BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

Serial Abul Anbiya #18 | Saksi Bisu Ibrahim: Langkah Hijrah yang Membelah Hati Azar di Kota Safrayim

Thumbnail BABA Blog

بِسْمِ اللهِ الرَّحمْنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُم ْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Abi Ahmad Thoufur

Disajikan oleh : Abi Ahmad Thoufur

(Ustadz Betawi Nyablak Asli Cengkareng)

🏛️ COCOLAN SAMBEL BABA 🏛️

✍️ Muqoddimah ala Ustadz Betawi Nyablak

Gimane kabar jama'ah yang dimuliain Allah? Masih semangat ngikutin kisah teladan Ibrahim AS? Kali ini perjalanan kite bakal ngebawa kite ke satu titik yang bikin dada sesek, pas ngeliat bagaimane bapak dan anak ini harus ngadepin beda prinsip yang tajam banget di tengah perjalanan hijrah.

Saksi Bisu Ibrahim: Langkah Hijrah yang Membelah Hati Azar di Kota Safrayim. Saat Ibrahim memimpin kafilah menuju fajar tauhid, hatinya dipenuhi perih menyaksikan Azar justru memilih kembali pada kegelapan mezbah Safrayim, membeku dalam fanatisme yang membelah ikatan kasih mereka. Kite bakal ngebahas momen dramatis saat Azar terjebak antara cinta kepada anaknya dan kesetiaan buta pada berhala.

📖 مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ

Karya : Abdul Hamid Judah As-Sahhar

✦ ✧ ✦

أَبُو الْأَنْبِيَاءِ

Bapak Para Nabi ﴿

✧ ✦ ✧

Saksi Bisu Ibrahim:
Langkah Hijrah yang Membelah Hati Azar di Kota Safrayim

Yuk, baca naskah aslinye. Nyang baca harus fokus, nyang ngebatin harus khusyuk!
ABUL ANBIYA
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Saksi Bisu Ibrahim: Langkah Hijrah yang Membelah Hati Azar di Kota Safrayim

Saat Ibrahim memimpin kafilah menuju fajar tauhid, hatinya dipenuhi perih menyaksikan Azar justru memilih kembali pada kegelapan mezbah Safrayim, membeku dalam fanatisme yang membelah ikatan kasih mereka.

انْطَلَقَتْ قَافِلَةُ الْإِيمَانِ فِي رِحَابِ اللَّهِ ، مُخَلِّفَةً وَرَاءَهَا أُورَ الْكَدَّانِيِّينَ بِطُرُقَاتِهَا وَمَبَانِيهَا وَبُرْجِهَا الْعَظِيمِ الَّذِي عَلَا فِي السَّمَاءِ يُخَلِّدُ عَظَمَةَ الْبَشَرِ وَيَشُدُّهُمْ إِلَى الْأَرْضِ ، وَلَا يُحَلِّقُ بِهِمْ فِي رِحَابِ السَّمَاءِ .
Kafilah keimanan berangkat ke dalam rahmat Allah, meninggalkan di belakangnya Ur negeri Kasdim dengan jalan-jalan, bangunan-bangunan, dan menara agungnya yang menjulang tinggi ke langit mengabadikan keagungan manusia dan mengikat mereka ke bumi, dan tidak membawa mereka terbang di keluasan langit.
وَانْسَابَ الْمُؤْمِنُونَ عَلَى ضِفَّةِ الْفُرَاتِ ، وَكَانَتِ الْحُقُولُ تَمْتَدُّ إِلَى مَدَى الْبَصَرِ إِلَى الْآفَاقِ الْبَعِيدَةِ الْمُغَلَّفَةِ بِالْمَجْهُولِ ، وَكَانَ النَّهْرُ يَتَدَفَّقُ بِنِعْمَةِ اللَّهِ وَصَوْتُ خَرِيرِهِ فِي أَرْوَاحِ الْمُؤْمِنِينَ تَسْبِيحٌ ، وَكَانَتِ السَّمَاءُ صَاحِيَةً وَالشَّمْسُ تُرْسِلُ أَشِعَّتَهَا الْحَارَّةَ فَيَتَفَصَّدُ الْعَرَقُ مِنَ الْجِبَاهِ وَتَهِنُ الْأَجْسَادُ مِنَ التَّعَبِ ، وَلَكِنَّ إِشْرَاقَةَ النُّورِ الَّتِي تَعْمُرُ الْقُلُوبَ كَانَتْ تُحَوِّلُ كُلَّ مَشَقَّةٍ إِلَى رِضًا وَحُبُورٍ ، فَقَدْ كَانُوا جَمِيعًا مُنْطَلِقِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ .. إِلَّا آزَرَ فَقَدْ خَرَجَ فِرَارًا مِنَ الزِّرَايَةِ وَالِاحْتِقَارِ وَنَظَرَاتِ الْعَدَاوَةِ الَّتِي تَطُلُّ مِنْ عُيُونِ النَّاسِ ..
Kaum mukminin mengalir di tepi sungai Efrat, ladang-ladang membentang sejauh mata memandang hingga ufuk terjauh yang terbungkus misteri. Sungai mengalir dengan nikmat Allah, dan suara gemericiknya dalam ruh kaum mukminin adalah tasbih. Langit cerah, matahari mengirimkan sinar panasnya, keringat bercucuran dari dahi, tubuh melemah karena lelah, namun pancaran cahaya yang memenuhi hati mengubah setiap kesulitan menjadi keridhaan dan kebahagiaan, karena mereka semua berangkat di jalan Allah.. kecuali Azar, ia keluar untuk melarikan diri dari penghinaan, peremehan, dan tatapan permusuhan yang menyembul dari mata orang-orang...
كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَسْرَى فِي مَلَكُوتِ اللَّهِ سَرَيَانَ الرُّوحِ الْقَوِيَّةِ الْمُؤْمِنَةِ ؛ وَكَانَتْ سَارَةُ تَتَأَلَّقُ فِي جَمَالِهَا الَّذِي يَبْهَرُ الْعُيُونَ وَقَدْ أَضْفَى عَلَيْهَا إِيمَانُهَا جَلَالًا يَفُوقُ كُلَّ جَمَالٍ ؛ وَكَانَ لُوطٌ شَابًا قَوِيًا ، وَلَكِنَّ الْقُوَّةَ الَّتِي أَمَدَّهُ اللَّهُ بِهَا بَعْدَ أَنْ أَسْلَمَ لَهُ - وَجْهَهُ تَفُوقُ كُلَّ قُوَّةٍ فَهِيَ قُوَّةُ الرُّوحِ الَّتِي تَأْتِي بِمَا يَعْجِزُ عَنْهُ الْبَشَرُ ، وَكَانَ الْعَبِيدُ الَّذِينَ آمَنُوا يَسْتَشْعِرُونَ مِنَ الْعِزَّةِ وَالْحُرِّيَّةِ بِمَا لَمْ يَنْعَمْ بِهِ الْأَحْرَارُ ، فَلَمْ يَعُدْ رَجَاؤُهُمْ مَشْدُودًا إِلَى الْأَرْضِ بَلِ ارْتَفَعَ وَسَمَا إِلَى مَا فَوْقَ السَّمَوَاتِ .
Ibrahim berjalan dalam kerajaan Allah dengan aliran ruh yang kuat dan beriman; dan Sarah bersinar dengan kecantikannya yang memukau mata, dan imannya telah memberikannya kemegahan yang melebihi segala kecantikan; dan Luth adalah seorang pemuda yang kuat, namun kekuatan yang Allah berikan kepadanya setelah ia menyerahkan wajahnya kepada-Nya melebihi segala kekuatan, karena itu adalah kekuatan ruh yang mendatangkan apa yang tidak mampu dilakukan manusia. Dan para budak yang beriman merasakan kemuliaan dan kebebasan yang tidak dirasakan oleh orang-orang merdeka, sehingga harapan mereka tidak lagi tertuju ke bumi, melainkan naik dan menjulang ke atas langit.
وَأَقْبَلَ اللَّيْلُ وَخَفَّتْ حَرَارَةُ النَّهَارِ وَهَبَّتْ نَسَائِمُ نَدِيَّةٌ أَنْعَشَتِ النُّفُوسَ
Malam pun tiba, suhu siang hari mereda, dan hembusan angin sejuk bertiup menyegarkan jiwa.
وَالْقَافِلَةُ تَجِدُّ فِي السَّيْرِ . وَمَا زَالَ النَّاسُ فِي سَيْرِهِمْ حَتَّى أَشْرَقَتِ الشَّمْسُ فَنَزَلُوا عَنْ رَوَاحِلِهِمْ وَنَصَبُوا الْخِيَامَ وَأَسْلَمُوا أَجْسَامَهُمْ لِلرُّقَادِ . نَامُوا مِلْءَ عُيُونِهِمْ وَمَا فَكَّرَ أَحَدُهُمْ فِي الدَّارِ الَّتِي غَادَرَهَا وَلَا فِي الْفِرَاشِ الْوَثِيرِ الَّذِي هَجَرَهُ ، فَقَدْ أَقَامَ كُلُّ مِنْهُمْ فِي قَلْبِهِ بَيْتًا لِلَّهِ ، بَيْتًا لَا تَرْتَفِعُ إِلَيْهِ بُيُوتُ الدُّنْيَا بِمَا فِيهَا مِنْ رِيَاشٍ وَزِينَةٍ وَمَتَاعٍ .
Kafilah terus bergegas dalam perjalanan. Orang-orang terus berjalan hingga matahari terbit, mereka turun dari kendaraan, mendirikan tenda, dan menyerahkan tubuh mereka untuk beristirahat. Mereka tidur dengan pulas, dan tak satu pun dari mereka memikirkan rumah yang telah ditinggalkannya atau ranjang empuk yang telah ia tinggalkan, karena mereka masing-masing telah mendirikan di hatinya rumah untuk Allah, rumah yang tidak bisa disamai oleh rumah-rumah duniawi dengan segala perabotan, perhiasan, dan kemewahannya.
وَرَقَدَتِ الْأَنْعَامُ وَالْأَغْنَامُ بِالْقُرْبِ مِنَ الْخِيَامِ . إِنَّهَا كُلُّ مَا خَرَجُوا بِهِ مِنَ الْمَدِينَةِ وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا يَحِسُّونَ أَنَّهُمْ أَغْنِيَاءُ . فَإِنَّ أَرْضَ اللَّهِ الْوَاسِعَةَ لَهُمْ ، وَمِيَاهَ النَّهْرِ الَّتِي تَجْرِي بِالْخَيْرَاتِ مِلْكُ أَيْمَانِهِمْ ، وَكَوَاكِبَ السَّمَاءِ سُخِّرَتْ لَهُمْ ، فَهُمْ مُذْ خَرَجُوا مِنْ أُورَ فِي ضِيَافَةِ اللَّهِ .
Ternak dan domba berbaring di dekat tenda. Itulah semua yang mereka bawa dari kota, namun mereka merasa bahwa mereka kaya. Karena bumi Allah yang luas adalah milik mereka, air sungai yang mengalir dengan kebaikan adalah milik tangan mereka, dan bintang-bintang di langit ditundukkan untuk mereka. Maka semenjak mereka keluar dari Ur, mereka berada dalam jamuan Allah.
وَقَامُوا لِلصَّلَاةِ وَاصْطَفُّوا جَمِيعًا خَلْفَ إِبْرَاهِيمَ ، إِلَّا آزَرَ فَقَدِ انْتَبَذَ مَكَانًا قَصِيًا وَرَاحَ يَفْكَرُ فِيمَا كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ ابْنِهِ ، حَتَّى إِذَا طَافَتْ بِذِهْنِهِ ذِكْرَى ذَلِكَ الْيَوْمِ الَّذِي اشْتَعَلَتْ فِيهِ النَّارُ فِي آلِهَتِهِ أَطْرَقَ مَلِيًا وَأَصَاغَ سَمْعَهُ لِمَا كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ إِبْرَاهِيمَ مِنْ حِوَارٍ :
Mereka berdiri untuk shalat dan berbaris semua di belakang Ibrahim, kecuali Azar, ia menyendiri di tempat yang jauh dan mulai memikirkan apa yang terjadi antara dia dan anaknya, hingga ketika terlintas di benaknya ingatan akan hari di mana api membakar tuhan-tuhannya, ia menunduk lama dan menyimak pendengarannya pada dialog yang pernah terjadi antara dia dan Ibrahim:
— يَا أَبَتِ إِنَّ النَّارَ أَحَقُّ بِعِبَادَتِكَ مِنْ أَصْنَامِكَ لِأَنَّهَا تَحْرِقُهَا .
— Wahai ayahku, sesungguhnya api lebih berhak untuk kau sembah daripada berhala-berhalamu karena api itu membakarnya.
— فَلِمَاذَا لَا تَعْبُدُ النَّارَ ؟
— Lalu mengapa kau tidak menyembah api?
— لِأَنِّي لَا أَحْسَبُ النَّارَ إِلَّا ، لِأَنَّ الْمَاءَ يَخْمِدُهَا .
— Karena aku tidak menganggap api itu Tuhan, karena air memadamkannya.
— فَلِمَاذَا لَا تَعْبُدُ الْمَاءَ ؟
— Lalu mengapa kau tidak menyembah air?
— لِأَنِّي لَا أَحْسَبُ الْمَاءَ إِلَّا ، لِأَنَّ الْأَرْضَ تَبْتَلِعُهُ .
— Karena aku tidak menganggap air itu Tuhan, karena bumi menelannya.
— فَلِمَاذَا لَا تَعْبُدُ الْأَرْضَ ؟
— Lalu mengapa kau tidak menyembah bumi?
— لِأَنِّي لَا أَحْسَبُ الْأَرْضَ إِلَّا ، لِأَنَّ الشَّمْسَ تَجْفِفُهَا وَتَنْشُرُ عَلَى الْكَوْنِ كُلِّهِ أَشِعَّتَهَا .
— Karena aku tidak menganggap bumi itu Tuhan, karena matahari mengeringkannya dan menyebarkan sinarnya ke seluruh alam semesta.
— فَلِمَاذَا لَا تَعْبُدُ الشَّمْسَ ؟
— Lalu mengapa kau tidak menyembah matahari?
— لِأَنِّي لَا أَحْسَبُ الشَّمْسَ إِلَّا ، لِأَنَّ الظَّلَامَ يَحْجُبُهَا .
— Karena aku tidak menganggap matahari itu Tuhan, karena kegelapan menghalanginya.
— فَلِمَاذَا لَا تَعْبُدُ مَا نَعْبُدُ ؟ لِمَاذَا لَا تَعْبُدُ الْقَمَرَ ؟ لِمَاذَا لَا تَعْبُدُ الْمُشْتَرَى ؟
— Lalu mengapa kau tidak menyembah apa yang kami sembah? Mengapa kau tidak menyembah bulan? Mengapa kau tidak menyembah Jupiter?
— لِأَنِّي لَا أَحْسَبُ الْقَمَرَ وَالنُّجُومَ وَالْكَوَاكِبَ الَّتِي تَظْهَرُ فِي الظَّلَامِ آلِهَةً ، لِأَنَّهَا تَحْجُبُ عِنْدَ طُلُوعِ النَّهَارِ ، وَإِنَّمَا الْإِلَهُ الْقَدِيرُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ هُوَ خَالِقُ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ وَالْكَوَاكِبِ وَالْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهَا وَخَالِقِي وَهَادِيَّ إِلَى الْحَقِّ الْمُبِينِ .
— Karena aku tidak menganggap bulan, bintang-bintang, dan planet-planet yang muncul dalam kegelapan sebagai tuhan, karena mereka menghilang saat siang tiba. Sesungguhnya Tuhan yang Maha Kuasa atas segala sesuatu adalah pencipta matahari, bulan, planet-planet, bumi dan segala isinya, serta penciptaku dan pemberi petunjukku menuju kebenaran yang nyata.
وَرَاحَ آزَرُ يَنْظُرُ إِلَى الْمُصَلِّينَ وَهُوَ يَعْجَبُ فِي نَفْسِهِ كَيْفَ آمَنَ هَؤُلَاءِ بِمَا يَدْعُو إِلَيْهِ إِبْرَاهِيمُ ؟ كَيْفَ أَسَاغَتْ عُقُولُهُمْ أَنْ يَعْبُدُوا إِلَّهًا لَا يَرَوْنَهُ وَلَيْسَ لَهُ رَمْزٌ فِي السَّمَاءِ كَمَرْدُوخَ وَنَانَا وَشَمَاشَ وَعَشْتَارَ وَالْآلِهَةِ الْأُخْرَى ؟ إِنَّهُ عِنْدَمَا يُنَاجِي مَرْدُوخَ يَتَمَثَّلُ لَهُ فِي خَيَالِهِ وَهُوَ جَالِسٌ عَلَى عَرْشِهِ وَقَدْ كَبُرَتْ أُذْنَاهُ اللَّتَانِ تَرْمِزَانِ إِلَى حِكْمَتِهِ . وَعِنْدَمَا يُنَاجِي نَانَا يَرَاهُ أَمَامَ عَيْنَيْهِ هِلَالًا دَائِمًا أَبَدًا ، وَيَحِسُّ فِي أَعْمَاقِهِ أَنَّهُ هُوَ الَّذِي يَقِيسُ الزَّمَنَ وَهُوَ الَّذِي يُنْهِي الْأَيَّامَ وَالشُّهُورَ وَالسِّنِينَ لِلْمُلُوكِ الْمُذْنِبِينَ بِالدُّمُوعِ وَالتَّأَوَّهَاتِ !
Azar terus memperhatikan orang-orang yang sedang shalat seraya bertanya-tanya dalam hatinya, bagaimana mereka bisa beriman pada apa yang diserukan oleh Ibrahim? Bagaimana akal mereka membenarkan untuk menyembah Tuhan yang tidak mereka lihat dan tidak memiliki simbol di langit seperti Marduk, Nana, Shamash, Ishtar, dan tuhan-tuhan lainnya? Jika ia memohon kepada Marduk, ia membayangkan dalam khayalnya ia sedang duduk di atas singgasananya dengan telinganya yang besar yang melambangkan kebijaksanaannya. Dan jika ia memohon kepada Nana, ia melihatnya di depan matanya sebagai bulan sabit yang abadi, dan ia merasakan di lubuk hatinya bahwa Dialah yang mengukur waktu dan yang mengakhiri hari, bulan, dan tahun bagi raja-raja yang berdosa dengan air mata dan rintihan!
وَعِنْدَمَا يُنَاجِي شَمَاشَ وَعَشْتَارَ وَلَدَى الْإِلَهِ الْقَمَرِ فَهُوَ يَعْرِفُ مَنْ يُنَاجِي ، وَهُوَ عِنْدَمَا يَرْفَعُ عَيْنَيْهِ إِلَى شَمَاشَ فَإِنَّمَا يَرْفَعُهُمَا إِلَى الْقَاضِي الْأَعْظَمِ الَّذِي أَنْجَبَ إِلَهَيْنِ جَلِيلَيْنِ هُمَا كَتُو وَمِيشَار : الْعَدَالَةَ وَالْحَقِّ ، وَهَلْ هُنَاكَ أَجَلُّ مِنَ الْعَدَالَةِ وَالْحَقِّ ! إِنَّ شَمَاشَ يَطَأُ الظُّلْمَ تَحْتَ قَدَمِهِ وَيُمْلِي عَلَى أَبْنَائِهِ الْمُلُوكِ وَالْآلِهَةِ قَوَانِينَ الْعَدَالَةِ .
Dan ketika ia memohon kepada Shamash dan Ishtar, dan kepada tuhan bulan, ia tahu siapa yang ia mohoni. Ketika ia mengangkat matanya ke arah Shamash, ia sedang mengangkatnya ke arah Hakim Agung yang telah melahirkan dua tuhan yang agung, yaitu Katu dan Mishar: keadilan dan kebenaran. Adakah yang lebih agung daripada keadilan dan kebenaran! Sesungguhnya Shamash menginjak kezaliman di bawah kakinya dan mendiktekan hukum-hukum keadilan kepada putra-putranya, para raja dan tuhan-tuhan.
تَرَى مَاذَا يَرَى الَّذِينَ آمَنُوا بِإِلَهِ إِبْرَاهِيمَ عِنْدَمَا يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ ؟ لَقَدْ قَلَبَ وَجْهَهُ فِي السَّمَاءِ فَلَمْ يَرَ فِيهَا إِلَّا آلِهَتَهُ وَآلِهَةَ قَوْمِهِ ، وَلَمْ يَرَ إِلَّا الْقَمَرَ وَالشَّمْسَ وَالْكَوَاكِبَ ، كَيْفَ يُرِيدُ إِبْرَاهِيمُ مِنْهُ أَنْ يَحِيدَ عَنْ آلِهَتِهِ الَّتِي يَرَاهَا وَيَعِيشُ فِي كَنَفِهَا إِلَى إِلَهٍ لَا يَرَاهُ .
Kira-kira apa yang dilihat oleh orang-orang yang beriman kepada Tuhan Ibrahim ketika mereka mengarahkan pandangan mereka ke langit? Dia telah memalingkan wajahnya ke langit, tetapi ia tidak melihat di dalamnya kecuali tuhan-tuhannya dan tuhan-tuhan kaumnya, dan ia tidak melihat kecuali bulan, matahari, dan planet-planet. Bagaimana Ibrahim menginginkan darinya untuk berpaling dari tuhan-tuhan yang ia lihat dan hidup dalam naungannya menuju Tuhan yang tidak ia lihat?
لَوْ أَنَّ إِبْرَاهِيمَ دَعَاهُ إِلَى عِبَادَةِ النَّارِ أَوِ الْمَاءِ أَوِ الْأَرْضِ أَوِ النُّجُومِ أَوِ الشَّمْسِ أَوِ الْقَمَرِ لَاسْتَجَابَ لَهُ ، فَهَذِهِ آلِهَةٌ تُرَى ؛ أَمَّا ذَلِكَ الَّذِي يَدْعُو إِلَيْهِ فَمَا عَرَفَهُ أَحَدٌ مِنَ الْآبَاءِ وَالْأَجْدَادِ .
Seandainya Ibrahim mengajaknya untuk menyembah api, air, bumi, bintang-bintang, matahari, atau bulan, niscaya ia akan mengabulkannya, karena itu adalah tuhan-tuhan yang terlihat. Adapun apa yang diserukan oleh Ibrahim, tidak seorang pun dari para leluhur dan nenek moyang yang mengenalnya.
وَذَكَرَ آزَرُ أَنْ رَجُلًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا يَدْعُو إِلَيْهِ ابْنُهُ قَالَ لَهُ : إِنَّ اللَّهَ طَهَّرَ الْأَرْضَ مَرَّتَيْنِ : مَرَّةً بِالطُّوفَانِ وَمَرَّةً بِالنَّارِ الَّتِي أُجِّجَتْ لِيَلْقَى فِيهَا ابْنُهُ الْمُبَارَكُ . وَدَعَاهُ أَنْ يُسَارِعَ لِلْإِيمَانِ وَالْأَرْضُ مَا تَزَالُ طَاهِرَةً قَبْلَ أَنْ يَعُودَ الْفَسَادُ فَيَدِبَّ فِيهَا مَرَّةً أُخْرَى ، مِثْلَمَا اسْتَشْرَى بَعْدَ الطُّوفَانِ .
Azar teringat bahwa seorang pria dari orang-orang yang beriman kepada apa yang diserukan anaknya berkata kepadanya: "Sesungguhnya Allah telah menyucikan bumi dua kali: sekali dengan banjir dan sekali dengan api yang dinyalakan agar putranya yang diberkati dilemparkan ke dalamnya." Ia pun mengajaknya untuk segera beriman selagi bumi masih suci sebelum kerusakan kembali menjalar di dalamnya sekali lagi, sebagaimana telah merajalela setelah banjir.
وَرَاحَ يُفَكِّرُ فِي هَذِهِ الْقَوْلَةِ ؛ إِنَّهُ يَعْلَمُ أَنَّ الْمُلُوكَ الْآلِهَةَ هَبَطُوا إِلَى الْأَرْضِ بَعْدَ الطُّوفَانِ لِيَحْكُمُوا الشُّعُوبَ بِاسْمِ الْآلِهَةِ الَّذِينَ فِي السَّمَاءِ ، وَمُنْذُ ذَلِكَ الْوَقْتِ وَالْمُلُوكُ الْآلِهَةُ يُمَارِسُونَ سُلْطَانَهُمْ . فَأَيْنَ ذَلِكَ الْفَسَادُ الَّذِي يَتَحَدَّثُ عَنْهُ ؟ وَقَالَ لَهُ الرَّجُلُ إِنَّهُ جَاءَ فِي صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ أَنَّ اللَّهَ يَقُولُ لِلنَّمْرُودِ وَمَنْ عَلَى شَاكِلَتِهِ : أَيُّهَا الْمَلِكُ الْمُسَلَّطُ الْمُبْتَلَى الْمَغْرُورُ ، إِنِّي لَمْ أَبْعَثْكَ لِتَجْمَعَ الدُّنْيَا بَعْضَهَا إِلَى بَعْضٍ وَلَكِنْ بَعَثْتُكَ لِتَرُدَّ عَنِّي دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ ، فَإِنِّي لَا أَرُدُّهَا وَإِنْ كَانَتْ مِنْ كَافِرٍ .
Ia mulai memikirkan perkataan ini; ia tahu bahwa raja-raja tuhan turun ke bumi setelah banjir untuk memerintah bangsa-bangsa atas nama tuhan-tuhan yang ada di langit, dan sejak saat itu raja-raja tuhan menjalankan kekuasaan mereka. Jadi di mana kerusakan yang ia bicarakan itu? Pria itu berkata kepadanya bahwa telah tertulis dalam lembaran-lembaran Ibrahim bahwa Allah berfirman kepada Namrud dan orang-orang yang serupa dengannya: "Wahai raja yang berkuasa, yang diuji dan tertipu oleh kesombongan, sesungguhnya Aku tidak mengutusmu untuk mengumpulkan dunia satu sama lain, tetapi Aku mengutusmu untuk membalas panggilan orang yang terzalimi bagi-Ku, karena Aku tidak akan menolaknya meskipun itu berasal dari seorang kafir."
أَلَّا إِبْرَاهِيمُ هُوَ الَّذِي بَعَثَ الْمُلُوكَ الْآلِهَةَ لِيَحْكُمُوا بَيْنَ النَّاسِ؟ إِنْ كَانَ هُوَ الَّذِي بَعَثَهُمْ فَمَاذَا فَعَلَ آلِهَتُنَا ؟ إِنَّ آلِهَتَنَا اجْتَمَعُوا فِي مَجْمَعِهِمْ بَعْدَ الطُّوفَانِ وَأَنْزَلُوا الْمُلْكِيَّةَ مِنَ السَّمَاءِ ، وَمَا كَانَ لِلْمُلُوكِ الْآلِهَةِ أَنْ يَظْلِمُوا فَإِنَّ كُلَّ مَا يَفْعَلُونَهُ عَدْلٌ ، عَدْلُ إِلَهِيٍّ ، وَوَصَفَ إِبْرَاهِيمَ إِيَّاهُمْ بِالْغُرُورِ وَالظُّلْمِ وَصَفَ جَافَاهُ الْإِنْصَافُ .
Bukankah Ibrahim yang mengutus raja-raja tuhan untuk menghakimi di antara manusia? Jika ia yang mengutus mereka, lalu apa yang dilakukan oleh tuhan-tuhan kami? Sesungguhnya tuhan-tuhan kami berkumpul dalam pertemuan mereka setelah banjir dan menurunkan kerajaan dari langit. Tidak mungkin raja-raja tuhan itu berbuat zalim, karena semua yang mereka lakukan adalah keadilan, keadilan ilahi. Dan Ibrahim menggambarkan mereka dengan kesombongan dan kezaliman, suatu penggambaran yang jauh dari keadilan.
وَخَطَرَ لَهُ بَعْدَ أَنْ اسْتَرَاحَ إِلَى مَا وَصَلَ إِلَيْهِ خَاطِرُهُ . إِنَّ النَّمْرُودَ الْمَلِكَ الْإِلَهَ ذَبَحَ لِإِلَهِهِ إِبْرَاهِيمَ أَرْبَعَةَ آلَافِ بَقَرَةٍ ، أَكَانَ يُضَحِّى بِكُلِّ هَذِهِ الْأَبْقَارِ إِنْ لَمْ يَكُنْ إِلَهُ إِبْرَاهِيمَ عَظِيمًا يَسْتَحِقُّ هَذِهِ التَّضْحِيَةَ ؟! وَوَسْوَسَتْ أَقْوَالُ الْكَهَانِ فِي صَدْرِهِ : إِنَّ إِبْرَاهِيمَ سَحَرَ النَّاسَ وَخَرَجَ مِنَ النَّارِ بِسِحْرِهِ ، وَسَحَرَ النَّمْرُودَ حَتَّى جَعَلَهُ يُذَبِّحُ الْأَبْقَارَ . وَاسْتَرَاحَ إِلَى هَمَزَاتِ الشَّيْطَانِ . فَأَبُوهُ نَاحُورَ كَانَ عَالِمًا بِالسِّحْرِ وَأَسْرَارِ النُّجُومِ ، فَلَعَلَّ إِبْرَاهِيمَ تَعَلَّمَ السِّحْرَ مِنْ جَدِّهِ عَلَى غَفْلَةٍ مِنْهُ كَمَا تَعَلَّمَ مِنْهُ النَّظَرَ فِي النُّجُومِ !
Terlintas di benaknya setelah ia merasa tenang dengan apa yang dicapai pikirannya. Apakah Raja Namrud sang tuhan telah menyembelih empat ribu sapi untuk tuhannya Ibrahim? Akankah ia mengorbankan semua sapi ini jika Tuhan Ibrahim bukanlah Tuhan yang agung yang layak mendapatkan pengorbanan ini?! Bisikan para pendeta bergejolak di dadanya: Bahwa Ibrahim telah menyihir orang-orang dan keluar dari api karena sihirnya, dan telah menyihir Namrud hingga membuatnya menyembelih sapi-sapi itu. Ia pun merasa tenang dengan godaan setan. Ayahnya, Nahur, adalah seorang ahli sihir dan rahasia bintang-bintang, mungkin Ibrahim mempelajari sihir dari kakeknya tanpa disadari, sebagaimana ia mempelajari darinya cara melihat bintang-bintang!
وَعَادَ فِكْرُهُ إِلَى الْقَلَقِ الَّذِى أَصْبَحَ يُسَاوِرُهُ مُنْذُ جَاءَ إِبْرَاهِيمُ بِدَعْوَةِ تَوْحِيدِ الْآلِهَةِ جَمِيعًا ، فَقَدْ تَبَادَرَ إِلَى ذِهْنِهِ سُؤَالٌ حَائِرٌ لَمْ يَعْرِفْ لَهُ جَوَابًا : إِذَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ سَحَرَهُمْ حَقًّا فَلِمَاذَا لَمْ يُعَاقِبُوهُ بِتُهْمَةِ السِّحْرِ وَالْقَانُونُ يَحْكُمُ بِإِعْدَامِ مَنْ يُمَارِسُ السِّحْرَ . لَوْ خَلَّى النَّمْرُودُ بَيْنَ الْكَهَنَةِ وَبَيْنَ إِبْرَاهِيمَ لَقَتَلُوهُ ، وَلَكِنَّ النَّمْرُودَ حَالَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَهُ ، إِنْ كَانَ النَّمْرُودُ قَدْ أَجَارَهُ أَوَ لَيْسَ هُوَ إِلَهًا لَا يَشِينُ أَفْعَالَهُ خَطَأً وَلَا يَجَانِبُهُ الصَّوَابُ؟ أَوْ يَقْدِرُ إِبْرَاهِيمُ إِنْ كَانَ سَاحِرًا أَنْ يَسْحَرَ إِلَهًا؟ إِنَّ آزَرَ فِي حَيْرَةٍ لَا يَدْرِي مَا يَفْعَلُ . أَيُؤْمِنُ بِمَا يَدْعُو إِلَيْهِ ابْنُهُ وَيَكْفُرُ بِدِينِهِ وَدِينِ آبَائِهِ ، أَمْ يَظَلُّ عَلَى دِينِهِ وَعِبَادَةِ آلِهَتِهِ السَّادَةِ الْبُعُولِ الْعِظَامِ ؟
Pikirannya kembali pada kegelisahan yang menyelimutinya sejak Ibrahim datang dengan dakwah tauhid semua tuhan, lalu muncul ke benaknya pertanyaan membingungkan yang tidak ia temukan jawabannya: Jika Ibrahim benar-benar menyihir mereka, mengapa mereka tidak menghukumnya dengan tuduhan sihir, padahal hukum menetapkan hukuman mati bagi siapa saja yang mempraktikkan sihir. Jika Namrud membiarkan para pendeta berhadapan dengan Ibrahim, niscaya mereka akan membunuhnya, tetapi Namrud menghalangi mereka. Jika Namrud melindunginya, bukankah ia adalah tuhan yang tindakan-tindakannya tidak dinodai oleh kesalahan dan tidak melenceng dari kebenaran? Atau mampukah Ibrahim, jika ia seorang penyihir, menyihir seorang tuhan? Azar berada dalam kebingungan, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah ia beriman pada apa yang diserukan anaknya dan mengkufuri agamanya serta agama leluhurnya, atau ia tetap pada agamanya dan menyembah tuhan-tuhannya, tuan-tuan yang agung?
وَاسْتَأْنَفَتْ قَافِلَةُ الْإِيمَانِ رِحْلَتَهَا وَقَدْ أَسْلَمَ كُلُّ مَنْ فِيهَا قَلْبَهُ لِلَّهِ ، فَلَمْ يَعُدْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ غَايَةٌ إِلَّا رِضَى رَبِّهِ . كَانَتْ سَعَادَتُهُمْ غَامِرَةً فَهُمْ مُهَاجِرُونَ إِلَى اللَّهِ . وَلَمْ يَكُنْ بَاسِرَ الْوَجْهِ إِلَّا آزَرَ ، فَقَدْ سَارَ فِي نَفْسِ هَذِهِ الطَّرِيقِ يَوْمَ اسْتَدْعَاهُ الْأُورِيجَالُّو فِي بَابِلَ لِيَصْنَعَ تِمْثَالًا لِلْإِلَهِ مَرْدُوخَ فِي عِيدِهِ الْكَبِيرِ ، وَكَانَ وَقْتَئِذٍ مُنْشَرِحَ الصَّدْرِ يَعْرِفُ مَوَاقِعَ قَدَمَيْهِ ، وَمَا يَكْدُرُ صَفْوَهُ إِلَّا رُؤْيَا أَبِيهِ الَّتِي رَآهَا فِي كَبِدِ الْأُضْحِيَةِ ، لَيْلَةَ رَأَى أَصْنَامَ الْآلِهَةِ تَتَكْفَأُ عَلَى وُجُوهِهَا .
Kafilah keimanan melanjutkan perjalanannya, sementara semua orang di dalamnya telah menyerahkan hatinya kepada Allah, sehingga tak satu pun dari mereka memiliki tujuan selain keridhaan Tuhannya. Kebahagiaan mereka meluap karena mereka sedang berhijrah menuju Allah. Tidak ada yang berwajah masam kecuali Azar, karena ia berjalan di jalan yang sama ini pada hari ketika ia dipanggil oleh Urigallu di Babilonia untuk membuat patung untuk dewa Marduk pada perayaan besarnya, dan saat itu hatinya lapang, ia tahu ke mana langkah kakinya, dan tidak ada yang mengotori kejernihannya kecuali penglihatan ayahnya yang ia lihat di dalam hati hewan kurban, pada malam ketika ia melihat berhala-berhala tuhan tersungkur di atas wajah mereka.
كَانَ فِي ذَلِكَ الْحِينِ تَطُوفُ بِهِ مَوْجَةٌ مِنَ الرَّهْبَةِ ، الرَّهْبَةِ مِنَ الْمَجْهُولِ ؛ أَمَّا الْيَوْمَ فَقَدْ وَقَعَ مَا كَانَ يَخْشَاهُ وَعَاشَ حَتَّى رَأَى تَأْوِيلَ رُؤْيَا أَبِيهِ نَاحُورَ ، عَاشَ حَتَّى رَأَى ابْنَهُ إِبْرَاهِيمَ يُحَطِّمُ أَصْنَامَ الْآلِهَةِ بِيَمِينِهِ ، وَقَاسَى بِسَبَبِ ذَلِكَ مِن غَضَبِ الْآلِهَةِ وَكُتِبَ عَلَيْهِ مَرْدُوخُ الْخَرَابَ فَاحْتَرَقَ هَارَانُ وَمَاتَتْ إِيمَتَالِي ، وَهَا هُوَ ذَا يَهِيمُ عَلَى وُجُهِهِ مَعَ أُنَاسٍ آمَنُوا لِابْنِهِ وَكَفَرُوا بِدِينِهِ وَدِينِ آبَائِهِ الْأَوَّلِينَ . وَتَذَكَّرَ أَنَّ أَبَاهُ قَالَ لَهُ إِنَّهُ رَأَى نُورًا يَخْرُجُ مِنْ ظَهْرِهِ يُنِيرُ السَّمَاءَ ، وَلَمْ يَشَأْ أَنْ يُصَدِّقَ أَنَّ مَا رَآهُ نَاحُورُ رُؤْيَا صَادِقَةً وَأَنَّ إِبْرَاهِيمَ مُبَارَكٌ ، بَلْ رَاحَ يُؤَكِّدُ لِنَفْسِهِ أَنَّ مَا رَآهُ أَبُوهُ يَخْرُجُ مِنْ ظَهْرِهِ إِنْ هُوَ إِلَّا نَارٌ خَرَجَتْ لِتَحْرِقَ آلِهَةَ السَّمَاءِ .
Saat itu, gelombang ketakutan meliputinya, ketakutan akan hal yang tidak diketahui. Adapun hari ini, apa yang ia takutkan telah terjadi dan ia hidup hingga melihat takwil mimpi ayahnya, Nahur. Ia hidup hingga melihat anaknya, Ibrahim, menghancurkan berhala-berhala tuhan dengan tangan kanannya, dan ia menderita karena murka tuhan-tuhan tersebut, dan Marduk menuliskan kehancuran atasnya, maka Haran terbakar dan Iim-tali meninggal. Dan kini ia mengembara dengan orang-orang yang beriman kepada anaknya dan mengkufuri agamanya serta agama nenek moyangnya terdahulu. Ia ingat bahwa ayahnya mengatakan kepadanya bahwa ia melihat cahaya keluar dari punggungnya menerangi langit, namun ia tidak ingin percaya bahwa apa yang dilihat Nahur adalah mimpi yang benar dan bahwa Ibrahim diberkati. Bahkan ia justru meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dilihat ayahnya keluar dari punggungnya hanyalah api yang keluar untuk membakar tuhan-tuhan langit.
وَمَرَّتِ الْقَافِلَةُ بِبَابِلَ وَلَاحَتْ لِلْعُيُونِ الْمَدِينَةُ الَّتِي بُنِيَتْ فَوْقَ الرَّبْوَةِ بِبُرْجِهَا الْهَائِلِ الْمُدَرَّجِ ، فَصَغُرَتْ نَفْسُ آزَرَ فِي عَيْنَيْهِ وَرَاحَ يَتَبَتَّلُ إِلَى رَبِّ الْأَرْبَابِ فِي حَرَارَةٍ أَنْ يَرْفَعَ عَنْهُ غَضَبَهُ ، بَيْنَا نَظَرَ إِبْرَاهِيمُ وَمَنْ مَعَهُ إِلَى الْمَدِينَةِ الْعَظِيمَةِ فِي ازْدِرَاءٍ ، فَإِنَّ بُيُوتَ اللَّهِ الَّتِي شَيَّدُوهَا فِي قُلُوبِهِمْ أَرْوَعُ وَأَرْحَبُ وَأَثْمَنُ مِنْ كُلِّ بُيُوتِ الْأَرْضِ . وَضَرَبَتِ الْقَافِلَةُ خِيَامَهَا بِأَرْبَاضِ مَدِينَةِ سَفْرَايِمَ ، وَلَمَّا اسْتَرَاحَ أَهْلُهَا مِنْ تَعَبِ الرِّحْلَةِ دَخَلُوا الْمَدِينَةَ يَتَزَوَّدُونَ مِنْ أَسْوَاقِهَا وَيَمْلَئُونَ سِقَاءَتَهُمْ مِنْ آبَارِهَا .
Kafilah melewati Babilonia dan terlihatlah oleh mata kota yang dibangun di atas bukit dengan menara bertingkatnya yang megah. Jiwa Azar mengecil di matanya dan ia mulai memohon kepada Tuhan segala tuhan dengan sungguh-sungguh agar menghilangkan murka-Nya darinya. Sementara Ibrahim dan orang-orang bersamanya memandang kota besar itu dengan meremehkan, karena rumah-rumah Allah yang mereka bangun di hati mereka jauh lebih megah, luas, dan berharga daripada semua rumah di bumi. Kafilah mendirikan tenda-tenda mereka di pinggiran kota Safrayim, dan ketika penduduknya beristirahat dari lelah perjalanan, mereka memasuki kota untuk berbelanja dari pasar-pasarnya dan mengisi kantong air mereka dari sumur-sumurnya.
وَراحُوا يَتَلَفَّتُونَ حَوْلَهُمْ فَهَذِهِ أَوَّلُ مَرَّةٍ يَرَى فِيهَا إِبْرَاهِيمُ وَسَارَةُ وَلُوطٌ تِلْكَ الْمَدِينَةَ . وَانْطَلَقَ آزَرُ وَهُمْ خَلْفَهُ فَوَجَدُوا أَنْفُسَهُمْ أَمَامَ مَعْبَدٍ مِنْ مَعَابِدِ الْقَوْمِ ارْتَفَعَ بُرْجُهُ وَغَصَّ بِالنَّاسِ . وَسَارَ آزَرُ إِلَى حَيْثُ قَامَ الْمَذْبَحُ، وَإِذَا بِخَلْقٍ كَثِيرٍ يَتَعَبَّدُونَ وَإِذَا الْمَرَاسِمُ تُجْرَى فِي خُشُوعٍ، وَأَصْوَاتُ الْمُغَنِّينَ تَرْتَفِعُ بِالتَّرَاتِيلِ، وَالدُّمُوعُ تَفِيضُ مِنَ الْعُيُونِ .
Mereka menoleh ke sekeliling, ini pertama kalinya Ibrahim, Sarah, dan Luth melihat kota itu. Azar pergi dan mereka di belakangnya, lalu mereka mendapati diri mereka berada di depan sebuah kuil dari kuil-kuil kaum tersebut, yang menaranya tinggi dan penuh sesak dengan manusia. Azar berjalan ke tempat mezbah berdiri, dan ternyata banyak sekali orang yang beribadah, upacara berlangsung dengan khusyuk, suara penyanyi meninggi dengan kidung-kidung, dan air mata bercucuran dari mata-mata mereka.
وَدَارَ إِبْرَاهِيمُ عَلَى عَقِبِهِ لِيَنْصَرِفَ وَإِذَا بِسَارَةَ تَهْتِفُ بِهِ :
Ibrahim berbalik untuk pergi, tiba-tiba Sarah berseru kepadanya :
— إِبْرَاهِيم ! انْظُر .
— Ibrahim! Lihat.
وَنَظَرَ إِبْرَاهِيمُ فَإِذَا بِرَجُلٍ يَعْتَرِفُ بِمَا ارْتَكَبَ مِنَ الْمَعَاصِي ثُمَّ يُقَدِّمُ ابْنَهُ الْبِكْرَ لِيَذْبَحَهُ قُرْبَانًا لِلْآلِهَةِ . وَتَقَدَّمَ الْكَاهِنُ فَأَمْسَكَ بِالصَّبِيِّ وَذَبَحَهُ وَهُوَ يَرْتِلُ الدَّعَوَاتِ ، وَالْمُوسِيقِيُّونَ يَنْفُخُونَ فِي الْمَزَامِيرِ وَيَنْقُرُونَ عَلَى الدُّفُوفِ وَالطُّبُولِ ، وَالْعَرَّافُونَ يُطْلِقُونَ الْبَخُورَ . وَالْتَفَتَ عَيْنَا إِبْرَاهِيمُ بِعَيْنَى أَبِيهِ وَكَانَ يَبْدُو عَلَى آزَرَ الْإِيمَانُ الْعَمِيقُ وَكَأَنَّمَا كَانَتْ عَيْنَاهُ تَقُولَانِ لِابْنِهِ : أَرَأَيْتَ إِيمَانَ قَوْمِنَا بِآلِهَتِهِمْ ؟ لَقَدْ بَلَغَ بِهِمُ الْإِيمَانُ حَدًّا جَعَلَ الْأَبَ يَذْبَحُ ابْنَهُ الْبِكْرَ عَلَى مَذَابِحِ الْآلِهَةِ تَكْفِيرًا عَنْ مَعْصِيَةٍ ارْتَكَبَهَا . أَفَلَوْ كَانَتْ سَارَةُ أَنْجَبَتْ لَكَ وَلَدًا أَكُنْتَ تَذْبَحُهُ قُرْبَانًا لِإِلَهِكَ ، لِرَبِّكَ الْوَاحِدِ الَّذِي تَدْعُو إِلَيْهِ ؟
Ibrahim melihat, ternyata ada seorang pria yang mengakui maksiat yang telah ia lakukan, kemudian mempersembahkan anak sulungnya untuk disembelih sebagai kurban bagi tuhan-tuhan. Sang pendeta maju, memegang anak laki-laki itu, dan menyembelihnya seraya melantunkan doa-doa, sementara para pemusik meniup seruling dan memukul rebana serta genderang, dan para peramal membakar dupa. Mata Ibrahim beralih ke mata ayahnya, dan pada Azar tampak keimanan yang mendalam, seolah matanya berkata kepada anaknya: Tidakkah engkau melihat keimanan kaum kita kepada tuhan-tuhan mereka? Keimanan mereka telah sampai pada batas yang membuat seorang ayah menyembelih anak sulungnya di atas mezbah tuhan-tuhan sebagai penebusan atas maksiat yang dilakukannya. Seandainya Sarah melahirkan anak untukmu, akankah engkau menyembelihnya sebagai kurban untuk tuhanmu, Tuhan Yang Maha Esa yang engkau serukan?
كَانَتْ نَظَرَاتُ آزَرَ تَنْطِقُ بِالْإِيمَانِ بِآلِهَتِهِ ، فَقَدْ خَامَرَهُ الشَّكُّ شَيْئًا فِى أَمْرِهَا بَعْدَ مَا سَمِعَهُ مِنْ إِبْرَاهِيمَ وَمَا رَآهُ مِنْ تَحْطِيمِهِ لِأَصْنَامِهَا ، أَمَّا مَا يَجْرِي الْآنَ عِنْدَ مَذْبَحِ الْإِلَهِ فِي سَفْرَايِمَ فَقَدْ أَعَادَ إِلَيْهِ إِيمَانَهُ . إِنَّ آلِهَتَهُ مَا تَزَالُ عَظِيمَةً جَلِيلَةً حَتَّى إِنَّ الْمَرْءَ لَيَتَقَرَّبُ إِلَيْهَا بِذَبْحِ ابْنِهِ الْبِكْرِ عَنْ طِيبِ خَاطِرٍ . وَتَذَكَّرَ هَارَانَ الَّذِي احْتَرَقَ لِيَدُلَّ عَلَى قُدْرَةِ آلِهَتِهِ فَلَمْ يَعُدْ يَعْصِرُ الْحُزْنُ قَلْبَهُ بَلْ غَمَرَهُ الرِّضَا . إِنَّ تَضْحِيَةَ هَارَانَ لِآلِهَتِهِ تَفُوقُ تَضْحِيَةَ هَذَا الْمُؤْمِنِ عَمِيقَ الْإِيمَانِ الَّذِي يُقَدِّمُ فَلْذَةَ كَبِدِهِ زُلْفَى لِلْآلِهَةِ ، فَقَدْ قَدَّمَ هَارَانُ نَفْسَهُ وَلَيْسَ شَخْصًا سِوَاهُ عَلَى مَذْبَحِ الْأَرْبَابِ ، فَضَحِيَّتُهُ تَفُوقُ كُلَّ تَضْحِيَةٍ تَخْطُرُ عَلَى الْبَالِ . وَقَرَّ عَزْمُ آزَرَ أَنْ يَبْقَى عَلَى دِينِ آبَائِهِ ، أَنْ يَظَلَّ مُؤْمِنًا بِأَرْبَابِهِ حَتَّى لَا تَذْهَبَ تَضْحِيَةُ هَارَانَ الْحَبِيبِ هَبَاءً ، وَرَاحَ يُطَمْئِنُ نَفْسَهُ أَنَّ الْآلِهَةَ سَتَرْضَى عَنْهُ ، فَإِنَّ كَانَ مَرْدُوخُ قَدْ كَتَبَ عَلَيْهِ الْخَرَابَ فَمَا فَعَلَ ذَلِكَ إِلَّا انْتِقَامًا لِمَا فَعَلَهُ إِبْرَاهِيمُ ، وَلَتُجْزِيَنَّهُ الْآلِهَةُ خَيْرًا بِمَا قَدَّمَ هَارَانُ .
Pandangan Azar berbicara tentang keimanannya kepada tuhan-tuhannya. Keraguan sempat sedikit merasuki pikirannya tentang hal itu setelah apa yang ia dengar dari Ibrahim dan apa yang ia lihat tentang penghancuran berhala-berhalanya. Namun, apa yang terjadi sekarang di mezbah tuhan di Safrayim telah mengembalikan keimanannya. Sesungguhnya tuhan-tuhannya masih agung dan mulia hingga seseorang mendekatkan diri kepada mereka dengan menyembelih anak sulungnya dengan kerelaan hati. Ia teringat Haran yang terbakar untuk menunjukkan kekuasaan tuhan-tuhannya, maka kesedihan tidak lagi memeras hatinya, melainkan keridhaan meliputinya. Sesungguhnya pengorbanan Haran bagi tuhan-tuhannya melebihi pengorbanan orang mukmin yang sangat beriman ini yang mempersembahkan darah dagingnya sebagai persembahan untuk tuhan-tuhan. Karena Haran telah mempersembahkan dirinya sendiri, bukan orang lain, di atas mezbah tuhan-tuhan, maka pengorbanannya melebihi setiap pengorbanan yang terlintas dalam pikiran. Tekad Azar bulat untuk tetap pada agama nenek moyangnya, untuk tetap beriman kepada tuhan-tuhannya agar pengorbanan Haran yang terkasih tidak sia-sia. Ia mulai menenangkan dirinya bahwa tuhan-tuhan akan ridha kepadanya. Jika Marduk telah menuliskan kehancuran atasnya, maka hal itu tidak dilakukan kecuali sebagai pembalasan atas apa yang dilakukan Ibrahim, dan tuhan-tuhan akan membalasnya dengan kebaikan atas apa yang telah dipersembahkan oleh Haran.

💬 SYARH NYABLAK USTADZ BCA
(Betawi Cengkareng Asli)
- Klik buat baca syarah gaya Abi Thoufur untuk episode ini -
Assalaamu'alaikum Sahabat BABA...!!

"Jama'ah BABA nyang dimuliain Allah! Gimane kabarnye, Cing, Nyak, Babe? Masih idup kan? Eh maksud ane, masih sehat kan? Alhamdulillah! Hari ini kite lanjut lagi ngebahas kelanjutan kisah Abul Anbiya. Perjalanan hijrah nyang bener-bener menguras emosi, membelah hati antara ketaatan anak dan kekufuran seorang bapak. Nyablak bener nih ceritanye, dengerin baek-baek!"

[BAGIAN 1: KAFILAH TAUHID MENINGGALKAN UR]

Abi Thoufur: "Jama’ah! Ini dia momen sejarah: Hijrah Pertama! Kafilah Ibrahim ninggalin Ur nyang penuh berhala. Di hati mereka cuma ada satu tujuan: Allah! Capek emang, keringet bercucuran, tapi hati mereka adem bener karena ngerasa 'bertamu' di bumi Allah nyang luas."

Abi Nyablak: "Tapi liat Azar, Bang... mukenye ditekuk mulu. Die ikut hijrah bukan karena iman, tapi karena malu dihina tetangga di Ur. Die jalan tapi hatinye masih ketinggalan di mezbah-mezbah batu!"

⚠️ [BAGIAN 2: DEBAT LOGIKA NYANG MASIH TERIANG]

Abi Thoufur: "Pas lagi istirahat, Azar ngelamun. Die inget omongan Ibrahim: 'Ngapain sembah api kalo air bisa mademin? Ngapain sembah air kalo bumi bisa nelen?' Logika Ibrahim sebenernye udah masuk ke otak Azar, tapi gengsi ama tradisi leluhur masih nangkring di lehernye."

Abi Nyablak: "Iye, Azar bingung: 'Gimana sih cara nyembah Tuhan nyang kagak keliatan? Kalo Marduk kan ada bentuknye, telinganye gede lambang bijak. Kalo Nana kan bulan sabit.' Dasar Azar, mau nyembah kok nyari nyang bisa dipelototin doang!"

[BAGIAN 3: SAFRAYIM: KOTA DENGAN RITUAL BERDARAH]

Abi Thoufur: "Kafilah mampir di Safrayim buat nyari bekel. Eh, mereka malah liat pemandangan nyang bikin jantung copot! Ada bapak-bapak lagi nangis sambil nyerahin anak sulungnye buat disembelih ama pendeta di depan patung dewa. Katanye, itu buat nebus dosa!"

Abi Nyablak: "Ibrahim ama Sarah ampe istighfar berkali-kali liatnye. Sadis bener! Tapi anehnye, si Azar malah melongo kagum. Die mikir: 'Wah, gile bener iman orang sini! Ampe anak sendiri dikasih buat tuhan.'"

[BAGIAN 4: AZAR NYANG BALIK KANAN]

Abi Thoufur: "Kejadian di Safrayim itu malah jadi 'bensin' buat kesesatan Azar. Die inget Haran nyang mati kebakar. Tadinye die sedih, sekarang die malah bangga: 'Haran hebat! Die berkorban buat tuhan pake nyawanye sendiri, lebih hebat dari orang Safrayim ini!'"

Abi Nyablak: "Azar langsung mutusin: 'Ane kagak mau ikut Ibrahim lagi! Ane mau tetep di agama bapak-nenek moyang ane. Biar pengorbanan Haran kagak sia-sia!' Duh, Azar... Azar... hidayah udah di depan mata, malah milih balik ke lobang buaya!"

[BAGIAN 5: PERPISAHAN NYANG PERIH]

Abi Thoufur: "Akhirnye, garis batas itu nyata. Ibrahim lanjut jalan menuju Ridho Allah, Azar tetep diem di Safrayim, membeku dalem fanatisme buta. Ibrahim perih hatinye liat bapaknye milih kegelapan, tapi dakwah harus jalan terus!"

Abi Nyablak: "Bener-bener membelah hati, Bang. Anak ngajak ke Surga, bapak milih nyungsep ke mezbah berhala. Pelajaran buat kite: Hidayah itu hak prerogatif Allah, tugas kite cuma ngajak."

[OUTRO]

Abi Nyablak: "Kesian Azar ye, Bang. Padahal udah liat mukjizat api, eh kalah ama ego leluhur. Jangan sampe kite kayak gitu ye, Jama'ah!"

Abi Thoufur: "Hijrah makin berat, tantangan makin nyata. Tungguin Episode 19 nyang makin seru! Ane Abi Thoufur ama Abi Nyablak pamit. Wassalamu’alaikum!"

— ABI THOUFUR • THE NYABLAK TEACHER • MAN 1 JAKARTA —
BONUS EXCLUSIVE

🎁 Bingkisan Sayang dari Abi: APA HIKMAH DI BALIK EPISODE INI BUAT KITA?

Cing, Nyak, Babe! Jangan pada langsung kabur dulu. Naskah Episode 18 ini bukan sekadar cerita sejarah "tempo doeloe", tapi cermin buat kita hari ini. Perpisahan Ibrahim عليه السلام sama Azar itu tamparan keras buat kita semua. Yuk, intip hikmahnya!

🛡️ Catatan Aqidah Abi:

"Hidayah itu bukan barang dagangan yang bisa diwarisin kayak tanah atau kebon. Azar itu bapaknya seorang Nabi, tapi hatinya beku. Ini jadi pengingat: iman itu urusan pribadi sama Allah. Jangan sombong merasa punya nasab mulia kalau akidah masih 'koma'!"

Catatan Ibadah Abi:

"Ibadah itu 'nyambungin' hati sama Allah, bukan sekadar gaya-gayaan biar disebut alim. Kalau ibadah cuma buat nebus dosa hasil perbuatan sendiri—kayak orang Safrayim—itu mah namanya dagang, bukan ibadah! Ibadah kudu ikhlas, bukan transaksi ala dukun."

⚖️ Catatan Mu'amalah Abi:

"Zaman sekarang, banyak orang milih 'bela-belain' grup atau tradisi meskipun salah, karena takut dibilang kualat. Azar milih 'lobang buaya' demi tradisi. Nah, kita kudu berani hijrah dari pergaulan yang bikin iman tipis. Jangan sampai kita jadi 'Azar-Azar' modern yang lebih milih gengsi daripada kebenaran."

Alhamdulillah...

Gimana? Episode 18 ini emang perih, bikin hati kerasa disayat, tapi itulah realita. Aseli Betawi mah tetep tegak, ilmunya mantep, budayanya kaga bakalan retak! Kalau udah pada ngopi dan rokoknya udah abis, jangan lupa pantengin terus update-an Abi selanjutnya. Ada unek-unek? Langsung sambar di kolom komentar atau mampir ke MAN 1 Jakarta. Kita seruput lagi ilmunya bareng-bareng!


~ ABI THOUFUR (THE NYABLAK TEACHER) ~

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ ، وَبِاللهِ الْهِدَايَةُ وَالتَّوْفِيْقُ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi