نَهَضَ آزَرُ بَعْدَ أَنْ تَنَاوَلَ عَشَاءَهُ وَلَبِسَ عَبَاءَتَهُ ، فَالْتَفَتَتْ إِلَيْهِ زَوْجَتُهُ إِمْتَالَى وَكَانَتْ شَابَّةً وَضِيئَةً وَقَالَتْ لَهُ :
Azar bangkit setelah makan malam dan memakai jubahnya, lalu istrinya Imatali yang muda lagi cantik menoleh kepadanya dan berkata:
"أَتَخْرُجُ فِي مِثْلِ هَذِهِ السَّاعَةِ مِنَ اللَّيْلِ يَا آزَرُ ؟"
"Kamu mau keluar di jam segini malem-malem, Azar?"
فَابْتَسَمَ آزَرُ وَقَالَ لَهَا :
Azar senyum dan menjawab:
"وَلَنْ أَعُودَ قَبْلَ أَنْ يُشْرِقَ عَلَيْنَا رَبُّنَا شَمَّاشُ إِلَهُ النُّورِ فِي أُفُقِهِ الشَّرْقِيِّ ."
"Aku tidak akan kembali sebelum Tuhan kita, Shamash Dewa Cahaya terbit dari ufuk timur."
فَلَاحَ فِي وَجْهِ الزَّوْجَةِ كَدَرٌ وَزَوَتْ مَا بَيْنَ حَاجِبَيْهَا ، فَذَهَبَ إِلَيْهَا وَقَالَ لَهَا فِي رِفْقٍ :
Maka muuka istrinya menjadi keruh dan dahinye mengernyit. Azar pun menghampirinya seraya berkata lembut:
"تَعْلَمِينَ يَا إِمْتَالَى أَنَّ كَبِيرَ الْكَهَنَةِ فِي بَابِلَ تَقَدَّسَتْ رُوحُهُ بَعَثَ إِلَيَّ لِأَصْنَعَ تِمْثَالًا لِإِلَهِنَا مَرْدُوخَ فِي أَثْنَاءِ احْتِفَالَاتِ الْعِيدِ الْأَكْبَرِ ، وَإِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى أَبِي نَاحُورَ لِيَنْظُرَ فِي النُّجُومِ ، وَيُنَبِّئَنَا بِأَفْضَلِ وَقْتٍ لِلسَّفَرِ ، وَبِمَا يَخْبَأُهُ لَنَا الْقَدَرِ ."
"Kamu tahu, Imatali, Pendeta Agung di Babil yang suci jiwanya sudah mengutusku untuk membuat patung buat Dewa Marduk ketika perayaan Hari Raya Agung. Aku mau ke tempat bapakku, Nahur, supaya dia melihat bintang-bintang, lalu dia akan memberitahuku kapan waktu yang paling tepat untuk melakukan perjalanan ke sana, serta apa yang disimpan takdir buat kita."
ثُمَّ ضَمَّهَا إِلَيْهِ وَهُوَ يُقَبِّلُهَا :
Setelah itu Azar memeluk dan menciumnya:
"أَبِي أَبْرَعُ مَنْ تَعَلَّمَ السِّحْرَ وَالتَّنْجِيمَ فِي أُورَ ، بَلْ لَا أَظُنُّ أَنَّ فِي بَابِلَ نَفْسَهَا مَنْ يَسْمُو إِلَى عِلْمِهِ ."
"Bapakku adalah orang yang paling ahli dalam mempelajari sihir dan ramalan di Ur, bahkan aku yakin di Babil sendiri tidak ada orang bisa mengalahkannya dalam ilmu tersebut."
فَتَشَبَّثَ بِهِ وَقَالَتْ فِي دَلَالٍ :
Imatali memegang erat Azar sambil berkata manja:
"خُذْنِي مَعَكَ إِلَى بَابِلَ ، فَأَنَا فِي شَوْقٍ إِلَى الرُّكُوعِ فِي مَعْبَدِ مَوْلَانَا مَرْدُوخَ الْعَظِيمِ ."
"Bawa aku ke Babil, Bang. Aku rindu sekali melakukan ruku di kuil tuhan kita, Marduk yang Agung."
فَضَحِكَ آزَرُ وَهُوَ يُصَوِّبُ نَظَرَهُ إِلَى بَطْنِهَا الْمُنْتَفِخِ وَقَالَ :
Azar tertawa seketika ketika melihat perut buncit istrinya yang sedang hamil, lalu berkata:
"فِي السَّنَةِ الْقَادِمَةِ يَا حَبِيبَتِي، وَأَرْجُو أَلَّا يَكُونَ فِي بَطْنِكِ يَوْمَئِذٍ مَا يَمْنَعُكِ مِنَ الرُّكُوعِ."
"Tahun depan ya, Sayang. Aku harap saat itu perut kamu sudah tidak ada yang menghalanginya ketika ruku."
وَذَهَبَتْ إِلَى تِمْثَالِ لِلْإِلَهِ كَانَ زَوْجُهَا قَدْ فَرَغَ مِنْ صُنْعِهِ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ لِيَتَنَاوَلَ عَشَاءَهُ، وَحَمَلَتْهُ بَيْنَ يَدَيْهَا وَعَادَتْ فَوَضَعَتْهُ أَمَامَهَا فِي تَوْقِيرٍ، وَجَاهَدَتْ لِتَرْكَعَ، إِلَّا أَنَّهَا أَحَسَّتْ أَلَمًا ارْتَسَمَتْ آثَارُهُ عَلَى مُحَيَّاهَا، فَخَفَّ إِلَيْهَا آزَرُ وَلَفَّ ذِرَاعَهُ حَوْلَهَا فِي حَنَانٍ وَقَالَ:
Istri Azar pergi ke patung dewa yang sudah selesai dibuat suaminya sebelum makan malem. Dia bawa patung itu dengan tangannya, lalu dia letakkan di hadapannya dengan hormat. Dia berusaha sekali untuk ruku, tapi rasa sakit nampak jelas terbayang di wajahnya. Azar langsung menghampiri, memeluknya penuh kasih sayang, lalu berkata:
"لَا جَدْوَى مِنْ تَعْذِيبِ نَفْسِكِ فَقَدْ دَنَتْ أَيَّامُ وَضْعِكِ. وَلَنْ أَسْتَطِيعَ أَنْ آخُذَكِ مَعِي."
"Tidak ada gunanye kamu menyiksa diri sendiri, hari kelahiran sudah dekat. Dan aku tidak akan bisa mengajakmu sekarang bersamaku ke sana."
فَقَالَتْ فِي أَسَى:
Istrinya berkata dengan sedih:
"كُنْتُ أَرْجُو أَنْ أُقَدِّمَ قُرْبَانًا لِرَبِّ الْأَرْبَابِ وَإِلَهِ الْآلِهَةِ أَجْمَعِينَ. غَدًا إِنْ شِئْتَ نَذْهَبُ إِلَى الْمَعْبَدِ وَنُقَدِّمُ إِلَى إِلَهِنَا نَانَا، إِلَهَ الْقَمَرِ الْعَظِيمِ، قُرْبَانًا نَتَقَرَّبُ بِهِ إِلَيْهِ. كُنْتُ أَتَمَنَّى أَنْ أُقَدِّمَ الْقُرْبَانَ إِلَى رَبِّ الْأَرْبَابِ مَرْدُوخَ."
"Aku tadinya berharap bisa mempersembahkan kurban buat Tuhannya para tuhan dan dewa-dewa sekalian. Besok kalau kamu mau, kita ke kuil, terus kita kasih kurban buat tuhan kita Nana, Dewa Bulan yang Agung, biar kita makin dekat dengan dia. Aku benar-benar ingin memberikan kurban buat Tuhan para tuhan, Marduk."
كَانَ يُؤْمِنُ فِي قَرَارَةِ نَفْسِهِ أَنَّ مَرْدُوخَ هُوَ سَيِّدُ الْآلِهَةِ جَمِيعًا، وَأَنَّ نَانَا هُوَ إِلَهُ مَدِينَتِهِمْ أُورَ وَهُوَ نَفْسُهُ الْإِلَهُ سِينُ إِلَهُ الْقَمَرِ، وَأَنَّ وَلَدَيْهِ شَمَّاشَ الْقَاضِي الْأَعْظَمَ إِلَهَ الشَّمْسِ، وَعَشْتَارَ الْعَطُوفَ إِلَهَةَ اللَّذَّةِ، إِنْ هِيَ إِلَّا آلِهَةٌ فَقَدَتْ كَثِيرًا مِنْ سُلْطَانِهَا بَعْدَ أَنِ انْتَصَرَ عَلَيْهَا جَمِيعًا مَرْدُوخُ، إِلَّا أَنَّهُ رَأَى أَنْ يَطِيبَ نَفْسَهَا فَقَالَ لَهَا مُوَاسِيًا:
Di dalem hatinya, Azar yakin Marduk itu sebenarnya tuhannye semua dewa, dan Nana itu tuhan kota mereka Ur yang juga sebenarnya Dewa Sin, Dewa Bulan. Anak-anaknya, Shamash Hakim Agung Dewa Matahari dan Ishtar si Penyayang Dewi Kenikmatan, itu sebenarnya hanya dewa-dewa yang sudah banyak kehilangan kekuasaan setelah Marduk menguasai semuanya. Tapi karena dia ingin menyenangkan istrinya, maka dia berkata penuh kelembutan yang menenangkan:
"إِنَّ نَانَا يُمَثِّلُ مَرْدُوخَ هُنَا فِي بِلَادِنَا، فَإِنْ قَدَّمْتِ إِلَيْهِ قُرْبَانًا فَكَأَنَّمَا قَدَّمْتِ قُرْبَانًا إِلَى مَرْدُوخَ الْعَظِيمِ."
"Nana adalah wakil Marduk di sini, di negeri kita. Jadi kalau kamu mempersembahkan kurban ke dia, itu sama saja seperti kamu mempersembahkan kurban ke Marduk yang Agung."
فَقَالَتْ فِي نَبَرَاتٍ تُنِمُّ عَلَى أَنَّهَا غُلِبَتْ عَلَى أَمْرِهَا:
Imatali berkata dengan nada yang meunjukkan kalau dia sudah pasrah dengan keadaannya:
"سَأَفْعَلُ، بَيْدَ أَنِّي أَرْجُو إِذَا وَصَلْتَ إِلَى بَابِلَ أَنْ تُقَدِّمَ إِلَى رَبِّ الْأَرْبَابِ قُرْبَانًا عَنِّي، لَعَلَّهُ يَغْفِرُ لِي سَيِّئَاتِي وَيُبَارِكُ فِي عُمْرِي."
"Baik, akan aku lakukan. Tapi aku mohon, kalau kamu sudah sampai di Babil, persembahkan kurban atas namaku buat Tuhan para tuhan. Mudah-mudahan dia mau mengampuni dosa-dosaku serta memberi keberkahan terhadap umurku."
"أَنَا وَاثِقٌ أَنَّ حَيَاتَكِ كُلَّهَا حَسَنَاتٌ لَا تَشُوبُهَا شَائِبَةٌ مِنْ خَطَايَا. أَنْتِ بَرَكَةٌ يَا إِمْتَالَى، وَلْتَطِيلَنَّ الْآلِهَةُ أَيَّامَكِ عَلَى الْأَرْضِ."
"Aku yakin hidup kamu hanya berisikan kebaikan saja, tanpa ada noda dosanye sedikitpun. Kamu sudah diberkahi, Imatali, semoga para dewa memberikan kamu usia yang panjang dalam hidup kamu."
وَقَادَهَا فِي رِفْقٍ إِلَى حَيْثُ كَانَ فِرَاشُهَا وَعَاوَنَهَا عَلَى أَنْ تَتَمَدَّدَ فِيهِ، ثُمَّ طَفِقَ يَلْثِمُهَا هُنَا وَهُنَاكَ فِي هِيَامٍ، فَرَنَتْ إِلَيْهِ بِعَيْنَيْهَا الْوَاسِعَتَيْنِ يَشُعُّ مِنْهُمَا حُبٌّ وَرِضًا وَاسْتِسْلَامٌ وَقَالَتْ:
Azar menuntun istrinya dengan lembut ke tempat tidurnya, lalu dia membantunya untuk merebahkan diri. Setelah itu dia menciumnya dengan penuh kasih sayang. Istrinya hanya menatapnya dengan matanya yang lebar, yang menunjukkan rasa cinta, ridho, serta pasrah, lalu dia berkata:
"ظَلَمَكَ أَبُوكَ إِذْ سَمَّاكَ آزَرَ، كَيْفَ يَدْعُوكَ « النَّارَ » وَأَنْتَ رَقِيقٌ أَرَقَّ مِنَ النَّسِيمِ؟! لَعَلَّ نُجُومَهُ خَانَتْهُ يَوْمَ نَظَرَ فِيهَا لِيَخْتَارَ لَكَ اسْمًا."
"Bapak kamu kenapa telah mendzolimi kamu dengan memberikan kamu nama Azar. Bagaimana bisa dia memanggil kamu 'Api', padahal kamu begitu lembut, lebih lembut dari angin sepoi-sepoi?! Mungkin bintang-bintangnya sudah menipunya ketika dia melihat ramalan untuk memilih nama buat kamu."
فَرَفَتْ بَسْمَةٌ عَذْبَةٌ عَلَى شَفَتَى آزَرَ وَقَالَ:
Senyuman manis tersungging di bibir Azar, lalu dia berkata:
"مَا خَابَتْ أَبَدًا نَظْرَةُ أَبِي فِي النُّجُومِ. أَنَا وَدِيعٌ يَا حَبِيبَتِي مَا دُمْتِ إِلَى جِوَارِكِ لِأَنَّكِ لَا تُحَرِّكِينَ غَضَبِي؛ أَمَّا إِذَا أُثِرْتُ فَإِنِّي أَضْطَرِمُ كَالنَّارِ وَأَلْتَهِمُ كُلَّ مَا يَعْتَرِضُ سَبِيلِي."
"Bapakku tidak pernah salah pandangan soal bintang-bintang. Aku memang lembut, Sayang, selama aku berada di sisi kamu, karena kamu tidak pernah memancing kemarahanku. Tapi kalau aku sudah terpicu, aku akan berkobar laksana api, lalu aku akan melahap ape pun yang menghalangi jalanku."
وَانْتَصَبَ قَائِمًا وَقَالَ لَهَا:
Dia kemudian berdiri tegak seraya berkata kepada istrinya:
"نَامِي يَا حَبِيبَتِي فِي رِعَايَةِ الْبَعُولِ الْكِرَامِ آلِهَتِنَا الْعِظَامِ."
"Tidurlah, Sayang, di bawah perlindungan tuan-tuan mulia, dewa-dewa kita yang agung."
وَدَارَ عَلَى عَقِبِهِ وَانْطَلَقَ إِلَى الْبَابِ وَفَتَحَهُ ثُمَّ أَغْلَقَهُ فِي رِفْقٍ وَرَاءَهُ. كَانَتِ اللَّيْلَةُ حَالِكَةَ السَّوَادِ، اخْتَفَتْ فِيهَا جِبَالُ أُورَ فِي الظَّلَامِ، وَبَدَتِ السُّفُنُ الرَّاسِيَةُ فِي الْمِينَاءِ كَأَنَّهَا أَشْبَاحٌ، وَعَكَسَتْ صَفْحَةُ الْمَاءِ خُيُوطًا وَاهِنَةً مِنَ الضَّوْءِ. وَمَلَأَ السُّكُونَ نَفْسَ آزَرَ خُشُوعًا فَرَاحَ يَنْزِلُ فِي الدَّرَجِ الْمُوصِلِ إِلَى الطَّرِيقِ فِي تَوْدَةٍ، فَقَدْ بُنِيَتْ بُيُوتُ أُورَ فَوْقَ الرَّوَابِي لِتَأْمَنَ غَوَائِلَ الْفَيَضَانِ، إِذْ تَقَعُ الْمَدِينَةُ عِنْدَ مَصَبِّ النَّهْرَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ دِجْلَةَ وَالْفُرَاتِ اللَّذَيْنِ يَجْرِيَانِ بِالْخَيْرَاتِ.
Dia membalikkan badannya, langsung berjalan menuju pintu, membukanya lalu menutupnya kembali dengan perlahan. Malam itu benar-benar pekat, gunung-gunung di Ur hilang ditelan kegelapan, kapal-kapal yang sedang bersandar di pelabuhan terlihat bak hantu-hantu, permukaan air memantulkan cahaya remang. Suasana hening pun mengisi jiwa Azar dengan rasa khusyuk, lalu dia mulai berjalan menuruni tangga yang bersambung ke jalanan perlahan-lahan. Sebab rumah-rumah di Ur dibangun di atas bukit supaya terhindar dari bahaya banjir, karena kota itu letaknya di muara dua sungai besar, yaitu Tigris dan Efrat, yang mengalir dengan membawa banyak keberkahan.
وَأَحَسَّ آزَرُ أَنَّ رُوحَهُ تَتَّصِلُ بِرُوحِ الْكَوْنِ الْعَظِيمِ، فَرَفَعَ بَصَرَهُ إِلَى السَّمَاءِ وَنَظَرَ فِي النُّجُومِ فَأَلْفَى كَوْكَبَ الْمُشْتَرَى بَازِغًا فَاسْتَشْعَرَ أَمْنًا، فَإِلَهُهُ مَرْدُوخُ رَبُّ الْأَرْبَابِ يَرْعَاهُ، فَرَاحَ يَتْلُو فِي حَرَارَةٍ وَابْتِهَالٍ وَعَيْنَاهُ لَا تَحِيدَانِ عَنِ الْمُشْتَرَى سَيِّدِ الْآلِهِةِ جَمِيعًا:
Azar merasakan jiwanya tersambung dengan roh semesta yang agung. Dia menengadahkan muka ke langit, memperhatikan bintang-bintang, lalu melihat planet Jupiter sedang bersinar, dia merasa sangat nyaman. Karena Tuhannye, Marduk, Tuhannye para tuhan, sedang menjaganya. Dia mulai membaca doa dengan khusyuk dan penuh permohonan, matanya tidak lepas dari Jupiter, rajanya semua dewa:
"أَي مَرْدُوخُ الْعَظِيمُ، أَي رَبِّي وَرَبُّ الْآلِهَةِ جَمِيعًا، لَقَدْ قَضَتْ حِكْمَتُكَ أَلَّا تَغْمِضَ عَيْنَكَ أَبَدًا عَنْ عَبِيدِكَ وَرَعَايَاكَ؛ فَالنَّهَارَ يَكُونُ عَبِيدُكَ فِي كَنَفِ شَمَّاشَ إِلَهِ النُّورِ، وَفِي اللَّيْلِ يَرْعَاهُمُ نَانَا إِلَهُنَا الْقَمَرُ الْعَظِيمُ، وَإِذَا غَابَ نَانَا فِي السَّمَاءِ الزَّهْرَةُ عَشْتَارُ الْعَطُوفُ. إِنَّهَا جَمِيعًا بِأَمْرِكَ تَأْتَمِرُ، فَإِذَا اخْتَفَتْ فِي رِحْلَتِهَا الدَّائِمَةِ عَنْ عُيُونِنَا، وَإِذَا مَا عَجَزَتْ بَصَائِرُنَا عَنْ أَنْ تُدْرِكَهَا، تَجَلَّيْتَ عَلَيْنَا بِنُورِكَ لِأَنَّكَ أَرْأَفُ بِنَا مِنْ أَنْ تَتْرُكَ دُنْيَانَا دُونَ أَنْ تَتَرَدَّدَ فِي جَنْبَاتِهَا الْأَنْفَاسُ الطَّاهِرَةُ، أَنْفَاسُ الْآلِهَةِ الرَّحِيمَةِ بِعِبَادِهَا."
"Wahai Marduk yang Agung, wahai Tuhanku dan Tuhannya semua dewa. Hikmat-Mu telah menetapkan bahwa Engkau tidak pernah menutup mata-Mu dari hamba-Mu dan rakyat-Mu. Siang hari, hamba-Mu berada di bawah naungan Shamash Dewa Cahaya, dan malam hari mereka dijaga oleh Nana, Dewa Bulan yang Agung. Tatkala Nana hilang di langit, muncullah Ishtar si Penyayang. Mereka semua menuruti perintah-Mu. Tatkala mereka hilang dalam perjalanan abadi mereka dari pandangan kami, dan tatkala mata hati kami tidak sanggup melihat mereka, Engkau menampakkan diri-Mu beserta dengan cahaya-Mu, karena Engkau lebih welas asih kepada kami daripada meninggalkan dunia kami tanpa nafas suci yang berhembus di dalemnya, nafas dewa-dewa yang sayang kepada hamba-hambanya."
"أَي رَبِّي مَرْدُوخُ، إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى نَاحُورَ، إِلَى مَنْ أَسْدَيْتَ إِلَيْهِ النِّعْمَةَ الْكُبْرَى، وَرَفَعْتَ عَنْ عَيْنَيْهِ الْغِطَاءَ لِيَرَى قَبَسًا مِنْ أَسْرَارِكَ وَيَقْرَأَ الْمَسْطُورَ فِي لَوْحِ قَدَرِكَ، لِأَسْتَشِيرَهُ فِي أَمْرِ خُرُوجِي إِلَى مَعْبَدِكَ الْمُطَهَّرِ فِي بَابِلَ؛ فَأَطْلِعْهُ يَا إِلَهِي عَلَى مَا خَبَأْتَهُ لِي، فَإِنِّي تَارِكٌ زَوْجَتِي الْعَزِيزَةَ فِي وَقْتٍ هِيَ فِي أَشَدِّ الْحَاجَةِ إِلَى إِكْرَامٍ لِوَجْهِكَ. أَي رَبِّي مَرْدُوخُ، تَقَبَّلْ دُعَائِي وَسَدِّدْ خُطَايَ وَاهْدِنِي سَوَاءَ السَّبِيلِ، وَوَفِّقْنِي لِأَنْ أَصْنَعَ لَكَ تِمْثَالًا يَلِيقُ بِعَظَمَتِكَ يَوْمَ عِيدِكَ الْكَبِيرِ، تَرْضَى عَنْهُ وَيَرْضَى عَنْهُ مَلِكُنَا وَإِلَهُنَا النِّمْرُودُ، وَيَرْضَى عَنْهُ الْـ « أُورِيجَالُّو » كَبِيرُ كَهَنَتِكَ، وَيَرْضَى عَنْهُ النَّاسُ أَجْمَعُونَ."
"Wahai Tuhanku Marduk, hamba ingin menemui Nahur, orang yang Engkau kasih anugerah nikmat yang besar, dan Engkau buka penutup matanya supaya mampu melihat secercah rahasia-Mu serta membaca apa yang tertulis di papan takdir-Mu. Hamba ingin meminta saran soal kepergian hamba ke kuil suci-Mu di Babil. Beritahukan dia, wahai Tuhanku, apa yang Engkau simpan untuk hamba, karena hamba meninggalkan istri tersayang hamba yang sangat membutuhkan penghormatan demi wajah-Mu. Wahai Tuhanku Marduk, terimalah doa hamba, luruskan langkah hamba, tunjukkan hamba jalan yang benar, serta berikan hamba kemudahan untuk membuat patung yang layak dengan keagungan-Mu ketika hari raya besar-Mu nanti, patung yang Engkau ridhoi, raja dan penguasa kami Nimrod ridhoi, Urigallu pendeta agung-Mu ridhoi, serta semua orang juga ridhoi."
وَسَارَ وَهُوَ لَا يَرْفَعُ عَيْنَيْهِ عَنْ كَوْكَبِ الْمُشْتَرَى رَبِّ الْأَرْبَابِ مَرْدُوخَ، وَفِي الْقَلْبِ إِيمَانٌ وَفِي الْمُقْلَتَيْنِ دُمُوعٌ وَعَلَى الشَّفَتَيْنِ تَسْبِيحٌ، حَتَّى إِذْ بَلَغَ بَيْتَ أَبِيهِ رَاحَ يَرْقَى فِي الدَّرَجِ ثُمَّ طَرَقَ الْبَابَ فِي رِفْقٍ. وَمَرَّتْ لَحَظَاتٌ قَبْلَ أَنْ يَنْفَرِجَ الْبَابُ عَنْ جَارِيَةٍ فِي عَيْنَيْهَا آثَارُ النَّوْمِ، وَتَمْلأُ أَنْفَهُ رَائِحَةُ الْبَخُورِ، فَقَالَ لِلْجَارِيَةِ:
Azar berjalan sambil matanya tidak pernah lepas dari planet Jupiter, Tuhannya para tuhan Marduk. Di hatinya tertancap keimanan, di matanya berderai air mata, serta di bibirnya terlontar puji-pujian. Ketika tiba di rumah bapaknya, dia mulai menaiki tangga kemudian mengetuk pintu secara perlahan. Beberapa saat setelah pintu terbuka, muncullah seorang budak perempuan yang matanya masih sayu menahan kantuk. Hidung Azar pun mencium aroma dupa. Dia bertanya kepada sang budak:
"أَبِي فِي غُرْفَتِهِ؟"
"Apakah Bapakku ada di kamarnya?"
فَهَزَّتْ رَأْسَهَا أَنْ نَعَمْ دُونَ أَنْ تَنْطِقَ حَرْفًا، وَأَخَذَتْ تفرك عَيْنَيْهَا بِيَدَيْهَا ثُمَّ تَثَاءَبَتْ وَأَغْلَقَتِ الْبَابَ خَلْفَهُ، وَانْطَلَقَ إِلَى حَيْثُ كَانَ الْبَخُورُ يَتَصَاعَدُ عَيْنَاهُ عَلَى أَبِيهِ فَقَالَ:
Budak itu mengangguk 'ya' tanpa berbiacara sepatah kata pun, lalu dia mengucek matanya dengan tangan, seraya menguap dan menutup pintu di belakang Azar. Azar berjalan ke tempat dupa yang sedang mengepul, matanya tertuju ke bapaknya, kemudian dia menyapa:
"عَمْ مَسَاءً يَا أَبِي."
"Selamat malam, Yah."
"آزَرُ!! مَرْحَبًا بِكَ يَا بُنَيَّ. مَا الَّذِي جَاءَ بِكَ فِي هَذِهِ السَّاعَةِ؟"
"Azar!! Selamat datang, anakku. Ada apa gerangan kamu datang pada jam seperti ini?"
قَالَ آزَرُ وَيَدُهُ فِي يَدِ أَبِيهِ:
Azar menjawab sambil memegang tangan bapaknya:
"أَرْسَلَ إِلَيَّ الـ « أُورِيجَالُّو » كَبِيرُ كَهَنَةِ إِلَهِنَا مَرْدُوخَ؛ لِأَصْنَعَ تِمْثَالًا لِلْإِلَهِ فِي احْتِفَالَاتِ الْعِيدِ الْكَبِيرِ، فَجِئْتُ لِتُشِيرَ عَلَيَّ بِمَا أَفْعَلُ."
"Urigallu, pendeta agung Tuhannya kita Marduk, mengutus saya untuk membuat patung dewa pada perayaan Hari Raya Agung. Jadi saya datang supaya Ayah bisa memberikan saran apa yang harus saya lakukan."
فَرَاحَ نَاحُورُ يَقْلِبُ كَفَّ ابْنِهِ فِي يَدِهِ وَيَقُولُ:
Nahur mulai membolak-balik telapak tangan anaknya, lalu berkata:
"أَصَابِعُ صَانِعٍ مَاهِرٍ، عَلَّمْتُكَ كَيْفَ تَصْنَعُ تَمَاثِيلَ الْآلِهَةِ فَتَفَوَّقْتَ عَلَىَّ وَصِرْتَ أَمْهَرَ صَانِعٍ فِي الْبِلَادِ، حَتَّى إِنَّ الـ « أُورِيجَالُّو » يَبْعَثُ فِي طَلَبِكَ لِيَكُونَ لَكَ هَذَا الشَّرَفُ الْعَظِيمُ، شَرَفُ صُنْعِ تِمْثَالٍ لِإِلَهِنَا مَرْدُوخَ فِي عِيدِهِ الْكَبِيرِ، الْعِيدِ الَّذِي تَفِدُ فِيهِ الْآلِهَةُ كُلُّهَا إِلَى مَعْبَدِهِ الْمُعَظَّمِ لِتُقَدِّمَ لَهُ الطَّاعَةَ وَالْوَلَاءَ وَالْخُضُوعَ."
"Ini adalah jari-jemari pengrajin yang ahli. Aku sudah mengajarkanmu bagaimana cara membuat patung dewa, dan kamu malah lebih baik dari aku, bahkan kamu menjadi pengrajin paling hebat di seluruh penjuru negeri. Sampai-sampai Urigallu mengutus orang untuk memanggilmu supaya kamu mendapat kehormatan agung ini, kehormatan membuat patung buat Tuhannya kita Marduk pas Hari Raya Agungnya, hari raya ketika semua dewa datang ke kuilnya yang mulia untuk memberikan ketaatan, kesetiaan, serta ketundukan kepadanya."
فَقَالَ آزَرُ وَقَدْ غَضَّ مِنْ بَصَرِهِ حَيَاءً:
Azar berkata seraya menundukkan pandangannya karena merasa malu:
"— إِنَّمَا الْفَضْلُ لَكَ يَا أَبَتِ."
"— Semua keutamaan ini dari Ayah."
"— أَنَا فَخُورٌ بِكَ يَا بُنَيَّ.. أَنْتَ نِعْمَةٌ عُظْمَى.. أَنْتَ مُبَارَكٌ يَا آزَرُ.. سَيَكُونُ لَكَ شَأْنٌ عَظِيمٌ يَا بُنَيَّ.. رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ أَنَّ نُورًا أَضَاءَ السَّمَاءَ قَدْ خَرَجَ مِنْ صُلْبِكَ. اسْمَعْ نَصِيحَتِي يَا بُنَيَّ: قَدِّمِ الْخُضُوعَ لِإِلَهِنَا كُلَّ يَوْمٍ بِالتَّضْحِيَاتِ وَالصَّلَوَاتِ وَالْبَخُورِ. لِيَكُنْ قَلْبُكَ نَقِيًّا أَمَامَ رَبِّكَ، فَهَذَا مَا يَرْضَى بِهِ الْمَعْبُودُ مِنَ الْعَبْدِ. إِنْ أَنْتَ قَدَّمْتَ لَهُ التَّوَسُّلَ وَالدُّعَاءَ وَالصُّجُودَ فِي كُلِّ صَبَاحٍ، فَسَيَمْنَحُكَ كُلَّ الْكُنُوزِ، وَسَتَزْدَهِرُ أَيَّامُكَ بِفَضْلٍ مِنْهُ. ثُمَّ عَلَيْكَ بِالْخَوْفِ فَإِنَّ الْخَوْفَ يُوَلِّدُ الرِّفْقَ وَيُرِقُّ الْعَاطِفَةَ. وَإِيَّاكَ أَنْ تَنْسَى التَّضْحِيَةَ، فَإِنَّ التَّضْحِيَةَ تُطِيلُ الْعُمْرَ. وَالصَّلَاةُ الصَّلَاةُ فَإِنَّ الصَّلَاةَ تُخَلِّصُ مِنَ الْإِثْمِ."
"— Ayah bangga kepadamu, Anakku.. Kamu adalah anugerah yang luar biasa.. Kamu diberkati, Azar.. Kamu akan memiliki kedudukan yang agung, anakku.. Ayah melihat dalam mimpi, ada cahaya yang menerangi langit keluar dari keturunanmu. Dengerin nasihat Ayah, anakku: Tunjukkan ketundukan kepada Tuhan kita setiap hari dengan pengorbanan, doa, serta dupa. Biarkan hati kamu suci di hadapan Tuhanmu, karena inilah yang diridhoi Sang Sesembahan dari hambanya. Kalau kamu memberikan permohonan, doa, serta sujud setiap pagi, Dia akan memberikanmu semua harta karun, dan hari-harimu akan berkembang karena karunia dari-Nya. Lalu kamu harus memiliki rasa takut, karena rasa takut akan melahirkan kelembutan serta bikin perasaan jadi peka. Jangan sampai kamu lupa dengan pengorbanan, karena pengorbanan itu dapat memanjangkan usiamu. Dan sembahyanglah, sembahyanglah, karena sembahyang bisa menyelamatkanmu dari dosa."
"— إِنِّي يَا أَبَتِ عَبْدٌ مُطِيعٌ."
"— Saya, Ayah, akan menjadi hamba yang patuh."
"— اقْتَرِبْ يَا بُنَيَّ لِأَرْقِيَكَ."
"— Mendekatlah, anakku, biar Ayah ruqyah kamu."
وَاقْتَرَبَ آزَرُ مِنْ أَبِيهِ، وَرَاحَ نَاحُورُ يُلْقِي الْبَخُورَ فِي النَّارِ وَيَرْتِلُ بِصَوْتٍ أَقْرَبَ إِلَى الْهَمْسِ:
Azar pun mendekat ke bapaknya, Nahur mulai melempar dupa ke dalam api dan membaca mantra dengan suara yang hampir seperti bisikan:
"السَّيِّدُ الْعَظِيمُ الْإِلَهُ مَرْدُوخُ أَرْسَلَنِي. لَقَدْ أَحَلَّ رِقْيَتَهُ مَكَانَ رُقْيَتِي، وَوَضَعَ فَمَهُ الْمُقَدَّسَ مَكَانَ فَمِي، وَوَضَعَ لُعَابَهُ الْمُقَدَّسَ مَكَانَ لُعَابِي، وَوَضَعَ صَلَاتَهُ الْمُقَدَّسَةَ مَكَانَ صَلَاتِي. يَا أَيَّتُهَا الْأَرْوَاحُ الشِّرِّيرَةُ ارْجِعِي عَنْ آزَرَ."
"Tuan yang Agung, Dewa Marduk, telah mengutusku. Dia sudah mengganti ruqyahnya dengan ruqyahku, dia meletakkan mulut sucinya di tempat mulutku, dia menorehkan ludah sucinya di tempat ludahku, dan dia meletakkan pujian sucinya di tempat pujianku. Wahai roh-roh jahat, menjauhlah dari Azar."
ثُمَّ أَلْقَى نَاحُورُ فِي النَّارِ بَصُورَةٍ تَرْمُزُ إِلَى الشُّرُورِ، وَرَاحَ يَرْقُبُهَا وَالنَّارُ تَأْكُلُهَا وَهُوَ بَاسِرُ الْوَجْهِ، حَتَّى إِذَا مَا أَتَتْ عَلَيْهَا تَهَلَّلَتْ أَسَارِيرُهُ، وَالْتَفَتَ إِلَى ابْنِهِ وَهُوَ يَبْتَسِمُ وَقَالَ:
Terus Nahur melemparkan ke dalam api suatu gambar yang menggambarkan kejahatan, dia mengamati ketika apinya melahap gambar itu dengan muka yang tegas, sampai ketika apinya habis membakar gambar, tiba-tiba air mukanya menjadi sumringah, lalu dia menoleh kepada anaknya sambil tersenyum seraya berkata:
"— اذْهَبْ وَنَمْ، وَفِي الْفَجْرِ نَخْرُجُ إِلَى الْمَعْبَدِ لِنَرَى مَاذَا سَطَرَ لَكَ فِي لَوْحِ الْقَدَرِ."
"— Pergilah tidur, dan nanti ketika fajar, kita keluar ke kuil supaya kita bisa mengetahui apa yang sudah ditulis buat kamu nanti di papan takdir."
وَنَهَضَ آزَرُ وَنَامَ حَيْثُ اعْتَادَ أَنْ يَنَامَ قَبْلَ أَنْ يَتَزَوَّجَ، وَقُبَيْلَ الْفَجْرِ أَحَسَّ يَدًا تَهُزُّهُ فِي رِفْقٍ فَفَتَحَ عَيْنَيْهِ، فَرَأَى أَبَاهُ قَائِمًا عِنْدَ رَأْسِهِ يَقُولُ لَهُ:
Azar bangkit dan tidur di tempat dia biasa tidur sebelum menikah. Ketika menjelang fajar, Azar merasa ada tangan yang menggoyang-goyangkannya secara perlahan, dia membuka matanya, dan dia melihat bapaknya berdiri di dekat kepalanya seraya berkata:
"— قُمْ فَتَطَهَّرْ لِنَذْهَبَ إِلَى الْمَعْبَدِ."
"— Bangun, terus bersucilah, mari kita pergi ke kuil."
وَقَامَ آزَرُ وَاغْتَسَلَ، وَلَمَّا انْتَهَى مِنْ تَطَهُّرِهِ أَلْفَى أَبَاهُ قَدِ ارْتَدَى ثَوْبًا أَبْيَضَ وَتَأَهَّبَ لِلْخُرُوجِ، فَانْطَلَقَا فِي عَمَايَةِ الصُّبْحِ إِلَى الْمَعْبَدِ وَفِي يَدِ آزَرَ شَاةٌ. وَقَالَ نَاحُورُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَنْظُرُ إِلَى الشَّاةِ:
Azar bangun dan mandi, ketika dia selesai bersuci dia melihat bapaknya sudah memakai baju putih serta bersiap-siap untuk berangkat. Kemudian mereka berdua berjalan di waktu subuh ke kuil, di tangan Azar ada seekor domba. Nahur bilang ke anaknya ketika dia meelihat ke domba itu:
"— مَا أَرْأَفَ الْآلِهَةَ بِنَا، كَانَ أَجْدَادُنَا يَتَقَرَّبُونَ إِلَيْهَا بِذَبْحِ أَبْنَائِهِمْ، وَلَكِنَّهَا شَفَقَةً مِنْهَا أَعْلَنَتْ قَبُولَهَا أَنْ نُضَحِّيَ لَهَا بِحَيَوَانٍ بَرِيءٍ مِنَ الْعُيُوبِ؛ أَلَا مَا أَرْحَمَ الْآلِهَةَ!"
"— Betapa welas asihnya para dewa ke kita. Nenek moyang kita dulu mendekatkan diri kepada mereka dengan menyembelih anak-anak mereka, tapi karena rasa kasih sayang mereka, mereka memberitahukan penerimaan mereka untuk kita jika berkurban dengan hewan yang bersih dari cacat; alangkah maha penyayangnya para dewa!"
"— رَأَيْتُ يَا أَبِي رَجُلًا يَذْبَحُ ابْنَهُ فِي مَذْبَحِ شَمَّاشَ قُرْبَانًا وَزُلْفَى."
"— Saya pernah lihat, Yah, ada orang yang menyembelih anaknya di altar Shamash sebagai kurban dan sarana mendekatkan diri."
"— إِنَّهُ نَذْرٌ لِلْإِلَهِ وَكَانَ عَلَيْهِ أَنْ يَفِيَ بِنَذْرِهِ."
"— Itu nazar buat sang dewa, dan dia harus memenuhi nazarnya."
"— نَذَرْتُ إِنْ وَضَعَتْ إِمْتَالَى أُنْثَى أَنْ أَهَبَهَا لِلْمَعْبَدِ."
"— Saya juga sudah bernazar, kalau Imatali melahirkan anak perempuan, saya akan hibahkan dia buat kuil."
"— أَتَطْمَحُ أَنْ تُصْبِحَ كَاهِنَةً؟"
"— Apakah kamu inging dia menjadi pendeta wanita?"
"— لِتَكُنْ مَشِيئَةُ الْآلِهَةِ سَوَاءٌ عِنْدَى أَكَاهِنَةٌ كَانَتْ أَمْ كَانَتْ مُغَنِّيَةً أَمْ فَتَاةً مِنْ فَتَيَاتِ الْهَوَى مَا دَامَتْ هَذِهِ مَشِيئَةُ الْآلِهَةِ."
"— Biarlah dia menjadi seperti yang dikehendaki para dewa, entah dia menjadi pendeta, penyanyi, atau menjadi gadis penghibur, selama itu memang kehendak para dewa, maka biarlah."
"— لِتَفْعَلِ الْآلِهَةُ بِنَا مَا تَشَاءُ."
"— Biarkanlah apa pun yang para dewa akan lakukan terhadap kita sekehendak mereka."
وَدَخَلَ إِلَى الْمَعْبَدِ، وَوَضَعَ نَاحُورُ مَوْقِدًا أَمَامَ نَانَا وَشَمَّاشَ وَمَرْدُوخَ، وَوَضَعَ أَرْبَعَ أَوَانٍ مِنَ نَبِيذِ السِّمْسِمِ عَلَى مَائِدَةٍ خَلْفَ كُلِّ مَوْقِدٍ، وَوَضَعَ أَرْغِفَةً وَمَزِيجًا مِنَ الزُّبْدِ وَالْعَسَلِ وَبَعْضَ الْمِلْحِ. وَرَاحَ نَاحُورُ يَنْفُخُ الْمَوْقِدَ أَمَامَ نَانَا إِلَهِ الْقَمَرِ وَحَارِسِ مَدِينَةِ أُورَ، ثُمَّ أَخَذَ آزَرُ فِي يَدِهِ وَشَخَصَ بِبَصَرِهِ إِلَى تِمْثَالِ الْإِلَهِ وَرَاحَ يَتْلُو فِي خُشُوعٍ:
Dia masuk ke kuil, Nahur menaruh perapian di depan Nana, Shamash, dan Marduk, lalu menaruh empat bejana anggur wijen di atas meja di belakang setiap perapian, serta menaruh roti-roti kecil dan campuran mentega, madu, serta sedikit garam. Nahur mulai meniup perapian di depan Nana, dewa bulan dan penjaga kota Ur, kemudian dia menuntun Azar, lalu dia memperhatikan patung dewa dan mulai membaca doa dengan khusyuk:
"— آزَرُ خَادِمُكَ. أَلَا فَاسْمَحْ لَهُ يَا إِلَهِي أَنْ يُقَدِّمَ التَّضْحِيَةَ لِجَلَالِكَ، أَلَا وَارْضَ عَنْهُ يَا إِلَهِي بِحَقِّ وَجْهِكَ الْكَرِيمِ."
"— Azar adalah hamba-Mu. Biarkan dia, wahai Tuhanku, untuk mempersembahkan kurban demi keagungan-Mu, ridhoilah dia, wahai Tuhanku, demi wajah-Mu yang mulia."
وَتَنَاوَلَ نَاحُورُ الشَّاةَ وَذَبَحَهَا فِي الْمَذْبَحِ وَهُوَ يَتْلُو:
Nahur mengambil domba itu dan menyembelihnya di atas altar sambil membaca:
"— الْحَمَلُ فِدَاءٌ لِآزَر؛ لَقَدْ قَدَّمَ حَمَلًا فِدَاءً عَنْ حَيَاتِهِ.. قَدَّمَ رَأْسَ الْحَمَلِ فِدَاءً عَنْ رَأْسِهِ.. قَدَّمَ عُنُقَ الْحَمَلِ فِدَاءً عَنْ عُنُقِهِ.. قَدَّمَ صَدْرَ الْحَمَلِ فِدَاءً عَنْ صَدْرِهِ، فَتَقَبَّلْ مِنْهُ تَضْحِيَتَهُ وَبِحْ لَهُ بِسِرِّكَ."
"— Domba ini tebusan buat Azar; dia sudah memberi domba sebagai tebusan untuk nyawanya.. dia memberi kepala domba sebagai tebusan untuk kepalanya.. dia memberi leher domba sebagai tebusan untuk lehernya.. dia memberi dada domba sebagai tebusan untuk dadanya, terimalah darinya pengorbanannya dan bukakanlah dia rahasia-Mu."
وَشَقَّ بَطْنَ الشَّاةِ وَأَخْرَجَ مِنْهَا الْكَبِدَ مَقَرَّ الْحَيَاةِ، وَأَخَذَ يَنْعَمُ النَّظَرَ فِيهَا لِيَرَى نَوَايَا الْإِلَهِ، لِيَقْرَأَ مَا سَطَّرَهُ لِصَاحِبِ الْقُرْبَانِ فِي لَوْحِ قَدَرِهِ. وَلَاحَ فِي وَجْهِ نَاحُورَ الِاهْتِمَامُ، وَدَنَا آزَرُ مِنْهُ وَهُوَ يَحْبِسُ أَنْفَاسَهُ، وَمَرَّتْ لَحَظَاتُ قَلَقَةٍ ثُمَّ قَالَ نَاحُورُ:
Nahur membedah perut domba itu dan mengeluarkan hatinya, sumbere hidupnya, lalu dia memperhatikan hatinya itu secara teliti agar bisa mengetahui niat Sang Dewa, supaya bisa membaca apa yang sudah digariskan buat yang berkurban di papan takdirnya. Muka Nahur terlihat sangat serius, Azar mendekat ke bapaknya sambil menahan napas, dan setelah beberapa saat yang mendebarkan, lalu Nahur berkata:
"— إِمْتَالَى.. إِمْتَالَى.."
"— Imatali.. Imatali.."
فَقَالَ آزَرُ فِي فَزَعٍ :
Azar berkata dengan ketakutan:
"— مَا بَالُهَا ؟"
"— Ada apa dengannya, Ayah?"
"— تَلِد .. لَا ، إِنَّهَا لَا تَلِدُ أُنْثَى بَلْ تَضَعُ غُلَامًا .. غُلَامًا يَقْتَرِنُ اسْمُهُ بِالسَّمَاءِ .. غُلَامًا لَهُ شَأْنٌ عَظِيمٍ .."
"— Melahirkan.. tidak, dia tidak melahirkan anak perempuan, melainkan melahirkan seorang anak laki-laki.. seorang anak laki-laki yang namanya dikaitkan dengan langit.. seorang anak laki-laki yang memiliki kedudukan agung.."
فَقَالَ آزَرُ فِي لَهْفَةٍ :
Azar berkata dengan penuh rasa penasaran:
"— وَمَاذَا تَرَى أَيْضًا يَا أَبِي ؟"
"— Dan apa lagi yang engkau lihat, wahai Ayah?"
"— الطَّرِيقُ إِلَى بَابِلَ آمِنٌ .. اِخْرُجْ مَعَ الْقَافِلَةِ الَّتِي تَرْحَلُ بَعْدَ غَدٍ ."
"— Jalan menuju Babilon aman.. keluarlah bersama kafilah yang berangkat lusa."
وَقَطَبَ نَاحُورُ وَجْهَهُ وَلَاحَ فِيهِ خَوْفٌ ، فَأَحَسَّ آزَرُ رَهْبَةً وَقَالَ :
Nahur mengerutkan wajahnya dan tampak ketakutan di sana, maka Azar merasakan rasa gentar dan berkata:
"— مَاذَا تَرَى أَيْضًا يَا أَبِي ؟ قُلْ .. قُلْ كُلَّ شَيْءٍ .. لَا تَخَفْ عَنِّي شَيْئًا .."
"— Apa lagi yang engkau lihat, wahai Ayah? Katakan.. katakan semuanya.. jangan sembunyikan apa pun dariku.."
فَقَالَ نَاحُورُ فِي صَوْتٍ فِيهِ رَنَّةٌ أَمَى :
Nahur berkata dengan suara yang bernada pedih:
"— سُحُبٌ دَاكِنَةٌ تَحْجُبُ وَجْهَ الْقَمَرِ .. وَجْهَ نَانَا ، وَكُسُوفٌ يَغْشَى وَجْهَ شَمَّاشَ ، وَأَصْنَامُ الْآلِهَةِ تَخِرُّ عَلَى وُجُوهِهَا .. خَطْبٌ نَازِلٌ .. شَرٌّ مُسْتَطِيرٌ .. آلِهَتُنَا تَخْتَفِي .. تَخْتَفِي إِلَى حِينٍ .. أَنْتَ .. أَنْتَ تَحْجُبُهَا ."
"— Awan gelap menutupi wajah bulan.. wajah Nana, dan gerhana menyelimuti wajah Shamash, dan berhala-berhala para dewa tersungkur di atas wajah mereka.. musibah yang akan turun.. kejahatan yang merajalela.. dewa-dewa kita menghilang.. menghilang untuk sementara.. engkau.. engkau yang menutupi mereka."
وَصَمَتَ نَاحُورُ وَقَالَ آزَرُ فِي لَهْفَةٍ :
Nahur terdiam, dan Azar berkata dengan penuh penasaran:
"— ثُمَّ مَاذَا ؟"
"— Lalu apa lagi?"
فَقَالَ نَاحُورُ فِي يَأْسٍ :
Nahur berkata dengan putus asa:
"— لَمْ أَعُدْ أَرَى شَيْئًا .. بَرَدَتِ الْكَبِدُ وَلَمْ تَعُدْ فِيهَا حَيَاةٌ ."
"— Aku tidak melihat apa pun lagi.. hati (hewan kurban) itu telah dingin dan tidak ada kehidupan lagi di dalamnya."
وَلَاحَ فِي وَجْهِي الْأَبِ وَالِابْنِ وَجُومٌ ، وَالْتَفَتَا إِلَى حَيْثُ كَانَ تِمْثَالُ الْإِلَهِ مَرْدُوخُ رَبِّ الْأَرْبَابِ وَكَبِيرِ الْآلِهَةِ وَفِي قَلْبَيْهِمَا رَهْبَةٌ ، وَفِي صَدْرَيْهِمَا ضِيقٌ ، ضِيقٌ مَنْ أَتَى فِي حَقِّ الْأَرْبَابِ أَمْرًا إِدًّا .
Wajah sang ayah dan anak diselimuti kesedihan, dan mereka menoleh ke arah patung dewa Marduk, Tuhan segala tuhan dan dewa agung, dan di dalam hati mereka ada rasa gentar, dan di dada mereka ada kesempitan, kesempitan orang yang melakukan perbuatan yang sangat keji terhadap para tuhan.
كَانَ تِمْثَالُ مَرْدُوخُ قَائِمًا فِي مَكَانِهِ بِأُذُنَيْهِ الْكَبِيرَتَيْنِ اللَّتَيْنِ تَرْمُزَانِ إِلَى فَهْمِهِ الْعَمِيقِ الَّذِي لَا يُحَدُّ ، يَحْمِلُ سِلَاحَهُ الْمُقَدَّسَ الَّذِي قَهَرَ بِهِ تِيَامَاتِ إِلَهَةَ الْفَضَاءِ ، فَمَنَحَهُ سَائِرُ الْآلِهَةِ حَقَّ تَقْرِيرِ الْمَصَائِرِ مُكَافَأَةً لَهُ ، وَرِيضَ تَحْتَ قَدَمَيْهِ الْوَحْشُ الَّذِي أَخْضَعَهُ ، كَانَ ذَلِكَ مُنْذُ بَدْءِ الْخَلِيقَةِ .
Patung Marduk berdiri di tempatnya dengan telinga besarnya yang melambangkan pemahaman mendalamnya yang tak terbatas, ia membawa senjata sucinya yang dengannya ia menaklukkan Tiamat, dewi angkasa, sehingga seluruh dewa memberinya hak untuk menentukan takdir sebagai imbalan baginya, dan di bawah kakinya tunduk monster yang telah ia taklukkan, itu terjadi sejak awal penciptaan.
وَتَقَدَّمَ نَاحُورُ نَحْوَ كَبِيرِ الْآلِهَةِ فِي خُشُوعٍ ، خَافِضَ الرَّأْسِ خَافِقَ الْقَلْبِ ، يُحَاوِلُ أَنْ يَسْتَجْمِعَ ذِهْنَهُ الَّذِي ذَهَبَ شُعَاعًا مِنْ هَوْلِ مَا رَأَى فِي كَبِدِ شَاةِ التَّضْحِيَةِ ، قَبْلَ أَنْ تَخْتَفِيَ كُلُّ رُؤْيَةٍ ، وَرَاحَ يَتْلُو مِنْ أَعْمَاقِهِ فِي حَرَارَةٍ وَإِيمَانٍ وَابْتِهَالٍ :
Nahur maju menuju dewa agung dengan khusyuk, menundukkan kepala, jantung berdegup kencang, mencoba mengumpulkan pikirannya yang buyar karena ngeri akan apa yang ia lihat di hati domba kurban, sebelum penglihatan itu hilang semua, dan ia mulai melafalkan dari kedalaman jiwanya dengan kehangatan, iman, dan permohonan:
"— يَا خَالِقَ الْبَشَرِ ، يَا سَاحِرَ الْآلِهَةِ وَإِلَهَ الْكَهَنُوتِ ، اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي إِنْ كُنْتُ أَخْطَأْتُ فِي حَقِّ الْأَرْبَابِ ؛ لَمْ تَنْطِقْ شَفَتَايَ إِلَّا بِمَا رَأَتْ عَيْنَايَ فِي كَبِدِ الْأُضْحِيَةِ ، وَقَدْ رَأَتَا مَا أُوحِيَتْ إِلَيَّ وَكَشَفَتْ لِي عَنْ أَسْرَارِهِ ، فَإِنْ كَانَ مَا رَأَتْ عَيْنَايَ وَحْيَ شَيْطَانٍ ، فَاعْفُ عَنِّي فَقَدْ جِئْتُ أَسْتَوْحِيكَ وَقَلْبِي عَامِرٌ بِالْإِخْلَاصِ ."
"— Wahai pencipta manusia, wahai penyihir dewa dan tuhan para pendeta, ampunilah dosaku jika aku telah berbuat salah terhadap para tuhan; bibirku tidak mengucapkan kecuali apa yang dilihat mataku di hati hewan kurban, dan keduanya telah melihat apa yang diwahyukan kepadaku dan menyingkapkan rahasianya untukku, jika apa yang dilihat mataku adalah bisikan setan, maka maafkanlah aku, karena aku datang memohon wahyu-Mu sementara hatiku penuh dengan ketulusan."
وَسَالَتِ الْعَبَرَاتُ عَلَى خَدَّيْ نَاحُورَ فَأَحَسَّ كَأَنَّ حَمْلًا ثَقِيلًا انْزَاحَ عَنْ صَدْرِهِ ، وَالْتَفَتَ إِلَى آزَرُ وَالدُّمُوعُ تَمْلَأُ عَيْنَيْهِ ، ثُمَّ سَارَ وَسَارَ ابْنُهُ فِي أَثَرِهِ وَهُوَ صَامِتٌ حَائِرٌ لَا يَدْرِي تَأْوِيلَ مَا تَنَبَّأَ بِهِ أَبُوهُ ، وَقَدْ عَجَزَ عَنْ أَنْ يَرْبِطَ بَيْنَ النُّورِ الَّذِي رَآهُ أَبُوهُ فِي مَنَامِهِ يَخْرُجُ مِنْ صُلْبِهِ لِيُضِيءَ السَّمَاءَ ، وَبَيْنَ أَصْنَامِ الْآلِهَةِ الَّتِي انْكَفَأَتْ عَلَى وُجُوهِهَا يَجِلُّلُهَا الْخِزْيُ وَالْعَارِ .
Air mata mengalir di pipi Nahur, ia merasa seolah beban berat terangkat dari dadanya, dan ia menoleh ke Azar dengan mata yang penuh air mata, lalu ia berjalan dan putranya berjalan mengikutinya sementara ia terdiam bingung, tidak tahu takwil dari apa yang diramalkan ayahnya, dan ia gagal menghubungkan antara cahaya yang dilihat ayahnya dalam mimpi keluar dari tulang sulbinya untuk menerangi langit, dan berhala-berhala dewa yang tersungkur di atas wajah mereka, diselimuti kehinaan dan rasa malu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar