuma sebagai sarana untuk mengeruk keuntungan pribadi di atas penderitaan orang lain."

Alhamdulillah...

Sekian pembahasan episode ketiga Sirah Nabi Ibrahim عليه السلام ini. Moga-moga dengan menyelami kisah sang Abul Anbiya, kita makin mantap dan beradab dalam menata akidah. Kalau ada yang mau didiskusikan soal sirah atau sekadar mau tanya-tanya, jangan sungkan tulis di kolom komentar, atau langsung samperin Abi di MAN 1 Jakarta Barat, ehh, rumah deng... khan lagi libur, makanya bawa kue yaa biar enak kongkownye, wkwkwk!


~ ABI THOUFUR (THE NYABLAK TEACHER) ~

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ ، وَبِاللهِ الْهِدَايَةُ وَالتَّوْفِيْقُ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi