BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)
Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur
ِبِسْمِ اللهِ الرَّحمْنِ الرَّحِيْم
السَّلاَمُ عَلَيْكُم ْوَرَحْمَةُ اللهِ وَ|بَرَكَاتُه
د. الضَّرَرُ يُزَالُ
(Bahaya Harus Dicegah / Dihilangkan)
Dasar Pengambilan Kaidah (Al-Hadits):
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
“Tidak boleh melakukan perbuatan yang membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain.”
Islam melarang tindakan membahayakan diri sendiri terkait jiwa atau harta, ataupun membahayakan orang lain. Kaidah ini menjadi landasan berbagai hukum fikih, seperti hak mengembalikan barang cacat (Khiyar 'Aib).
👉 KLIK UNTUK BACA PENJELASAN LENGKAP (POIN A-E)
a. Kaidah Darurat & Kadarnya
- الْضَّرُوْرَاتُ تُبِيْحُ الْمَحْظُورَاتِ: Darurat membolehkan keharaman (contoh: makan bangkai pas mau mati).
- مَا أُبِيْحَ لِلضَّرُوْرَةِ يُقَدَّرُ بِقَدْرِهَا: Yang dibolehkan darurat cuma seperlunya aja (jangan mentang-mentang boleh trus nambah dua piring).
b. Lima Level Kondisi
- Darurat: Ancam nyawa (Boleh terjang haram).
- Hajat: Bikin sulit tapi kaga mati (Belum boleh terjang haram, tapi boleh dapet rukhshah).
- Manfaat: Sekadar keinginan hati/biar enak.
- Zinah (Perhiasan): Cuma pelengkap/aksesoris.
- Fudhul: Keleluasaan yang berlebihan (Bisa jatuh ke syubhat).
c. Hukum Uzur Ada Batasnya
Kalo alasan daruratnya ilang, hukum kebolehannya juga BATAL. Sembuh penyakit? Berarti kaga boleh tayammum lagi.
d. No More Danger
Kaga boleh ngilangin bahaya pake bahaya laen. Mau selamet malah bikin orang laen celaka? Kagak boleh!
e. Prioritas Penolakan Mafsadah
دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ
“Nolak kerusakan kudu didahuluin daripada ngejar untung.”
وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُم ْوَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:
penjelasan nya bagus bi bahasa nya mudah dipahami
BalasHapusSaya sudah fahamm bii makasihh
BalasHapus